Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua pikirkan berbeda
Deon kemudian berdiri dan mengambil mangkuk kosong di hadapan Nara.
“Sudah kenyang?”
“Lumayan.”
“Pusingnya masih?”
“Sudah agak berkurang.”
Deon mengangguk lega. “Bagus. Setelah ini istirahat. Jangan pikirkan pekerjaan dulu.”
Nara ikut berdiri.
“Deon.”
“Hm?”
Nara ingin mengatakan sesuatu tentang pesan tadi. Ingin bertanya apakah menurut Deon seseorang yang pergi tanpa penjelasan masih pantas meminta dirinya menunggu. Namun kata-kata itu kembali tertahan.
“Enggak jadi.”
Deon menatapnya beberapa detik, tetapi tidak memaksa. “Kalau ada yang mau kamu tanyakan, bilang saja.”
Nara tersenyum tipis.
“Iya.”
Deon membawa piring-piring kotor menuju dapur.
Sementara Nara berdiri beberapa saat di ruang makan. Tangannya tanpa sadar mengambil tas yang masih ia letakan di bangku sampingnya.
Di dalam tas itu ada ponsel. Dan di dalam ponsel itu ada pesan dari Arka. Pesan yang membuat masa lalu kembali mengetuk pintu hidupnya.
Nara menarik napas panjang. Ia menggeleng mencoba membuang pikiran kacau, ia lantas berjalan menuju kamar kembali.
Sementara, Deon menyusul usai ia mencuci tempat makan yang Nara gunakan tadi.
Deon masuk ke dalam Kamar. Namun Nara tengah berada di kamar mandi, ia lantas duduk sejenak di tepi ranjang tidurnya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Ada satu pesan dari asistennya, yang membuat Deon kesal.
Deon menatap layar ponselnya beberapa saat. Pesan dari Raka masih terbuka di sana.
“Pak, tadi Ibu ke sini... Beliau menanyakan Bapak. Katanya apakah Bapak selama ini sering berada di mall. Saya terpaksa jawab iya, Pak, karena saya tahu Ibu akan marah kalau tahu Bapak tidak ada.”
Rahang Deon sedikit mengeras.
Ia masih teringat pertemuannya dengan sang ibu beberapa waktu lalu. Wanita itu belum menerima pernikahannya dengan Nara, bahkan masih terus berusaha mencari tahu tentang kehidupan Deon.
Deon kemudian mengetik balasan.
“Tidak apa-apa. Memang itu yang harus kamu katakan. Saya akan datang jika sudah waktunya dan di saat tertentu. Untuk sementara, jangan sampai istri saya, Nara, tahu tentang pekerjaanku yang sebenarnya.”
Raka segera membalas.
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
Deon menghela napas panjang.
Ia sebenarnya tidak suka harus berbohong kepada Nara.
Namun untuk saat ini, ia belum siap membuka semuanya.
Bukan hanya tentang pekerjaannya sebagai pemilik mall.
Tetapi juga tentang keluarganya, tentang kehidupannya yang selama ini ia sembunyikan, bahkan tentang bagaimana sebenarnya ia sudah mengenal Nara jauh sebelum mereka menikah.
Jika semua rahasia itu terbuka sekaligus, Deon takut Nara justru merasa pernikahan mereka dibangun di atas kebohongan.
Padahal sejak awal, satu-satunya alasan Deon menyembunyikan semuanya adalah karena ia ingin Nara mengenalnya sebagai dirinya sendiri.
Bukan sebagai pemilik mall.
Bukan sebagai anak keluarga kaya.
Dan bukan sebagai laki-laki yang memiliki banyak harta.
Deon baru saja hendak menghapus percakapan itu ketika terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ia spontan menoleh.
Nara keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia mengenakan daster piyama pendek yang sederhana, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibandingkan saat berada di tempat kerja.
Deon terdiam.
Untuk beberapa detik, tatapannya tertahan pada Nara.
Bahkan ia hampir lupa bahwa ponsel masih berada di tangannya.
Nara yang menyadari tatapan itu mengernyitkan dahi.
“Kenapa?”
Deon tersentak.
“Enggak.”
Ia buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke layar ponselnya.
Nara berjalan mendekati ranjang.
“Kamu kenapa kelihatan kaget?”
Deon tersenyum tipis.
“Enggak apa-apa.”
Padahal jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Selama ini ia memang sudah sering melihat Nara dari kejauhan. Namun melihat perempuan itu berjalan santai di dalam rumah mereka, mengenakan pakaian sederhana tanpa riasan, terasa jauh berbeda.
Ini Nara yang sebenarnya.
Perempuan yang sekarang menjadi istrinya.
Dan untuk sesaat, Deon kembali merasa seperti laki-laki yang sedang mendapatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya berani ia impikan.
Deon segera menghapus percakapan dengan Raka.
Ia tidak ingin ada satu pun pesan yang bisa membuat Nara curiga jika suatu hari tanpa sengaja melihat ponselnya.
Setelah memastikan pesan itu benar-benar hilang, Deon memasukkan ponselnya ke saku celana.
Ia kemudian menatap Nara.
“Sudah enakan?”
Nara mengangguk.
“Sudah. Mualnya juga berkurang.”
“Pusing?”
“Sedikit.”
Deon berdiri dari tepi ranjang.
“Kalau begitu jangan banyak bergerak dulu.”
Nara tersenyum kecil.
“Kamu seperti dokter.”
Deon tertawa pelan.
“Aku bukan dokter. Aku cuma enggak mau kamu jatuh lagi.”
Nara menatapnya beberapa saat.
“Terima kasih.”
Deon menggeleng.
“Sudah kubilang, jangan terlalu sering bilang terima kasih.”
Nara terkekeh kecil.
“Kalau begitu aku harus bilang apa?”
Deon terdiam sebentar, lalu menjawab santai.
“Bilang saja, ‘Deon, aku akan lebih menjaga diri.’”
Nara memutar bola matanya.
“Dasar.”
Deon tersenyum.
Namun senyumnya perlahan menghilang ketika melihat Nara kembali duduk di tepi ranjang.
Ada sesuatu yang berbeda pada tatapan istrinya.
Seolah tubuhnya memang sudah lebih baik, tetapi pikirannya belum.
Deon sebenarnya ingin bertanya.
Namun ia teringat bagaimana Nara tadi beberapa kali terlihat melamun saat makan.
“Ra.”
“Hm?”
“Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kamu boleh cerita.”
Nara terdiam.
Jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat.
Pesan Arka kembali terlintas di kepalanya.
Namun Nara menggeleng.
“Enggak ada apa-apa.”
Deon menatapnya lama.
Ia tahu Nara sedang menyembunyikan sesuatu.
Tetapi Deon tidak ingin memaksanya.
“Baiklah.”
Deon kemudian mengambil selimut dan meletakkannya di atas ranjang.
“Kalau begitu, sekarang istirahat.”
Nara mengangguk.
Deon berjalan menuju sofa kecil di sudut kamar.
Nara memperhatikannya. “Kamu mau tidur di sofa?”
Deon menoleh. “Kalau kamu belum nyaman aku di sini.”
Nara terdiam. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Deon selalu memberikan pilihan kepadanya.
Tidak pernah memaksa.
Bahkan setelah mereka resmi menjadi suami istri, laki-laki itu tetap menjaga jarak ketika Nara belum siap.
“Deon.”
“Hm?”
“Kalau kamu mau tidur di sini... tidak apa-apa.”
Deon terdiam. Ia lantas tersenyum kecil. Untuk beberapa saat, tidak ada suara di antara mereka.
“Sudah, kamu istirahat Ra. Aku disini."
Nara menunduk.
Deon kemudian berjalan menuju sofa.
Sementara Nara berbaring perlahan di ranjang. Matanya terpejam, tetapi pikirannya kembali kepada satu nama.
Arka.
Di sisi lain, Deon duduk di sofa sambil menatap langit-langit. Ia tahu masih ada terlalu banyak rahasia yang belum bisa ia ceritakan kepada Nara.
Dan malam itu, tanpa mereka sadari, dua orang yang sama-sama menyimpan rahasia sedang berada di ruangan yang sama.
Nara menyimpan pesan dari masa lalu.
Sementara Deon menyimpan kehidupan sebenarnya.
Keduanya belum tahu... bahwa tidak lama lagi, rahasia masing-masing akan mulai menemukan jalan untuk terbuka.