NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 — Api yang Menyebar

Sebulan setelah promosi Ardan, kabar datang bahwa perang telah meluas ke wilayah baru.

Kekaisaran Ravharn, yang sebelumnya berfokus pada dorongan di Sungai Aldis, kini membuka front kedua di utara, menyerang wilayah perbatasan Kerajaan Sylvaris.

Berita ini disampaikan dalam briefing pagi oleh Kapten Orwin, wajahnya lebih serius dari biasanya saat membacakan laporan dari markas pusat.

"Sylvaris sebelumnya menyatakan netral," kata Orwin, menunjuk sebuah titik baru di peta besar yang kini terpampang di tenda komando. "Tapi dengan serangan ini, kemungkinan besar mereka akan terseret masuk ke dalam perang, entah memihak kita atau tetap berjuang sendiri melawan Ravharn."

"Apa artinya ini untuk kita, Kapten?" tanya seorang perwira lain.

"Artinya sumber daya Ravharn yang seharusnya terkonsentrasi di sini mungkin akan terbagi. Tapi juga artinya perang ini akan berlangsung lebih lama, dan mungkin melibatkan lebih banyak pihak sebelum berakhir."

Ardan mendengarkan dengan perasaan berat.

Ia sudah membayangkan perang ini sebagai konflik antara Valdren dan Ravharn, dua kekuatan yang bertarung untuk supremasi.

Tapi kini, dengan Sylvaris terseret masuk, gambaran itu mulai terasa jauh lebih rumit dan mengkhawatirkan.

---

Beberapa hari kemudian, sekelompok utusan dari Sylvaris tiba di perkemahan mereka, dalam perjalanan menuju markas pusat Valdren untuk negosiasi aliansi.

Ardan dan regunya ditugaskan untuk membantu mengawal mereka melewati wilayah pertempuran.

Ini adalah kali pertama Ardan bertemu langsung dengan bangsa elf, dan ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Para utusan itu bergerak dengan keanggunan yang berbeda dari manusia, mata mereka tajam dan waspada, seolah bisa melihat lebih jauh dan lebih jelas daripada mata manusia biasa.

Pemimpin delegasi, seorang perempuan bernama Elowen dengan rambut perak panjang dan mata hijau tajam, mengamati Ardan dengan seksama selama perjalanan mereka.

"Kau bergerak berbeda dari prajurit manusia lainnya," katanya suatu sore, ketika mereka beristirahat sejenak di tepi hutan.

"Lebih... sadar. Kebanyakan prajurit manusia hanya bergerak dengan kekuatan, bukan dengan kesadaran akan sekitarnya."

"Saya dulu petani," jawab Ardan sederhana. "Mungkin itu mengajarkan saya untuk memperhatikan hal-hal kecil."

"Menarik." Elowen tersenyum tipis, ekspresi yang sulit dibaca di wajahnya yang nyaris tanpa cela. "Kami di Sylvaris selalu percaya bahwa kebijaksanaan sejati datang dari mereka yang bekerja dengan tanah, bukan mereka yang hanya memerintah dari atasnya."

"Kenapa Sylvaris akhirnya terseret ke dalam perang ini?" tanya Ardan, penasaran akan perspektif dari luar konflik Valdren-Ravharn.

"Kudengar kalian sebelumnya berusaha netral."

Wajah Elowen menjadi serius. "Kami mencoba menjaga jarak selama bertahun-tahun, percaya bahwa perang manusia bukan urusan kami. Tapi ketika Ravharn menyerang desa perbatasan kami tanpa provokasi, membakar hutan suci yang telah kami jaga selama berabad-abad, kami tidak punya pilihan lain."

"Tanpa provokasi?" Ardan mengingat kata-kata Kapten Orwin di tepi sungai beberapa minggu lalu. "Apakah Anda yakin itu benar-benar tanpa alasan?"

Elowen menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam, seolah menilai ulang pertanyaan itu. "Pertanyaan yang menarik dari seorang prajurit biasa. Kenapa kau bertanya begitu?"

Ardan ragu sejenak, tidak yakin harus mengungkapkan kecurigaan yang mulai tumbuh dalam dirinya. "Hanya... terasa aneh. Setiap serangan yang saya dengar selalu digambarkan sebagai tanpa provokasi. Ravharn menyerang Valdren tanpa alasan. Sekarang mereka menyerang Sylvaris tanpa alasan. Apakah mungkin ada sesuatu yang mendorong semua serangan ini, sesuatu yang tidak kita lihat?"

Untuk beberapa saat, Elowen hanya menatapnya dalam diam, dan Ardan merasa seperti telah mengatakan sesuatu yang lebih dalam daripada yang ia maksudkan.

"Kau punya mata yang tajam untuk seorang prajurit muda," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Simpan pertanyaan itu, Kopral Ardan. Mungkin suatu hari kau akan menemukan jawabannya, dan aku ragu jawaban itu akan menyenangkan."

---

Pengawalan mereka berjalan tanpa insiden sampai batas wilayah, tempat delegasi Sylvaris akan dijemput oleh pasukan Valdren lain untuk melanjutkan perjalanan ke markas pusat.

Sebelum berpisah, Elowen mendekati Ardan sekali lagi.

"Aku ingin memberimu sesuatu," katanya, mengeluarkan sebuah liontin kecil dari balik jubahnya, terbuat dari kayu berukir halus dengan simbol yang tidak Ardan kenali.

"Ini adalah lambang perlindungan dari Sylvaris. Tidak banyak kekuatan magis, tapi bagi kami, ini melambangkan harapan bahwa kebijaksanaan akan menang atas kebencian buta."

"Saya tidak bisa menerima ini, itu terlalu berharga—"

"Kau bisa, dan kau akan." Elowen menyelipkannya ke tangan Ardan dengan lembut.

"Aku sudah hidup cukup lama untuk mengenali seseorang yang akan memainkan peran penting dalam bagaimana perang ini berakhir, entah baik atau buruk. Jaga pertanyaanmu tetap hidup, Kopral. Jangan biarkan medan perang membungkam rasa ingin tahumu tentang kebenaran."

Ia berbalik dan bergabung dengan delegasinya, meninggalkan Ardan dengan liontin di tangannya dan pikiran yang semakin berkecamuk.

---

Malam itu, ketika mereka kembali ke perkemahan, Ardan menceritakan percakapan itu pada Tobin dan Kael, meski ia menahan diri untuk tidak menyebutkan detail tentang kecurigaannya yang semakin tumbuh.

"Elf memberimu hadiah?" Kael bersiul kagum, memeriksa liontin itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Ini pasti berarti sesuatu yang besar. Elf tidak sembarangan memberikan barang seperti ini."

"Dia bilang aku akan memainkan peran penting dalam perang ini," Ardan mengulangi, masih tidak yakin apa artinya. "Entah baik atau buruk."

"Terdengar seperti ramalan," gumam Tobin, sedikit gugup. "Aku tidak terlalu suka ramalan. Biasanya mereka membawa lebih banyak masalah daripada jawaban."

Ardan menyimpan liontin itu bersama sabit tua dan pedang warisan Halric, tiga benda yang kini mendefinisikan perjalanannya—masa lalu yang hilang, mentor yang gugur, dan masa depan yang belum jelas bentuknya.

Ia menatap ke luar tenda, ke arah bintang-bintang yang mulai bermunculan, memikirkan kata-kata Elowen. *Simpan pertanyaan itu tetap hidup.*

Ia tidak tahu ke mana pertanyaan itu akan membawanya.

Tapi untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa perang ini mungkin jauh lebih rumit daripada sekadar dua bangsa yang saling membenci tanpa alasan.

Api yang membakar Elar, api yang membakar hutan suci Sylvaris—mungkin keduanya dinyalakan oleh tangan yang sama, tersembunyi jauh dari pandangan siapa pun yang bertarung di garis depan.

Dua bulan di garis depan Sungai Aldis mengubah Ardan dengan cara yang sulit ia ukur sendiri, sampai akhirnya perintah rotasi datang.

"Resimen Ketiga akan ditarik mundur ke Karhold untuk istirahat dan pengisian ulang," umum Kapten Orwin pada suatu pagi, disambut dengan sorak lega yang jarang terdengar di antara para prajurit yang lelah.

"Resimen Kesembilan akan menggantikan posisi kita di sini."

Berita itu disambut dengan campuran kelegaan dan kekhawatiran.

Lega karena istirahat dari pertempuran konstan, khawatir karena meninggalkan posisi yang telah mereka pertahankan dengan begitu banyak pengorbanan kepada pasukan lain.

"Apakah mereka siap?" tanya Ardan pada Kornel, veteran yang telah menjadi semacam mentor tidak resmi baginya sejak perjalanan pertama mereka ke Sungai Aldis.

"Tidak ada yang pernah benar-benar siap," jawab Kornel, mengulangi kalimat yang sudah menjadi semacam mantra di antara para prajurit veteran.

"Tapi mereka akan belajar, sama seperti kita dulu."

Perjalanan kembali ke Karhold terasa berbeda dari perjalanan pergi berbulan-bulan lalu.

Dulu, mereka adalah rekrut hijau yang penuh ketidakpastian.

Sekarang, meski masih muda, sesuatu di mata mereka telah berubah—lebih tua, lebih berat, membawa beban pengalaman yang tidak bisa dijelaskan pada mereka yang belum pernah merasakannya.

---

Karhold menyambut mereka dengan perubahan yang mencolok.

Benteng yang dulu penuh rekrut ketakutan kini menjadi pusat logistik yang sibuk, dengan lebih banyak pasukan berdatangan dari seluruh Valdren untuk dilatih dan dikirim ke berbagai front yang kini terbuka.

Sersan Brogan masih ada di sana, melatih gelombang baru rekrut dengan gaya yang sama kerasnya seperti yang pernah dialami Ardan dan kawan-kawannya.

Ketika ia melihat Ardan berjalan melewati lapangan latihan, pangkat kopral tersemat di bahunya, ekspresi Brogan berubah menjadi sesuatu yang mendekati kebanggaan.

"Kopral Ardan," katanya, berhenti sejenak dari mengawasi barisan rekrut baru. "Aku dengar kabar tentangmu dari Sungai Aldis. Halric benar tentangmu."

"Saya masih belajar, Sersan."

"Semua orang masih belajar, Kopral. Bahkan aku." Brogan menatapnya dengan penilaian yang sama seperti dulu, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—pengakuan atas kesetaraan yang baru terbentuk. "Bagaimana Tobin dan Kael?"

"Masih hidup, Sersan. Masih di regu saya."

"Bagus." Brogan mengangguk singkat, lalu kembali ke tugasnya, berteriak pada seorang rekrut yang gagal menjaga formasi tombak dengan benar. Beberapa hal, ternyata, tidak pernah berubah.

---

Waktu istirahat di Karhold memberi Ardan kesempatan untuk menulis surat, sesuatu yang tidak pernah sempat ia lakukan selama pertempuran intens di Sungai Aldis.

Ia menulis pada kepala desa lama yang selamat dari Elar, yang kini menetap di sebuah kamp pengungsi di dekat ibu kota, bertanya apakah ada kabar tentang keluarganya.

Balasan datang dua minggu kemudian, dan tangan Ardan gemetar saat membuka segel surat itu.

*Ardan,*

*Aku menerima suratmu dengan senang hati mengetahui kau masih hidup dan telah naik pangkat. Sayangnya, aku tidak punya kabar baik tentang keluargamu. Tidak ada yang melihat ayahmu, ibumu, atau adikmu sejak malam serangan itu. Beberapa orang dari Elar akhirnya sampai di kamp pengungsi ini, tapi keluargamu tidak termasuk di antara mereka.*

*Aku tidak ingin memberimu harapan palsu, tapi aku juga tidak ingin mengatakan mereka pasti telah tiada. Perang ini penuh dengan kekacauan; ada kemungkinan mereka tersesat di tempat lain, atau tertangkap dan dibawa sebagai tawanan. Aku akan terus mencari kabar dan memberitahumu jika ada perkembangan.*

*Jaga dirimu baik-baik, Nak. Elar bangga memilikimu, meski Elar sendiri sudah tidak ada lagi.*

*— Tetua Davren*

Ardan membaca surat itu berulang kali, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.

Ketiadaan kabar terasa lebih menyiksa daripada kepastian, membiarkan harapan kecil tetap hidup sekaligus menjadi luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Tobin menemukannya duduk sendirian di belakang barak, surat masih di tangannya.

"Tidak ada kabar?" tanyanya pelan, duduk di samping Ardan.

"Tidak ada kabar buruk. Tidak ada kabar baik. Hanya... tidak ada apa-apa."

Tobin tidak berkata apa-apa, hanya duduk dalam diam bersamanya, memberikan kehadiran yang tidak membutuhkan kata-kata untuk berarti sesuatu.

Setelah beberapa saat, Ardan menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya, membiarkan dirinya rapuh untuk sesaat, jauh dari tuntutan menjadi seorang kopral yang harus selalu kuat di depan regunya.

---

Malam itu, Kael bergabung dengan mereka, membawa sebotol anggur murah yang entah dari mana ia dapatkan, kebiasaan lama yang masih bertahan sejak malam pertama mereka lulus dari pelatihan.

"Untuk Halric," katanya, mengangkat botol sebelum menenggak sedikit dan memberikannya pada Ardan. "Dan untuk Pell, dan semua orang lain yang tidak sempat kita kenal cukup lama."

"Untuk mereka," gumam Ardan, meneguk cairan pahit itu.

"Dan untuk keluargamu," tambah Kael lebih pelan, matanya penuh empati yang jarang ia tunjukkan secara terbuka. "Di mana pun mereka, semoga mereka aman."

Mereka duduk dalam diam untuk waktu yang lama, tiga sahabat yang telah melewati begitu banyak bersama sejak hari pertama di tenda dua puluh tiga, kini terikat oleh ikatan yang lebih dalam daripada persahabatan biasa—ikatan yang hanya bisa terbentuk di antara mereka yang telah saling menyelamatkan nyawa berkali-kali.

"Kau tahu," kata Tobin akhirnya, memecah keheningan, "aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini. Tapi entah kenapa, meski semua yang telah kita lalui, aku tidak menyesal berada di sini, bersama kalian."

"Aku juga," bisik Ardan, menatap bintang-bintang di atas Karhold, tempat yang telah menjadi rumah kedua mereka dalam perjalanan yang jauh dari selesai.

Besok, latihan pengisian ulang akan dimulai, mempersiapkan mereka untuk kembali ke medan perang yang entah bagaimana bentuknya di masa depan.

Tapi untuk malam ini, mereka membiarkan diri mereka sejenak menjadi manusia biasa—berduka, mengenang, dan menemukan penghiburan dalam kebersamaan yang telah bertahan melewati begitu banyak kehilangan.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!