Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Aroma pahit jelaga dan sisa ramuan obat herbal yang basi menyengat hidung tatkala rasa sakit yang menyengat merayap turun dari rongga dada Anran. Hawa dingin yang membekukan meresap menembus gaun sutra tipis yang melekat kaku di kulitnya, seolah-olah tempat ia berbaring bukanlah ranjang empuk kerajaan, melainkan lempengan batu es di tengah puncak musim dingin yang kelam.
Anran perlahan memaksakan kelopak matanya bergetar terbuka. Pandangannya yang sempat buram menangkap langit-langit berukir kayu jati lapuk yang berselimut jaring laba-laba. Pendar redup dari sebatang lilin minyak yang nyaris padam di sudut ruangan memancarkan bayangan-bayangan ganjil yang menari-nari di atas permukaan dinding batu yang lembap dan berlumut.
Ini... sama sekali bukan ruangan ICU atau laboratorium medis, batin Anran seraya berusaha menggerakkan jemarinya yang terasa sekaku kayu runtuh.
Sebelum kesadarannya pulih secara utuh, gelombang ingatan asing meledak secara drastis di balik tempurung kepalanya. Memori milik pemilik asli tubuh ini seorang permaisuri muda bernama sama yang difitnah meracuni Selir Mei, ditampar di hadapan para pejabat tinggi, lalu dibuang ke Istana Dingin meresap cepat, menyatu dengan ingatan medis abad ke-21 milik Anran.
"Gadis bodoh..." bisik Anran parau, suara napasnya yang berat terasa kaku dan gatal di tenggorokan yang kering bagai diamplas. "Kau dibiarkan mati secara perlahan dan menyiksa oleh orang-orang di tempat ini."
Sebagai seorang dokter bedah utama dan ahli toksikologi jenius dari masa modern, Anran tidak membuang waktu untuk meratapi nasib atau bersedih. Dengan sisa-sisa tenaga di tubuhnya yang amat lemah, ia memaksakan tubuhnya untuk duduk, menyandarkan punggungnya pada tiang ranjang kayu yang berdebu. Jemari tangannya yang gemetar naik memeriksa pergelangan tangan kirinya sendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, menghitung denyut nadinya secara cermat. Denyut nadinya lambat, bergelombang tidak teratur, dan ketika ia mengarahkan tangannya ke arah pendar lilin, terdapat pendaran warna kebiruan yang membeku di bawah jaringan kuku jarinya.
Racun Bunga Malam Biru, analisis Anran cepat di dalam benaknya. Racun lambat dosis rendah yang sengaja dicampurkan ke dalam mangkuk obat harian. Seseorang di luar sana ingin memastikan permaisuri ini tewas perlahan tanpa meninggalkan jejak luka luar yang mencolok.
Tiba-tiba, engsel pintu kayu tebal di ujung koridor bergeser dan terdorong kasar dari luar. Hawa angin malam yang membekukan menyembur masuk tanpa ampun, seketika memadamkan pendar tunggal lilin minyak di dalam kamar, menyisakan pendar rembulan malam yang temaram menembus celah jendela.
Dua sosok manusia melangkah masuk menembus kegelapan ruangan.
Di depan, berdiri seorang pria berbadan tegap dan berdada bidang. Jubah naga berwarna hitam pekat berhias sulaman benang emas yang mewah membungkus posturnya yang tinggi, gagah, dan berwibawa. Pria itu adalah Kaisar Tian. Tatapan matanya yang tajam dan dingin bagaikan mata pisau baja yang tak tersentuh oleh emosi kemanusiaan sedikit pun.
Di sampingnya, seorang gadis muda berbusana pelayan kusam Lian, pelayan setia Anran tersungkur gemetar di atas ubin batu yang dingin dengan sudut bibir yang memar membiru akibat pukulan pengawal istana.
Kaisar Tian berdiri kaku di depan ranjang. Tatapan matanya menembus keheningan kamar yang pengap dan mencekam.
"Kau masih sanggup bernapas, Permaisuri?" suara Kaisar Tian bergaung rendah, berat, dan penuh