"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Tergantikan 07.
Alarm ponsel berbunyi pukul setelah lima pagi. Nawang terbangun dengan kepala yang rasanya berat, seperti dihantam balok kayu. Tenggorokannya kering, dan setiap kali ia menarik napas, ada rasa hangat yang tidak nyaman di rongga dadanya.
Efek kehujanan semalam langsung terasa pagi ini.
Nawang duduk di tepi kasur, memijat pangkal hidungnya yang mulai memerah. Tubuhnya agak meriang, tetapi pikirannya justru melayang pada memori semalam— pada lampu belakang motor matic putih Timy yang lenyap di tikungan jalan.
Ia menghela napas berat. Bukannya mencari obat, Nawang malah melangkah ke dapur.
Di atas meja konter yang dingin, ia mulai mengeluarkan bahan makanan.
Nawang tahu Timy paling malas mengantre di kantin kalau hari Selasa karena jadwal latihan basket yang padat.
Maka, dengan sisa-sisa tenaga yang dipaksakan, Nawang mulai memasak nasi goreng mentega kesukaan cowok itu, lengkap dengan telur mata sapi yang kuningnya masih sedikit meleleh di tengah.
"Nawang, kamu sakit?" Mawar, Ibunya Nawang yang baru keluar dari kamar mandi menempelkan punggung tangan ke dahi Nawang. "Astaga, badanmu anget gini. Nggak usah masuk sekolah dulu apa?"
Nawang tersenyum tipis, memindahkan nasi goreng ke dalam kotak bekal berwarna biru laut. "Cuma flu dikit kok, Ma. Minum obat juga sembuh. Sayang kalau bolos, hari ini ada latihan tes kimia."
Nawang tahu betul itu hanya alasan. Alasan sebenarnya adalah ia harus melihat Timy hari ini. Ia perlu memastikan bahwa ruang tak kasat mata di jok motor semalam tidak benar-benar mengubah apa pun di antara mereka.
Pukul 06.45 WIB, koridor SMA Veteran masih sepi saat Nawang tiba. Langkahnya agak gontai.
Begitu sampai di depan kelas dua belas B, Nawang melihat cowok itu sudah duduk di bangkunya, sibuk menyalin tugas dari ponsel ke buku tulis.
Nawang masuk, lalu meletakkan kotak bekal biru itu di sudut meja Timy tanpa suara.
Timy mendongak, matanya langsung berbinar. "Eh, Neng. Udah dateng?" Ia menutup buku tulisnya. "Wah, apaan nih? Bau-baunya enak banget."
"Nasi goreng mentega," jawab Nawang. Suaranya agak serak, membuat Timy mengernyitkan dahi.
"Suara neng kenapa? Sakit?" Timy berdiri, hendak menyentuh dahi Nawang, tetapi tepat saat itu pintu kelas terbuka agak keras.
Kanaya masuk. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya tidak lagi sekosong semalam.
Di kedua tangannya, ia membawa sebuah kotak bekal berwarna merah muda yang dibungkus kain corak floral.
Langkah Kanaya sempat tertahan saat melihat Nawang berdiri di sana.
Suasana mendadak canggung, menyisakan deru kipas angin kelas yang berputar malas.
"Eh... Nawang. Pagi," sapa Kanaya pelan, suaranya terdengar ragu.
"Pagi, Nay," balas Nawang seramah mungkin, meski ada sejumput rasa tidak nyaman yang kembali merayap di dadanya.
Kanaya berjalan mendekat, lalu meletakkan kotak bekal merah muda itu tepat di samping kotak bekal milik Nawang. "Tim, ini... gue bawain sandwich telur buat lo. Sebagai ucapan makasih karena semalam lo udah mau repot-repot anter gue balik pas hujan deras. Dan... sori ya kalau bentuknya agak berantakan, gue baru belajar masak tadi subuh dibantu nyokap."
Timy memandangi kotak bekal merah muda itu, lalu beralih ke Kanaya dengan senyum lebar. "Serius, Nay? Lo masak sendiri? Rekor dunia nih, seorang Kanaya masuk dapur."
"Ih, Timy! Jangan ngeledek, dong. Susah tau balikin telurnya biar nggak gosong," gerutu Kanaya, pipinya merona tipis.
Interaksi itu terasa begitu kasual, begitu organik, seolah-olah mereka adalah dua orang yang punya ratusan lelucon internal yang tidak bisa dimasuki orang luar. Termasuk Nawang.
Nawang hanya berdiri mematung di samping meja. Kepalanya semakin berdenyut nyeri.
Rasa hangat menjalar ke matanya, tetapi ia sekuat tenaga menahannya agar tidak pecah di sini.
"Oh iya, Tim," Kanaya melirik Nawang sekilas, merasa tidak enak. "Dimakan ya. Gue mau ke toilet dulu."
Setelah Kanaya pergi, keheningan kembali menguasai meja Timy.
Dua kotak bekal kini berdampingan. Biru dan merah muda.
Timy menatap kedua kotak itu, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nawang memperhatikan ekspresi Timy.
Ada binar apresiasi yang berbeda saat cowok itu menatap kotak merah muda milik Kanaya.
Sesuatu yang baru, sesuatu yang menantang bagi Timy karena itu adalah "hal pertama" yang dilakukan Kanaya untuknya.
Sedangkan bekal dari Nawang? Itu sudah menjadi rutinitas yang biasa.
Timy akhirnya meraih kotak merah muda. "Neng, Aa makan yang punya Naya dulu, ya? Nggak apa-apa, kan?"
Nawang merasakan dadanya seperti diremas. "Kenapa?" tanya Nawang, suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara riuh anak-anak lain yang mulai berdatangan ke kelas.
"Gini, Wang... Naya itu kan anaknya manja banget, anti masuk dapur. Ini pertama kalinya dia mau repot-repot bikin ginian buat orang lain. Aa cuma mau menghargai usaha Naya yang baru belajar masak. Kalau nggak dimakan sekarang, nanti dia mikir Aa nggak tahu terima kasih. Punya Neng kan nasi goreng, bisa tahan sampai siang nanti, kan?" Timy menjelaskan dengan nada lembut, tanpa dosa, seolah itu adalah solusi paling adil di dunia.
Timy tidak salah secara pertemanan. Dia hanya ingin menjadi teman yang baik.
Namun, prinsip itu membunuh perasaan Nawang perlahan-lahan. Timy tidak tahu kalau Nawang bertaruh dengan rasa sakit di tubuhnya sendiri sejak subuh demi kotak biru itu.
"Iya, ya udah. Dimakan aja," kata Nawang akhirnya. Kalimat paling aman untuk menyelamatkan harga dirinya yang tersisa.
"Nah, gitu dong. Pacar Aa emang paling pengertian," Timy tersenyum lega, lalu mulai membuka kotak bekal Kanaya dan memakannya dengan lahap. "Asin dikit sih, tapi lumayanlah buat pemula."
Nawang tidak sanggup lagi berdiri di sana. Ia meraih kotak bekal birunya dari meja Timy.
"Bekalnya mau dibawa ke mana, Neng?" tanya Timy dengan mulut yang masih mengunyah sandwich.
"Mau neng simpan di loker. Biar meja Aa nggak penuh," jawab Nawang datar. Sebelum Timy sempat merespons, Nawang sudah berbalik dan berjalan cepat keluar dari kelas.
Koridor sekolah sudah mulai ramai, tetapi pandangan Nawang mengabur. Ia berjalan menuju deretan loker siswa di dekat aula. Tangannya bergetar saat memasukkan kunci ke lubang loker nomor 14 milikinya.
Klek.
Pintu loker terbuka. Nawang memasukkan kotak bekal biru itu ke dalam.
Ruang loker yang sempit, gelap, dan dingin itu kini menjadi tempat persemayaman dari seluruh ketulusan yang didepak oleh alasan bernama 'menghargai orang lain'.
Nawang menyandarkan dahinya pada pintu besi loker yang dingin.
Menikmati sensasi sejuk yang kontras dengan suhu tubuhnya yang kian meninggi. Di dalam hatinya, sebuah pertanyaan yang semalam sempat terlintas, kini berakar semakin kuat.
Sampai kapan neng harus jadi pihak yang selalu mengerti? Sampai batas apa persahabatanmu berubah jadi prioritas, dan Neng berubah jadi rutinitas yang bisa dikesampingkan kapan saja?
Nawang menutup pintu loker dengan dentuman pelan, lalu menguncinya.
Sama seperti ia mengunci rapat-rapat rasa sesak yang kian meradang di dadanya pagi ini.
......................
...***************...
Tbc,