Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Bersama
Sementara itu, di koridor, Kayvan berdiri diam selama beberapa detik.
Dia menyentuh saku kemejanya, tempat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dia sudah mengenal Aluna dari foto-foto yang dipamerkan Raline selama dua tahun terakhir, tapi melihatnya secara langsung, berinteraksi dengannya dan mendengar suaranya memanggil namanya, meski sempat salah sebut tapi ternyata memberikan efek yang jauh lebih kuat dari yang dia antisipasi.
Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, pikir Kayvan dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang terjadwal sempurna, dia tidak keberatan jika ada sedikit kekacauan yang dibawa oleh gadis bernama Aluna itu.
Di dalam kamar, Aluna merebahkan tubuhnya di ranjang yang sangat luas.
Dia memeluk bantal dan menghirup aroma yang sama dengan yang tercium dari tubuh Kayvan tadi.
Hidup di bawah satu atap ternyata tidak semengerikan bayangannya, setidaknya untuk malam ini Aluna merasa dia tidak lagi berjuang sendirian di dunia ini.
...****************...
Sinar matahari menyelinap melalui celah gorden sutra yang tebal, menciptakan garis-garis emas di atas karpet bulu yang lembut.
Aluna mengerjap, merasakan keempukan bantal yang jauh berbeda dari bantal tipis di kontrakannya yang sering kali membuatnya sakit leher.
Untuk sesaat, dia lupa di mana dia berada namun aroma kayu cendana yang menempel pada sprei abu-abu itu segera menariknya kembali ke kenyataan.
Dia telah menikah dan ini adalah pagi pertamanya sebagai istri Kayvan Dipta Madhava.
Aluna menoleh ke samping dan sisi ranjang di sebelahnya sudah rapi dan kosong.
Dia mengembuskan napas lega sekaligus ada sedikit rasa bersalah karena bangun lebih lambat dari pemilik rumah.
Dengan terburu-buru dia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, dan mengenakan salah satu pakaian yang ada di walk-in closet sebuah setelan blus katun berwarna krem yang sederhana namun tampak sangat mahal.
Saat menuruni tangga melingkar menuju lantai bawah, Aluna mendengar sayup-sayup suara tawa dari arah ruang makan dan itu suara Tuan Baskara Madhava.
"Sudah bangun, pengantin baru?" Tuan Baskara menyapa dengan riang begitu Aluna muncul di ambang pintu ruang makan.
Tuan Baskara yang sedang duduk menikmati bubur ayam, sementara Kayvan berada di kursi biasanya sambil mengenakan setelan jas lengkap yang menunjukkan bahwa dia siap berangkat ke kantor.
Di tangan Kayvan ada tablet yang sedang menampilkan grafik saham, tapi pria itu langsung meletakkannya begitu melihat Aluna.
"Pagi Opa, pagi... Mas. " sapa Aluna canggung.
"Pagi." jawab Kayvan singkat.
Matanya menyisir penampilan Aluna dari atas ke bawah, seolah memastikan tidak ada yang kurang, sebelum dia kembali menatap piringnya.
"Duduklah, kamu harus sarapan sebelum berangkat ke kampus."
Aluna duduk, dan seorang pelayan segera meletakkan piring berisi roti tangkup dan segelas susu hangat di depannya.
"Terima kasih Bi." ucap Aluna sopan.
"Aluna, nanti siang Opa mau jalan-jalan ke taman botani, kamu mau ikut?" tanya Tuan Baskara dengan nada membujuk.
"Maaf Opa, hari ini Aluna ada kelas sampai sore dan setelah itu saya ada jadwal mengajar les privat." jawab Aluna jujur.
Kebiasaannya sebagai pekerja keras tidak bisa hilang begitu saja meski kini dia tinggal di istana.
Kayvan yang sedang menyesap kopinya tiba-tiba berhenti setelah mendengar ucapan sang istri.
"Les privat?" tanyanya.
"Iya, aku punya dua murid SMP yang harus aku bimbing untuk persiapan ujian matematika." jawab Aluna sambil menganggukkan kepalanya.
Kayvan meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang sedikit keras.
"Berhenti." ucapnya singkat dengan dingin.
Meja makan mendadak hening dan Aluna menatap Kayvan dengan bingung.
"Maksudnya?"
"Berhenti bekerja di kafe, dan berhenti mengajar les." ulang Kayvan dengan nada efisien yang biasa dia gunakan di ruang rapat.
"Kamu tidak perlu lagi mencari uang tambahan dan fokuslah pada kuliahmu." ucap Kayvan yang sebenarnya tidak salah namun nada bicaranya yang dingin terdengar kalau suaminya itu sedang marah.
Aluna merasakan harga dirinya sedikit terusik, dia meletakkan rotinya kembali ke piring.
"Mas, aku menghargai niat baik kamu tapi ini adalah tanggung jawab yang sudah aku ambil sebelum kita menikah dan aku tidak bisa memutus kontrak dengan orang tua murid begitu saja hanya karena status aku berubah."seru Aluna dengan berani.
Kayvan menatap Aluna lekat-lekat, dia tidak suka dengan jawaban Aluna kali ini.
"Berapa mereka membayarmu sebulan? Aku akan menggantinya sepuluh kali lipat jika itu yang kamu khawatirkan." ujarnya marah.
"Ini bukan soal uang." suara Aluna tetap tenang namun ada ketegasan di dalamnya.
"Ini soal komitmen, aku sudah berjanji mengajar mereka sampai ujian selesai bulan depan dan aku tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa dipegang kata-katanya hanya karena sekarang aku punya fasilitas mewah." seru Aluna.
Tuan Baskara Madhava sedari tadi menyimak tersenyum bangga, dan Tuan Baskara melirik putranya yang tampak kaku.
"Kayvan biarkan saja, Aluna benar. Dia bukan burung dalam sangkar, lagipula sifat mandirinya itu yang membuatnya istimewa kan?" ujar Tuan Baskara.
Kayvan terdiam, dia tidak terbiasa dibantah apalagi soal hal yang menurutnya adalah solusi paling logis.
Namun melihat sorot mata Aluna yang teguh dia mengerti bahwa memaksa gadis ini hanya akan menciptakan jarak di antara mereka.
"Baiklah." ucap Kayvan akhirnya.
"Selesaikan sampai bulan depan, tapi setelah itu jangan ambil murid baru lagi, mengerti?" tegas Kayvan akhirnya mengalah.
"Terima kasih atas pengertiannya." seru Aluna sambil mengangguk kecil.
Suasana di meja makan mencair ketika Raline tiba-tiba masuk dengan langkah riang.
Dia mengenakan pakaian kuliah yang modis dan langsung duduk di samping Aluna tanpa permisi.
"Pagi semua! Wah, pengantin baru sudah sarapan bersama ya? Serasi sekali." goda Raline sambil menyambar sepotong roti dari piring Aluna.
"Raline, jaga sopan santunmu." tegur Kayvan, meski nada suaranya tidak benar-benar marah.
"Tenang Om, aku cuma mau memastikan sahabatku...eh, tanteku ini tidak diculik oleh monster kantor seperti Om." Raline menjulurkan lidahnya dan dia kemudian menoleh ke Aluna.
"Luna, ayo berangkat bareng aku. Aku bawa mobil sendiri hari ini." ajak Raline.
Aluna baru saja hendak mengiyakan ketika Kayvan menyela.
"Aluna berangkat bersamaku." ucap Kayvan singkat.
Raline dan Aluna sama-sama menoleh ke arah Kayvan dengan terkejut.
"Tapi Om, kampus kami searah dengan rumah bukan searah dengan kantormu." protes Raline.
"Kantor Madhava Group kan ke arah Selatan, kampus ke Utara." lanjutnya.
"Aku ada urusan di daerah sana pagi ini." bohong Kayvan dengan wajah sedatar tembok, dia bangkit dari kursinya dan merapikan jasnya yang tak bercela.
"Aluna habiskan susumu, kita berangkat lima menit lagi."
Raline menyenggol lengan Aluna dengan sikutnya sambil berbisik.
"Lihat? Dia cuma mau berduaan denganmu lebih lama, urusan apa di Utara? Di sana cuma ada perumahan dan kampus kita, Om Kayvan payah sekali kalau soal berbohong." bisiknya mengejek Om nya itu.
Aluna hanya bisa tersenyum canggung, namun di dalam hati, ada perasaan hangat yang menggelitik.
Dia tahu Kayvan sedang mencoba menunjukkan perhatian dengan caranya yang kaku dan sedikit memaksa.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ud gt cwek ny sok ni x... harga dr hrga dr....🙏🏻