Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jam dinding digital di sudut ruang kerja penthouse mewah itu menunjukkan pukul sebelas malam.
Di balik meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni mahal berpelitur legam, Langit Prita Dewanta duduk dengan punggung tegak.
Sebagai CEO Dewanta Group, wanita berusia 32 tahun itu sudah terbiasa menghadapi tekanan.
Malam ini, atmosfer di dalam ruangan itu terasa sangat berbeda. Keputusan yang berada di hadapannya tidak melibatkan saham atau akuisisi perusahaan.
Ini jauh lebih personal, menyangkut ruang paling privat dalam hidupnya yang selama ini dia jaga.
Bumi Mahardika, pemuda berusia 26 tahun, duduk dengan posisi yang terkesan santai namun tetap memancarkan aura dominan yang sulit diabaikan.
Bumi mengenakan kemeja hitam polos dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka.
Dari balik pergelangan tangan kirinya, untaian tato bermotif geometris rumit menjalar tegas, merayap naik ke lengan hingga akhirnya menyelinap misterius ke balik kain kemeja hitamnya.
Penampilannya adalah kontras yang sempurna bagi Langit yang selalu tampil rapi, formal, dan terstruktur.
Langit menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan profesionalitasnya yang mulai terasa berat.
Dengan gerakan jemari yang tenang, dia menggeser beberapa lembar dokumen tebal ke arah Bumi.
Di halaman depan dokumen tersebut, tercetak judul dengan huruf kapital yang tegas, Surat Kesepakatan Bersama.
"Ini draf terakhir yang sudah disesuaikan oleh tim hukum pribadi ku,"
kata Langit, suaranya terdengar renyah namun dingin.
"Semua hak, kewajiban, dan kompensasi sudah tertera dengan jelas di sana, aku ingin mendengar pendapatmu, Bumi. Apakah ada poin yang keberatan untuk kamu penuhi?"
Bumi tidak langsung menjawab.
Dia mengulurkan tangannya yang dihiasi tato, mengambil dokumen tersebut, lalu membalik halaman demi halaman dengan ritme yang konstan.
Ruang kerja itu kembali hening selama beberapa menit, hanya menyisakan suara lembaran kertas yang dibalik.
Langit memperhatikan setiap ekspresi di wajah Bumi, mencari tanda-tanda keraguan atau ketakutan, namun dia tidak menemukan apa pun.
Wajah Bumi sedatar permukaan air telaga di malam hari.
Setelah selesai membaca halaman terakhir, Bumi mengangguk lambat.
Dia meletakkan kembali dokumen itu di atas meja, lalu mengangkat kepalanya.
Matanya yang hitam tajam menatap langsung ke dalam manik mata Langit.
Tidak ada rasa gentar, tidak ada rasa rendah diri karena berhadapan dengan salah satu wanita paling berpengaruh.
Tatapan Bumi begitu lurus dan menembus, membuat Langit mendadak merasa seolah dialah yang sedang diinterogasi.
"Enam bulan," ucap Bumi, suaranya berat dan serak, memecah kesunyian.
"Pernikahan kontrak selama enam bulan. Setelah masa kontrak selesai, kita akan mengajukan perceraian dengan alasan ketidakcocokan, dan berpisah secara baik-baik. Semua aset tetap milik masing-masing, dan kompensasi yang tawarkan akan dicairkan penuh ke rekening ku. Begitu, kan?"
"Betul," jawab Langit, mengagumi sekaligus waspada terhadap ketenangan pemuda di depannya.
"Itu adalah skenario terbaik untuk meredam rumor dari dewan komisaris mengenai kehidupan pribadi ku, sekaligus menyelesaikan masalah finansial mungkin juga kamu hadapi saat ini, seperti janjiku akan ada bengkel besar berstandar nasional yang akan aku bangun untuk mu nanti" ucap Langit.
Bumi meraih pena formal milik Langit yang tergeletak di atas meja.
Tanpa ragu sedikit pun, dia menorehkan tanda tangannya di atas materai pada lembar kesepakatan tersebut.
Tulisannya tegas dan tajam, mencerminkan kepribadiannya yang tidak suka bertele-tele, setelah selesai, dia mengembalikan pena itu ke tempatnya.
Langit menarik dokumen itu kembali, menatap tanda tangan Bumi yang kini bersanding dengan tanda tangannya.
Ada rasa lega yang menyusup di dadanya, namun juga ada debaran aneh yang tidak bisa dia jelaskan.
Dia berdeham pelan untuk mengusir kecanggungan yang tiba-tiba merayap.
"Ada satu hal lagi yang perlu saya tekankan," ujar Langit, menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil condong ke depan.
"Selama masa pernikahan kontrak ini berjalan, kamu harus tinggal di penthouse ini bersama saya."
Bumi sedikit mengangkat alisnya, sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. "Tinggal bersama? Aku pikir kita hanya perlu tampil berdua di acara publik."
"Itu tidak akan cukup untuk meyakinkan media dan para pemegang saham, Bumi," sahut Langit tegas.
"Mereka bukan orang-orang bodoh yang bisa dikelabui dengan foto rekayasa di media sosial, mereka akan mencari tahu apakah kita benar-benar hidup sebagai suami istri atau tidak, kita perlu membangun chemistry yang kuat. Publik tidak boleh mencium kejanggalan sekecil apa pun dari hubungan ini. Jika kita tinggal di bawah atap yang sama, interaksi kita akan terlihat lebih natural saat berada di luar." Banyak sekali argumen yang di berikan dan sayangnya semuanya benar.
Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, membuat otot lengan dan tatonya tampak semakin jelas di balik kemeja hitam itu.
"Membangun chemistry, ya? Jadi, CEO Dewanta Group yang terkenal dingin ini ingin belajar bagaimana caranya berpura-pura jatuh cinta?"
Mendengar sindiran halus itu, jantung Langit berdesir, namun dia buru-buru menyembunyikannya di balik tatapan matanya yang tajam.
"Ini adalah bagian dari strategi, Bumi, anggap saja ini sebagai latihan intensif."
"Baiklah," jawab Bumi tenang. "Jika itu yang kau inginkan, aku tidak keberatan, dan akan tetap tinggal disini, lagi pula penthouse ini cukup luas untuk kita berdua tanpa harus sering berpapasan jika tidak perlu."
Pertemuan malam itu tampaknya sudah mencapai akhir.
Bumi bangkit berdiri dari kursinya, merapikan sedikit kemejanya yang agak kusut.
Langit ikut berdiri dari balik meja kerjanya, berniat untuk mengantarkan pria yang kini secara sah, secara hukum kontrak, telah menjadi calon suaminya menuju pintu keluar ruang kerja.
Langkah kaki mereka terdengar beriringan di atas lantai kayu yang dilapisi karpet tebal.
Saat mereka berjalan berdampingan, Langit baru menyadari betapa tingginya tubuh Bumi. Pundak pria itu lebar.
Aroma parfumnya yang maskulin, menciptakan atmosfer yang mendadak terasa begitu intim dan menjebak.
Tepat di depan pintu kayu besar yang membatasi ruang kerja dengan lorong luar penthouse, Bumi tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Langit yang berjalan sedikit di belakangnya otomatis ikut berhenti.
Tanpa diduga, Bumi membalikkan badannya secara mendadak.
Gerakan yang tiba-tiba itu membuat jarak di antara mereka terkikis habis hingga hanya menyisakan beberapa sentimeter saja.
Langit terkejut, refleks menengadah.
Pada detik itulah, mata mereka kembali bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Kali ini, tidak ada meja besar yang memisahkan mereka.
Langit bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam manik mata hitam Bumi yang dalam.
Ada kilatan aneh di sana, sesuatu yang hangat dan intens, yang seketika membuat lidah Langit mendadak kelu.
Napas hangat Bumi bahkan bisa dirasakan Langit menyapu permukaan kulit keningnya.
Keheningan yang tercipta di antara mereka berdua terasa begitu pekat, seolah waktu sengaja dihentikan untuk memberi ruang bagi debaran jantung mereka yang mulai berpacu tidak beraturan.
Bumi menatap mata Langit selama beberapa saat yang terasa seperti keabadian, seolah sedang membaca lembar demi lembar rahasia yang disembunyikan oleh sang CEO di balik ketangguhannya.
Kesadaran bahwa ada pesona yang berbahaya dari pria di depannya membuat Langit menahan napas.
"Sampai jumpa besok, Langit," bisik Bumi pelan, suaranya terdengar begitu dekat di telinga Langit.
Bumi kemudian berbalik untuk membuka pintu.
Bersamaan dengan itu, Langit yang juga secara refleks ingin membantu membukakan pintu, mengulurkan tangan kanannya menuju gagang pintu logam yang dingin.
Gerakan mereka yang tidak terencana itu terjadi dalam fraksi detik yang sama.
Sebelum tangan Langit sempat menyentuh permukaan gagang pintu, telapak tangan Bumi yang besar dan hangat sudah lebih dulu mendarat di sana.
Alhasil, ketika tangan Langit turun, tangan wanita itu justru mendarat tepat di atas punggung tangan Bumi.
Sentuhan kulit yang tidak sengaja itu mengirimkan sengatan listrik tak kasat mata yang mengejutkan mereka berdua.
"Maaf" langit langsung berkata dengan nada sedikit gemetar.
Bukannya langsung menarik tangannya, Bumi justru membalikkan sedikit telapak tangannya, membuat jemari mereka saling bertautan secara tidak sengaja di atas gagang pintu logam tersebut.
Langit terpaku, matanya melebar menatap tautan tangan mereka yang tidak disengaja itu.
Sentuhannya terasa begitu hangat, menjalar cepat dari telapak tangan menuju dadanya, meruntuhkan sebagian dinding pertahanan.
Bumi tidak langsung melepaskan genggaman tak sengaja nya.
Pria itu justru memberikan sedikit tekanan lembut pada tangan Langit, sebuah gestur posesif yang tidak tertulis dalam draf kontrak kerjasamanya.
Selama beberapa detik yang mendebarkan, mereka berdua hanya berdiri diam, saling merasakan kehangatan, di balik gagang pintu yang tertutup.
Chemistry yang tadinya dianggap Langit sebagai strategi bisnis belaka, malam itu, di depan pintu ruang kerja, mendadak terasa begitu nyata dan berbahaya sebelum pernikahan mereka bahkan resmi dimulai.
"Aku pergi ke kamarku" ucap Bumi dan berjalan lebih dulu, meninggalkan langit yang masih diam terpaku.
Ayo komennya ya, jangan lupa like dan hadiahnya.