NovelToon NovelToon
Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman Tanpa Bunga

Matahari sore menyiramkan warna jingga keemasan di sepanjang dinding-dinding batu Pavilion Timur. Udara dingin pegunungan mulai merayap masuk lewat celah-celah jendela, membawakan aroma tanah basah dan dedaunan pinus. Di dalam kamarnya, Aurelia sedang duduk santai di depan meja rias, memperhatikan Marta yang sedang merapikan lemari pakaiannya.

"Nona Muda," panggil Marta ragu-ragu, memegang sehelai gaun malam berwarna merah muda berenda rumit gaun yang dulu merupakan gaun favorit Aurelia. "Apakah Nona Muda ingin mengenakan gaun ini untuk menyambut malam? Biasanya... jika Raja melintas di koridor utama setelah rapat dewan, Anda akan bersiap di balkon dengan gaun paling mencolok."

Aurelia yang sedang membaca sebuah buku catatan silsilah bangsawan kerajaan tanpa mengalihkan pandangannya, menjawab datar. "Bakar gaun itu, Marta."

Marta tersentak, hampir memprotes. "T-tapi Nona Muda! Ini adalah gaun sutra impor termahal yang dihadiahkan oleh Duke Montclair sebelum Anda berangkat ke—"

"Aku bilang bakar, atau berikan pada pelayan dapur," potong Aurelia dingin. Ia akhirnya menutup bukunya dengan bunyi yang pelan namun tegas. "Warna merah muda yang lembek dan renda-renda konyol itu hanya membuatku tampak seperti cangkir porselen yang mudah dipecahkan. Mulai hari ini, hanya sediakan pakaian berpotongan tegap dengan warna zamrud, biru tua, atau hitam."

"B-baik, Nona Muda," bisik Marta patuh. Ia bergegas melipat gaun itu dan menyimpannya di barisan paling belakang.

Aurelia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman tengah istana.

Di kehidupan sebelumnya, di jam-jam seperti inilah Aurelia akan berdiri berjam-jam di balkon. Ia akan memetik bunga-bunga mawar terbaik, merangkainya menjadi karangan bunga yang indah, lalu berlari menghadang jalan Julian saat sang Raja pulang dari ruang dewan. Ia akan tersenyum lebar, menyodorkan karangan bunga itu sambil merajuk memohon agar Julian bersedia makan malam bersamanya.

Dan apa yang didapatkannya dulu?

Julian selalu melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Pengawalnya akan menerima bunga itu dengan canggung, hanya untuk dibuang ke tempat sampah beberapa menit kemudian oleh para pelayan istana. Aurelia dulu adalah bahan lelucon: Selir Montclair yang bodoh, mengejar Raja membawa bunga bagai gadis desa yang kebingungan.

Ketololan itu resmi berakhir hari ini, batin Aurelia sembari menyilangkan tangannya di dada.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki kuda dan ketukan zirah berat terdengar dari arah gerbang bawah Pavilion Timur. Marta bergegas mengintip lewat celah tirai, dan matanya seketika membelalak lebar.

"N-Nona Muda!" seru Marta dengan suara tertahan. "Raja! Raja Julian datang menuju Pavilion Timur! Beliau... Beliau berjalan kemari tanpa dikawal rombongan besar!"

Aurelia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Alisnya hanya terangkat tipis.

Biasanya, seorang Raja tidak akan mendatangi kediaman selir baru secara mendadak di sore hari tanpa pemberitahuan resmi dari Kepala Rumah Tangga Istana. Namun, reaksi dingin Aurelia di Lorong Cermin tadi siang rupanya telah memicu rasa penasaran di dalam benak pria angkuh itu.

"Marta, duduk di sudut ruangan dan bersihkan cangkir teh," perintah Aurelia tenang. "Jangan berlutut berlebihan, dan jangan bersuara kecuali dipanggil."

"B-baik, Nona Muda!"

Beberapa saat kemudian, pintu kamar Aurelia terdorong terbuka. Tidak ada ketukan. Tidak ada pengumuman dari pengawal.

Julian melangkah masuk ke dalam kamar peraduan Aurelia. Sang Raja telah menanggalkan mantel jubah hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersulam emas dengan rompi kulit hitam yang mempertegas bahunya yang lebar dan tegap. Wajah tampannya tampak agak lelah setelah menghadiri rapat dewan berjam-jam, namun sepasang mata kelamnya tetap memancarkan ketajaman yang menakutkan.

Di kehidupan lalu, jika Julian masuk ke kamarnya seperti ini, Aurelia akan berteriak gembira, berlari memeluk pinggangnya, dan membanjirinya dengan pertanyaan-pertanyaan manja.

Namun sekarang...

Aurelia hanya memutar tubuhnya perlahan dari jendela. Ia membungkuk hormat secara anggun dan tenang, tanpa ada binar gembira sedikit pun di wajahnya.

"Salam untuk Yang Mulia Raja," sapanya halus. "Hamba tidak menyangka akan menerima kehormatan atas kunjungan mendadak Anda di Pavilion Timur."

Julian menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Mata kelamnya menyapu sekeliling kamar peraduan Aurelia.

Kamar itu sangat hening. Tidak ada aroma parfum bunga-bungaan yang biasanya menyengat hidung jika gadis ini berada di dekatnya. Tidak ada karangan bunga mawar di atas meja, tidak ada gaun-gaun berenda yang berserak, dan yang paling ganjil... tidak ada senyuman manja yang biasanya selalu menghiasi wajah putri Montclair ini.

"Kau tidak menyambutku dengan karangan bunga seperti biasanya, Lady Aurelia?" tanya Julian, suaranya terdengar berat dan dalam, dipenuhi nada selidik yang terselubung.

Aurelia mendongak, menatap lurus ke dalam mata sang Raja dengan raut wajah yang polos namun terasa begitu asing.

"Bunga-bunga mawar di taman sudah layu terkena angin sore, Yang Mulia," sahut Aurelia lembut. "Lagipula, hamba menyadari bahwa bunga hanya akan mengotori jemari Anda yang terbiasa memegang pedang dan dokumen kerajaan. Hamba tidak ingin mengganggu kenyamanan Anda dengan hal-hal yang tidak berguna."

Julian menyempitkan matanya. Kalimat itu terucap begitu mulus, namun sindirannya mengenai kebiasaannya mengabaikan bunga-bunga dari Aurelia di masa lalu terasa sangat tajam.

"Kau tampak sangat tenang setelah peristiwa hampir diracuni tadi siang," ujar Julian sembari melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma kayu cendana dari tubuhnya memenuhi udara di sekitar Aurelia. "Apakah kau tidak takut pelaku lainnya masih berkeliaran di pavilion ini?"

Aurelia tidak mundur satu langkah pun saat Julian mendekatinya. Ia tetap berdiri tegap, menatap dada tegap pria itu sebelum mengangkat pandangannya ke mata Julian.

"Ketakutan adalah reaksi yang sangat tidak berguna, Yang Mulia," balas Aurelia pelan namun penuh penekanan. "Ibarat membuang energi untuk meratapi angin malam. Hamba lebih suka menggunakan waktu hamba untuk memastikan bahwa siapa pun yang mencoba menyenggol hamba... akan berpikir seribu kali sebelum melakukannya lagi."

Julian menatap bibir merah alami milik Aurelia yang terkatup rapat tanpa mengulas senyuman. Pria itu menyadari satu hal yang sangat mengganggunya: gadis ini tidak lagi menatapnya dengan rasa cinta.

Mata cokelat yang dulu selalu berbinar-binar penuh kepasrahan itu kini kosong dari obsesi. Seolah-olah seluruh rasa cinta yang dulu menggebu-gebu di dalam dada Aurelia telah menguap mengering dalam semalam, digantikan oleh cangkang es yang begitu kokoh dan tak tersentuh.

"Kau sangat berbeda, Aurelia," bisik Julian, jemari tangannya yang kekar terangkat sedikit, seolah hendak menyentuh helai rambut cokelat kemerahan milik Aurelia, namun ia menahannya di udara. "Apakah pernikahan ini membuatmu menyesal?"

Aurelia tersenyum, sebuah senyuman tipis tanpa kehangatan, sebuah senyuman tanpa bunga.

"Menyesal adalah hak istimewa bagi mereka yang memiliki pilihan, Yang Mulia," jawab Aurelia dingin. "Hamba berada di sini karena takdir dan keputusan keluarga Montclair. Tugas hamba bukanlah untuk menyesal, melainkan untuk bertahan dan berdiri tegak di tempat ini."

Julian terdiam. Jawaban itu begitu matang, begitu rasional, hingga ia hampir tidak percaya bahwa wanita di depannya adalah gadis belasan tahun yang sama dengan yang memohon-mohon padanya dua hari lalu.

Keheningan yang pekat merayap di antara mereka berdua. Julian menatap Aurelia dalam-dalam untuk beberapa saat lagi, mencoba mencari celah kebocoran emosi di wajah cantik itu. Namun Aurelia berdiri kokoh bagai patung pualam yang sempurna, tak memberikan sedikit pun celah bagi sang Raja untuk menembus pertahanannya.

"Mulai besok," tegas Julian akhirnya, menarik kembali tangannya dan berbalik membelakangi Aurelia, "pengawal pribadi dari Istana Utama akan ditempatkan di pintu gerbang Pavilion Timur. Aku tidak ingin ada insiden racun kedua yang merusak nama baik istanaku."

"Hamba berterima kasih atas kebaikan dan perhatian Yang Mulia," sahut Aurelia sembari membungkuk hormat.

Tanpa mengumandangkan kata lain, Julian melangkah keluar dari kamar peraduan itu dengan langkah-langkah lebar.

Ketika pintu kamar kembali tertutup rapat, Aurelia menghembuskan napas pelan. Senyuman dingin yang hakiki kini terkembang sempurna di wajah cantiknya.

Pria yang angkuh, batin Aurelia sembari menatap pintu yang tertutup. Kau terbiasa dikejar dan dipuja, Julian. Sekarang, ketika aku menarik diri dan menutup pintu hatiku rapat-rapat... ketidakberdayaan karena rasa penasaran itulah yang akan perlahan-lahan merobek dominasimu.

~ To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!