NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta

Siang itu, Sagara baru saja menyelesaikan laporan tugasnya di markas. Dengan setelan jas hitam yang rapi, rambut tertata sempurna, dan wajah dingin khasnya, kapten pasukan khusus itu melangkah keluar dari ruangan dengan niat segera menjemput Zea.

Baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba menghadangnya. Soraya muncul dengan senyum manis yang sengaja ia tunjukkan kepada pria yang selama ini menarik perhatiannya.

“Kapten Sagara, tunggu sebentar!” seru Soraya sambil berusaha meraih tangan pria itu.

Sagara dengan sigap menghindar, membuat tangan Soraya hanya menyentuh udara kosong. Senyum di wajah perempuan berseragam militer itu seketika menghilang, digantikan tatapan kesal yang berusaha ia sembunyikan.

“Kenapa, sih, Kapten? Saya cuma ingin bicara sebentar,” keluh Soraya.

“Kalau ada yang ingin disampaikan, katakan saja,” jawab Sagara datar. Ia sama sekali tidak berniat berlama-lama karena masih memiliki tugas yang harus diselesaikan.

Soraya menarik napas, lalu menatap Sagara dengan serius. “Saya ingin Kapten berhenti menjadi pengawal pribadi Gubernur Zea.”

Langkah Sagara terhenti sesaat. Ia menoleh, menatap Soraya seolah ingin memastikan bahwa perempuan itu benar-benar baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Maaf, Lettu Soraya. Bisa ulangi perkataan Anda?” tanyanya dingin.

Soraya mengangkat dagu, berusaha mempertahankan keberaniannya di hadapan pria tersebut. “Kapten tidak harus terus-menerus menjaga perempuan itu, bukan? Dia hanya seorang gubernur, bukan berarti dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Itu bukan keputusan Anda,” jawab Sagara singkat.

Soraya mengembuskan napas kesal karena Sagara bahkan tidak terlihat tertarik mendengarkan pendapatnya. Namun, ia belum menyerah dan kembali melanjutkan perkataannya dengan nada merendahkan.

“Kapten terlalu percaya kepadanya. Kita tidak pernah tahu seperti apa seseorang di balik citra baik yang ditampilkan di depan publik, apalagi seorang gubernur. Saya yakin dia juga punya sisi gelap yang sengaja disembunyikan.”

Sagara diam, membiarkan Soraya melanjutkan perkataannya. Akan tetapi, sorot matanya perlahan berubah semakin dingin ketika perempuan itu mulai membawa-bawa nama Zea dengan cara yang tidak pantas.

“Lihat saja, dia bisa menjadi gubernur karena modal tampang dan orang dalam, bukan karena benar-benar punya kemampuan,” lanjut Soraya. “Banyak orang yang lebih pantas menduduki jabatan itu, tetapi justru dia yang terpilih. Kapten seharusnya bisa berpikir lebih jernih daripada terus membela perempuan seperti itu.”

Suasana di antara mereka mendadak terasa berbeda. Sagara yang sejak tadi hanya menjawab seperlunya kini menatap Soraya dengan ekspresi begitu dingin hingga perempuan itu tanpa sadar menelan ludah.

“Saya tidak menyangka seorang Letnan Satu bisa berbicara seperti itu,” ujar Sagara tegas. “Anda boleh memiliki pendapat pribadi tentang seseorang, tetapi jangan merasa berhak merendahkan orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.”

Soraya tertegun mendengar teguran tersebut. “Saya hanya mengatakan apa yang banyak orang bicarakan di luar sana, Kapten!”

“Hoaks tetaplah hoaks meskipun banyak orang mempercayainya,” balas Sagara tanpa ragu. “Saya jauh lebih mengenal Gubernur Zea daripada Anda, dan saya tidak akan menilai beliau hanya berdasarkan omongan orang lain.”

Soraya mengepalkan tangannya di sisi tubuh. “Kapten benar-benar membelanya?”

“Saya menjalankan tugas saya, Lettu. Saya menjaga seseorang yang dipercayakan kepada saya, bukan ikut menyebarkan kabar yang belum terbukti kebenarannya.” Sagara merapikan ujung jasnya sebelum kembali melangkah, seolah percakapan mereka sudah selesai.

“Kapten!” panggil Soraya dengan suara tertahan.

Sagara tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan meninggalkan Soraya yang berdiri dengan wajah memerah karena marah dan malu.

Perempuan itu menatap punggung Sagara hingga pria tersebut menghilang di balik pintu. Kedua tangannya mengepal kuat, sementara pikirannya dipenuhi rasa kesal karena Sagara justru semakin membela Zea.

“Baiklah, Kapten Sagara,” gumam Soraya dengan tatapan tajam. “Kita lihat saja sampai kapan kau akan terus membelanya. Aku akan membuatmu berpaling darinya dan merebutmu, apa pun caranya!”

Sagara langsung meninggalkan markas setelah memastikan tidak ada lagi urusan yang perlu diselesaikan. Ia melirik jam tangannya, mengingat bahwa malam ini Zea harus menghadiri sebuah pesta untuk menerima penghargaan atas kinerjanya sebagai gubernur.

Sebagai pengawal pribadi, ia bertanggung jawab memastikan Zea tiba di lokasi dengan aman. Karena itu, ia segera menuju mansion milik Kakek Sultan untuk menjemput perempuan yang belakangan ini selalu berhasil menguji kesabarannya.

Setibanya di mansion, Sagara mendapati Kakek Sultan dan Althaf sedang bersantai di ruang keluarga. Kedua pria itu tampak berbincang santai sambil menikmati minuman hangat, tetapi begitu melihat kedatangan Sagara, mereka langsung memanggilnya.

“Sagara, kemarilah sebentar. Ada yang ingin Kakek dan Om bicarakan denganmu,” ujar Althaf.

Sagara menghampiri mereka, lalu berdiri tegak dengan sikap hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Duduklah dulu, Kapten. Kita hanya ingin membicarakan sesuatu,” kata Kakek Sultan sambil menunjuk sofa di hadapannya.

Sagara menurut dan duduk dengan punggung tegak. Ia memperhatikan kedua pria itu secara bergantian, menyadari dari raut wajah mereka bahwa pembicaraan kali ini bukan sekadar basa-basi.

Malam harinya, Zea sedang bersiap di kamarnya. Ia mengenakan gaun pesta elegan dengan potongan anggun, dipadukan hijab berwarna senada yang membuat penampilannya terlihat menawan tanpa kehilangan kesan berwibawa sebagai seorang gubernur.

Setelah merapikan ujung hijabnya di depan cermin, Zea mengambil tas kecil yang sudah disiapkan di atas meja. Ia melirik jam dinding, lalu mengerutkan kening ketika menyadari Sagara belum juga muncul.

“Ke mana, sih, Kapten es batu itu? Katanya mau menjemputku,” gumam Zea sambil melirik pintu kamar.

Ia berjalan keluar dan menuruni tangga dengan hati-hati agar gaunnya tidak terinjak. Begitu sampai di ruang tengah, ia kembali melihat ke arah pintu utama, tetapi sosok Sagara masih belum terlihat.

“Jangan-jangan dia lupa kalau malam ini ada acara,” gerutunya. “Kalau sampai aku terlambat gara-gara dia, habis sudah!”

Belum sempat Zea mengeluarkan keluhan berikutnya, Sagara akhirnya muncul dari arah lorong dengan setelan jas hitam yang rapi. Penampilannya terlihat begitu gagah dan tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu membuatnya terburu-buru.

Zea langsung menghampirinya dengan alis terangkat. “Kau dari mana saja? Aku sudah menunggu cukup lama, tahu!”

Sagara menatap Zea sekilas sebelum menjawab dengan nada datar, “Saya baru saja dari toilet, Bu.”

Zea berkedip, lalu memandangnya dari ujung kepala hingga kaki. “Toilet? Lama sekali. Memangnya kau sedang membangun rumah di dalam sana?”

Sagara memejamkan mata sebentar, menahan keinginan untuk menghela napas panjang. “Tidak, Bu. Saya hanya menggunakan toilet seperti orang pada umumnya.”

“Ya, aku juga tahu! Memangnya aku bilang kau bukan manusia?” balas Zea spontan.

Sagara memilih diam. Ia sudah cukup mengenal pola percakapan seperti ini untuk mengetahui bahwa membalas setiap perkataan Zea hanya akan membuat perjalanan mereka semakin panjang.

Zea akhirnya mengibaskan tangan, seolah memutuskan untuk mengakhiri perdebatan kecil tersebut. “Sudahlah, ayo berangkat! Jangan lupa kita harus menjemput Intan juga. Dia pasti sudah berdandan cantik dan menunggu kita.”

“Baik, Bu. Mobil sudah siap di depan,” jawab Sagara.

Zea mengangguk puas, kemudian berjalan menuju pintu utama.

Tak lama kemudian, Sagara duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Mobil itu meninggalkan mansion Kakek Sultan menuju rumah Intan, sementara Zea sibuk memeriksa penampilannya melalui kamera ponsel.

1
Septi Septi
semangat berkarya kak,karya mu luar biasa bagus, selalu suka dgn ceritamu
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Septi Septi
zea kau jadi kepala kampung ku aja lah, biyar sejahtera ini pemerintah an kampung ku 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: 🤣🤣🤣 Kalau ada, aku juga mau kak yang kayak Zea ini
total 1 replies
Azka Bara
aq suka novel yang kaya gini ceweknya bar bar dan ada sentuhan komedinya 😍
Carlinaya H.
thanks kak, semoga cerita berikut nya lebih seru
Linda Areros
tetap semangat ya kak author cerita author keren keren
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
banyak yg ngeluh karna rarensi turun
seorang KK cublik saja ngeluh bahkan smpe di hapus
aduh NT ini kenapa sih yaaa
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh bau2 mau tamat saja ini ya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
weeeehhh adegan yg romantis tp penuh dngn dramastik sekali
kek naik roles coaster jadi dah Dig dug gitu 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh piye iki mau apa coba
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
aq ikut tegang bacanya swerr
ini kerjaan siiapa mafia GE seng itu
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha dalah para mafia gendeng yg rela mengeruk uang dr hasil jual beli barang haram pantas saja sagara di suruh menghabisi zea karna di angap ancaman besar
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
kira2 siapa ya yg menyuruh sagara apa jabatanya lebih dan untuk apa mau menghabisi zea apakah karna ancaman gitu
Aqella Lindi
waduh ulat bulu datang 🤣
Aqella Lindi
udah ad rasa si kapten mah,bntar lg pasti bucin 🤭🤭
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
mama_im
thanx kak yul, moga cerita berikutnya lebih baik rate nya 👍👍👍👍
mama_im
aduuuhhhh pernyataan cinta yg sangat dramatis 😅😅😅
Angga Gati
💖💖💖💖💖💖💖💖
FisyanaLica
Ceritanya bagus,, konfliknya g bertele-tele
Yuli Yanti
author sayang knpa cepat banget tamat nya aq blm puas baca nya😭 ya udh lah aq tunggu cerita bru nya yg lbh seru keren lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!