NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Realitas di Bawah Langit Abu-Abu London

Musim dingin di London perlahan mulai melunak, berganti dengan musim semi yang membawa tiupan angin basah serta tetesan hujan lebat yang seolah tak ada habisnya. Namun, bagi Martha dan Adnan, pergantian musim di luar jendela tidak serta-merta mencairkan ketegangan yang mulai merayap di dalam apartemen sempit mereka.

Masa-masa romantis setelah keputusasaan malam jamuan makan malam itu kini berangsur-angsur diuji oleh realitas harian yang begitu kejam. Tanpa fasilitas kartu kredit utama, tanpa perlindungan nama besar keluarga Giorgiana, dan dengan tabungan Martha yang menipis setiap kali membayar sewa apartemen serta tagihan utilitas bulanan, hidup mandiri di salah satu kota paling mahal di dunia itu ternyata menuntut pengorbanan yang jauh melampaui bayangan mereka.

Martha duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas catatan riset, draf naskah bab novel, serta cangkir kopi yang sudah dingin sejak tiga jam lalu. Matanya tampak sayu dengan lingkaran hitam tipis di bawahnya. Jarinya terus menari di atas kibor laptop, merevisi bab demi bab dari naskah bukunya, The Javanese Resonance, yang kini menjadi satu-satunya tumpuan harapan finansial jangka panjang mereka.

Di sudut ruangan yang sama, Adnan sedang tekun merapikan beberapa pesanan kotak kerajinan kayu pesanan galeri seni Asia lokal. Pria itu bekerja dengan sabar, memahat detail motif ukiran tradisional Jawa pada permukaan kayu mahoni kecil menggunakan alat-alat pahat manualnya. Meskipun penghasilannya dari lokakarya daring dan kerajinan tangan itu tidak seberapa dibanding standar hidup di London, Adnan tidak pernah mengeluh sedikit pun.

Namun, keheningan di antara mereka pecah ketika ponsel di atas meja Martha berdering nyaring.

Martha melirik layar ponselnya. Sebuah surel masuk dari penerbit independen di London yang selama ini meninjau draf naskahnya. Dengan tangan bergetar, ia membuka pesan tersebut. Harapan besar yang sempat membuncah di dadanya seketika runtuh berkeping-keping saat membaca kalimat penolakan halus di paragraf kedua: Naskah Anda memiliki potensi yang menarik, tetapi sudut pandang budaya yang diusung terlalu spesifik dan dinilai kurang memiliki daya jual komersial yang kuat bagi pembaca di pasaran Eropa saat ini...

Martha menutup laptopnya dengan bunyi hantaman pelan yang membuat Adnan spontan menghentikan pekerjaannya. Wanita itu menundukkan kepala, membenamkan wajah di antara kedua telapak tangannya, sementara air mata kekecewaan tumpah tanpa suara.

Adnan segera meletakkan pahatnya, bangkit dari kursi, dan melangkah cepat menghampiri Martha. Pria itu berlutut di sisi kursi kerja Martha, lalu dengan lembut menarik tangan wanita itu agar menjauh dari wajahnya.

"Ada apa, Martha?" tanya Adnan dengan suara baritonnya yang tenang, penuh perhatian.

Martha mendongak, menatap Adnan dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi keputusasaan. "Mereka menolaknya, Adnan... penerbit itu menolak naskahku," bisiknya parau, suaranya bergetar hebat. "Mereka bilang ceritanya terlalu spesifik tentang budaya Jawa, kurang komersial. Rasanya... rasanya semua usahaku selama ini sia-sia. Aku sudah kehilangan keluargaku, aku kehilangan kenyamananku, dan sekarang... karya yang kuperjuangkan setengah mati pun dianggap tidak berharga."

Adnan tidak langsung memberikan kata-kata klise penenang. Ia menggenggam erat jemari Martha yang dingin, menyalurkan kehangatan dan keteguhan lewat sentuhan tangannya.

"Kaluwihan saka karya sing jujur yaiku proses wiji sing thukul alon-alon, Martha," ucap Adnan lembut dalam bahasa Jawa, melafalkan nasihat nenek moyangnya. (Kelebihan dari karya yang jujur adalah ia seperti biji yang tumbuh perlahan). "Jangan ukur nilai tulisan Anda dari standar pasar komersial yang dangkal. Jika pintu itu tertutup, itu artinya kita hanya perlu mengetuk pintu yang lain, atau bahkan membangun pintu kita sendiri."

Martha menarik napas panjang, mencoba meresapi ketenangan yang selalu dibawa oleh pria di hadapannya itu. Namun di balik kelegaan sesaat tersebut, ada duri lain yang selama ini tertancap di sudut hatinya—duri yang bersumber dari perbedaan mendasar di antara mereka.

"Adnan..." pusing kepala Martha mendadak terasa berdenyut. Ia menatap lurus ke dalam mata hitam legam Adnan. "Kita bisa bertahan hidup dari tabunganku yang menipis ini mungkin selama beberapa bulan lagi. Tapi bagaimana setelah itu? Kau terus bersikeras bahwa rumahmu ada di Jawa, bahwa akar hidupmu ada di sana. Dan aku... duniaku di sini. Apakah kita benar-benar sedang membangun masa depan bersama, atau kita sebenarnya sedang menunda jurang perpisahan yang tidak bisa dihindari?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tajam bagai belati yang menyayat keheningan ruangan. Topik sensitif tentang masa depan geografis dan kultural hubungan mereka yang selama ini dihindari, kini terpaksa mencuat ke permukaan di tengah puncak kelelahan mental Martha.

Adnan terdiam sejenak. Sorot matanya menyiratkan beban batin yang sama beratnya. Pria itu melepaskan genggaman tangannya perlahan, lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela apartemen yang dibasahi titik-titik air hujan.

"Martha," ucap Adnan pelan tanpa membalikkan badan. "Sejak hari pertama saya memutuskan untuk mendekati Anda, saya tahu bahwa jalan yang kita tempuh tidak akan pernah lurus. Perbedaan kita bukan sekadar tentang di mana kita tinggal nanti—di London atau di Solo. Perbedaan kita menyangkut cara pandang, tradisi, dan yang paling utama... keyakinan kita kepada Tuhan."

Martha ikut berdiri, melangkah mendekati punggung Adnan dengan dada yang bergemuruh hebat. "Lalu apa jawabannya, Adnan? Apakah cinta saja cukup untuk menyatukan dua orang manusia yang memegang prinsip agama dan dunia yang saling bertolak belakang? Sampai kapan kita harus menggantungkan kepastian ini di atas ketidakpastian?"

Adnan berbalik. Ia menatap Martha lekat-lekat, tidak ada keraguan di wajahnya, melainkan ketulusan yang teramat dalam yang justru membuat air mata Martha kembali menetes.

"Cinta saja tidak pernah cukup, Martha," jawab Adnan dengan suara baritonnya yang tegas namun sarat kepedihan. "Tetapi cinta yang disertai dengan keberanian untuk saling menghormati, berdoa, dan bersabar... adalah satu-satunya jembatan yang kita miliki. Saya tidak meminta Anda meninggalkan dunia Anda begitu saja, begitu pula sebaliknya. Tetapi jika kita terus meragukan langkah kita sendiri sebelum badai ini benar-benar reda, maka kita sedang mengalahkan diri kita sendiri sebelum takdir sempat memutuskan."

Kalimat itu menggema di dalam ruangan kecil tersebut, meninggalkan keheningan yang panjang dan menyesakkan. Di tengah rintik hujan musim semi London, dua insan manusia itu berdiri saling berhadapan—terpisahkan oleh benteng tak kasat mata berupa keyakinan dan masa depan yang belum memiliki kepastian, namun disatukan oleh satu hal yang sama: tekad bulat untuk tidak menyerah pada keadaan, setidaknya untuk malam ini.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!