DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PETUNJUK TANPA JAWABAN
Aku langsung berjongkok di depan pintu samping.
Di atas ubin semen yang tertutup kerak tanah merah kusam, selembar potongan kain perca kusam terselip kaku di sudut ambang pintu.
Aku menghentikan pergerakanku, menahan napas mendengarkan keheningan rumah.
Ujung kain itu berwarna abu-abu kotor dengan serat kasar yang terlepas.
Posisinya membuatku teringat pada gesekan yang terdengar semalam.
Hawa dingin yang samar masih terasa berhembus pelan dari balik celah kayu pintu.
Aroma tanah basah yang menyengat semalam kini telah berganti menjadi bau debu kering kusam.
Bercak tanah merah yang sudah mengering melingkar kusam di sekitar serat kain perca tersebut.
Srek... srek...
Suara langkah kaki beralas sandal kain terdengar mendekat dari arah ruang tengah.
Dini muncul di lorong samping sembari membawa sapu ijuk dan pengki plastik di tangan kanannya.
Langkah kaki putri sulungku terhenti seketika saat melihatku berada di dekat ambang pintu samping.
"Bu... Ibu sedang memperhatikan apa di bawah pintu samping?" tanya Dini heran melangkah mendekat.
"Lihat ini, Din. Ada potongan kain perca yang terselip di sudut ubin," sahutku menunjuk ambang pintu.
Dini ikut membungkukkan badan memperhatikan sudut bawah daun pintu kayu.
Mata putri sulungku meledak kaget menyaksikan selembar kain perca kusam tersebut.
"Lho, Bu... itu kain perca lagi?" cetus Dini dengan nada suara memelan tegang.
"Iya, Din. Potongan kain ini terselip di sudut ubin semen depan pintu samping kita," jawabku pelan.
"Tapi wujud kain ini beda sama potongan kain basah yang Ibu temukan hari Kamis kemarin," ujar Dini cermat.
"Kain yang kemarin kan warnanya lebih gelap dan kondisinya sangat lembap," lanjut Dini mengingat fakta.
"Iya, Din. Ibu juga memikirkan hal yang sama," sahutku menyetujui pengamatan putriku.
"Potongan kain yang ini seratnya lebih kasar dan tampak mengering kusam," tambahku menjelaskan bedanya.
"Aneh banget ya, Bu. Kenapa ada kain terselip persis di tempat rembesan tanah semalam?" gumam Dini heran.
"Iya, Din. Makanya Ibu mau ambil kain ini dengan hati-hati tanpa merusak bentuknya," balasku pelan.
"Ibu hati-hati ambilnya, jangan sampai serat kainnya ada yang koyak," pesan Dini menatapku cemas.
"Iya, Din. Ibu pakai kertas koran supaya tangan Ibu tidak menyentuh langsung kainnya," sahutku menenangkan Dini.
Aku mengambil selembar kertas koran bekas dari atas meja sudut, lalu menjepit ujung kain itu dengan hati-hati.
Aku menarik pelan potongan kain kusam tersebut dari selipan bawah daun pintu kayu.
Kain itu terlepas tanpa hambatan, meninggalkan sisa serat kain kusam di atas ubin semen.
Aku membawa potongan kain perca kusam tersebut menuju meja makan porselen di ruang tengah.
Dini mengekor di belakangku, memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan raut wajah penuh tanya.
Ranti yang baru keluar dari kamar mandi ikut berjalan mendekati meja makan dengan napas memburu.
"Bu, itu kain apa yang dibawa pakai kertas koran?" tanya Ranti cemas menatapku.
"Ini potongan kain perca kusam yang terselip di celah pintu samping tadi pagi, Ran," jawabku mendudukkan diri.
"Bu, potongan kain perca yang pertama masih ada di laci meja rias kamar Ibu?" tanya Dini mengejar kepastian.
"Masih terkunci rapat di dalam laci meja rias bersama nota dan buku catatan," sahutku mengangguk pelan.
Aku berjalan menuju kamar tidur utamaku, memutar kunci kecil laci meja rias jati.
Klek!
Laci kayu terbuka pelan, memperlihatkan nota angka 8, buku catatan, dan Kain A yang terbungkus plastik transparan.
Kain A—potongan kain perca basah yang kutemukan di celah pintu rumah Maya pada hari Kamis—masih tersimpan utuh di sana.
Aku mengambil Kain A tanpa membukanya, lalu membawanya kembali ke meja makan porselen.
Di atas permukaan meja makan yang terang oleh sinar matahari pagi, aku meletakkan Kain A dan Kain B berdampingan.
Dini dan Ranti berdiri merapat di sisi meja makan, memperhatikan dua lembar kain perca tersebut secara saksama.
Sinar matahari pagi menyinari dua potongan kain yang terhampar kaku di atas porselen putih meja.
"Tuh kan, Bu... dua kain perca ini jelas-jelas berbeda wujud dan jenisnya," ujar Dini menunjuk kedua kain.
"Kain A warnanya merah gelap kehitaman dan bahannya agak halus, sedangkan Kain B ini warnanya abu-abu kusam berserat kasar," lanjut Dini membandingkan rinciannya.
"Iya, Mbak Dini benar. Kain B ini serat kainnya kasar banget kayak potongan kain lap tua," timpal Ranti ikut mengamati.
"Tapi kenapa dua kain perca yang beda ini bisa muncul di dua tempat yang berdekatan?" tanya Ranti bingung.
"Kain A terselip di celah pintu rumah Tante Maya, lalu Kain B ini terselip di pintu samping rumah kita," lanjut Ranti mengejar penjelasan.
Aku memandangi dua potongan kain di atas meja makan sembari merapikan napas yang terasa agak berat.
Perasaan janggal kembali merayap di dalam dadaku menyaksikan dua benda petunjuk yang membisu di hadapan kami.
"Ibu belum tahu pasti apa hubungan dua kain perca ini, Ran," sahutku jujur.
"Yang jelas, Kain B ini baru muncul tadi pagi setelah ada ketukan dan rembesan tanah merah di pintu samping," tambahku menegaskan fakta.
"Apa mungkin kain ini diselipkan oleh orang yang berdiri di luar pintu semalam, Bu?" tanya Dini menduga.
"Bisa jadi seperti itu, Din. Tapi kita tidak boleh menebak-nebak tanpa bukti yang jelas," jawabku menenangkan anak-anak.
"Kita simpan dua kain ini baik-baik sampai Pak RT dan Polsek datang memeriksa," tegasku pada kedua putriku.
Aku membungkus Kain B dengan plastik transparan baru, lalu memasukkannya ke dalam laci meja rias kamar tidurku.
Klek!
Laci kayu jati itu kembali kututup dan kukunci rapat-rapat memakai kunci kuningan kecil.
Matahari hari Minggu tanggal 8 bergerak makin tinggi melintasi langit Kota Malang.
Pukul dua belas siang, hawa panas terik menyengat di luar rumah beradu kaku dengan keheningan di dalam ruang tengah.
Sinar matahari menembus kaca jendela depan, memantul kaku di atas permukaan meja makan porselen.
Kami bertiga menyantap makan siang sederhana berupa nasi hangat dan tempe goreng tanpa banyak bersuara.
Setiap dentang jam dinding di ruang tengah terasa makin menekan syaraf dan menambah kecemasan di dalam dada.
Rumah Maya di sebelah kanan masih berdiri membisu di balik himpitan gembok perak dan rantai besi pagar depan.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan atau aktivitas apa pun di dalam pekarangan rumah tetangga sebelah kami itu.
Hanya dahan pohon mangga tua yang sesekali bergoyang pelan diterpa hembusan angin siang Kota Malang.
Dini meletakkan piring makannya yang telah kosong di atas meja, lalu meraih telepon genggam hitamnya.
"Bu, Dini coba telepon nomor Mas Rian sekali lagi, nggih?" izin Dini memandangi layar HP.
"Iya, Din. Coba hubungi lagi, siapa tahu sekarang nomornya sudah aktif," sahutku mengangguk setuju.
Dini menekan tombol panggilan, mendekatkan telepon genggam ke telinga kanannya.
Suasana di meja makan mendadak hening seketika saat kami bertiga menanti respon sambungan telepon.
Beberapa detik berlalu, Dini menggelengkan kepalanya lesu sembari menurunkan telepon genggam.
"Tetap tidak bisa dihubungi, Bu. Cuma ada suara rekaman otomatis dari operator seluler," ujar Dini kecewa.
"Suara rekamannya persis seperti kemarin malam waktu Ibu coba telepon," lanjut Dini menjelaskan.
"Iya, Din. Keberadaan mereka berdua sampai siang ini memang belum ada kabar sama sekali," balasku mengusap dada.
"Padahal hari ini sudah masuk hari Minggu tanggal delapan," gumam Ranti memandangi kalender dinding.
"Iya, Ran. Kalender di dinding memang tepat menunjukkan angka delapan hari ini," balasku pelan.
"Apalagi Pak Wo tadi pagi bilang pintu dapur belakang rumah sebelah kelihatan terbuka sedikit," tambah Ranti teringat laporan Pak Wo.
"Iya, Ran. Pintu dapur belakangnya memang kelihatan agak renggang waktu diintip dari atas tembok," sahutku membenarkan.
"Tapi Pak Wo dan Pak RT belum tahu pasti apa penyebab pintu dapur itu bisa terbuka," lanjutku menegaskan Knowledge Firewall.
"Ibu khawatir kalau masalah utang material Mas Rian ada hubungannya sama kepergian mereka," bisik Dini pelan.
"Bisa jadi ada hubungannya, Din. Tapi kita tunggu dulu kabar resmi dari Pak RT sore nanti," sahutku menenangkan Dini.
"Kita tidak usah keluar rumah sendirian sebelum Pak RT kembali dari Polsek," pesanku pada Dini dan Ranti.
"Inggih, Bu. Dini dan Ranti tetap di dalam rumah menemani Ibu," jawab Dini mantap.
"Apalagi tetangga depan tadi juga tanya-tanya soal rumah sebelah yang kelihatan sepi," tambah Dini teringat percakapan pagi.
"Iya, Din. Warga gang memang mulai heran melihat rumah sebelah tutup terus sejak hari Rabu," balasku mengangguk pelan.
Pukul tiga sore lewat lima belas menit, suara langkah kaki terdengar mengetuk teras depan rumah kami.
Langkah kaki itu terdengar tergesa-gesa menyusuri ubin semen teras depan.
Srek... srek...
Suara gesekan langkah kaki dari luar teras membuat kami bertiga seketika berdiri dari kursi meja makan.
Tok! Tok! Tok!
Tiga ketukan pelan dan teratur berbunyi dari permukaan kayu pintu depan rumah kami.
"Sintan teng jawi?" seruku lantang sembari berjalan perlahan menuju pintu depan.
"Bu Sari, niki kulo, Pak RT bersama Pak Wo," sahut suara Pak RT dari balik pintu depan.
Aku memutar kunci selot besi pintu depan, membukanya lebar-lebar.
Pak RT dan Pak Wo berdiri di teras rumah dengan raut wajah yang tampak sangat serius dan lelah.
Pak Wo memegang map kertas cokelat di tangan kirinya sembari menyapu keringat di dahi.
"Puntenten mengganggu sebentar, Bu Sari," sapa Pak RT pelan dari balik pagar teras.
"Wonten perkembangan punapa, Pak RT?" tanyaku menatap Pak RT dan Pak Wo bergantian.
"Sampai sore jam tiga ini, kulo dan warga belum dapat kabar sama sekali soal Rian atau Maya," ujar Pak RT menyampaikan kabar.
"Nomor HP Rian juga tetap tidak bisa dihubungi sejak tadi pagi," lanjut Pak RT menggelengkan kepala.
"Maka dari itu, kulo dan Pak Wo sore ini mau berangkat ke Polsek untuk melapor dan berkoordinasi," tegas Pak RT memberitahukan rencananya.
"Kami mau minta bantuan pihak Polsek untuk mengecek kondisi dalam rumah Maya secara resmi," tambah Pak Wo menjelaskan.
"Laporan resmi ini penting supaya penanganan rumah sebelah ada dasar hukum warga yang jelas," ujar Pak RT menambahkan.
"Kami juga mau koordinasi sama petugas jaga di Polsek untuk minta pendampingan petugas," tambah Pak Wo memperjelas rencana.
Aku mengangguk mantap menyetujui langkah hukum dan prosedur warga yang diambil Pak RT.
"Langkah Pak RT pun sangat tepat. Memang harus ada laporan resmi ke Polsek supaya keadaannya terang," sahutku setuju.
"Oh inggih, Pak RT. Ada satu hal lagi yang baru kulo temukan di ambang pintu samping," tambahku memberi tahu.
Pak RT dan Pak Wo menatapku heran dengan kening berkerut dalam.
"Hal apa itu, Bu Sari? Ada bukti baru lagi?" tanya Pak RT penasaran.
"Di balik kerak tanah merah tadi pagi, ada selembar potongan kain perca kusam yang terselip di ubin samping," terangkan pelan.
"Wujud kainnya berserat kasar dan berbeda dari kain perca yang kemarin pernah kelihatan," lanjutku tanpa mengklaim kesimpulan mendalam.
Pak Wo mengangguk-angguk serius mencatat penjelasan fakta dariku di atas lembaran kertas.
"Matur nuwun informasinya, Bu Sari. Nanti keterangan ini akan kulo sampaikan juga saat laporan di Polsek," ujar Pak RT.
"Nanti malam setelah kembali dari Polsek, kulo bakal kabari perkembangan terbaru ke Bu Sari," pesan Pak RT sebelum pamit.
"Inggih, Pak RT. Matur nuwun sanget atas kepedulian dan bantuannya," balasku menghaturkan terima kasih.
Pak RT dan Pak Wo melangkah meninggalkan teras rumah kami, berjalan menuju arah jalan raya gang.
Aku menutup pintu depan rumah kembali, memutar kunci selot besi rapat-rapat.
Sinar matahari sore Kota Malang perlahan-lahan meredup di balik bayangan atap rumah.
Hari Minggu tanggal 8 telah memasuki waktu sore hari, namun ketegangan di dalam dada belum mereda.
Dua petunjuk kain perca, jejak tanah merah di pekarangan belakang, dan keberadaan Maya yang belum jelas masih menjadi misteri kaku.
Malam hari Minggu tanggal 8 akan segera tiba menggantikan teriknya siang.
Aku berdiri membisu di ruang tengah, memandangi lingkaran spidol hitam angka 8 di kalender dinding.
Krrrit...
---