Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pertemuan pertama Ivy dengan kakek dan Nenek Edgar 1
Setelah lamarannya diterima oleh Ivy, Edgar memutuskan untuk membawa Ivy menemui kakek dan neneknya. Sejujurnya, Edgar sudah cukup lama menunda pertemuan itu. Bukan karena dia tidak ingin memperkenalkan Ivy kepada keluarganya, tetapi karena dia tahu betul bagaimana sifat kakek dan neneknya. Mereka berdua selalu memiliki standar yang tinggi untuk setiap wanita yang berusaha mendekati cucu mereka, tak sembarang wanita bisa dengan mudah mendapatkan tempat di hati mereka. Terlebih neneknya, dia sangat pemilih dan memiliki mulut yang sangat tajam.
Begitu mobil Edgar berhenti di depan rumah besar milik kakeknya, Ivy menatap bangunan tersebut dengan sedikit gugup begitu juga dengan Edgar, pria itu hanya berharap semoga kakek dan neneknya bisa menerima Ivy.
"Edgar..." panggil Ivy pelan, saat ini dia benar-benar gugup. Rasa takut mulai menghantuinya, dia khawatir kakek dan nenek Edgar tidak bisa menerimanya apalagi dengan statusnya yang pernah menikah.
"Ya?" Tanya Edgar dengan mengerutkan keningnya, tatapannya begitu tenang walaupun tidak dengan hatinya.
"Apa mereka akan menyukai aku? Kau tau sendiri, aku punya masa lalu yang tidak begitu baik." Lirih Ivy, tatapannya terlihat cemas.
Edgar tersenyum dan menggenggam tangan Ivy, memberikan wanita itu kekuatan melalui genggaman tangannya.
"Jangan khawatir, mereka pasti menyukaimu." Kata Edgar, walaupun sebenarnya dia sendiri juga tidak tau apakah kakek dan neneknya akan menyukai Ivy atau tidak. Tadi sebelum ke sini, Edgar sudah menginfokan pada kakek dan neneknya kalau dia akan mengajak Ivy ke rumah mereka malam ini.
Ivy mengangguk kecil, tatapannya masih di liputi kecemasan.
"Semoga saja." Lirih Ivy.
Namun, sebelum Edgar sempat mengatakan apa pun lagi, pintu rumah itu sudah terbuka. Lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah dipenuhi uban berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Edgar!" Teriak pria itu lantang, mendengar teriakan dari kakek Edgar membuat nyali Ivy semakin ciut.
Edgar baru saja akan melangkah masuk, ketika pria tua itu langsung menatap ke arah Ivy. Tatapan sang kakek berubah seketika, matanya membesar.
"Itu..."
James bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya, dia langsung berjalan cepat menghampiri Ivy.
"Kau Ivy?" Tanya James sambil menatapnya tajam, lalu sedetik kemudian tatapannya berubah teduh.
Ivy sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum sopan.
"Ya tuan, saya Ivy. Senang bertemu dengan anda." Ucap Ivy sopan dengan senyum kecil, dia kemudian menundukkan kepalanya sedikit sebelum meraih tangan kakek James dan menyalimnya dengan penuh hormat.
Mata James langsung berbinar, menurutnya wanita yang di bawa oleh cucunya ini tidak hanya cantik tapi juga sangat sopan.
"Jangan memanggilku tuan, panggil saja aku Granpa seperti Edgar." Ujar kakek James dengan senyum hangat, tatapannya begitu lembut hingga membuat Ivy sedikit lebih tenang.
"Apakah tidak apa-apa, saya memanggil anda seperti itu?" Tanya Ivy pelan, tatapannya sedikit ragu, seolah masih merasa sungkan untuk menggunakan panggilan sedekat itu.
"Tentu saja tidak masalah." Jawab kakek James sambil tersenyum hangat.
"Mulai sekarang, jangan sungkan memanggilku Granpa. Karena mulai sekarang aku bukan hanya kakek Edgar tapi kakekmu juga, jika Edgar bisa memanggilku Granpa maka kau juga bisa memanggilku begitu." Lanjut kakek James.
Ivy terdiam sejenak, ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya saat mendengar ucapan itu.
Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia buru-buru tersenyum untuk menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba muncul.
"Terima kasih Granpa." Ucap Ivy lirih, suaranya sedikit bergetar sebelum ia menundukkan kepala dengan senyum penuh haru.
Sedangkan Edgar yang sejak tadi berdiri di samping Ivy hanya terdiam, tatapannya beralih pada sang kakek yang kini tersenyum hangat pada kekasihnya itu.
Senyum kecil perlahan terukir di wajah Edgar, ada rasa lega yang tak bisa ia sembunyikan. Kekhawatiran yang sejak tadi memenuhi pikirannya seolah menghilang begitu saja.
Melihat sang kakek menerima kehadiran Ivy dengan begitu hangat, Edgar merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, satu hal yang ia takutkan tidak terjadi.
Edgar lalu mendekat sedikit ke arah kakeknya, lalu membisikkan sesuatu dengan suara pelan agar hanya mereka berdua yang mendengarnya.
"Terima kasih, Granpa. Terimakasih karena sudah mau menerima Ivy sebagai kekasihku." Bisik Edgar tulus.
Senyum kecil terukir di wajahnya, ada rasa lega dan bahagia yang terpancar jelas dari tatapannya.
Kakek James perlahan menggenggam tangan Ivy dengan lembut.
"Terimakasih ya, karena kamu sudah mau menerima cinta cucu kakek. Edgar itu bukan orang yang pintar mengungkapkan Perasaannya, tapi Granpa tahu betapa berartinya kamu untuknya." Kata Kakek James tulus.
Ivy terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca mendengar ucapan tulus itu.
Edgar lalu meraih lengan Ivy dan menggenggamnya lembut, senyum tipis juga terukir di wajahnya, seolah ingin menginginkan Ivy pada ucapannya tadi.
"Kan, sudah ku bilang." Ujar Edgar pelan.
"Granpa pasti akan menyukaimu, jadi sekarang jangan khawatir lagi." Lanjut Edgar
Ivy mengangguk pelan, senyum kecil menghiasi wajahnya. Rasa gugup yang sejak gadi memenuhi hatinya perlahan berubah menjadi rasa lega.
"Ya, kau benar." Ucapnya lirih.
"Sekarang aku tidak perlu khawatir lagi." kemudia Ivy melanjutkan ucapannya.
Edgar yang melihat Ivy akhirnya terlihat tenang pun tersenyum kecil, tanpa banyak bicara dia merentangkan tangannya dan memeluk Ivy dengan hangat.
Ivy sempat terkejut, tetapi kemudian membiarkan dirinya berada dalam pelukan itu. senyum tipis kembali terukir di wajahnya, sementara rasa gugup yang sejak tadi menghantui nya perlahan menghilang.
Belum sempat Edgar menikmati momen itu lebih lama, suara sang kakek tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Ehem!"
Suara deheman itu cukup keras hingga membuat Edgar dan Ivy sontak menoleh, Kakek James berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap mereka dengan alis terangkat.
"Sudah sudah, kalian lupa kalau Granpa masih ada di sini." Sindir kakek James.
Edgar langsung melepaskan pelukannya dan menatap kakek James tajam, sementara Ivy menunduk denhan wajah memerah karena malu.
"Maaf, aku lupa kalau Granpa masih di sini." Sindir Edgar.
"Ivy, ayo kita masuk ke dalam. Abaikan saja pria bodoh itu." Ucap kakek James sambil menggandeng Ivy masuk.
Edgar yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka hanya bisa menghela napas.
"Granpa, aku juga ada di sini."
James menoleh sebentar.
"Oh."
Hanya satu kata, mendengar respon sang kakek wajah Edgar semakin kesal.
Kakek James lalu terkekeh pelan saat melihat ekspresi kesal cucunya. Ia kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Ivy dengan senyum ramah.
"Sudah makan?"
Ivy menggeleng kecil.
"Belum, Granpa." Ujar Ivy lembut.
"Bagus! Berarti kau bisa makan malam bersama kami." Ucap kakek James santai.
Ivy tampak sedikit terkejut, sementara Edgar hanya tersenyum kecil. Jelas sekali sang kakek sudah mulai menerima kehadiran Ivy di tengah keluarga mereka.
"Granpa, bagaimana denganku." tanya Edgar, tapi kakek James malah mengabaikannya.
"Ivy, ayo tidak usah pedulikan dia." Ujar kakek James.
Ivy menoleh kepada Edgar dengan wajah sedikit canggung.
Edgar hanya mengangkat kedua tangannya pasrah.
"Sudah, ikuti saja dia."
Bersambung