Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi di Balik Meja Jati dan Tiket Menuju Medan Perang
Panggilan dari pengeras suara sekolah yang menggema di seluruh penjuru lorong menghentikan gerak pena Juwita. Namanya dipanggil menghadap Kepala Sekolah. Tanpa firasat buruk, gadis itu merapikan buku tulis lusuhnya yang kini berisi ribuan baris kode algoritma kecerdasan buatan—hasil kerja semalaman suntuk yang ia tulis manual tanpa bantuan mesin. Langkahnya tegas menyusuri lorong, menapaki lantai marmer yang memantulkan bayangan seragam kusamnya, menuju ruang kekuasaan tertinggi di SMA Pelita Bangsa.
Namun, saat pintu kayu jati berukir itu terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menusuk pori-porinya, membawa serta aroma kelicikan yang begitu pekat. Di atas sofa kulit yang mewah, duduk Kevin Aditama dengan kaki menyilang santai, ditemani seorang pria berjas rapi yang Juwita kenali sebagai asisten pribadi keluarga Aditama. Di balik meja kebesarannya, Pak Haris, sang Kepala Sekolah, tampak salah tingkah dan menghindari kontak mata dengan Juwita.
"Duduk, Juwita," ucap Pak Haris, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar kebapakan, meski senyumnya memancarkan kepalsuan yang menjijikkan.
Juwita tetap berdiri tegak. "Ada apa, Pak? Batas akhir pengumpulan draf proposal dan pendaftaran kompetisi nasional ditutup tengah malam ini. Saya butuh stempel sekolah untuk formulir pendaftaran saya."
Pak Haris berdeham, menautkan jemarinya di atas meja. "Begini, Juwita. Pihak sekolah sudah mengadakan rapat dewan guru pagi ini. Kami meninjau kembali kesiapan para kandidat. Dan... melihat kondisimu yang bahkan tidak memiliki laptop untuk mempresentasikan programmu, sekolah memutuskan untuk menarik namamu dari daftar perwakilan."
Dunia Juwita seakan berhenti berputar. Matanya melebar tak percaya. "Ditarik? Tapi saya yang lolos seleksi internal, Pak! Saya yang mendapatkan nilai sempurna! Soal laptop, saya bisa meminjam komputer perpustakaan untuk mengunggah datanya!"
"Jangan naif, Juwita!" nada suara Pak Haris mulai meninggi, topeng kelembutannya sedikit retak. "Ini kompetisi tingkat nasional! Sekolah butuh perwakilan yang merepresentasikan prestise Pelita Bangsa. Keluarga Aditama telah berbaik hati menjadi sponsor utama keberangkatan tim sekolah kita. Sebagai gantinya, Kevin yang akan maju mewakili sekolah. Dia punya fasilitas, dia punya tim pendukung, dan dia punya perangkat yang memadai. Kau? Kau hanya akan mempermalukan nama sekolah jika maju dengan tangan kosong."
"Ini bukan soal fasilitas! Ini soal siapa yang punya otak untuk menyelesaikan masalah algoritma di kompetisi itu!" bantah Juwita, napasnya mulai memburu. Ia menoleh ke arah Kevin yang kini tersenyum penuh kemenangan. Pemuda itu bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tipu muslihatnya.
Kevin bangkit dari sofa, berjalan memutari tubuh Juwita bak predator yang tengah mengintai mangsa tak berdaya. "Lo pikir dunia ini berjalan cuma pakai otak, Anak Haram? Dunia ini berputar pakai uang dan kekuasaan. Sesuatu yang lo dan ibu lo si babu cuci itu nggak akan pernah punya. Terima aja nasib lo. Lo itu cuma sampah yang kebetulan numpang lewat di istana gue."
Dada Juwita naik turun. Rasa ketidakadilan ini meremas jantungnya begitu kuat hingga ia merasa sesak napas. Ia menatap Pak Haris dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi amarah yang membara. Seorang pendidik yang seharusnya menjunjung tinggi kejujuran, kini tunduk menjilat sepatu seorang anak konglomerat.
"Bapak menukar masa depan murid Bapak demi uang donasi?" suara Juwita bergetar, rendah namun menembus relung hati siapa pun yang masih memiliki nurani. "Bapak membunuh mimpi saya hanya karena saya miskin?"
Pak Haris memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata bulat gadis jenius itu. "Keluar dari ruanganku, Juwita. Keputusan sekolah sudah bulat. Sistem portal pendaftaran sekolah sudah dikunci. Kau tidak bisa mendaftar."
Juwita membalikkan badannya. Ia tidak menangis. Tidak di depan para pengecut ini. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan rahang terkatup rapat, menutup pintu kayu jati itu dengan bantingan keras yang menggema di seluruh lorong, meninggalkan Kevin yang tertawa puas di dalam sana.
Sepanjang perjalanan pulang di bawah terik matahari Jakarta yang memanggang, pertahanan Juwita akhirnya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan mengalir deras membasahi pipinya. Ia memeluk buku tulisnya erat-erat ke dadanya. Ribuan baris kode ini... kerja keras ibunya... semuanya terasa sia-sia. Untuk apa ia jenius jika dunia selalu menemukan cara untuk menjegal kakinya? Kelicikan keluarga Aditama begitu masif, seperti jaring laba-laba raksasa yang mencekiknya dari segala arah.
Setibanya di gang kumuh, Juwita langsung menghambur ke pelukan Dara yang tengah memilah rongsokan plastik. Tangis gadis itu meledak, menumpahkan segala keputusasaan, kemarahan, dan rasa sakit yang ditorehkan oleh ketidakadilan yang baru saja ia cicipi. Ia menceritakan semuanya, tentang Kevin, tentang Kepala Sekolah yang korup, dan tentang pendaftaran yang ditutup tengah malam nanti.
Dara mendengarkan semuanya dalam diam. Tangan kasarnya membelai rambut putrinya. Namun, jika Juwita mengharapkan ibunya ikut menangis dan meratapi nasib, ia salah besar. Dara menangkup wajah Juwita, menghapus air mata putrinya dengan ibu jari yang dipenuhi luka goresan. Sorot mata wanita paruh baya itu menyala dengan ketangguhan seorang ibu serigala yang siap menerkam demi anaknya.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk memindahkan tulisanmu di buku ini ke dalam komputer?" tanya Dara cepat.
Juwita terisak, menatap ibunya bingung. "Tiga jam, Bu... tapi sekolah sudah memblokir aksesku. Aku tidak bisa mendaftar lewat jalur sekolah."
"Kompetisi sebesar itu pasti punya jalur independen untuk anak-anak yang tidak terafiliasi sekolah, kan?" potong Dara.
Mata Juwita sedikit melebar. "Ada, Bu. Jalur Terbuka. Tapi pendaftarannya sangat rumit, kita harus meretas masuk ke server simulasi panitia untuk mendapatkan formulirnya. Dan... kita butuh komputer dengan spesifikasi tinggi beserta koneksi internet yang sangat stabil. Di mana kita bisa mendapatkan itu, Bu? Warnet di ujung gang layarnya sering mati, dan kita tidak punya uang seratus ribu untuk menyewa komputer gaming di pusat kota."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dara menarik tangan putrinya, memaksa gadis itu berdiri. "Bawa bukumu. Kita pergi sekarang."
Dara membawa Juwita berjalan kaki menembus keramaian pasar sore, menempuh jarak hampir lima kilometer hingga mereka tiba di depan sebuah warung internet khusus esports yang mewah di kawasan ruko elite. Kaca warnet itu gelap, memancarkan cahaya neon warna-warni dari dalam.
Setibanya di meja kasir, seorang penjaga warnet bertato menatap mereka dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. Pakaian lusuh dan aroma keringat yang menempel di tubuh Dara dan Juwita jelas tidak pantas berada di ruangan ber-AC yang wangi ini.
"Bang, tolong, anak saya butuh komputer paling cepat di sini selama tiga jam. Dia harus mendaftar lomba malam ini juga," ucap Dara memohon, suaranya terdengar putus asa namun tegas.
Penjaga itu mendengus sinis. "Komputer VIP di ruang kaca itu tiga puluh ribu per jam, Bu. Tiga jam sembilan puluh ribu. Bayar di depan. Ibu punya uangnya?"
Dara terdiam. Tangannya merogoh saku celana kainnya yang lusuh. Ia mengeluarkan segenggam uang receh dan beberapa lembar uang dua ribuan yang kusut—totalnya tidak sampai dua puluh ribu rupiah. Itu adalah uang makan mereka untuk esok hari. Penjaga itu tertawa mengejek melihat tumpukan uang receh tersebut.
"Uang segitu buat beli es teh manis aja kurang, Bu. Udah sana, jangan bikin kotor lantai, mengganggu tamu yang lain!" usir penjaga itu sambil mengibaskan tangannya.
Juwita menunduk, menarik ujung baju ibunya. "Bu, sudah, Bu. Kita pulang saja. Juwita nggak ikut lomba nggak apa-apa..."
"Tidak!" potong Dara tegas. Ia menatap tajam penjaga kasir itu. Tiba-tiba, tanpa ragu sedikit pun, Dara mengangkat tangannya ke belakang leher, merogoh bagian kerah bajunya, dan menarik seuntai kalung emas tipis—sangat tipis hingga nyaris seperti benang. Itu adalah satu-satunya peninggalan almarhumah nenek Dara, harta terakhir yang tidak pernah ia jual bahkan saat mereka nyaris kelaparan berhari-hari.
Dara meletakkan kalung itu di atas meja kasir, tepat di depan wajah penjaga yang kini terbelalak kaget.
"Ambil ini. Jual kalung ini. Harganya jauh melebihi sembilan puluh ribu," ucap Dara, suaranya tak sedikit pun bergetar, meski hatinya menjerit melepaskan benda bersejarah itu. "Berikan anak saya komputer paling cepat yang kalian miliki. Jika koneksinya putus walau hanya satu detik, aku akan kembali ke sini dan menghancurkan mejamu. Mengerti?!"
Aura intimidasi dari seorang ibu yang terdesak membuat nyali penjaga itu ciut. Ia buru-buru mengambil kalung itu, mengangguk cepat, dan memberikan secarik kertas berisi kata sandi kepada Juwita. "B-bilik VIP nomor tujuh, Neng."
Juwita menatap ibunya dengan air mata yang kembali menggenang. "Ibu... kalung itu..."
"Kalung itu benda mati, Juwita. Tapi masa depanmu hidup," potong Dara lembut, mendorong bahu putrinya menuju bilik kaca. "Masuk ke sana. Bertarunglah. Hancurkan kesombongan mereka dengan otakmu."
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Di dalam bilik VIP yang dingin dan sunyi, Juwita membuka buku tulis usangnya. Jari-jemarinya mulai menari di atas keyboard mekanis yang menyala terang. Matanya tidak berkedip, terfokus sepenuhnya pada layar monitor. Ia melancarkan serangan siber skala kecil untuk menembus tembok pertahanan server panitia kompetisi yang memang sengaja dibuat untuk menyaring peserta Jalur Terbuka. Otaknya bekerja sepuluh kali lebih cepat dari komputer yang ia gunakan.
Ketegangan di dalam bilik itu nyaris bisa diiris. Kode demi kode, baris demi baris, ia pindahkan dari lembaran kertas ke dalam bahasa mesin. Waktu terus berdetak tanpa ampun. Pukul sepuluh malam, firewall panitia berhasil ia retak. Formulir pendaftaran terbuka. Pukul sebelas malam, ia mulai mengunggah algoritma kecerdasan buatannya yang berkapasitas besar. Jantungnya berdebar kencang saat melihat bilah progres (progress bar) bergerak merambat lambat, tertahan di angka 89 persen.
Di luar bilik kaca, Dara berdiri mematung. Ia tidak duduk sedikit pun. Matanya terus menatap putrinya yang tengah bertaruh nyawa di medan perangnya sendiri. Ia komat-kamit merapalkan doa kepada Tuhan yang rasanya sudah lama tidak berpihak pada mereka.
Pukul 11:55 malam. Tinggal lima menit sebelum portal pendaftaran ditutup secara otomatis di seluruh Indonesia.
Bilah progres berhenti di angka 95 persen. Layar menampilkan tulisan 'Processing Data...'
Keringat dingin membasahi pelipis Juwita. Jari-jarinya gemetar menggenggam tepi meja. "Ayo... kumohon, ayolah..." bisiknya panik. Bayangan Kevin yang menertawakannya, bayangan wajah arogan Riko Aditama di masa lalu, dan tamparan yang diterima ibunya berkelebat menjadi bahan bakar kemarahannya.
Pukul 11:58 malam.
Tiba-tiba, sebuah bunyi 'ding' yang sangat renyah terdengar dari speaker. Layar monitor berubah warna menjadi hijau terang. Sebuah sertifikat digital dengan lambang garuda muncul, menampilkan tulisan besar yang berkedip:
PENDAFTARAN JALUR TERBUKA BERHASIL. Peserta: Juwita. Status: Terverifikasi untuk Kompetisi Nasional.
Juwita menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, membuang napas panjang yang seolah telah ia tahan selama belasan tahun. Tangannya gemetar hebat saat ia menutupi wajahnya, menangis tertahan oleh rasa syukur dan kelegaan yang tak terlukiskan. Ia berhasil. Di tengah semua sabotase busuk, manipulasi, dan kemiskinan yang mencekik, ia berhasil membuka paksa gerbang itu.
Dara membuka pintu bilik kaca, langsung memeluk putrinya erat-erat dari belakang. Keduanya menangis tanpa suara di tengah gemerlap lampu komputer. Air mata haru itu membasahi lantai warnet, menandai titik balik dari nasib mereka yang kelam. Malam itu, keluarga Aditama mengira mereka telah berhasil menginjak seekor semut hingga mati, namun tanpa mereka sadari, mereka baru saja membangunkan seekor naga yang kini siap membumihanguskan seluruh kerajaan mereka.