Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Dan Senyum Setipis Tisu 08.
Koridor sekolah sore itu sudah sepi saat Daffa berjalan dengan gaya mirip penguin.
Tas ranselnya sengaja diturunkan serendah mungkin, memukul-mukul bagian belakang paha demi menutupi plester luka jumbo yang menempel di celananya.
Di belakangnya, Lilis berjalan sambil menggigit bibir bawah, mati-matian menahan tawa agar tidak menyembur lagi.
Mereka berpisah di area parkir tanpa kata perpisahan yang puitis.
Daffa hanya menatap Lilis tajam—yang dibalas Lilis dengan juluran lidah—sebelum mereka menaiki motor masing-masing.
Deru mesin motor Daffa membelah jalanan, disusul Lilis yang berkendara dengan senyum yang mendadak sulit hilang dari wajahnya.
Remaja memang aneh. hal sekonyol celana robek bisa jadi awal dari sesuatu yang tidak mereka pahami.
Buktinya? Saat esok paginya.
Atmosfer sekolah berubah total. Jam pelajaran kedua adalah jadwal olahraga, dan sialnya bagi kelas mereka, menunya adalah lari maraton keliling kompleks luar sekolah. Tiga putaran penuh.
Sinar matahari pukul sembilan pagi sudah cukup menyengat kulit. Lapangan sekolah dipenuhi murid-murid berseragam kaos olahraga hijau-putih yang tampak kepanasan dan kehabisan napas.
Di sudut dekat pohon beringin, Lilis terduduk di undakan semen dengan napas yang masih memburu.
Keringat membasahi pelipis dan beberapa helai rambutnya menempel di dahi. Dadanya naik turun, rasanya tenggorokannya seperti tersumbat pasir. Kering kerontang.
Lilis meraih botol minum plastik miliknya yang diletakkan di samping tas.
Jemarinya yang gemetar karena lelah mencoba memutar tutup botol tersebut.
Sret.
Meleset.
Lilis berdecak— Kulit telapak tangannya yang basah oleh keringat membuat pegangannya licin. Dia mengelap tangannya ke celana training, lalu mencoba lagi dengan mengerahkan sisa tenaganya.
Wajahnya sampai memerah, urat di tangannya menegang, tetapi tutup botol itu seperti sudah dilem mati oleh pabriknya. Tidak bergeser satu milimeter pun.
"Siniin, ah. Lemah banget jadi cewek."
Sebuah suara serak khas remaja laki-laki memotong keputusasaannya.
Belum sempat Lilis mendongak untuk memaki, botol minum di genggamannya sudah berpindah tangan.
Daffa berdiri di depannya. Cowok itu juga tampak berantakan setelah maraton. Kaos olahraganya agak basah di bagian punggung, memperlihatkan siluet tubuhnya yang tegap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Daffa memegang badan botol dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mencengkeram tutup botol.
Dengan satu sentakan kuat yang terlihat sangat mudah, bunyi krek terdengar.
Tutup botol itu menyerah di tangan Daffa.
Daffa tidak langsung mengembalikannya. Dia sengaja menatap lurus ke depan, ke arah lapangan, lalu dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat, tangan kirinya menyugar rambutnya yang basah ke belakang.
Jari-jarinya menyisir helai-helai rambut hitamnya, membiarkan angin sepoi-sepoi meniup dahinya yang berkeringat. Wajahnya disetel dalam mode paling maskulin yang dia bisa—rahang dikencangkan, pandangan mata dibuat sedingin mungkin. Sok keren maksimal.
Setelah ritual tebar pesonanya selesai, barulah Daffa menyodorkan botol yang sudah terbuka itu ke hadapan wajah Lilis. "Nih. Makanya kalau sarapan itu makan nasi, bukan makan gengsi."
Lilis mendongak, menatap botol itu, lalu beralih ke wajah Daffa yang masih memasang tampang angkuh. Alih-alih terpesona, Lilis langsung memasang ekspresi jijik yang sangat totalitas. Dia memajukan kepalanya, membuka mulutnya sedikit, dan membuat gestur hoek seperti orang yang mau muntah tepat di depan dada Daffa.
"Huekkk! Najis banget, Daffa! Gaya lu kayak jamet perempatan!" semprot Lilis sambil merebut botolnya dengan kasar. "Lagian siapa yang minta tolong? Gue juga bisa sendiri ya kalau mau usaha dikit lagi!"
Daffa langsung mendengus, tampang sok kerennya runtuh seketika, digantikan oleh ekspresi kesal yang familier. "Heh, minimal makasih! Udah ditolongin malah dikatain jamet. Tahu gitu gue biarin lu mati kehausan di sini sampai jadi fosil!"
"Biarin! Daripada ditolongin sama cowok yang narsisnya stadium akhir!" Lilis langsung menenggak air minumnya dengan rakus, mengabaikan Daffa yang kini berkacak pinggang sambil menggerutu tidak jelas tentang "cewek tidak tahu untung".
Daffa akhirnya berbalik, berjalan menjauh menuju gerombolan cowok-cowok lain di tengah lapangan sambil memaki pelan.
Begitu punggung Daffa sudah berjarak beberapa meter dan cowok itu tidak lagi menoleh, Lilis menurunkan botol minum dari bibirnya.
Dia menyeka sisa air di sudut mulutnya dengan punggung tangan.
Matanya memperhatikan punggung Daffa yang bergerak menjauh. Perlahan, ekspresi galak dan jijik di wajah Lilis memudar. Sudut bibirnya yang tadinya ditarik ke bawah, kini perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di wajahnya. Ada rasa hangat yang menggelitik di dadanya, perasaan yang sama seperti saat melihat plester luka jumbo di celana Daffa kemarin sore.
Lilis menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai merayap di kepalanya. Dia kembali meminum airnya, namun kali ini terasa jauh lebih segar daripada biasanya.
......................
...****************...
Tbc,