NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Sore itu, aula SMA Cakrawala Nusantara di Bandung masih dipenuhi dentuman musik yang baru saja dimatikan. Napas para anggota dance team masih terengah, tapi Vierra Quinn Maverick sudah berdiri tegap di depan cermin besar.

Tinggi 160 cm, tubuh proporsional dan lentur, rambut panjangnya yang bergelombang diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang menempel di pipinya karena keringat. Wajahnya cantik tegas—alis rapi, mata tajam penuh percaya diri, bibir mungil dengan senyum miring khasnya. Aura bar-barnya nggak pernah hilang, bahkan saat dia lagi capek.

“Oke, formasi terakhir tadi udah lumayan. Tapi gerakan tangan kalian masih kayak orang nyari sinyal WiFi.” celetuk Quinn santai tapi nyelekit.

Anak-anak tim langsung protes, tapi tetap ketawa.

Setelah latihan bubar, Quinn menjatuhkan diri ke lantai kayu. Finka, sahabatnya yang sama bar-barnya, langsung nyelonong duduk di sebelahnya sambil kipas-kipas pakai buku.

Finka mendesah dramatis.

“Capek banget, sumpah. Tapi demi masa depan jadi dancer yang dilirik Jungkook, gue rela.”

Quinn langsung menoleh dengan tatapan sinis.

“Jungkook lagi. Hidup lo tuh isinya cuma dia sama kuota Twitter ya.”

Finka melotot.

“EH. Bukan cuma Jungkook. Ada BTS. Tapi Joongkok paling utama. Prioritas. Nomor satu. Pancasila boleh lima, Jungkook tetap satu.”

Quinn ngakak.

“Lo kebanyakan halu.”

“Biarin! Daripada lo sok cool tapi wallpaper HP lo siapa? Jangan-jangan Jungkook juga?”

Quinn langsung defensif.

“Itu cuma foto aesthetic.”

Finka menyipitkan mata.

“Aesthetic? Yang lagi pakai jaket hitam, rambut messy, tatapan tajam, terus caption-nya ‘my future husband’?”

Quinn buru-buru nyenggol bahu Finka.

“WOY! Itu cuma bercanda!”

Finka pura-pura terharu.

“Gue ngerti kok, Quinn. Lo tuh tipe yang jatuh cinta diam-diam. Di luar bar-bar, di dalam meleleh.”

Quinn mendengus.

“Gue nggak meleleh. Gue cuma… mengapresiasi visual.”

Finka langsung heboh lagi.

“VISUAL KATANYA! Ih parah banget lo. Kemarin siapa yang bilang, ‘Kalau Jungkook ngajak nikah, gue siap pindah ke Korea’?”

Quinn menunjuk wajah Finka.

“Itu gue ngomong sambil makan cilok pedes level lima. Otak gue lagi kebakar.”

Finka ngakak sampai hampir jatuh.

“Tapi jujur ya… kalau misalnya Jungkook tiba-tiba nongol di depan lo sekarang, lo ngapain?”

Quinn pura-pura mikir serius.

“Pertama, gue cek dulu itu asli atau AI. Kedua, gue ajak dance battle.”

Finka teriak, “DANCE BATTLE?! Lo mau nantang main dancer internasional?!”

Quinn nyengir percaya diri.

“Ya siapa tau dia kalah. Terus dia kagum. Terus bilang, ‘Quinn, you’re amazing.’ Habis itu kita kolaborasi. Habis itu—”

Finka langsung motong, “—Habis itu lo bangun karena alarm subuh!”

Mereka berdua ketawa bareng sampai perut sakit.

Finka kemudian menatap Quinn sambil senyum jahil.

“Tapi asli ya, Quinn. Kalau suatu hari lo punya pacar, gue yakin orangnya harus tahan banting.”

“Kenapa?” Quinn mengangkat alis.

“Soalnya lo galak, cerewet, perfeksionis, tapi juga perhatian banget. Lo tuh tipe yang kalau sayang, bakal total. Nggak setengah-setengah.”

Quinn terdiam sebentar, lalu menyenggol bahu Finka lagi.

“Najis banget sih lo tiba-tiba serius.”

Finka cengengesan.

“Ya kan gue sahabat lo.”

Quinn tersenyum tipis, lalu berdiri.

“Udah ah, daripada kita makin halu. Ayo pulang. Nanti keburu Jungkook mimpiin gue lagi.”

Finka langsung berdiri heboh.

“PERCAYA DIRI BANGET LO!”

Suara tawa mereka menggema di aula yang mulai sepi ketika suara langkah santai terdengar mendekat.

“SAYANG!”

Suara itu langsung bikin Quinn berhenti ketawa. Ia menoleh malas—dan benar saja.

Darren—pacarnya.

Tampan, tinggi, rambut klimis rapi, seragamnya selalu terlihat lebih mahal dari yang lain. Senyumnya manis, tapi reputasinya? Playboy kelas kakap sekolah.

Finka langsung menyipitkan mata.

“Eh, ada angin apa nih? Tumben muncul.”

Darren menghela napas, lalu mendekat ke Quinn dengan wajah yang dibuat selembut mungkin.

“Sayang… aku mau minta maaf.”

Quinn menyilangkan tangan di dada.

“Langsung to the point aja. Drama kamu biasanya panjang.”

Darren mengusap tengkuknya, pura-pura gelisah.

“Yang kemarin… aku nggak jemput kamu pulang latihan. Itu karena Mega maksa minta dianter. Aku udah nolak, serius. Tapi dia terus maksa, bilang takut pulang sendiri. Aku cuma… nggak enak.”

Finka langsung mendengus keras.

“‘Nggak enak’ katanya. Terus pacar sendiri lo tinggalin? Wah, gentleman banget.”

Darren melirik tajam ke arah Finka.

“Diem lo!” katanya sebal.

Finka berdiri, pura-pura nyingsingin lengan.

“Lo yang diem! Playboy sotoy!”

Quinn mengangkat tangan, memotong sebelum mereka perang dunia.

“Udah, Fin.”

Ia menatap Darren lama. Wajahnya masih datar, tapi matanya mencoba membaca ketulusan di sana. Darren menunduk sedikit, suaranya melembut.

“Aku salah, sayang. Harusnya aku tetap jemput kamu. Aku nggak mikir panjang. Aku cuma nggak mau bikin ribut. Tapi ternyata malah bikin kamu kecewa.”

Quinn mendesah pelan.

“Bukan soal Mega-nya. Tapi soal prioritas, Ren.”

Darren cepat-cepat mengangguk.

“Iya. Kamu prioritas aku. Aku janji.”

Finka berdecak pelan, bergumam, “Janji mulu, kayak caleg.”

Quinn hampir tersenyum, tapi ia menahannya. Ia kembali menatap Darren serius.

“Tapi kalau kamu ulangi lagi, aku nggak janji bakal maafin kamu.”

Nada suaranya tegas. Nggak tinggi, tapi jelas.

Darren langsung mengangguk cepat.

“Iya, aku janji. Nggak bakal ulangi lagi.”

Hening sebentar.

Quinn akhirnya menghela napas.

“Ya udah. Kali ini aku maafin.”

Finka spontan berbalik ke Quinn.

“HAH? Serius lo?”

Quinn cuma mengangkat bahu kecil.

“Kesempatan kedua masih wajar.”

Darren tersenyum lega.

“Makasih, sayang. Ya udah, aku anter kamu pulang sekarang?”

Quinn mengangguk, lalu mengambil tasnya. Ia menoleh ke Finka.

“Gue duluan ya, Fin. Chat gue kalau udah sampe rumah.”

Finka masih memasang wajah nggak rela.

“Iya… hati-hati.”

Darren dan Quinn berjalan keluar aula berdampingan.

Begitu mereka menghilang di ujung koridor, Finka mendesah panjang.

“Quinn… Quinn… Kok lo mau maafin cowok brengsek itu sih.” gumamnya kesal, lalu menendang pelan tas dance-nya sendiri.

Ia menggeleng pelan.

“Tapi kalau dia bikin lo nangis lagi… gue sendiri yang bakal bikin dia nangis.”

Meski kesal, di balik itu Finka tetap sahabat paling setia—siap pasang badan kapan pun Quinn butuh.

...----------------...

Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di jalanan pinggir kota yang mulai lengang terdengar raungan motor sport hitam yang membelah udara.

Ryuga Arashima Renzo baru saja pulang sekolah.

Tinggi 187 cm dengan postur tegap dan bahu lebar, ia tampak mencolok bahkan di atas motornya. Rambut hitamnya sedikit tertiup angin, garis rahangnya tegas, mata tajam dan dingin seperti tak pernah benar-benar menunjukkan emosi. Seragamnya rapi, meski dasinya sedikit longgar. Aura dominannya terasa bahkan tanpa perlu ia bicara.

Tiba-tiba—

Dua motor memotong jalannya dari depan. Lima lainnya menutup dari belakang.

Ryuga langsung mengerem tajam.

Motor berhenti tepat di tengah jalan kosong dekat gudang tua. Ia melepas helm perlahan, tatapannya sudah berubah waspada.

Dari salah satu motor turun Kael, ketua geng motor PHANTOM. Senyumnya miring penuh tantangan.

“Sendirian, Bro? Mana temen-temen lo yang sok jagoan itu?”

Ryuga turun dari motor dengan tenang.

“Kalau cuma buat hadapi lo, gue nggak butuh siapa-siapa.”

Kael tertawa kesal.

"Songong banget lo."

Kael memberi kode kecil.

Enam anak buahnya langsung maju bersamaan.

Serangan pertama datang dari kanan—pukulan cepat mengarah ke wajah. Ryuga menepis dengan lengan kirinya, lalu membalas dengan tinju keras ke rahang lawan.

BUG!

Suara benturan terdengar jelas. Orang itu langsung terjatuh ke aspal.

BRUK!

Belum sempat jeda, dua orang menyerang dari depan dan belakang.

BUG!

Satu mencoba menendang. Ryuga menangkap kakinya, memutar, lalu mendorongnya hingga menabrak rekannya sendiri. Keduanya jatuh berguling.

BRUK!

Dari belakang, seseorang hampir memukulnya dengan helm. Ryuga refleks merunduk, siku kirinya menghantam perut penyerang.

BUG!

Ia berbalik cepat dan melayangkan pukulan lurus ke wajahnya.

BUG!

Lawan tersungkur, mengerang.

"AKHHH..."

Kael mulai terlihat kesal.

“BANGSAT! Jangan biarin dia lolos! SERANG!”

Tiga orang tersisa menyerbu bersamaan.

BUG!

Salah satu pukulan sempat mengenai bahu Ryuga, membuatnya sedikit mundur. Tapi sorot matanya justru makin tajam.

"Sialan." desisnya.

Ia maju balik.

Satu pukulan cepat ke ulu hati.

BUG!

Satu tendangan ke lutut lawan.

DUG!

Satu dorongan keras membuat satu lagi terpental ke kap mobil tua di pinggir jalan.

BRAK!

Gerakannya efisien. Tanpa banyak gaya. Setiap serangan tepat sasaran.

Dalam hitungan menit, enam orang itu sudah tergeletak di aspal, terengah dan tak mampu berdiri.

Kini tinggal Kael.

Kael menyerang dengan amarah, pukulannya lebih brutal. Ryuga menangkis dua kali, tapi satu pukulan sempat mengenai sudut bibirnya.

BUG!

Ryuga mengusap darah tipis di sudut bibirnya yang robek dengan ibu jarinya.

Ia tersenyum tipis.

Begitu Kael kembali menyerang, Ryuga memiringkan tubuh, menghindar, lalu menghantamkan tinju keras ke perut Kael.

BUG!

Saat Kael membungkuk, Ryuga menarik kerahnya dan menghantamkan lutut ke dadanya.

BRUK!

Kael jatuh berlutut, napasnya tersengal.

Ryuga berdiri tegak di depannya.

“Kalian bukan lawan gue.”

Suaranya rendah. Tegas.

Ia mencengkeram kerah jaket Kael, memaksanya menatap lurus.

“Dan lo… cuma pengecut yang beraninya main keroyokan.”

Ryuga melepaskannya begitu saja. Kael jatuh terduduk, tak berdaya.

Angin sore berembus pelan, menyapu debu jalanan.

Tanpa menoleh lagi, Ryuga berjalan kembali ke motor sport hitamnya. Ia mengenakan helm, menyalakan mesin.

Raungan motor menggetarkan udara senja.

Dalam sekejap, ia melesat pergi meninggalkan Kael dan anak buah PHANTOM yang terkapar.

...----------------...

Markas RAVENIX sore itu masih ramai. Deretan motor sport terparkir rapi di halaman markas tersebut. Logo gagak hitam besar terpampang di dinding utama—simbol geng motor paling disegani seantero Jakarta.

Suara raungan motor sport hitam terdengar mendekat.

Zayden yang sedang bersandar di meja biliar langsung melirik ke arah pintu. Keano yang lagi ngemil berhenti di tengah kunyahannya. Elric, seperti biasa, berdiri diam dengan tangan di saku jaket.

Pintu gudang terbuka.

Ryuga masuk.

Aura dingin langsung terasa begitu ia melangkah. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Sudut bibirnya sobek tipis, ada lebam samar di tulang pipi, dan buku jarinya memerah.

Keano langsung berdiri.

“Anjir. Itu muka lo kenapa? Abis syuting film laga tanpa stuntman?”

Zayden menyipitkan mata.

“Siapa, Ga?”

Ryuga melempar helmnya ke meja.

“PHANTOM.”

Elric yang dari tadi diam langsung angkat wajah.

“Mereka keroyokan?”

Ryuga mengangguk sekali.

Keano bersiul panjang.

“Mereka berapa orang? Jangan bilang lo sparring satu lawan satu terus kalah gaya.”

Ryuga duduk santai.

“Tujuh orang, termasuk Kael.”

Zayden menatapnya serius.

“Dan lo sendirian?”

“Hm.”

Keano geleng-geleng kepala.

“Lo tuh hobi banget bikin jantung orang naik turun, ya. Minimal kabarin kek.”

Ryuga mendengus pelan.

“Gue bisa handle.”

Elric melangkah mendekat, menatap lebam di pipi Ryuga.

“Bisa, tapi tetap kena.”

Ryuga mengusap sudut bibirnya.

“Sentuhan doang.”

Keano menunjuk wajahnya.

“Kalau ini sentuhan, gue takut bayangin tamparan.”

Tiba-tiba langkah cepat terdengar dari arah dalam markas.

“Ryuga!”

Seorang gadis cantik muncul dengan wajah panik. Dia adalah Naomi—teman masa kecil Ryuga. Rambut panjangnya tergerai, matanya langsung fokus ke luka di wajah Ryuga.

“Astaga… muka kamu kenapa?!” katanya hampir teriak.

Keano langsung bisik ke Zayden,

“Nah, ambulans pribadi datang.”

Naomi sudah berdiri di depan Ryuga, memegang lengannya.

“Kamu berantem lagi, kan? Duduk yang bener. Aku ambil obat.”

Ryuga menarik lengannya pelan.

“Nggak perlu.”

Naomi menatapnya kesal.

“Nggak perlu gimana? Bibir kamu sobek gitu!”

“Ini cuma luka kecil.”

Naomi mendecak.

“Kecil apanya? Kamu tuh kalau ngomong kayak superhero kebal peluru!”

Setelah mengatakan itu, ia segera berbalik pergi.

Zayden menahan senyum tipis. Keano malah duduk sambil nonton drama gratis.

Naomi sudah kembali membawa kotak P3K.

“Diem. Aku bersihin.” katanya sambil berlutut di depan Ryuga.

Ryuga berdiri, membuat Naomi harus mendongak.

“Gue bilang nggak perlu.”

Suaranya rendah. Dingin. Tegas.

Naomi terdiam sesaat, tapi tetap keras kepala.

“Kamu tuh kenapa sih? Susah banget dibantuin? Aku cuma mau obatin!”

Ryuga menatapnya datar.

“Gue nggak kenapa-napa.”

“Justru itu! Kamu selalu sok kuat! Padahal jelas-jelas luka!”

Keano berbisik pelan,

“Wah, kena ceramah.”

Elric melirik Keano tajam, menyuruhnya diam.

Naomi menurunkan kotak obatnya dengan kesal, lalu ikut berdiri.

“Aku panik, tau! Tiap kali kamu berantem, aku yang deg-degan!”

Hening sebentar.

Ryuga tak mengubah ekspresi.

“Gue capek. Jangan berisik.”

Naomi menatapnya tak percaya.

“Aku berisik? Astaga! Kamu tuh ya... Aku cuma khawatir sama kamu.”

Zayden akhirnya angkat bicara,

“Naomi—”

Tapi Naomi sudah lebih dulu mendesah panjang. Ia memejamkan mata sebentar, menenangkan diri.

“Oke. Fine.” suaranya lebih pelan sekarang. “Kalau kamu nggak mau diobatin, ya udah.”

Ryuga tetap diam.

Naomi menatapnya sekali lagi, ada campuran kesal dan khawatir di matanya.

“Tapi minimal bersihin sendiri. Jangan sampe infeksi.”

“Hm.”

Ryuga mengambil kain di meja tanpa melihat Naomi.

Naomi menggigit bibirnya, lalu mengangguk kecil.

“Ya udah.”

Matanya tak lepas memperhatikan Ryuga, meski jelas masih kesal.

Keano langsung nyeletuk pelan,

“Gue sih kalau ada yang perhatian gitu udah senyum-senyum.”

Ryuga melirik tajam.

“Lo mau gue kirim ke PHANTOM?”

Keano langsung angkat tangan.

“Peace, ketua. Peace.”

Elric menyilangkan tangan di dada.

“Kael nggak bakal berhenti.”

Ryuga menatap ke arah pintu markas, sorot matanya kembali tajam.

“Gue tahu.”

Zayden berdiri di sampingnya.

“Next time, jangan sendirian.”

Ryuga terdiam sebentar.

“Tergantung.” jawabnya singkat

Kemudian Ryuga berjalan ke sudut ruangan.

Ia duduk di single sofa dekat jendela. Di luar langit mulai gelap, cahaya lampu jalan menerpa separuh wajahnya. Jaket kulitnya masih melekat, kepalanya sedikit menunduk. Aura dinginnya membuat siapa pun segan mendekat.

Di ruang tengah, Zayden, Keano, dan Elric berdiri agak jauh. Suara mereka pelan, tapi cukup terdengar.

Keano berbisik duluan,

“Gue nggak ngerti deh. Naomi tuh jelas-jelas perhatian banget. Cantik, setia, nggak rese. Kok bisa-bisanya Ryuga nggak respon sama sekali?”

Zayden menyilangkan tangan di dada.

“Bukan nggak respon. Cuma… nggak pernah dibuka aksesnya.”

Elric menatap Ryuga dari jauh.

“Ryuga nggak pernah kasih ruang buat siapa pun.”

Keano menghela napas.

“Padahal Naomi tuh udah level sabar tingkat dewa. Tadi panik banget liat muka dia bonyok.”

Zayden menoleh sekilas ke arah Naomi.

Naomi duduk tidak jauh dari mereka. Tangannya di pangkuan, jemarinya mengepal pelan sampai buku jarinya memutih. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi matanya kosong—menahan sesuatu yang tak ingin ia tunjukkan.

Ia mendengar semuanya.

Keano kembali berbisik,

“Apa jangan-jangan ketua kita udah suka sama seseorang ya?”

Elric menjawab datar,

“Mungkin.”

Zayden menatap Elric.

“Lo tau sesuatu?”

Elric tak langsung menjawab.

“Bukan tau. Cuma keliatan.”

Sementara itu, di sudut ruangan—

Ryuga mengeluarkan ponselnya.

Layar menyala, memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang masih ada lebam tipis. Ia membuka galeri.

Satu foto.

Seorang gadis dengan senyum percaya diri, mata tajam namun hangat. Rambut panjangnya tertiup angin. Cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat.

Vierra Quinn Maverick.

Ibu jari Ryuga perlahan mengusap layar, tepat di bagian wajah gadis itu. Tatapannya yang biasanya tajam kini berubah—melembut, hampir rapuh.

Tak ada yang menyadari.

Tak ada yang tahu.

Suaranya begitu pelan, nyaris tertelan sunyi malam yang perlahan datang.

“Lo di mana?”

Ia menarik napas pelan.

“Gue kangen…”

Kata-kata itu bukan perintah. Bukan ancaman. Bukan kebanggaan seorang ketua geng.

Hanya rindu.

Di sisi lain ruangan, Naomi tanpa sadar menoleh ke arah Ryuga. Ia sepertinya tahu apa yang sedang dilihat pria tampan itu. Dan entah kenapa, hatinya terasa makin sesak.

Zayden memperhatikan perubahan ekspresi Ryuga yang sekilas berbeda.

Keano berbisik lagi,

“Tuh kan… gue bilang juga apa. Pasti ada seseorang.”

Elric menatap lurus ke arah Ryuga.

“Dan orang itu belum selesai.”

Lampu markas sudah menyala terang.

Tapi untuk pertama kalinya malam itu, Ryuga Arashima Renzo terlihat bukan sebagai pemimpin RAVENIX yang tak tersentuh—

melainkan hanya seorang pria yang masih terjebak pada satu nama dari masa lalunya.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!