NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

..

Pagi di Hallstatt biasanya diawali dengan suara lonceng gereja yang berdenting lembut dan aroma roti gandum yang baru dipanggang dari toko Frau Schmidt. Namun, pagi ini, atmosfer di sekitar Danau Hallstatt terasa berbeda. Kabut tebal yang biasanya segera menghilang tersapu matahari musim semi, kini seolah enggan beranjak, menyelimuti dermaga kayu dengan aura dingin yang menusuk tulang.

Kalea sedang sibuk menata pot-pot bunga lili di depan tokonya. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kain terlihat cekatan memotong dahan yang layu. Namun, hatinya tidak tenang. Sejak kejadian turis berjaket abu-abu kemarin, insting jurnalisnya—yang ia pikir sudah tumpul—mendadak berteriak waspada.

"Mama, liat! Ada mobil besar di depan gereja!" seru Leo. Bocah itu sedang asyik bermain dengan miniatur pesawat kayunya di teras toko.

Kalea mendongak. Di jalan setapak yang biasanya hanya dilalui pejalan kaki dan sepeda, sebuah sedan hitam mewah bermerek Mercedes-Benz berhenti dengan angkuh. Mobil itu tampak sangat asing di desa terpencil ini. Jantung Kalea berdegup kencang. Ia segera meletakkan gunting bunganya.

"Leo, masuk ke dalam sekarang, Sayang," perintah Kalea, suaranya sedikit bergetar.

"Kenapa, Mama? Leo mau liat mobilnya. Bagus sekali!" Leo menatap mobil itu dengan mata cokelatnya yang penuh rasa ingin tahu—mata yang sangat cerdas, mata yang... sangat mirip dengan pria yang kini keluar dari pintu belakang mobil tersebut.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Kalea.

Pria itu melangkah keluar. Ia mengenakan overcoat wol hitam panjang yang elegan. Wajahnya tampak lebih matang, dengan garis rahang yang semakin tegas dan tatapan mata yang sanggup mengunci siapa pun yang menatapnya. Liam Jionel. Pria itu berdiri di sana, di tengah kabut Hallstatt, tampak seperti dewa kematian yang datang untuk menjemput miliknya.

Kalea mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tiga tahun pelariannya, tiga tahun kedamaiannya, runtuh dalam satu detik saat mata Liam bertemu dengan matanya.

Liam tidak langsung menghampiri Kalea. Matanya justru tertuju pada sosok kecil yang berdiri di samping Kalea. Leo.

Liam tertegun. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih kecil, lebih murni, dan lebih bercahaya. Ada desiran hebat di dada Liam—sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Itu adalah putranya. Darah dagingnya yang selama ini ia cari hingga ke ujung Eropa.

"Mama... itu siapa?" tanya Leo polos, menarik-narik ujung gaun linen Kalea.

Kalea tidak menjawab. Ia segera menggendong Leo, membawanya masuk ke dalam toko dan mengunci pintu kaca itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia bersandar di balik pintu, napasnya memburu.

"Leo, dengerin Mama. Kamu main di ruang belakang ya? Jangan keluar sampai Mama panggil," bisik Kalea, mencoba menahan tangisnya.

"Tapi Mama, om itu ganteng sekali. Dia kayak naga di buku Leo," ucap Leo jujur.

Kalea mencium pipi Leo erat. "Leo sayang Mama, kan? Masuk ya, Nak."

Setelah Leo masuk ke ruang belakang, Kalea menarik napas panjang. Ia menghapus air mata yang sempat jatuh, merapikan rambutnya, dan membuka kembali pintu tokonya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia bukan lagi tawanan seharga satu miliar. Ia adalah seorang ibu yang akan melindungi anaknya dengan nyawanya sendiri.

Kalea melangkah keluar ke teras toko. Liam sudah berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Aroma sandalwood yang sangat familiar mendadak memenuhi indra penciuman Kalea, membawa kembali memori-memori kelam yang ingin ia kubur.

"Tiga tahun, Kalea," suara Liam rendah, berat, dan penuh dengan emosi yang sulit diartikan. "Tiga tahun kau membuatku gila mencarimu ke seluruh dunia."

Kalea menatap Liam dengan tatapan sedingin es. "Kau tidak seharusnya ada di sini, Liam. Tempat ini bukan duniamu. Pergilah."

Liam menyeringai tipis, namun matanya tidak lepas dari pintu toko tempat Leo masuk tadi. "Duniaku adalah di mana pun kau berada, Kalea. Dan sekarang... duniaku bertambah satu lagi. Dia putraku, bukan?"

"Dia bukan anakmu!" teriak Kalea, suaranya pecah di antara sunyinya desa. "Dia anakku! Dia tidak punya ayah! Ayahnya sudah lama mati di mataku!"

Liam melangkah maju, sangat dekat hingga Kalea bisa merasakan panas tubuh pria itu. "Jangan berbohong padaku, Kalea. Aku sudah melihatnya. Mata itu, rahang itu... dia adalah pewaris Jionel. Kau pikir kau bisa menyembunyikan darahku dariku selamanya?"

"Dia bukan pewaris apa pun!" Kalea menunjuk dada Liam dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia anak yang bahagia di sini. Dia tidak butuh uangmu, dia tidak butuh namamu, dan dia pasti tidak butuh monster sepertimu!"

Liam terdiam sejenak. Ia melihat bekas luka kecil di jari manis Kalea—bekas sayatan saat Kalea melepas cincin satu miliar dulu. Rasa bersalah yang dalam sempat melintas di matanya, namun egonya sebagai seorang Jionel tetap mendominasi.

"Aku sudah berubah, Kalea," ucap Liam, suaranya melembut. "Aku sudah melewati neraka di penjara. Aku sudah menghancurkan semua orang yang menyakitimu. Aku datang ke sini bukan untuk membawamu paksa ke sangkar emas lagi."

"Lalu untuk apa?" tanya Kalea sinis.

Liam meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Ia membukanya, menampilkan sebuah cincin dengan batu lili putih yang sangat indah—simbol kesucian dan awal yang baru.

"Aku datang untuk memintamu kembali. Secara sah. Secara terhormat. Aku ingin menjadi ayah bagi Leo. Aku ingin memberikan dunia ini di bawah kakinya," ucap Liam sungguh-sungguh.

Kalea tertawa getir, tawa yang membuat burung-burung di tepi danau terbang ketakutan. "Dunia di bawah kakinya? Kau ingin mengajarinya cara membeli orang? Cara mengurung wanita dalam obsesi? Tidak, Liam. Leo tidak akan pernah menyentuh satu rupiah pun dari hartamu yang berlumuran darah itu."

Tiba-tiba, pintu toko terbuka sedikit. Leo mengintip dari balik celah. "Mama? Kenapa om itu bikin Mama nangis?"

Liam menoleh ke arah Leo. Untuk pertama kalinya, sang predator Jionel berlutut di atas tanah berbatu Hallstatt. Ia mensejajarkan tingginya dengan bocah laki-laki itu.

"Hallo, Leo," ucap Liam, suaranya bergetar karena haru yang tak terbendung. "Namaku Liam. Aku... aku teman lama Mamamu."

Leo menatap Liam dengan mata cokelatnya yang tajam. "Om Liam punya pesawat?"

Liam tersenyum, sebuah senyuman yang benar-benar tulus. "Punya. Dan kalau Leo mau, Om bisa ajak Leo dan Mama terbang melihat seluruh dunia."

"Jangan dengarkan dia, Leo!" seru Kalea, segera menarik Leo ke belakang tubuhnya.

Kalea menatap Liam dengan kebencian yang murni. "Pergilah sebelum aku memanggil polisi desa. Kau tidak punya hak di sini."

Liam berdiri perlahan, merapikan jasnya. Ia menatap Kalea dan Leo bergantian. "Polisi tidak akan bisa menghentikanku, Kalea. Tapi aku tidak akan memaksamu hari ini. Aku akan tinggal di hotel seberang danau. Aku akan datang setiap hari sampai kau mengizinkanku memeluk putraku."

Liam berbalik menuju mobilnya, namun sebelum masuk, ia menoleh kembali. "Dia sangat cerdas, Kalea. Persis sepertimu. Tapi keberaniannya... itu milikku."

Mobil itu melaju pergi, meninggalkan debu dan kabut yang semakin pekat. Kalea jatuh terduduk di lantai teras, memeluk Leo dengan sangat erat hingga bocah itu kebingungan.

"Mama, kenapa kita nggak main sama Om Liam? Dia keliatan sedih," tanya Leo polos.

Kalea tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. Kedamaiannya telah hancur. Sang badai telah mendarat, dan kali ini, sang badai membawa cinta yang lebih berbahaya daripada kebencian mana pun.

Di hotel mewah di seberang danau, Liam berdiri di balkon, menatap toko bunga Kalea lewat teropongnya. Ia melihat Kalea yang sedang menutup toko dengan terburu-buru.

"Kau bisa lari tiga tahun, Kalea," gumam Liam sambil menggenggam cincin lili putih itu. "Tapi sekarang, kau punya alasan untuk tetap tinggal. Dan aku tidak akan pernah melepaskan kalian berdua lagi. Tidak akan pernah."

Di Jakarta, Aris menerima pesan singkat dari Liam: "Batalkan semua agenda bisnis selama sebulan ke depan. Aku sedang berada di rumah yang sebenarnya."

Perang baru di Hallstatt telah dimulai. Bukan dengan senjata atau kontrak, melainkan dengan hati seorang anak yang menjadi jembatan antara dua jiwa yang hancur.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!