Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah makan malam berasama Jendral Rong, Mingyu langsung kembali ke kamarnya, lebih tepatnya kamar pengantin mereka.
''Hem, lumayan besar juga kamarnya'' gumam Mingyu menatap kesekeliling kamar, dan kemudian pandangannya jatuh pada ranjang yang masih di penuhi taburan bunga mawar di atasnya, dan perlahan Mingyu melangkah mendekat ke arah ranjang, lalu dia mengambil kelopak bunga mawar merah yang sudah mengering.
''Pasti saat kejadian itu pemilik asli tubuh ini, nangis semalaman'' gumam Mingyu menatap kelopak mawar kering di tangannya.
Ceklek
Mingyu membalikkan badannya saat ada yang mebuka pintu tanpa di ketuk terlebih dahulu, dan ternyata Jendral Rong, Mingyu langsung duduk di tepi ranjang sembari menatap Jendral Rong yang berjalan ke arahnya sembari membawa sebuah kotak berukuran sedang.
''Kotak apa itu?'' tanya Mingyu saat Jendral Rong meletakkan kotak yang di bawanya di atas meja di depannya.
''Semua uangku ada di dalam kotak ini, nanti uang yang masuk di bulan depan, Paman Han yang akan memberikannya langsung padamu'' ucap Jendral Rong.
Seketika kedua mata Mingyu berbinar, dia langsung beringsut maju untuk membuka kotak yang di bawa oleh Jendral Rong, dan benar saja di dalam kotak itu ada tumpukan uang kertas.
''Wahhh,,, banyak sekali'' gumam Mingyu berbinar binar.
Jendral Rong mendengus melihat Mingyu yang mata duitan, bukannya sejak lahir dia sudah kaya raya, kenapa melihat tumpukan uang masih saja berbinar binar pikirnya. Jendral Rong tidak tahu, kalau sekarang raga Mingyu di tempati oleh jiwa gadis dari abad dua satu yang memiliki sifat matrealistis.
Melihat Mingyu fokus menghitung tumpukan uang di dalam kotak, Jendral Rong memilih keluar dari kamar dan pergi ke ruang belajar.
Satu jam kemudian Mingyu yang larut dalam rasa bahagianya karna mendapat uang banyak dengan cuma cuma, tiba tiba di fikirannya terlintas sesuatu.
''Oh ya, kalau semua uang pria sialan itu di berikan padaku, lantas untuk keperluan dapur dan yang lainnya gimana?, apa aku di suruh untuk mengaturnya'' gumam Mingyu.
''Tidak bisa, tidak bisa, aku tidak mau di repotkan dengan keperluan rumah tangga, sebaiknya aku bicarakan dengan pria sialan itu'' gumamnya lagi dan segera beranjak pergi untuk mencari keberadaan Jendral Rong.
Mingyu berjalan seorang diri untuk mencari keberadaan Jendral Rong, karna Xiao Fei sudah istirahat di kamar pelayan.
''Nona Lu, anda mau kemana?'' sapa Paman Han yang tak sengaja berpapasan di lorong, sikap Paman Han pada Lu Mingyu kini lebih sopan dari sebelumnya, karna dia tidak ingin mendapat amukan dari Tuannya lagi, selain itu Paman Han tidak memanggil Mingyu dengan sebutan putri itu di karnakan atas permintaan Mingyu sendiri, istri Tuannya ini lebih suka di panggil Nona ketimbang putri, meskipun status suaminya seorang pangeran sekaligus adik kandung kaisar.
''Dimana Pangeran?'' tanya Mingyu.
''Pangeran ada di ruang belajar'' jawab Paman Han.
''Oh, apa Paman bisa tunjukan dimana tempatnya'' pinta Mingyu.
''Bisa Nona, mari saya antar ke sana''
Mingyu menganggukkan kepalanya, dan mengikuti Paman Han ke ruang belajar Jendral Rong.
''Nona, ini ruang belajar Pangeran'' ucap Paman Han, saat sampai di depan ruangan dengan dua pintu yang menjulang tinggi.
''Terimakasih Paman''
''Sama sama Nona, kalau begitu saya pamit undur diri''
''Hem, pergilah''
Setelah kepergian Paman Han, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Mingyu langsung saja mendorong pintu di depannya yang tidak terkunci itu.
Krekkkkk
Di dalam ruang belajar itu bukan hanya ada Jendral Rong saja, tapi ada dua orang lagi, dan mereka bersmaan menoleh ke arah pintu, siapa yang sudah lancang masuk ke ruang belajar Pangeran tanpa mengetuk pintu dulu pikir mereka.
Jendral Rong yang sangat benci dengan orang yang tidak punya sopan santun saat masuk ke ruangannya seketika berteriak marah, membuat dua orang yang berdiri di depan Jendral Rong sedikit takut.
''Siapa yang sudah lancang masuk ke ruanganku!, apa sudah bosan hi,,,''
''Ini saya, Mingyu''
Seketika expresi marah di wajah Jendral Rong langsung lenyap seketika.
''Ngapain kamu ke sini?'' tanya Jendral Rong.
''Tentu mencari anda, mau ngapain lagi memangnya'' sahut Mingyu sembari berjalan ke arah Jendral Rong, lalu dengan santai duduk di pinggiran meja belajar Jendral Rong.
Sontak dua orang yang berdiri di hadapan Jendral Rong langsung tahan nafas, mereka yang tak lain adalah Han Bing dan Su Wan Rou sudah membayangkan kalau sebentar lagi pasti Mingyu akan terkena murka Jendral Rong, karna sudah lancang duduk di meja belajarnya.
Tapi hal yang sudah di bayangkan oleh Han Bing dan Su Wan Rou tidak terjadi sama sekali, saat melihat Jendral Rong yang hanya diam saja, melihat Mingyu duduk di meja belajarnya.
''Ada apa mencariku?'' tanya Jendral Rong, walaupun expresinya terlihat datar, tapi ada perhatian dari nada bicaranya.
Su Wan Rou yang tidak suka dengan prilaku Mingyu yang menurutnya tidak sopan, dia langsung menegurnya.
''Nona Lu, apa anda tidak pernah di ajari sopan santun, kenapa seenaknya duduk di meja belajar Pangeran'' tegur Su Wan Rou.
Mingyu langsung menoleh ke arah Su Wan Rou, dan menatapnya sengit.
''Pangeran saja tidak mempermasalahkannya, kenapa jadi kamu yang tidak terima, padahal statusmu hanya bawahan'' cetus Mingyu membuat Su Wan Rou langsung bungkam seketika.
Jendral Rong hanya diam saja, melihat Su Wan Rou terkena omelan Lu Mingyu.
'' Pangeran, sepertinya bahawan anda memandang rendah saya, sepertinya saya memang tidak pantas menjadi pendamping anda'' lirih Mingyu dengan memasang wajah menyedihkan.
Su Wan Rou buru buru menggelengkan kepalanya. ''Tidak Pangeran, saya tidak pernah punya fikiran seperti itu, Nona Lu hanya ingin memfitnah saya'' ucap Su Wan Rou panik.
Mingyu yang duduk membelakangi Su Wan Rou menahan tawanya, dia puas melihat wajah panik Su Wan Rou, Mingyu sudah bisa menebak kalau Su Wan Rou pasti memiliki perasaan pada Jendral Rong, dari cara Su Wan Rou menatap Jendral Rong saja sudah berbeda, bukan seperti bawahan pada atasannya, melainkan seperti wanita menatap pada pria yang di cintainya.
Jendral Rong menggelengkan kepalanya, melihat drama yang di mainkan oleh Mingyu, wanita ini usil sekali pikirnya.
''Wan Rou, aku harap yang kamu katakan tidak bohong, jangan sampai kamu punya fikiran buruk tentang Mingyu'' ucap Jendral Rong tegas.
''Saya tidak bohong Pangeran'' sahut Wan Rou cepat.
Jendral Rong menganggukkan kepalanya saja, sebagai tanda kalau dia percaya dengan apa yang di katakan oleh Su Wan Rou.
Sedangkan Han Bing yang sejak tadi hanya menjadi penonton, diam diam di dalam genggaman tangannya dia memberikan jempolnya untuk Lu Mingyu.
"Nona Lu, anda pantas menjadi jura pemain opera" batin Han Bing.
''Kamu ada apa mencariku?'' tanya Jendral Rong lagi setelah hening beberapa saat.
''Oh ya, hampir lupa, itu uang milik Pangeran kan sudah di berikan pada saya semua, terus bagaimana dengan kebutuhan rumah tangga, saya tidak mau kalau harus mengurus keperluan rumah tangga, saya tidak mau repot memikirkannya'' tukas Mingyu.
''Kamu tenang saja, masalah keperluan rumah tangga sudah aku serahkan pada Paman Han, dan semua uang itu terserah mau kamu gunakan untuk apa'' ucap Jendral Rong.
Setiap satu bulan sekali penghasilan dari sebagian toko tokonya, Jendral Rong gunakan untuk keperluan rumah tangga dan juga untuk menggaji para pelayannya dan juga karyawan tokonya, dan sebagian lagi ia simpan sendiri, dan kini uang itu ia berikan semua pada Mingyu, sedangkan gajinya sebagai militer, Jendral Rong gunakan untuk keperluan anggota militernya, belum pernah sekalipun Jendral Rong mengambil gajinya selama jadi militer.
Mingyu yang mendengar perkataan Jendral Rong sontak langsung berdiri, wajahnya berbinara bahagia.
''Benarkah, terimaksih Pangeran'' ucap Mingyu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, setelah itu berlalu pergi sembari berlari kecil.
''Ck, dasar'' gumam Jendral Rong menggelengkan kepalanya sembari menahan senyum di sudut bibirnya.