NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

BAB 2

DI BALIK TIRAI TIPIS

​Suara azan Subuh berkumandang dari masjid yang terletak tiga blok dari rumah mungil itu, membelah kesunyian fajar di pinggiran Jakarta yang masih berkabut. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja temaram, Aisha Humaira sudah terjaga. Ia tidak bangun karena alarm; ia bangun karena jiwanya sudah terbiasa menjemput cahaya sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala.

​Aisha menutup laptopnya perlahan. Matanya yang sedikit sembab menunjukkan bahwa ia baru saja menghabiskan sisa malam untuk memeriksa ulang setiap detail struktur dalam folder bertajuk "Green Oasis". Baginya, arsitektur bukan sekadar pekerjaan tentang menyusun material bangunan, melainkan cara ia mensyukuri karunia akal yang diberikan Sang Pencipta.

​"Semuanya sudah siap," bisiknya pada diri sendiri.

​Ia beranjak, mengambil air wudu, dan tenggelam dalam sujud yang panjang. Di atas sajadah, Aisha bukanlah arsitek brilian yang lulus dengan predikat summa cum laude dari universitas ternama. Di sana, ia hanyalah seorang hamba yang merasa kecil. Ia berdoa agar setiap garis yang ia gambar bisa membawa manfaat bagi orang lain, dan agar niatnya tetap terjaga, meski ia tahu dunia yang akan ia masuki adalah hutan beton yang penuh dengan ego manusia.

​Setelah fajar menyingsing, rumah itu mulai hidup. Aroma nasi goreng dan teh melati menguar dari dapur. Aisha keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah yang sederhana, membantu ibunya menata meja makan.

​"Aisha, ada surat lagi dari bank?" tanya ayahnya, pria paruh baya yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku karena kondisi fisiknya yang melemah akibat stroke ringan beberapa tahun lalu.

​Aisha tersenyum di balik cadar tipis yang sudah ia kenakan—ia memang memilih memakainya bahkan di depan beberapa kerabat jauh yang sedang berkunjung, sebuah pilihan prinsipil yang sering kali disalahpahami orang luar sebagai bentuk keterbelakangan. "Tidak ada, Yah. Jangan dipikirkan. Aisha sedang mengusahakan proyek besar. Kalau ini tembus, semua urusan rumah dan biaya pengobatan Ayah akan selesai."

​Ayahnya menatap Aisha dengan binar bangga sekaligus sedih. Ia tahu betapa keras putrinya bekerja. Ia tahu betapa sering Aisha ditolak oleh biro-biro arsitek besar hanya karena mereka tidak ingin mempekerjakan wanita yang menutup wajahnya. Mereka bilang itu "masalah komunikasi", padahal Aisha tahu itu adalah prasangka.

​Itulah alasan mengapa Aisha memutuskan untuk masuk ke platform Inno-Arch dengan nama anonim "A.A". Ia ingin dunia melihat otaknya sebelum melihat identitasnya. Ia ingin karyanya berbicara lebih keras daripada kain yang menutupi wajahnya.

​Ting!

​Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Jantung Aisha berdegup kencang. Itu adalah email dari Aratama Group.

​Subjek: Undangan Presentasi Tahap 2 – Proyek Green Oasis

​Kepada A.A,

Kami telah meninjau portofolio Anda. CEO kami, Bapak Adrian Aratama, sangat tertarik dengan konsep yang Anda ajukan. Kami mengundang Anda untuk melakukan presentasi tatap muka besok pagi pukul 09.00 WIB di Aratama Tower.

​Catatan: Kami menghargai permintaan privasi Anda. Ruangan privat telah disiapkan.

​Aisha menarik napas dalam-dalam. "Adrian Aratama," gumamnya. Nama itu sangat tersohor di dunia bisnis. Dingin, tak tersentuh, dan kabarnya, sangat skeptis terhadap apa pun yang berbau tradisi atau agama.

​Aisha menghabiskan sisa harinya di studio kecilnya—sebuah garasi yang disulap menjadi ruang kerja. Di dindingnya, tertempel berbagai sketsa bangunan yang terinspirasi dari geometri Islam, yang digabungkan dengan teknologi keberlanjutan modern.

​Ia memandangi maket kecil "Green Oasis". Gedung itu dirancang untuk memiliki sistem filtrasi air hujan yang meniru cara kerja akar pohon bakau. Di bagian tengahnya, terdapat void besar yang memungkinkan sirkulasi udara alami, mengurangi beban penggunaan energi hingga 40%. Bagi Aisha, ini adalah dakwah visualnya tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam ciptaan Tuhan.

​Namun, ada ketakutan yang merayap di hatinya. Bagaimana jika Adrian Aratama melihatnya dan langsung membatalkan kontrak? Bagaimana jika cadarnya dianggap sebagai simbol ketidakmampuan?

​"Niatkan karena Allah, Aisha," ia berbisik pada dirinya sendiri sambil merapikan tas kerjanya.

​Ia mengambil sebuah kotak kayu kecil di laci mejanya. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama—foto ayahnya di depan sebuah gedung perkantoran mewah yang dulu miliknya, sebelum semuanya runtuh dalam satu malam karena dikhianati oleh mitra bisnisnya. Aisha tidak tahu banyak tentang detail kejadian belasan tahun lalu itu, ia hanya tahu bahwa ayahnya kehilangan segalanya kepada seseorang yang ambisius dan tak punya hati. Sejak itu, Aisha berjanji akan membangun kembali martabat keluarganya melalui jalur yang sama: arsitektur.

​Malam semakin larut, Aisha duduk di balkon lantai dua rumahnya, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan permata dari kejauhan. Di sana, di salah satu titik tertinggi, berdiri Aratama Tower yang megah dan angkuh.

​Ia teringat kata-kata dosen pembimbingnya dulu: "Aisha, desainmu adalah yang terbaik yang pernah saya lihat dalam sepuluh tahun terakhir. Tapi kamu harus tahu, di luar sana, orang lebih sering menilai bungkus daripada isi. Kamu yakin dengan pilihanmu ini?"

​Aisha saat itu menjawab dengan mantap, "Jika saya harus melepas identitas saya untuk diakui, maka pengakuan itu tidak ada harganya, Pak."

​Kini, keyakinan itu akan diuji. Ia tahu Adrian Aratama bukan sekadar klien biasa. Pria itu adalah perwujudan dari segala hal yang Aisha hindari: kesombongan yang berlandaskan pada logika murni, tanpa sedikit pun ruang untuk kerendahan hati di hadapan takdir.

​Aisha membuka catatan kecilnya. Ia mulai menuliskan poin-poin teknis untuk presentasi besok. Ia harus memastikan bahwa tidak ada satu pun celah dalam perhitungannya. Ia harus menjadi lebih presisi dari pria yang memuja presisi itu sendiri.

​"Besok adalah langkah pertama," ucapnya pelan. "Bukan untuk menunjukkan siapa aku, tapi untuk menunjukkan bahwa keyakinan tidak pernah menjadi penghalang bagi kecerdasan."

​Ia menutup matanya sejenak, membayangkan ruang rapat yang dingin itu. Ia tahu ia akan menjadi pusat perhatian, bukan karena kecantikannya yang tersembunyi, melainkan karena kejanggalan yang ia bawa ke dalam dunia korporat yang kaku.

​Di tempat lain, di puncak menaranya, Adrian mungkin sedang merencanakan cara untuk menguliti "si anonim" ini dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya. Namun, Aisha sudah siap. Di balik cadar hitamnya, tersimpan sebuah tekad yang lebih kuat daripada beton mana pun yang pernah dibangun Adrian. Ia bukan hanya membawa draf bangunan; ia membawa harga diri dan doa-doa ibunya yang tak putus-putus.

​Pagi hari berikutnya tiba lebih cepat dari yang dibayangkan. Aisha berdiri di depan cermin, mengenakan gamis berwarna abu-abu gelap yang elegan namun tidak mencolok, dengan khimar senada dan cadar yang menutupi wajahnya, menyisakan hanya sepasang mata bulat yang memancarkan ketenangan sekaligus ketajaman intelektual.

​Ia menggenggam tabletnya erat-erat saat memasuki lobi Aratama Tower. Interior lobi yang sangat dingin dan minimalis seolah ingin mengintimidasi siapa pun yang masuk ke sana.

​"Nama Anda, Bu?" tanya resepsionis dengan nada sopan namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa heran melihat penampilan Aisha.

​"Aisha Humaira. Saya ada janji dengan Bapak Adrian Aratama. Kode pertemuan A.A."

​Resepsionis itu terdiam sejenak, lalu memeriksa komputernya. "Ah, benar. Silakan menuju lantai 47. Bapak sudah menunggu."

​Saat lift meluncur ke atas, Aisha merasakan perutnya bergejolak. Ia tidak takut pada Adrian sebagai manusia, tapi ia takut jika ia gagal memberikan kesan bahwa seorang muslimah yang taat juga bisa menjadi profesional yang hebat.

​Pintu lift terbuka. Lantai 47 menyambutnya dengan sunyi yang menindas. Ia melihat Sarah, sekretaris Adrian, yang menyambutnya dengan wajah profesional meskipun matanya menunjukkan keterkejutan yang sama.

​"Silakan lewat sini, Nona Aisha. Pak Adrian sangat menghargai ketepatan waktu," kata Sarah sambil membukakan pintu jati besar di ujung lorong.

​Aisha melangkah masuk. Ruangan itu luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan langit Jakarta. Di balik meja besar yang terbuat dari kayu eboni hitam, seorang pria duduk dengan punggung tegak, sedang menatap beberapa dokumen.

​Pria itu mendongak. Pandangan mereka bertemu.

​Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Adrian Aratama terpaku melihat sosok yang berdiri di depannya. Ia mengharapkan seorang pria eksentrik atau wanita karier dengan setelan jas mahal. Ia tidak pernah membayangkan bahwa "A.A" adalah seorang wanita yang wajahnya tertutup rapat.

​Aisha menundukkan pandangannya sedikit sebagai bentuk kesopanan, lalu berkata dengan suara yang stabil dan jernih, "Selamat pagi, Pak Adrian. Saya Aisha Humaira, arsitek dari desain Green Oasis."

​Adrian masih terdiam, matanya menyipit, mencoba mencari celah di balik sosok misterius di depannya. Permainan baru saja dimulai.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!