Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Gema di Lorong Gelap
Udara di dalam toko antik Hael seketika berubah menjadi kaku, sedingin air hujan yang menetes dari mantel pria paruh baya di ambang pintu. Sora masih memegang pinset bajanya, namun tangannya mulai gemetar. Nama Liora Thalassa dan keluarga Vance yang baru saja ia coba buang jauh-jauh dari pikirannya, kini kembali menghantam dinding kesadarannya dengan kekuatan penuh.
"Koleksi paling berharga?" Hael mengulang kalimat itu dengan nada datar, namun matanya menajam. Ia meletakkan lampu meja, menciptakan bayangan panjang yang dramatis di dinding penuh jam. "Tuan Bastian, saya pikir gudang keluarga Vance memiliki sistem keamanan tingkat tinggi. Bagaimana mungkin bisa dibobol begitu saja?"
Pria bernama Bastian itu melangkah masuk, meninggalkan jejak air di lantai kayu. "Itu masalahnya, Hael. Tidak ada pintu yang dirusak secara paksa. Sepertinya seseorang memiliki akses kunci digital atau kode rahasianya. Dan yang paling mengkhawatirkan... satu-satunya benda yang diambil adalah The Chronos Heart."
Sora tersentak. Ia pernah mendengar legenda tentang jam itu dari Ezra. The Chronos Heart adalah mahakarya jam saku dari emas putih dengan hiasan safir biru yang konon hanya ada satu di dunia. Jam itu adalah mas kawin turun-temurun keluarga Vance, yang rencananya akan dipakaikan Ezra kepada Liora di hari pernikahan mereka sebagai simbol cinta abadi.
"Kenapa Anda datang ke sini?" tanya Sora, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Kami bukan polisi, Tuan Bastian."
Bastian menatap Sora dengan tatapan memohon. "Sora, polisi menganggap ini pencurian biasa. Tapi aku tahu siapa yang paling mengenal mekanisme jam itu. Ezra sedang di Paris mengurus pemindahan Liora, dan dia tidak bisa dihubungi. Hanya kamu yang pernah memegang skema teknis jam itu saat Ezra memintamu mempelajarinya tahun lalu."
Sora merasakan perutnya mual. Ia teringat sore itu, setahun yang lalu, saat Ezra membawakan cetak biru jam legendaris itu kepadanya dengan mata berbinar. Saat itu, Sora mengira Ezra ingin membagi rahasia keluarga dengannya karena ia spesial. Ternyata, Ezra hanya membutuhkannya sebagai teknisi cadangan jika jam itu bermasalah sebelum diberikan kepada Liora.
"Aku tidak ingin terlibat lagi dengan mereka," ucap Sora tegas, meski hatinya berdenyut nyeri.
Hael melirik ke arah Sora, lalu beralih ke Bastian. "Berapa nilai asuransi jam itu?"
"Nilainya tidak bisa diukur dengan uang, Hael! Itu sejarah keluarga!" seru Bastian frustrasi. "Dan kabar buruknya... Liora sudah tahu. Dia pingsan di Paris saat mendengar kabar ini. Ezra menuduh tim keamanan lalai, tapi ada satu kecurigaan yang menyakitkan: seseorang mencoba menyabotase pernikahan mereka dengan mengambil simbol paling sucinya."
Hael berjalan mendekati jendela, menatap hujan yang semakin deras. "Jika pencurinya profesional, jam itu tidak akan dijual di pasar gelap biasa. Ia akan dibawa ke kolektor 'bayangan'. Dan aku tahu hanya ada satu tempat di kota ini yang berani menampung barang seperti itu."
"Pasar Bawah Tanah Sektor Sembilan," gumam Sora pelan. Ia tahu tempat itu—tempat di mana hukum tidak berlaku dan benda-benda paling langka di dunia diperjualbelikan seperti sayuran.
Hael berbalik, menatap Sora dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sora, kamu tidak perlu melakukan ini. Kamu sudah bebas. Kamu sudah membuang koinmu."
Sora menatap mesin jam abad ke-17 yang baru saja ia hidupkan kembali. Detak tik-tok nya seolah memberi kekuatan baru. Ia menyadari bahwa jika ia menolak membantu, ia akan selamanya dihantui oleh rasa ingin tahu dan bayang-bayang Ezra. Satu-satunya cara untuk benar-benar menutup buku ini adalah dengan menyelesaikan misteri ini sekali dan untuk selamanya, lalu menyerahkannya kembali kepada mereka tanpa ada hutang budi sedikit pun.
"Aku akan pergi," ucap Sora mantap. "Bukan untuk Ezra. Bukan untuk Liora. Tapi untuk memastikan mahakarya itu tidak dihancurkan oleh orang yang tidak mengerti seninya."
Hael tersenyum tipis, sebuah senyum penuh penghormatan. "Kalau begitu, siapkan jaketmu. Kita akan masuk ke sarang serigala malam ini."
Bastian tampak lega, namun Sora bisa merasakan badai baru sedang mengintai. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun kepingan teka-teki. Siapa yang memiliki akses ke gudang itu? Siapa yang cukup dendam atau cukup serakah untuk mengambil The Chronos Heart tepat saat Ezra dan Liora sedang merencanakan masa depan mereka?
Saat mereka melangkah keluar menuju jip Hael, Sora menatap bengkelnya yang gelap di seberang jalan. Ia menyadari bahwa perjalanannya kali ini bukan lagi tentang menunggu waktu seseorang untuk datang, melainkan tentang mengejar waktu yang telah dicuri.
"Hael," panggil Sora saat mesin mobil mulai menderu.
"Ya?"
"Jika kita menemukan jam itu... aku ingin aku yang menyerahkannya pada polisi. Tanpa melalui Ezra."
Hael mengangguk, menginjak pedal gas dengan mantap. "Tentu. Kita akan melakukannya dengan caramu, nakhoda."