Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aroma uap kuah bakso yang gurih bercampur dengan tajamnya bumbu nasi goreng yang sedang diaduk di atas wajan besi memenuhi udara kantin SMP Pejuang Bangsa yang pengap. Suara denting sudip yang beradu dengan wajan menjadi latar musik harian di sana. Anggita tampak berdiri tegak di barisan stan nasi goreng, sementara Vino dengan sabar menanti gilirannya di gerobak ketoprak langganannya yang bumbunya terkenal medok.
Sandi dan Saskia akhirnya tiba di tengah keriuhan itu. Sandi menyapu pandangan ke seluruh penjuru kantin yang sesak, mencari celah. "Lo mau makan apaan hari ini? Biar sekalian gue yang antre, daripada lo kegencet-gencet di sini," tanya Sandi sambil merapikan letak kerah seragamnya.
Saskia menatap Sandi dengan mata bulatnya yang jernih. "Kamu makan nggak, San? Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak laper."
Sandi menggeleng cepat, mencoba memasang wajah datar yang meyakinkan. "Gue masih kenyang, Sas. Tadi pagi sarapan di rumah agak banyak. Lo aja yang makan, nanti maag lo kambuh kalau telat."
Mendengar itu, Saskia tidak langsung percaya. Ia menarik ujung lengan seragam Sandi, memaksanya sedikit membungkuk, lalu berbisik tepat di telinga Sandi dengan nada yang penuh penekanan namun manja. "Yang... aku mau makan kalau kamu juga makan. Jangan bohong terus, aku tahu kamu pasti laper tapi sok kuat karena nggak mau aku bayarin. Aku tahu kamu selalu bohong soal perut kamu!"
Sandi tertegun sejenak. Ia melirik Saskia yang jarak wajahnya begitu dekat. Ada desiran aneh yang menyelinap, namun dengan cepat ia menetralisirnya. Sandi tersenyum tipis, tangannya refleks mengelus puncak kepala Saskia dengan lembut—sebuah gerak spontan yang jarang ia tunjukkan di depan umum. "Gue serius, Oneng. Gue masih kenyang kok. Jangan berlebihan deh."
Saskia tidak menyerah. Ia mulai melancarkan serangan cubitan kecil di lengan Sandi, bertubi-tubi seperti gerimis. "Jangan bohong! Pokoknya kalau kamu nggak makan, aku juga mogok makan sekarang juga. Biar aja aku pingsan di kelas nanti!"
Sandi mengembuskan napas panjang, menyerah pada keras kepalanya gadis di depannya ini. "Duh, ribet ya lo! Kalau lo nggak makan terus maag lo kambuh, siapa yang repot? Gue lagi, kan? Mana nanti kita mau ke rumah Andra, lo butuh tenaga buat ke rumahnya Andra. Ya udah, gue makan sekarang. Gue mau ke tempat Anggita beli nasi goreng. Lo mau apa?"
Wajah Saskia langsung cerah seketika, senyum manisnya merekah sempurna. "Aku mau bakso, Yang!"
Tak!
Sebuah sentilan mendarat telak di kening mulus Saskia. Sandi melotot tajam. "Mulai lagi lo panggil gue pakai kata itu? Gue bikin merah jidat lo sampai besok, mau?"
Saskia mengaduh pelan sambil mengusap keningnya yang sedikit memerah. "Tadi di telinga nggak apa-apa, kenapa sekarang malah disentil?"
"Tadi lo bisik-bisik, nggak ada yang denger! Tapi kalau lo ngomong sekencang barusan, satu kantin bisa nengok semua, Pe'a! Beda ceritanya kalau rahasia negara bocor di sini," bisik Sandi sengit.
Saskia nyengir kuda, tampak tak berdosa. "Iya, maaf Say— eh, San. Hehe. Jadi, aku mau bakso. Tapi kalau aku pesan bakso, kamu jangan makan nasi goreng. Kamu pesan nasi ayam goreng aja, San. Nanti aku minta nasi putihnya sedikit buat dicampur ke kuah bakso aku."
Sandi hanya bisa mengangguk pasrah. "Ya udah, terserah selera lo dah. Gue antre dulu, lo cari tempat duduk sana."
Meski sudah disuruh mencari tempat duduk, Saskia tetap "mengintil" di belakang Sandi, memegang ujung belakang seragam Sandi seperti anak kecil yang takut kehilangan induknya di pasar malam. Sandi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku calon tunangannya yang luar biasa ajaib itu.
Beberapa menit kemudian, setelah perjuangan di tengah kerumunan, mereka berkumpul di meja panjang. Anggita sudah lebih dulu mengamankan posisi strategis. "Vin, San, Sas! Sini, sini! Gue udah jagain tempat buat kita!" serunya sambil melambaikan tangan.
Vino datang membawa sepiring ketoprak yang aromanya bawang putihnya sangat tajam, sementara Sandi membawa nampan berisi semangkuk bakso urat yang mengepul dan sepiring nasi ayam goreng dengan sambal terasi.
Anggita menatap piring di depan Sandi dengan dahi berkerut. "Loh, tumben lo makan besar hari ini, San? Porsinya porsi kuli gitu."
Sandi terkekeh sambil meletakkan piring-piring itu. "Mana ada. Nih, si Saskia yang minta. Dia pengen bakso tapi minta nasi ayam goreng juga, katanya mau minta nasi putihnya dikit doang, sisanya ya gue yang disuruh abisin. Gue mah cuma tempat pembuangan akhir buat dia."
Vino menyenggol lengan Saskia. "Sas, nggak mau ketoprak lagi kayak minggu lalu?"
Saskia bergidik ngeri. "Enggak ah, Vin! Kapok aku. Pedesnya bikin perut mulas sampai sore. Aku butuh tenaga lebih buat jenguk Andra nanti, makanya aku minta nasi ayam goreng biar kenyangnya awet."
"Ya udah, ayo sikat! Bentar lagi bel masuk bunyi," perintah Sandi sebagai komando makan mereka.
Suasana makan berlangsung seru. Sandi memindahkan setengah porsi nasi putihnya ke mangkuk bakso Saskia dengan telaten. Sebagai imbalannya, Saskia mengambil beberapa butir bakso kecil dan meletakkannya ke piring nasi Sandi. Interaksi saling berbagi porsi itu terjadi begitu alami, seolah sudah mendarah daging selama bertahun-tahun.
Anggita dan Vino saling berpandangan, lalu Vino berdeham keras. "Gue makin curiga nih... lo berdua ini sebenarnya diam-diam sudah jadian atau emang dari zaman SD gayanya sudah kayak begini?"
Sandi yang baru saja menyuap nasi ayamnya langsung tersedak hebat. Uhuk! Uhuk! "Mana ada! Ngaco lo, Vin! Gue dari SD emang begini tugasnya. Si Oneng ini kalau makan porsinya kayak burung pipit, nggak pernah habis. Daripada mubazir, ya gue yang jadi penampung sisanya. Jangan mikir macem-macem!"
Saskia mengangguk mantap, mendukung pernyataan Sandi meski hatinya berbunga-bunga. "Iya, aku suka sama Sandi itu karena dia nggak pernah nolak makanan sisa aku. Dia paling ngerti selera aku."
Anggita menyeruput es tehnya lalu menimpali, "Iya, gue tahu lo udah sering cerita. Cuma baru kali ini gue lihat lo berdua berbagi makanan sedetail itu... sudah kayak pasutri (pasangan suami istri) tahu nggak?"
Sandi kembali tersedak, kali ini lebih parah sampai air matanya keluar. Uhuk! Uhuk! "Setan lo, Nggi! Mana ada pasutri modelan begini! Gue ini cuma ojek merangkap pengasuh si Oneng!"
Anggita dan Vino tertawa terbahak-bahak melihat reaksi defensif Sandi. Sementara itu, Saskia justru terdiam. Kata "pasutri" barusan seolah memicu proyektor di dalam kepalanya. Ia mulai berkhayal tentang masa depan di rumah megah, dengan Sandi yang pulang kerja disambut olehnya. Pipinya mendadak merona merah padam, panas sampai ke telinga.
Sandi melirik ke arah Saskia yang mendadak melamun dengan wajah kemerahan. "Ngapa lo, Sas? Muka lo kayak udang rebus gitu? Nahan berak ya lo?"
Pertanyaan jorok Sandi itu seketika menghancurkan khayalan indah Saskia. Saskia tersentak, lalu dengan gemas melemparkan gumpalan tisu bekasnya tepat ke arah mulut Sandi. Anggita yang juga merasa terganggu ikut melemparkan botol minuman plastik kosong ke arah Sandi. "SANDI! JOROK BANGET SIH LO!" teriak mereka berdua serempak.
"Orang lagi makan ngomongnya begituan, bener-bener setan lo, San!" gerutu Anggita sambil tertawa.
"Iya, kamu tuh mulutnya pengen dicabein ya, biar pedes sekalian!" tambah Saskia sambil pura-pura marah.
Vino dan Sandi tertawa geli melihat kekompakan kedua gadis itu. Ketegangan soal status mereka pun mencair di tengah riuh rendahnya kantin. Mereka akhirnya menikmati sisa makanan dengan canda tawa, sejenak melupakan drama perjodohan dan beban sekolah, sembari bersiap untuk perjalanan menuju rumah Andra setelah bel berbunyi nanti.
Bel masuk berbunyi dengan nada yang menusuk telinga, mengakhiri euforia singkat di kantin dan memaksa seluruh siswa kembali ke dalam selimut kebosanan ruang kelas. Pelajaran Bahasa Inggris siang itu terasa seperti rekaman kaset yang diputar lambat; suara dengung kipas angin di langit-langit beradu dengan pelafalan grammar yang monoton dari sang guru. Sandi berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, sementara Saskia di sampingnya tampak sibuk mencoret-coret bagian belakang buku tulisnya dengan inisial "S & S" yang dikelilingi gambar hati—sebuah pemandangan yang membuat Sandi hanya bisa memijat pelipisnya sendiri.
Begitu bel pulang berdentang, suasana kelas mendadak pecah. Vino dan Anggita langsung menyambar tas mereka dengan gerakan sigap. "San, Sas, ayo gerak! Kita jadi ke rumah Andra kan? Gue sama Vino cabut duluan ya, mau mampir ke toko buah depan dulu buat beli tentengan. Lo berdua langsung meluncur saja ke TKP," ujar Anggita sembari merapikan jaketnya.
Sandi merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan dompet kulit yang sudah agak tipis. "Mau patungan nggak? Gue ada sisa uang nih, lumayan buat nambah-nambah beli jeruk atau pir."
Sebelum Anggita sempat menjawab, tangan mungil Saskia sudah lebih dulu menepis pelan tangan Sandi, menahan pemuda itu agar tidak mengeluarkan uangnya. "Biar aku saja, Nggi! Ini sekalian aku titip belikan cemilan buat kita ngumpul di sana ya. Terserah kamu mau beli apa saja, tapi kalau buat aku, tolong cariin coklat bar. Dan buat Sandi... belikan kacang kulit bungkusan terserah merk apa aja yang penting ukuran 500 gram," ucap Saskia dengan nada yang sangat familiar terhadap selera Sandi.
Anggita menghentikan langkahnya, menatap Saskia dengan dahi berkerut heran. "Kok lo tahu banget selera cemilan Sandi sih, Sas? Perasaan kita yang bareng dia dari kelas satu saja nggak pernah tahu Sandi hobi ngunyah kacang kulit kalau lagi santai."
Vino menimpali dengan anggukan mantap, matanya menyipit penuh selidik. "Nah, bener kan! Feeling gue makin kuat. Gaya lo berdua ini sudah bukan kayak teman sebangku lagi. Jujur deh, lo berdua beneran sudah jadian ya?"
Sandi merasa suhu tubuhnya naik seketika. Dengan gerakan refleks untuk menutupi kecanggungan, ia mendaratkan sentilan ringan namun tepat sasaran di kening Saskia. "Mana ada, Vin! Si Oneng ini memang asal jeplak saja, sok tahu dia. Nggi, gue titip ice cream saja deh, jangan kacang kulit. Panas nih cuaca," elak Sandi, berusaha membelokkan topik.
Vino tertawa melihat kepanikan Sandi. "Yah, kalau beneran jadian juga nggak apa-apa kali, San. Nggak usah malu-malu kucing begitu. Kita malah seneng kalau 'pangeran pasar' akhirnya takluk sama 'putri keraton'."
Anggita ikut tertawa renyah, suaranya memenuhi koridor kelas yang mulai sepi. "Betul, San! Gue juga seratus persen ngedukung kok kalau lo berdua jadian. Serasi tahu, yang satu pinter tapi galak, yang satu cantik tapi... ya gitu deh, Oneng."
Sandi menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya. "Sudah ah, jangan ngadi-ngadi (ada-ada saja). Sana pergi, nanti keburu sore dan jalanan macet. Gue juga harus nganterin Saskia dulu ke Pondok Indah nanti setelah dari rumah Andra. Perjalanan gue jauh, butuh waktu lama."
Vino menepuk jidatnya sendiri. "Sori-sori, gue lupa kalau lo sekarang sudah merangkap jadi ojek eksklusif nan setia buat Saskia. Ya sudah, gue duluan ya. Ayo, Nggi! Keburu buahnya tinggal yang layu-layu kalau kita kelamaan di sini." Anggita melambaikan tangan ke arah mereka berdua sebelum menghilang di balik pintu kelas.
Begitu sosok kedua sahabatnya menghilang dari pandangan, Sandi langsung berbalik arah. Tanpa aba-aba, ia mencubit kedua pipi Saskia hingga gadis itu mengaduh pelan. "Lo sudah berapa kali keceplosan hari ini, Oneng?! Bahaya banget itu mulut. Kalau sampai mereka curiga lebih jauh, bisa berabe urusannya!"
Saskia berusaha melepaskan tangan Sandi dari pipinya yang mulai memerah. "Aduh, sakit San! Habisnya aku sudah nggak sabar, Yang... Eh, Sandi. Aku pengen buru-buru bisa bersikap layaknya calon tunangan kamu secara terbuka."
Sandi memijat pangkal hidungnya, merasa pusing dengan tingkat antusiasme Saskia. "Iya, gue tahu perasaan lo, tapi tolong sabar! Tanggal tunangannya saja belum dibahas, baru persetujuan lisan antar keluarga tadi malam. Kalau nanti sudah diresmikan, mereka juga pasti kita undang. Jadi tolong, rem dulu itu mulut! Kalau lo nggak bisa kooperatif, gue beneran bakal mundur. Gue bakal larang nyokap gue kerja di rumah lo, dan kita batalin semuanya. Ngerti?"
Mendengar ancaman "batal", nyali Saskia langsung menciut. Ia menunduk dalam, menatap ujung sepatunya yang mengkilap. "Aku minta maaf, San... Aku janji nggak akan begitu lagi. Tadi aku cuma terlalu senang saja..."
Melihat wajah Saskia yang mendadak layu, pertahanan Sandi runtuh lagi. Ia menghela napas, lalu mengelus lembut puncak kepala Saskia untuk menenangkannya. "Iya, gue maafin. Tapi tolong banget, ngerti posisi gue ya. Sekarang, ayo kita meluncur ke rumah Andra. Takut kemalaman, nanti nyokap lo nyariin. Eh, lebih baik lo telepon nyokap lo dulu deh. Bilang kita mau jenguk teman, jadi pulangnya mungkin agak telat sampai Pondok Indah. Gue nggak mau beliau khawatir."
Saskia mengangguk patuh dan segera merogoh ponsel mewahnya. Setelah tersambung, ia berbicara sebentar sebelum memberikan ponsel itu ke arah Sandi. "Ini, Mama mau ngomong sama kamu, San."
Sandi meraih ponsel itu dengan sopan. "Halo, Tante. Iya, ini Sandi."
"Halo, San," suara lembut Mama Saskia terdengar di seberang sana. "Kamu jadi anterin Saskia pulang kan nanti? Soalnya tante ga jemput Saskia."
"Iya Tante, pasti Sandi antar. Tapi Sandi minta izin dulu, ini mau jenguk teman sekolah namanya Andra, dia lagi sakit. Jadi mungkin Sandi agak malam baru sampai nganterin Saskia ke rumah," lapor Sandi dengan jujur.
"Oh, begitu. Iya nggak apa-apa, sampaikan salam buat teman kamu ya. Oh iya San, Tante mau kasih tahu, kira-kira besok kamu dan Ibu sudah bisa pindah ke sini belum? Tante sudah siapin semuanya, nanti Tante sewa mobil pick-up juga buat bantu angkut barang-barang dari rumah kamu di Jatinegara."
Sandi tertegun sejenak mendengar kecepatan rencana ini. "Iya Tante, nanti pas pulang dari antar Saskia, Sandi bicarakan langsung sama Ibu."
"Iya, lebih cepat lebih baik, biar Ibumu bisa langsung mulai kerja dan kalian nggak perlu capek bolak-balik lagi. Maksud Tante begitu."
"Siap Tante, nanti Sandi sampaikan semua poinnya ke Ibu," jawab Sandi mantap.
"Yaudah, Tante titip Saskia ya San. Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa motornya."
Sandi menyeringai tipis, melirik Saskia yang sedang memperhatikannya dengan kagum. "Siap Tante, tenang saja. Nanti Sandi 'bungkus' Saskia biar aman sampai depan pintu rumah." Mama Saskia tertawa renyah mendengar candaan Sandi sebelum akhirnya menutup telepon.
"Ayo, gerak sekarang!" ajak Sandi setelah mengembalikan ponsel Saskia. Mereka berdua berjalan menuju area parkir. Sandi menghidupkan mesin Ninja 150RR-nya yang mengeluarkan suara khas mesin 2-tak yang garing. Ia melirik Saskia yang nampak kesulitan memasang tali helmnya—jemarinya tampak gemetar karena gugup atau mungkin terlalu senang. Dengan telaten, Sandi menarik lengan Saskia agar mendekat, lalu ia memasangkan tali helm itu hingga terdengar bunyi klik, memastikan pelindung kepala itu terpasang sempurna.
Saskia naik ke jok belakang motor sport hijau itu dengan anggun. Tanpa diperintah dua kali, ia langsung melingkarkan kedua tangannya erat-erat di perut Sandi, menempelkan tubuhnya ke punggung bidang pemuda itu tanpa celah. Sandi sempat tertegun sesaat merasakan kehangatan itu, namun segera menarik tuas kopling dan memacu motornya meninggalkan area sekolah, membelah jalanan menuju kediaman Andra dengan perasaan yang campur aduk antara tanggung jawab dan getaran yang mulai sulit ia pungkiri.