NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Accident

Handphone Zira bergetar, membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata itu Aliya.

"Haloo, Zira, kamu lagi di mana?." tanya Aliya dengan nada ceria.

Zira tersenyum kecil. "Aku mau beli seblak. Kepala lagi penuh, butuh yang panas-panas, "jawabnya santai.

Aliya langsung menimpali, "Kebiasaan banget deh kamu. Padahal kamu punya penyakit lambung, kan. Jaga kesehatan dong. Aku tahu beban pikiranmu banyak, tapi kamu tetap harus jaga tenaga buat menghadapinya."Ucapan Aliya membuat Zira sedikit terharu. "Iya kok, aku tahu," ujarnya lembut.

"Ngomong-ngomong, Zita lagi bikin pesta. Semua diundang tanpa terkecuali, termasuk pa Nathan," kata Aliya dengan nada misterius.

Zira mendengarkan dengan penasaran. "Acara apa sih? Kok tiba-tiba banget."

"Ulang tahun ayahnya Zita. Pa Nathan juga partner bisnis ayahnya Zita, jadi pasti dia datang. Tempat acaranya di hotel bintang lima. Kamu wajib datang, dan dandan yang cantik ya, " balas Aliya antusias.

"Iya, iya... aku datang deh. Jam berapa acaranya? ."tanya Zira.

"Jam 8 malam." Jawab aliya

"Oke deh, kalau gitu aku lanjut makan seblak ya. Bye."ucap aliya

"Terserah kamu," jawab Aliya sebelum menutup telepon.

***

Waktu berlalu cepat hingga akhirnya pukul delapan malam pun tiba. Zira sudah dalam perjalanan menuju pesta ulang tahun tersebut. Ia mengenakan gaun hitam yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah, membuat para pria yang melihatnya tak bisa mengalihkan pandangan.

Begitu tiba di hotel mewah lokasi acara, Zira tanpa sengaja berpapasan dengan Maura. "Hei, sudah lama banget kita gak ketemu. Terakhir waktu di pengajian Gus Nathan ya? "sapa Maura dengan ramah.

Zira membalas senyum Maura. "Hm iya, Ra. Eh, kamu ngapain di sini?"

"Ada pengajian dari Ustazah Halimah Alaydrus, panutanmu dulu, Na..." kata Maura santai.

Ucapan itu seketika mengingatkan Zira akan masa lalunya saat ia sering ikut kajian bersama ustazah itu. Dulu, ia sering meminta nasihat dari Ustazah Halimah untuk membedakan mana jalan yang baik dan buruk.

"Kamu mau ketemu beliau juga? Beliau masih ada di ruangannya, "lanjut Maura.

"Gimana ya... kayaknya gak dulu deh, Ra. Aku kan ada acara di hotel ini," jawab Zira.

"Oh gitu ya... ya udah deh. Tapi semoga kamu nanti ketemu seseorang yang bisa membimbingmu seperti dulu lagi ya," ucap Maura tulus.

"Terima kasih ya... aku pergi dulu ya! Assalamualaikum, "balas Zira sambil berlalu.

"Waalaikumsalam, Na... Aku kangen deh sama Nana yang dulu aku kenal... "gumam Maura sendirian karena Zira sudah keburu pergi.

***

Sesampainya di tempat pesta ulang tahun ayah Zita, mata Zira langsung menangkap wajah temannya yang melambaikan tangan dari kejauhan. Hai, Zira! Di sini! seru Zita.

Zira menghampiri dengan langkah anggunnya." Halo semuanya, maaf ya aku telat."

"Wah gila! Kamu cantik banget malam ini. Pasti semua cowok di sini nggak bisa berhenti liatin kamu! goda Aliya."

"Lebay banget sih kamu," balas Zira sambil terkekeh pelan." Papa kamu mana, Zit?" Tanya zira ke zita

"Itu tuh, Papa lagi ngobrol sama tamu. Sini aku antar ke sana," sahut Zita sambil menggiring Zira ke arah ayahnya.

"Pak, ini teman-teman dari kampus saya. Mereka mau ketemu Papa sebentar," ujar Zita memperkenalkan mereka.

"Selamat ulang tahun ya, Om. Semoga panjang umur dan selalu sehat. Ini ada hadiah kecil dari saya untuk Om, "ucap Zira sembari menyerahkan kado yang telah disiapkannya.

"Wah terima kasih banyak, Zira. Silakan nikmati pestanya ya, "jawab ayah Zita sambil tersenyum ramah sebelum pamit untuk menyambut tamu lainnya.

Ayahnya Zita meninggalkan mereka sejenak untuk menyapa tamu lainnya. "Zir, itu Pa Nathan bukan?" tanya Aliya sambil menunjuk ke arah Nathan. "Iya, itu Pa Nathan," jawab Zira. "Tapi dengan siapa? Bukannya tunangannya itu Ning, ya?" lanjut Aliya dengan nada bingung. "Entahlah, aku nggak tahu, mungkin selingkuhannya," jawab Zira santai.

"Dia itu Meli, rekan kerja ayahku. Kata Papa, dia juga teman kerja Pa Nathan. Meli sering terlihat dekat dengan Pa Nathan karena sudah lama punya perasaan padanya, tapi sayangnya tidak pernah terbalas oleh Pa Nathan," jelas Zita panjang lebar. Zira hanya mengangguk pelan sebagai respon.

"Nat, hari ini kamu terlihat begitu tampan, bikin aku makin jatuh cinta sama kamu, "ujar Meli secara blak-blakan kepada Nathan. Nathan, sudah terlalu sering mendengar perkataan Meli seperti itu, hanya diam dan kemudian meninggalkannya tanpa banyak reaksi.

"Huh, nyebelin banget! malam ini akan menjadi momen kita yang asyik, Nathan sayang!" gumam Meli dengan nada licik. Ia kemudian mendekati bartender dan berbisik agar mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Nathan. "Ini bayaranmu, lakukan segera ya," kata Meli sambil menyerahkan sejumlah uang. Bartender itu mengangguk dan segera menuju tempat Nathan berada dengan minuman yang telah diatur. "Permisi, ini minumannya, Pak, "ujar sang bartender kepada Nathan.

"Terima kasih, "jawab Nathan singkat. Namun, ia tidak langsung meminum, melainkan tetap melanjutkan obrolannya dengan papanya Zita. "Ayo diminum, Gus! "seru Samuel kepada Nathan. Akhirnya Nathan pun meneguk minumannya, sementara di sisi lain Meli yang memperhatikan semua itu tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya.

"sebentar lagi sayang kita akan melewati malam yang panjang." Ucap meli setelah selesai minum beberapa menit Nathan merasa tubuhnya panas ,ia minta izin ke toilet ke Samuel "saya ke toilet dulu pa, permisi." Ucap

Nathan.

meli yang melihat nya ingin menyusul Nathan ke toilet tapi di cegah sama temen lamanya ,untuk ngobrol karna sudah lama tidak ketemu.

Didalam toilet Nathan berkeringat menahan hawa panas yang ada di dalam diri " ya Allah ini kenapa, panas banget."ucap Nathan

zira yang sedang asik ngobrol bareng ke dua sahabat nya tiba merasa ingin buang air kecil " guys gue ke toilet dulu yah"pamit zira

zira berjalan menuju toilet tak sengaja bertemu dengan Nathan yang dalam keadaan sulit di ceritakan "pa Nathan baik-baik saja?."tanya zira dengan nada khawatir

" tolongin saya badan saya terasa panas banget ." Ucap Nathan, zira kira Nathan sedang tidak enak badan jadi zira bantu Nathan untuk pesan kamar , setelah pesan kamar zira membantu Nathan ke kamarnya di saat zira ingin meninggalkannya Nathan menahan tangan zira dan menjatuhkan zira ke kasur.

Sekarang zira berada di atas tubuh Nathan, Nathan yang sudah gak bisa nahan efek dari obat tersebut langsung mencium bibir zira dengan lumatan yang menuntut, zira yang sadar akan itu adalah perbuatan zina meskipun tantangan Aliya dan Zita , zira di menangkan tapi bukan seperti ini yang di harapkan nya.

" Astaghfirullah pa, jangan lakukan ini dosa pa Nathan."ucap zira agar Nathan, Nathan tidak mendengarkannya malah lanjut menciumi anggota tubuh zira turun ke leher jenjang zira " ahh.. pa Nathan jangan." Desah zira yang tak bisa di tahan " ini sangat nikmat baby." Ucap Nathan tanpa sadar , Nathan pun mulai melucuti pakaiannya zira dan mereka melalui malam itu dengan panjang.

Pagi menjelang, sinar matahari menembus tirai kamar hotel yang ditempati Zira dan Nathan. Perlahan, Zira terbangun dari tidurnya. Ia langsung menoleh ke samping tempat tidur, melihat Nathan yang masih lelap. Dengan hati berat, Zira bergumam dalam hati sambil meneteskan air mata, "Ya Allah, maafkan Zira. Bagaimana Zira harus menjelaskan semua ini kepada Mama?" Rasa sesak memenuhi dadanya.

Tangisan Zira ternyata membangunkan Nathan. Dengan tatapan bingung, Nathan memperhatikan keadaan sekitar, lalu berucap, "Astaghfirullahaladzim... apa yang sebenarnya terjadi?" Matanya menangkap ketidakpantasan situasi mereka berdua.

Zira hanya bisa menangis lebih keras tanpa mampu berkata-kata. Nathan pun mencoba mendekatinya, meminta jawaban dengan nada cemas, "Zira, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Mengumpulkan keberanian di tengah rasa takut dan malu, Zira mulai berbicara sambil terbata-bata. "Saya... saya hanya ingin membantu, Pak Nathan. Saya kira Pak Nathan sakit atau tidak enak badan, jadi saya pesan kamar untuk istirahat. Saya bantu Pak Nathan ke sini. Saat saya ingin kembali ke acara pesta, Pak Nathan mencegah saya... menarik saya ke tempat tidur, lalu..." Suaranya terhenti, tangisnya kembali pecah, tak sanggup melanjutkan cerita.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!