Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOT WAITING TO BE LOVED
Bloom Collection resmi meluncurkan lini busana terbarunya pagi ini. Halaman awal seluruh kanal Bloom Collection menampilkan satu wajah baru, Celine Attea. Kecantikannya terpancar lewat tatapannya yang tenang, kepercayaan diri, dan juga keteguhan hatinya.
Koleksi ini memadukan siluet bersih dan potongan yang berani, seolah dirancang untuk perempuan yang tidak perlu izin untuk berdiri di tengah sorotan. Warna-warna netral dipilih dengan sadar, menyiratkan kemewahan tanpa perlu penjelasan.
NOT WAITING TO BE LOVED.
Cinta tumbuh ketika kau berhenti meragukan nilaimu.
Tema itu menyita perhatian publik dalam hitungan jam. Media mode, majalah nasional, hingga portal bisnis memuat foto Celine sebagai the quiet authority of modern elegance. Bukan karena sensasi, melainkan karena konsistensi estetika dan aura yang sulit dipalsukan.
Busana musim ini dinilai sangat hidup di tubuhnya. Setiap potongan tampak memiliki karakter, seolah gaun-gaun itu baru menemukan identitasnya ketika dikenakan Celine. Elegan tanpa berusaha keras, mewah tanpa teriak harga.
Akun resmi Bloom Collection dibanjiri pujian. Foto-foto Celine dibagikan ulang di berbagai platform sosial media. Nama Montgomery tentu disebut, statusnya sebagai istri sah Ethan Solomon Montgomery tak mungkin diabaikan. Namun publik bereaksi dengan cepat.
“Bloom Collection berdiri jauh sebelum pernikahan terjadi.” tulis salah satu editor mode ternama.
“Celine Attea tidak sedang menumpang kekuasaan siapa pun. Ia bisa mendirikan ratusan Bloom Collection dengan uangnya sendiri jika ia mau.”
Foto-foto kampanye menyebar cepat di media sosial. Stok terbatas habis dalam waktu singkat. Permintaan tambahan datang bertubi-tubi. Butik menerima daftar tunggu panjang. Namun Celine menolak memperbanyak produksi. Seluruh model dirilis dalam limited stock. Baginya, kuantitas adalah musuh luxury.
Bloom Collection tidak diciptakan untuk semua orang. Rancangan NOT WAITING TO BE LOVED bukan tentang mengejar pasar, melainkan tentang menetapkan value.
Ethan melangkah masuk ke Mansion Montgomery dengan jas masih melekat rapi, meski tubuhnya jelas kelelahan. Lingkar gelap di bawah matanya tidak bisa disamarkan, menandakan pemiliknya sudah berhari-hari tidak tidur.
Pelayan menyambutnya di ambang pintu dengan sikap sempurna, seperti biasa.
“Tuan Ethan, sarapan sudah…”
Ethan mengangkat tangan sedikit, menolak tanpa sepatah kata. Langkahnya terus berlanjut menuju tangga marmer yang membelah aula utama mansion.
“Ini bagus sekali, Ma.”
Suara Serena terdengar, disusul oleh Florence dan Ariana yang menyebut satu nama yang membuat langkah Ethan terhenti di anak tangga ketiga… Celine.
Ethan berbalik arah menuju ruang tamu utama.
Florence duduk anggun di sofa panjang, Ariana berdiri di dekat meja kaca, sementara Serena berjongkok sibuk membuka kotak demi kotak berlogo Bloom Collection. Montgomery tidak pernah asing dengan barang mahal. Namun sesuatu dari pemandangan itu membuat Ethan mengernyit. Ada antusiasme yang jarang ia lihat, bukan karena harga tapi karena siapa yang ada di balik nama itu.
“Selamat pagi, Mama, Grandma, Serena,” ucap Ethan, dengan etika Montgomery yang tetap terjaga meski suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Pagi, Ethan.” jawab Florence, seperti biasa selalu terlihat anggun di usia tuanya.
Ariana dan Serena tidak menanggapi, masih kecewa karena perbuatan Ethan.
“Wah,” ujar Serena sambil mengangkat sebuah majalah mode, “Kak Celine cantik sekali.”
Sampul majalah itu menampilkan Celine, dengan gaun Bloom Collection yang melekat sempurna di tubuhnya.
Ariana mengangguk, mengusap foto Celine lembut. “Dia akan menemukan pengganti kakakmu dengan mudah.” katanya lirih.
Ethan melangkah mendekat tanpa berkata apa-apa, lalu mengambil majalah itu dari tangan Serena. Serena terkejut, Ariana menoleh, Florence pun mengangkat pandangan.
Wajah Ethan mengeras. Matanya terpaku pada satu halaman, lalu halaman berikutnya. Warna kemerahan seketika menjalar di wajahnya, campuran kaget sekaligus amarah. Tangannya mencengkeram majalah itu terlalu kuat.
“Paman Jerry,” katanya tiba-tiba. Suaranya keras, nyaris membentak, merobek ketenangan di ruang tamu.
Jery segera berlari dari balik dinding, napasnya berhembus lebih cepat.
“Siapkan mobil sekarang!” perintah Ethan.
“Baik, Tuan Muda.”
Florence menatap Ethan tajam, menegurnya lewat tatapan. Teriakan barusan, bukan nada Montgomery. Namun ia bahkan tak yakin apakah cucu kesayangannya itu, melihat tatapannya.
Tanpa peduli apa pun Ethan berbalik, melangkah pergi dengan majalah masih di tangannya.
“Kak Ethan… kakak!” Serena berdiri cepat. “Kembalikan, itu milikku!”
Teriakan Serena sia-sia, panggilannya sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
Diam-diam Ariana menatap punggung Ethan, lalu tersenyum puas. “Mama tidak tahu apakah kesempatan kedua selalu ada bagi setiap orang. Tapi Mama bersumpah, apa pun keputusan Celine Mama akan mendukungnya meski kau putraku.” batinnya.
Ethan menatap layar iPad di tangannya tanpa berkedip. Di dalam mobil yang melaju cepat itu, ia mengulang setiap headline, setiap potongan berita, setiap unggahan yang memuat nama Celine Attea. Jarum jam tangannya bergerak, tapi pikirannya hanya fokus pada layar. Foto demi foto berganti, komentar demi komentar, bahkan pujian tidak berujung yang terus-menerus menyebut nama wanita itu.
“Brengsek!” ucapnya keras, saat sebuah wawancara eksklusif muncul di layar.
Pemilik agensi modeling nomor satu di negeri ini. Pria tampan, yang nyaris tidak pernah menyebut nama siapa pun secara terbuka.
Ethan memperbesar layar, melihat dengan detail.
“Jika ada satu wajah yang ingin saya tarik saat ini,” katanya tenang di depan kamera, “itu adalah Celine Attea.”
Ethan menegang, jari-jarinya mencengkeram sisi iPad begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
“Celine Attea memiliki aura yang memikat tanpa meminta perhatian, termasuk memikat saya.” lanjut pria itu tersenyum manis.
Napas Ethan tersendat, otot di pelipisnya berdenyut jelas. Tatapannya berubah gelap, liar dan tidak terkontrol.
“Sialan.”
Ia menggeser layar dengan kasar. Foto Celine memenuhi layar, mengenakan gaun potongan rendah yang mengekspos bahu dan kulit mulusnya. Garis lehernya bersih, menarik mata siapa pun untuk melihatnya lebih dekat. Dadanya terasa panas hanya dengan membayangkan berapa banyak mata yang sudah melihat bagian itu.
“Gaun ini?” desis Ethan penuh amarah. “Kain apa ini, sialan? Siapa yang sudah menciptakan gaun bodoh ini?”
Tangannya gemetar, penuh amarah mentah. Ia menoleh tajam ke depan.
“Paman Jerry!”
Jerry menegang di kursi depan.
“Kenapa aku baru melihat ini sekarang?” suara Ethan rendah, tapi mengancam. “Seharusnya kau memberitahu aku sebelum foto-foto ini terbit. Sebelum orang-orang melihat Celine… dalam potongan gaun seperti itu.”
Jerry menunduk dalam-dalam.
“Saya kurang teliti,” ucapnya cepat, nyaris bergetar. “Maaf, Tuan Muda.”
“Kurang teliti?” Ethan terkekeh pendek, lalu iPad itu dilemparkan begitu saja membentur pintu samping.
“Percepat!” perintahnya dingin.
“Ini sudah batas maksimal, Tuan,” jawab Jerry hati-hati.
Ethan membanting telapak tangannya ke sandaran kursi.
“Kenapa mobil ini berjalan seperti siput?” bentaknya. “Panggil pengacaraku! Aku akan menuntut perusahaannya.”
Jerry terdiam, tak berani berkata-kata. Di dalam hati, ia bergidik ngeri. Apakah ini benar-benar Ethan Solomon Montgomery? Pemimpin Amox yang dingin, pewaris kerajaan Montgomery itu?
Kalau aku sih dukung Cantika,bisa liat juga gimana kata hati Ethan...mau tetap ngurus Cantika atau fokus ke Celine... Rega,kamu ganggu Cantika aja,udah berbinar tuh matanya liat Ethan.akhirnya mewek liat pisau mu 😆😆😆😆
mampus kau 🤣🤣🤣
baru di gertak Rega aja udah nangis, gimana mau jadi pendamping Ethan 😆😆😆
Dan Celine dunia nya hanya berporos pada Ethan...
bolak balik disakiti,bolak balik tanpa sadar di khianati tapi ya cinta tetap ada...
mungkin karena di pupuk dari kecil,tapi coba di pahami ini cinta yang gak sehat...