Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chaplin 3
Tiga bulan telah berlalu sejak tangisan pertama itu memecah kesunyian kamar megah Lady Elara.
Bagi dunia, tiga bulan hanyalah sekejap mata, namun bagi jiwa yang terjebak dalam raga mungil itu, setiap detiknya adalah perpaduan antara frustrasi yang membakar dan observasi yang dingin.
Di sebuah kamar luas yang didominasi oleh aroma kayu cendana dan kain linen bersih, sebuah ayunan bayi yang terbuat dari kayu ek berukir halus bergerak perlahan.
Di sanalah ia berada. Albus.
Sang jenius yang pernah menggetarkan Benua Vera, kini hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan mata bayi yang jernih namun menyimpan kedalaman emosi yang tak semestinya.
"Tiga bulan..." Albus membatin, tangannya yang mungil mencoba meraih udara kosong. "Aku benar-benar kembali menjadi bayi. Sungguh efisiensi yang buruk. Kenapa takdir tidak melempar aku ke tubuh seorang remaja atau anak kecil saja? Menjadi bayi adalah siksaan bagi seseorang yang terbiasa menggenggam pedang dan membelah langit."
Ia menghela napas, namun yang keluar hanyalah suara desis kecil.
Dari pengamatannya selama ini, ia tahu satu hal pasti: ia berada di lingkungan yang sangat menguntungkan.
Kamar ini, pelayan yang selalu siaga, dan kualitas kain yang menyelimutinya menunjukkan bahwa orang tuanya saat ini adalah bangsawan kelas atas.
'Bangsawan, ya?' Albus menyeringai dalam pikirannya. "Setidaknya aku tidak perlu mencuri roti atau tidur di kandang kuda seperti di kehidupanku yang dulu. Status ini akan memberiku akses ke perpustakaan, guru terbaik, dan sumber daya mana yang melimpah. Tapi, aku tidak akan menunggu sampai aku bisa berjalan untuk memulai kekuatanku."
---
Albus memejamkan mata, mematikan semua gangguan dari luar.
Ia tahu tujuan utamanya sekarang adalah membentuk **Crystal Mana**.
Dalam dunia Emelegrand, Crystal Mana adalah jantung bagi setiap individu yang ingin melampaui batas kemanusiaan.
Ia adalah organ tak kasat mata yang terletak di ulu hati, sebuah pusat sirkulasi yang mengkristalkan energi murni dari atmosfer menjadi kekuatan yang bisa dikendalikan.
Tanpa Crystal Mana, seseorang hanyalah wadah bocor. Mana mungkin masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, namun tanpa "inti" untuk menampung dan memadatkannya, energi itu akan segera menguap keluar kembali.
Seorang *Magician* membutuhkan Crystal Mana untuk menyimpan formula mantra. Seorang *Sword Magic* memerlukannya untuk menyuntikkan elemen ke bilah senjata.
Bahkan seorang pendekar pedang murni membutuhkannya untuk memperkuat serat otot dan kepadatan tulang. Tanpa itu, kau hanyalah manusia biasa—rakyat jelata yang hanya bisa memandang keajaiban dari kejauhan.
Secara alami, Crystal Mana bisa terbentuk sendiri pada mereka yang disebut "Anak Emas Dewa," namun itu sangat jarang. Mayoritas penduduk Emelegrand harus berlatih keras selama bertahun-tahun untuk "memaksa" mana berkumpul di satu titik hingga mengeras menjadi kristal.
"Dulu, aku membutuhkan waktu dua belas tahun hanya untuk membentuk kristal kecil yang rapuh," kenang Albus dengan pahit.
"Sebagai rakyat jelata tanpa bimbingan, aku harus meraba-raba kegelapan. Tapi sekarang? Aku tidak punya waktu dua belas tahun lagi."
---
Albus mengingat penelitian terlarangnya di masa lalu.
Di dunia ini, metode standar untuk membentuk Crystal Mana adalah dengan menggunakan alat sihir khusus yang bertindak seperti pompa paksa.
Alat itu akan menyedot mana dari lingkungan dan menghujamkannya ke tubuh calon penyihir.
Proses ini sangat menyakitkan—seperti ribuan jarum panas yang menusuk pembuluh darah secara bersamaan.
Banyak yang gagal karena mental mereka hancur sebelum kristal terbentuk, atau lebih buruk lagi, tubuh mereka meledak karena tidak kuat menahan tekanan mana yang dipaksakan masuk.
Namun Albus memiliki teori lain: **Meditasi.**
Di Emelegrand, meditasi dianggap sebagai teknik rendahan, hanya sekadar latihan pernapasan untuk menenangkan pikiran stres atau ilmu pengobatan untuk relaksasi otot. Para penyihir sombong menganggapnya tidak berguna karena tidak ada lonjakan kekuatan instan.
Namun bagi Albus, meditasi adalah kunci untuk terhubung dengan **Energi Alam**. Mana pada dasarnya adalah bagian dari alam itu sendiri—ia ada di udara, di tanah, dan di tetesan air. Albus berteori bahwa jika seseorang bisa mencapai ketenangan mutlak, ia tidak perlu "memompa" mana secara paksa. Sebaliknya, ia bisa membuat tubuhnya menjadi magnet alami yang menarik mana dengan lembut namun konsisten melalui sinkronisasi frekuensi jiwa dengan alam.
"Ini belum pernah kucoba sebelumnya. Di kehidupan dulu, aku menemukannya saat kristalku sudah terbentuk sempurna. Tapi sekarang, raga bayi ini adalah kanvas kosong yang paling murni," pikir Albus.
---
Di dalam ayunan yang terus bergoyang pelan, Albus mulai mengatur napasnya. *Inhale... Exhale...*
Ia membayangkan dirinya bukan lagi sebagai bayi, melainkan sebagai bagian dari ruangan ini, bagian dari angin yang berhembus di luar jendela.
Ia mulai merasakan getaran-getaran halus di sekitarnya. Itulah mana.
"Datanglah padaku... jangan sebagai penjajah, tapi sebagai kawan,"Albus memanggil dalam hening jiwanya.
Perlahan, partikel cahaya kuning yang sangat kecil mulai berkumpul di sekitar ayunan.
Partikel-partikel itu menembus kulit lembut sang bayi.
Albus merasakan sensasi dingin yang menggelitik, diikuti oleh rasa hangat yang merambat ke ulu hatinya.
Ia tidak memaksanya. Ia hanya diam, membiarkan aliran itu berkumpul secara alami.
Rasa sakit mulai muncul.
Meskipun metode ini lebih lembut, tubuh bayi tetaplah rapuh. Sirkuit mana miliknya yang masih sangat muda mulai meregang. Keringat dingin mulai membasahi dahi mungil Albus.
"Tahan... jangan pecah sekarang. Fokus pada titik pusat. Bentuklah porosnya..."
Albus terus bermeditasi, menyerap energi alam sedikit demi sedikit.
Di dalam dadanya, sebuah pusaran cahaya mulai terbentuk.
Itulah cikal bakal dari Crystal Mana yang paling murni yang pernah ada dalam sejarah Benua Vera.
Tidak ada paksaan, tidak ada alat sihir, hanya sinkronisasi sempurna antara jiwa sang jenius dan napas alam semesta.
Ia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu, atau apakah tubuh bayinya akan sanggup menanggung beban teori yang luar biasa ini.
Namun, mata bayi itu tetap terpejam rapat dengan ekspresi serius yang tidak masuk akal bagi siapa pun yang melihatnya.
Albus sedang bertaruh dengan nyawanya sendiri untuk mendapatkan kembali tahta kekuatannya.
*Satu kesempatan lagi... dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.*
Kamar mewah itu seketika terasa mencekam bagi jiwa yang menghuninya.
Di dalam ayunan kayu ek yang tenang, sebuah perang batin sedang berkecamuk.
Albus, dengan segala kejeniusan dan egonya, kini menyadari bahwa teori yang ia bangun di masa lalu adalah pedang bermata dua saat diterapkan pada raga yang baru berusia tiga bulan.
Rasa sakit itu datang secara bergelombang, bukan seperti tusukan pedang yang ia rasakan di medan perang Vera, melainkan seperti ribuan semut api yang merayap di bawah kulitnya yang masih tipis.
Setiap kali ia menarik energi alam, pembuluh darahnya yang masih bayi terasa meregang hingga batas maksimal.
Di ulu hatinya, pusat mana yang coba ia bangun berdenyut kencang, menuntut stabilitas yang belum mampu disediakan oleh fisiknya.
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang mungil—bukan karena kesedihan, melainkan sebagai reaksi biologis murni terhadap tekanan yang luar biasa.
Kepalanya mulai berdenyut hebat, pandangannya yang masih terbatas kini berputar-putar.
"Cukup... aku harus berhenti sekarang!" Albus memerintah dirinya sendiri.
Seketika, ia memutus aliran meditasi itu. *Hah... hah... hah...* Napasnya memburu, kecil dan pendek. Seluruh tubuhnya berkeringat, membasahi kain sutra yang menyelimutinya.
Rasa pusing yang menghujam membuatnya merasa seolah otaknya akan meledak. Ia terengah-engah, merasakan kelelahan yang luar biasa merayapi setiap serat ototnya yang lemah.
"Sialan... ternyata teori ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan dalam catatan mentahku dulu," pikirnya dengan kesal.
"Tubuh bayi ini benar-benar membatasi segalanya. Jika aku memaksakannya satu detik lebih lama saja, jantungku mungkin akan berhenti berdetak karena beban mana yang tidak terkendali. Aku baru saja hidup kembali, aku tidak sudi mati konyol hanya karena terburu-buru mendapatkan kekuatan."
Namun, di balik rasa sakit itu, ada secercah keberhasilan. Albus memejamkan mata dan berkonsentrasi. Meskipun samar, ia kini bisa merasakan "denyut" tipis di sekelilingnya.
Partikel mana yang tadinya asing, kini terasa lebih akrab.
Terkadang partikel itu menghilang tertiup angin, namun ia tahu bahwa ia telah berhasil membuka pintu pertama. Fondasi itu sudah ada.
---
*Kriitt...*
Suara engsel pintu yang halus terdengar. Albus segera menormalkan napasnya, mencoba bersikap layaknya bayi normal meski dadanya masih terasa sesak.
Dari balik pintu, muncul sosok wanita yang beberapa bulan terakhir ini menjadi pusat dunianya.
Wanita itu melangkah anggun, jubah sutranya menyapu lantai dengan suara desis yang lembut.
Wajahnya memancarkan kecantikan yang tenang, dengan mata yang selalu terlihat hangat saat memandang ke arah ayunan.
Ia mendekat, lalu dengan penuh kasih sayang mengangkat tubuh kecil Albus ke dalam dekapannya.
"Ilwa... Maafkan Ibu, ya? Tadi Ibu harus pergi keluar sebentar untuk urusan rumah tangga," ucap wanita itu dengan suara yang lembut seperti nyanyian.
Ia mengecup kening Albus yang masih sedikit lembap oleh keringat dingin. "Apa putra Ibu yang tampan ini merasa kesepian?"
Albus memalingkan matanya ke arah lain, menghindari kontak mata yang terlalu dalam. "Ilwa?" Albus membatin dengan rasa kesal yang menggelora
"Nama macam apa itu? Ilwa? Benar-benar tidak ada wibawanya sama sekali. Dari sekian banyak nama megah di dunia ini, kau memberiku nama yang terdengar seperti nama hewan peliharaan? Panggil aku Albus!"
Tentu saja, protes besar itu hanya bergema di dalam kepalanya. Di dunia nyata, Albus hanya bisa mengeluarkan suara: "Aguhh... bababa... uukk!"
"Oh, lihatlah! Kau sangat bersemangat hari ini, Ilwa!" wanita itu tertawa kecil, menganggap ocehan kesal itu sebagai tanda kebahagiaan. Ia mulai menggoda pipi Albus dengan jarinya, membuat Albus semakin jengkel.
"Hentikan itu! Kau tidak tahu siapa yang sedang kau gendong!"
Albus meronta kecil, tangannya yang mungil mencoba menepis jari ibunya, namun bagi wanita itu, gerakan tersebut justru terlihat sangat menggemaskan. "Abuukk! Guuu!" teriak Albus lagi, berusaha menunjukkan kemarahannya.
"Iya, iya, Ibu tahu kau lapar, kan?" canda ibunya sambil terus mengayun-ayunkan tubuh Albus.
---
Albus terdiam sejenak dalam dekapan hangat itu.
Sebuah pikiran ironis melintas di benaknya. Di kehidupannya yang dulu, ia meninggal di usia tiga puluh lima tahun—usia di mana ia telah mencapai puncak pengetahuan dan strategi. Kini, ia menatap wanita di hadapannya ini.
Dilihat dari guratan halus di wajahnya dan cara bicaranya, wanita ini mungkin baru berusia dua puluh sembilan atau tiga puluh tahun.
*Secara mental, aku jauh lebih tua darinya,* Albus menggerutu dalam hati.
"Aku pernah meruntuhkan benteng, dan menantang dewa. Dan sekarang, aku digendong dan dicium oleh seseorang yang secara teknis bisa menjadi adikku di kehidupan sebelumnya. Sungguh penghinaan bagi martabatku sebagai seorang jenius."
Namun, saat ia merasakan detak jantung wanita itu yang tenang dan pelukan yang begitu tulus, ada bagian kecil dari jiwanya yang sudah lama mati mulai merasakan sesuatu yang asing.
Kehangatan ini bukan berasal dari mana atau sihir, melainkan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan saat menjadi rakyat jelata yang yatim piatu dulu.
"Sudahlah..."Albus akhirnya pasrah, membiarkan kepalanya bersandar di bahu ibunya.
"Untuk saat ini, biarlah namaku Ilwa. Biarlah aku menjadi bayi yang lemah. Tapi kalian semua harus tahu... sang penguasa sihir tidak benar-benar mati. Ia hanya sedang menunggu waktunya untuk tumbuh."
Wanita itu terus berbisik lembut, membisikkan janji-janji masa depan yang cerah bagi putra kecilnya, tanpa menyadari bahwa bayi dalam pelukannya adalah sosok yang suatu hari nanti akan mengguncang kembali fondasi Benua Vera.
Di bawah cahaya matahari yang menembus jendela kamar, sebuah legenda baru sedang dipupuk dalam kehangatan yang sederhana.
Suasana hangat di dalam kamar megah itu seketika pecah ketika pintu ganda berbahan kayu jati tersebut didorong terbuka dengan kasar.
Seorang pelayan muda masuk dengan wajah pucat pasi, napasnya tersengal-sengal seolah-olah ia baru saja melarikan diri dari kejaran maut.
Tangannya gemetar saat ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Elara.
"Nyonya... Nyonya Elara!" serunya dengan suara yang pecah karena kepanikan.
Elara, yang tadinya sedang tertawa kecil sambil menggoda pipi mungil Ilwa, menghentikan gerakannya.
Kerutan cemas muncul di dahinya yang halus. Ia mendekap Ilwa lebih erat, seolah insting pelindungnya bangkit secara otomatis.
"Ada apa, Martha? Kenapa kau tidak mengetuk pintu? Di mana sopan santunmu?" tanya Elara dengan nada yang mencoba tetap tenang, meski detak jantungnya yang mulai kencang bisa dirasakan oleh Ilwa yang menempel di dadanya.
"Maafkan saya, Nyonya! Tapi... tapi dia sudah sampai! Kereta kuda hitam dengan lambang perak itu... **Matriark** telah tiba di gerbang depan!"
Mendengar kata 'Matriark', wajah Elara seketika kehilangan rona merahnya. Ia seolah membeku di tempat.
Tubuhnya sedikit gemetar, sebuah reaksi yang sangat jarang diperlihatkan oleh seorang bangsawan setenang dirinya. "Sekarang? Kenapa mendadak sekali? Bukankah seharusnya beliau masih berada di ibu kota untuk urusan dewan?"
Ilwa, yang berada dalam dekapan Elara, menajamkan indranya. *Matriark?* batinnya bertanya-tanya.
Di dunia Emelegrand, jika tuan besar sebuah keluarga agung disebut sebagai *Patriark*, maka pemegang otoritas wanita tertinggi disebut sebagai *Matriark*. Dan dari reaksi ibunya, sosok ini jelas bukan sekadar nenek yang datang untuk membawakan mainan.
Ada rasa takut, hormat, dan tekanan yang luar biasa berat dalam sebutan itu.
"Cepat! Siapkan penyambutan di aula utama!" perintah Elara dengan suara yang sedikit bergetar. Tanpa sempat meletakkan Ilwa kembali ke ayunan, ia bergegas keluar kamar dengan langkah kaki yang terburu-buru.
---
Di luar rumah mewah yang lebih menyerupai kastil itu, sebuah kereta kuda hitam yang ditarik oleh empat ekor kuda jantan perkasa berhenti tepat di depan tangga pualam.
Lambang keluarga berupa pedang yang dililit oleh mawar berduri berkilau di bawah sinar matahari.
Para pelayan berbaris rapi, menundukkan kepala mereka hingga hampir menyentuh dada.
Suasana menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara derit pintu kereta yang terbuka.
Seorang wanita turun dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang dihiasi bulu-bulu burung merak di bagian bahunya.
Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi, dan matanya yang tajam seperti elang menyapu seluruh halaman dengan pandangan dingin yang seolah mampu menembus jiwa siapa pun yang ia lihat.
Elara sampai di aula utama tepat saat wanita itu melangkah masuk.
Ia segera membungkuk hormat, mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat terlalu kacau.
"Selamat datang, Matriark," ucap Elara dengan suara yang ditekan serendah mungkin. "Sebuah kehormatan bagi kami menerima kunjungan Anda yang mendadak ini."
Wanita tua itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan, suara ketukan sepatu hak tingginya menggema di lantai marmer, menciptakan irama yang menekan mental setiap orang di ruangan itu.
Ia berhenti tepat di depan Elara, matanya yang tajam langsung tertuju pada bungkusan kain yang digendong Elara—sang bayi, Ilwa.
Ilwa, dari posisinya yang mendongak, akhirnya bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Seluruh saraf di tubuh mungilnya seketika menegang.
Aliran mana yang baru saja ia pelajari beberapa waktu lalu seolah bergejolak karena insting waspada yang luar biasa.
"Wajah ini... mata ini..." Memori dari kehidupan sebelumnya, saat ia masih menjadi Albus sang penghancur, berputar cepat seperti kilat di kepalanya.
Di kehidupan lamanya, ada beberapa orang yang namanya tidak boleh diucapkan sembarangan, orang-orang yang menguasai politik dan kekuatan di balik bayang-bayang Benua Vera.
*Tidak mungkin..."Ilwa tertegun, matanya yang mungil melebar tanpa bisa ia cegah.
Nama itu muncul begitu saja di dalam benaknya, sebuah nama yang melambangkan kekejaman, kecerdasan strategis, dan pengaruh politik yang mampu meruntuhkan kerajaan hanya dengan sepucuk surat.
Sosok yang di kehidupan lamanya merupakan salah satu pendukung utama aliansi tiga raja untuk menghancurkan dirinya.
"**Elisa Eldersheath...**" batin Ilwa menjerit dalam keterkejutan yang murni.
Elisa Eldersheath, sang "Nyonya Berduri" dari keluarga Eldersheath yang agung.
Mengapa sosok sepertinya ada di sini? Dan yang lebih mengerikan bagi Ilwa adalah kenyataan bahwa wanita yang pernah menjadi salah satu musuh politik paling berbahaya bagi Albus, kini berdiri di hadapannya sebagai Matriark dari keluarga tempat ia dilahirkan kembali.
Matriark Elisa menatap Ilwa dengan pandangan yang tidak terbaca.
Ia mengulurkan tangannya yang keriput namun tampak kuat, menyentuh pipi bayi itu dengan ujung jarinya yang dingin.
"Jadi, inikah benih baru dari darah Eldersheath?" suara Elisa terdengar berat dan penuh wibawa, mengirimkan gelombang rasa dingin ke sekujur tubuh Ilwa.
Ilwa hanya bisa terdiam membeku dalam gendongan ibunya.
Di bawah tatapan tajam musuh lamanya itu, ia menyadari satu hal: kehidupan barunya di Emelegrand tidak akan semudah yang ia bayangkan. Ia baru saja lahir ke dalam sarang serigala yang dulu sangat ingin menguliti nyawanya.
Bersambung...