NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Latihan Malam dengan Gu

Malam itu, Seol tidak bisa tidur.

Bukan karena kelelahan setelah seharian membersihkan gudang peralatan latihan. Bukan karena tangan yang masih perih akibat luka-luka kecil dari bilah-bilah berkarat. Bukan karena perut yang keroncongan karena kembali melewatkan makan siang.

Ia tidak bisa tidur karena Batu Giwa di sakunya terasa hangat. Lebih hangat dari biasanya. Jauh lebih hangat.

Dan di dalam kehangatan itu, ada sesuatu yang bergerak.

Seol duduk di tempat tidurnya, meraih batu hitam itu dari sakunya. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela, batu itu tampak berdenyut—bukan pantulan cahaya, tetapi denyut dari dalam, seperti jantung yang berdetak setelah lama tertidur.

“Gu?” bisiknya.

Tidak ada jawaban. Tapi denyut itu semakin cepat, semakin kuat, hingga Seol merasakan getaran menjalar dari telapak tangannya ke seluruh lengannya.

Dan kemudian, suara itu datang.

“Bangun, bocah. Kita punya kerja malam ini.”

Suara Gu. Kuat. Jelas. Tidak lagi lemah seperti beberapa malam lalu.

Seol tersentak. “Gu! Kau—kau bangun!”

“Tidak sepenuhnya. Tapi cukup untuk mengajarimu beberapa hal yang tidak akan kau dapatkan dari instruktur sombong di sekte ini.” Ada nada sinis di suaranya—nada yang sudah lama tidak Seol dengar. “Kenakan pakaian latihanmu. Dan jangan lupa bawa ranting kayu itu. Kita akan ke tempat yang lebih tinggi.”

“Tapi—tugas besok—aku harus—”

“Kau akan menyelesaikan tugas-tugas bodoh itu seperti biasa. Tapi sebelum itu, kau akan berlatih. Dengan aku. Sekarang.”

Seol tidak membantah lagi. Ia berganti pakaian dengan cepat, mengambil ranting kayu keras yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur, dan menyelinap keluar dari asrama tanpa suara.

---

Puncak Gunung di Belakang Sekte

Gu memintanya naik ke puncak tertinggi di belakang sekte—sebuah tebing batu yang menjulang di atas area latihan murid dalam, tertutup kabut dan pepohonan cemara tua. Tidak ada yang pernah ke sini. Jalannya curam dan licin, dan di malam hari, hampir tidak mungkin dilalui.

Tapi Seol menemukan jalannya. Qi-nya membantunya merasakan celah-celah batu yang aman untuk dipijak, dan dalam waktu setengah jam, ia berdiri di puncak tebing.

Dari sini, seluruh Sekte Pedang Surgawi terlihat seperti lautan cahaya di bawah. Lentera-lentera di asrama, di aula, di gerbang—semua menyala seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam bertiup dingin, membawa aroma pinus dan kabut tipis yang menggantung di lereng.

“Tempat yang bagus,” suara Gu bergema di kepalanya, dan Seol merasakan kehangatan di dadanya menyebar ke seluruh tubuh. “Tidak ada yang akan mengganggu kita di sini. Dan qi di ketinggian ini lebih padat. Cocok untuk teknik yang akan kau pelajari.”

“Teknik apa?” tanya Seol.

“Pedang Bayangan. Tingkat dua.”

Seol merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Pedang Bayangan tingkat satu—menciptakan bayangan di ujung pedang—sudah cukup sulit untuk dikuasai. Ia butuh berbulan-bulan untuk bisa menciptakan lima bayangan yang stabil. Dan sekarang Gu ingin mengajarinya tingkat dua?

“Jangan terlihat terlalu terkejut,” kata Gu, seolah membaca pikirannya. “Tingkat satu hanya mengajarkanmu menciptakan ilusi. Tingkat dua mengajarkanmu memberi kehidupan pada ilusi itu. Bayanganmu tidak hanya akan terlihat nyata—mereka akan bergerak seperti nyata. Mereka akan menyerang, menangkis, dan membingungkan lawan seolah-olah mereka adalah pedang sungguhan.”

Seol mencoba membayangkannya. Lima bayangan yang bergerak sendiri, menyerang dari berbagai arah, sementara ia sendiri bisa bergerak bebas. Jika ia bisa menguasai itu…

“Tapi ada harga yang harus dibayar,” potong Gu, nada serius. “Teknik ini membutuhkan kontrol qi yang sangat presisi. Jika kau gagal, bayangan-bayangan itu bisa berbalik melawanmu. Atau lebih buruk, meridianmu bisa hancur karena tekanan qi yang terlalu besar.”

Seol menggenggam ranting di tangannya. “Aku siap.”

“Kau selalu bilang begitu. Tapi kali ini, aku tidak akan memberimu waktu untuk mempersiapkan diri.”

Sebelum Seol sempat bertanya apa maksudnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya bergerak sendiri.

---

Kecepatan Gu

Bukan Seol yang menggerakkan tubuhnya. Gu yang menggerakkannya.

Tangan kanannya terangkat, ranting kayu di tangannya berdesis memotong udara. Kakinya bergerak dalam pola yang belum pernah ia latih sebelumnya—cepat, liar, tidak terduga. Tubuhnya berputar, melompat, membungkuk, seolah sedang bertarung melawan lawan yang tidak terlihat.

Dan di udara di sekelilingnya, bayangan-bayangan mulai muncul.

Bukan satu. Bukan dua. Tujuh bayangan.

Mereka tidak diam seperti bayangan tingkat satu. Mereka bergerak. Mereka menyerang. Mereka berputar mengelilingi Seol seperti pasukan kecil yang setia, setiap bayangan memiliki lintasan yang berbeda, kecepatan yang berbeda, sudut serangan yang berbeda.

Seol tidak bisa mengikuti. Matanya tidak bisa menangkap mana yang nyata dan mana yang ilusi. Tubuhnya terasa seperti boneka yang dikendalikan oleh tali, bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ini,” suara Gu di kepalanya, tenang di tengah kekacauan, “adalah kecepatan yang kau butuhkan. Ini adalah presisi yang kau butuhkan. Lawanmu tidak akan memberimu waktu untuk berpikir. Mereka akan menyerang dengan kecepatan ini, atau lebih cepat. Dan jika kau tidak bisa mengimbanginya, kau akan mati.”

“Aku—aku tidak bisa—” Seol berusaha berkata, tetapi napasnya tersengal. Tubuhnya bergerak terlalu cepat, terlalu liar. Ia merasa seperti sedang menaiki kuda liar yang tidak bisa dikendalikan.

“Belum bisa,” kata Gu. “Tapi kau akan bisa. Rasakan iramanya. Jangan lawan. Ikuti.”

Seol memejamkan mata. Ia berhenti melawan. Ia membiarkan tubuhnya bergerak, membiarkan Gu mengendalikannya, dan untuk beberapa saat, ia hanya merasakan.

Ia merasakan bagaimana qi mengalir dari pusat dadanya ke kaki, ke lengan, ke ujung jari. Ia merasakan bagaimana bayangan-bayangan itu terbentuk dari getaran qi yang sangat cepat, hampir tidak terdeteksi. Ia merasakan bagaimana Gu mengatur setiap gerakan dengan presisi yang sempurna, tidak ada energi yang terbuang, tidak ada gerakan yang sia-sia.

Dan di tengah-tengah itu, ia mulai mengerti.

Bukan tentang kecepatan. Bukan tentang kekuatan. Ini tentang aliran. Tentang membiarkan qi mengalir tanpa hambatan, tanpa keraguan, tanpa rasa takut. Tentang menjadi satu dengan gerakan, satu dengan angin, satu dengan bayangan yang ia ciptakan.

Ia membuka matanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan tubuhnya bergerak bukan karena Gu, tetapi karena dirinya sendiri.

Ranting di tangannya bergerak dalam lengkungan yang sempurna. Qi mengalir deras dari pusat dadanya ke ujung jari, dan tujuh bayangan muncul di sekelilingnya—bukan lagi bayangan yang dikendalikan Gu, tetapi bayangan yang lahir dari qi-nya sendiri.

Mereka bergerak. Mereka menyerang. Mereka mengelilinginya seperti angin puyuh yang hidup.

Dan kemudian, seperti balon yang pecah, bayangan-bayangan itu lenyap.

Seol jatuh berlutut. Napasnya tersengal, tubuhnya basah oleh keringat, dan tangannya—tangannya gemetar hebat. Tapi ia tersenyum.

“Aku… aku melakukannya,” bisiknya.

“Hm.” Suara Gu terdengar puas, meski berusaha menyembunyikannya. “Lima detik. Tujuh bayangan. Itu… tidak buruk untuk percobaan pertama.”

“Hanya lima detik?”

“Lima detik lebih lama dari kebanyakan orang. Dan kau melakukannya sendiri, tanpa bantuanku, di akhir. Itu… perkembangan yang baik.”

Seol berbaring telentang di atas batu dingin, memandang langit malam yang penuh bintang. Dadanya naik turun dengan cepat, tetapi di dalam pusaran qi-nya, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih kuat, lebih stabil, lebih hidup.

“Gu,” katanya, “kenapa kau membangunkanku malam ini? Kenapa tidak besok, atau lusa?”

Gu diam sejenak.

“Karena aku merasakan sesuatu,” katanya akhirnya. “Sesuatu yang menggangguku. Sesuatu yang tidak bisa aku abaikan lagi.”

“Apa itu?”

“Aku tidak tahu. Tapi ada… qi yang tidak bersih. Di suatu tempat di sekte ini. Di malam hari, ia menjadi lebih kuat. Aku merasakannya bahkan dari dalam batu ini.”

Seol duduk. “Di mana?”

“Timur. Dari bangunan tua di belakang sekte. Tempat yang kau curigai kemarin.”

Seol menoleh ke arah timur. Dari puncak tebing ini, ia bisa melihat seluruh kompleks sekte—termasuk bangunan-bangunan tua di lereng belakang, yang biasanya tersembunyi di balik pepohonan.

Dan di sana, di antara bangunan-bangunan itu, ia melihat sesuatu.

Cahaya. Bukan cahaya lentera biasa. Cahaya ini redup, kemerahan, dan berdenyut seperti jantung. Ia muncul sejenak, lalu menghilang. Lalu muncul lagi. Berulang-ulang, dalam ritme yang aneh.

Seol berdiri. Matanya tidak bisa lepas dari cahaya itu.

“Itu… dari markas Kwak Jung,” katanya pelan.

“Kau yakin?”

“Yoon Jae bilang Kwak Jung sering pergi ke bangunan tua di timur. Dan cahaya itu… aku belum pernah melihat cahaya seperti itu di sekte ini.”

Gu terdiam. Kehangatan di dada Seol berdenyut lebih cepat—tidak seperti biasanya. Ada sesuatu di denyut itu yang membuat Seol merasa tidak nyaman.

“Aku tidak bisa merasakan dari jarak ini,” kata Gu akhirnya. “Tapi jika tebakanku benar… teknik yang digunakan Kwak Jung bukan teknik biasa. Itu adalah teknik yang dilarang. Teknik yang menggunakan qi dari sumber yang… tidak alami.”

“Seperti Cheonmyeong?”

“Mungkin. Atau mungkin berbeda. Tapi satu hal yang pasti: jika Kwak Jung benar-benar menggunakan teknik terlarang, kau harus berhati-hati. Orang yang menggunakan teknik seperti itu tidak akan ragu untuk membunuh demi menjaga rahasianya.”

Seol mengepalkan tangannya. Ranting kayu di tangannya hampir patah karena tekanan.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Untuk sekarang? Kembali ke asrama. Tidur. Besok, kau akan melakukan tugas-tugas bodoh itu seperti biasa. Tapi jangan lupakan apa yang kau lihat malam ini.”

“Tapi—”

“Dengar, bocah.” Suara Gu menjadi tajam. “Kau belum cukup kuat untuk menghadapi Kwak Jung secara langsung. Jika kau pergi ke sana sekarang, kau hanya akan mati. Dan jika kau mati, siapa yang akan membebaskanku?”

Seol terdiam. Ia menatap cahaya kemerahan di kejauhan, yang kini mulai meredup, perlahan menghilang seperti matahari yang tenggelam di ufuk barat.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan kembali. Tapi aku tidak akan melupakan ini.”

“Bagus. Sekarang turun. Dan besok malam, kita latihan lagi. Kau harus menguasai Pedang Bayangan tingkat dua sebelum turnamen. Jika tidak…” Gu tidak menyelesaikan kalimatnya.

Seol mengangguk. Ia melipat ranting kayunya, menyelipkannya di ikat pinggang, dan mulai menuruni tebing.

Di tengah jalan, ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, ke puncak tebing yang sudah diselimuti kabut, lalu ke timur, ke bangunan tua di mana cahaya merah itu muncul.

“Aku akan mencari tahu rahasiamu, Kwak Jung,” bisiknya dalam hati. “Tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan.”

Ia melanjutkan perjalanan turun, meninggalkan puncak tebing yang sunyi, meninggalkan kabut dan bintang-bintang, dan kembali ke asrama dengan langkah yang tidak bersuara.

---

Di Kamar Kwak Jung – Tengah Malam

Kwak Jung duduk bersila di tengah ruangan bawah tanah di balik bangunan tua. Dinding-dinding di sekelilingnya dipenuhi ukiran-ukiran aneh—simbol-simbol yang tidak diajarkan di sekte ini, yang tidak ada dalam kitab mana pun di perpustakaan.

Di depannya, sebuah altar batu kecil dengan ukiran tengkorak dan ular. Di atas altar itu, sebuah bola kristal gelap berdenyut dengan cahaya merah—cahaya yang sama yang dilihat Seol dari kejauhan.

Kwak Jung membuka matanya. Pupilnya tidak lagi hitam, tetapi merah gelap, seperti darah kering. Napasnya teratur, tetapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak—sesuatu yang tidak seharusnya ada di tubuh manusia.

“Hampir,” bisiknya. “Hampir cukup.”

Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, ada luka sayatan segar. Darah menetes ke bola kristal itu, dan cahaya merahnya berdenyut lebih cepat, lebih kuat, menyerap setiap tetes darah seperti tanah kering menyerap air hujan.

Kwak Jung tersenyum. Senyum yang tidak lagi terlihat seperti senyum manusia.

“Ryu Seol,” bisiknya. “Kau pikir kau bisa mengancamku? Kau pikir dengan sedikit bakat, kau bisa menjadi lebih kuat dariku?”

Ia mengepalkan tangannya. Darah berhenti menetes.

“Aku akan menunjukkan padanya. Aku akan menunjukkan pada semua orang.”

Cahaya merah itu meledak sejenak, memenuhi seluruh ruangan dengan kilatan yang menyilaukan, lalu padam. Ruangan kembali gelap. Hanya suara napas Kwak Jung yang terdengar, teratur, tenang, dan dingin.

---

Di Asrama – Seol Kembali

Seol masuk ke kamarnya dengan langkah pelan, menutup pintu tanpa suara. Ia meletakkan ranting kayunya di bawah tempat tidur, berganti pakaian, dan berbaring.

Tapi ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, memandang langit-langit yang gelap.

Cahaya merah itu masih terbayang di pelupuk matanya. Denyutnya yang aneh, ritmenya yang tidak wajar. Ia tidak tahu apa yang terjadi di bangunan tua itu, tetapi ia tahu satu hal: itu bukan latihan biasa. Itu bukan teknik yang diajarkan di sekte mana pun.

Itu adalah sesuatu yang gelap. Sesuatu yang terlarang. Sesuatu yang bahkan Gu, makhluk yang telah hidup ribuan tahun, merasa terganggu olehnya.

Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu dingin sekarang—dingin seperti biasanya. Tidak ada denyut, tidak ada kehangatan. Gu sudah tidur lagi.

Tapi ia masih ingat kata-kata Gu.

“Kau belum cukup kuat. Jika kau pergi ke sana sekarang, kau hanya akan mati.”

Ia mengepalkan tangannya.

Maka aku akan menjadi lebih kuat. Cukup kuat untuk menghadapinya. Cukup kuat untuk mengungkap rahasianya.

Ia memejamkan mata. Besok, tugas-tugas Kwak Jung akan menantinya. Dan malam berikutnya, latihan dengan Gu akan berlanjut. Dan malam berikutnya lagi, ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di bangunan tua di timur.

Ia tidak akan lari. Ia tidak akan menyerah. Ia akan menjadi lebih kuat.

Untuk Gu. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri.

Di luar jendela, bulan mulai tenggelam di ufuk barat. Fajar akan segera tiba. Dan dengan fajar itu, hari baru akan dimulai.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!