Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput Pacar
Rola ngangguk-ngangguk sambil nyengir.
Dena langsung merengut menatapnya.
"Mokondo mata lo!" makinya sembari reflek melempar bantal ke arah Rola. Untung Rola cepat-cepat menghindar walau hampir terjengkang.
"Kalau ngomong jangan sembarangan!"
Rola menjulurkan lidah.
"Lagian lo juga sih, Den." sambar Micin.
"Ngapain sih mau-maunya pacaran sama Dyo. Udah mah miskin, nggak pernah berangkat sekolah, kerjaannya berantem mulu. Suka mintain duit lo lagi!" katanya.
Rola sependapat.
"Tuh! Mimi aja ngerti!"
Dena kini berganti melirik Micin, ketika si cungur toa itu berani-beraninya menyela.
"Lo juga! Nggak usah ngikut-ngikut deh! Gitu-gitu Dyo itu cowok gue bangsat! Bisa-bisanya lo berdua ngejelek-jelekin cowok orang di depan ceweknya langsung!" gerutu Dena.
"Bukan ngejelek-jelekin, Den. Tapi, sifat dia aja yang emang jelek! Semua juga tau, melek makanya!" sahut Micin yang bikin Dena semakin naik pitam.
"Betul tuh!" imbuh Rola senyum-senyum.
Dena langsung melotot. "Lo berdua ngehina?"
"Tapi ini fakta!"
"Wah! Bener dah, lo berdua nyari ribut sama gue?!" geram Dena satu tangannya mengepal erat, sangat tidak terima pacarnya di kata-katain.
"Apa? Mau debat? Gue ladenin!" tantang Rola yang langsung mendapat satu suara dari Micin yang siap berada di pihaknya.
"Atau mau gelut? Juga boleh!" tambah Micin.
Dena yang semakin tersulut emosinya sontak berdiri dan hendak menjejak wajah Micin.
Micin tidak takut. Ia juga reflek berdiri dan berancang-ancang untuk menerima serangan Dena.
"Maju lo!"
"Siapa takut!"
"Ssst! Heh! Lo berdua apa-apaan sih!"
"Udah ah!"
Elsa dengan sigap melerai mereka, kalau tidak? Wah, ruang tamu ini sudah pasti akan berganti nama menjadi arena tinju para gadis belia.
"Duduk? Atau gue pukul satu-satu!" hardik Elsa dan siapapun itu kalau si ahli bela diri ini sudah bertindak? Semuanya langsung kikuk.
Dena kembali duduk, sedangkan Micin langsung nyengir-nyengir minta ampun ke Elsa.
"Bercanda doang kali, Ca. Kalem dong, rileks, oke?" cicit Micin yang nyalinnya langsung ciut kayak curut kejepit.
"Bercanda?" Dena melotot lagi sambil kembali berdiri.
"Dena! Duduk!" sentak Elsa.
Dena langsung kicep. Duduk sambil ngedumel.
"Sukurin! Calon polwan kita marah tuh," kata Rola sambil nahan ketawa.
"Lo juga, Rol!" tegas Elsa meliriknya setajam bilah belati. Rola langsung melempem kayak krupuk kecemplung kuah soto.
"Gue dari tadi nggak gerak loh, Ca—"
"Badan lo emang nggak gerak! Tapi mulut lo minta digampar!" tukas Elsa.
"Hah?"
"Ayo coba ngomong lagi! Biar sekalian gue tendang mulut lo!" sentaknya.
Rola langsung tegang, nutupin area mulutnya pake kedua tangan takut yang beneran bakal kena tendang.
"Mampus!" desis Micin.
"Enggak, Ca. Ampun..."
"Punya mulut makanya dijaga. Udah tau Dyo cowoknya Dena, berani-beraninya lo ngejelek-jelekin dia," kata Elsa serius.
"Gue cuma ngingetin Dena—"
"Tapi caranya salah! Dyo emang nggak sekaya lo berdua, tapi dia orangnya setia, dan lo berdua jangan seenak jidat ngomongin kejelekan orang!" tukas Elsa.
"Lo ngebelain Dyo, Ca?" sahut Rola berani-beraninya.
"Bukan bela, gue cuma nggak suka aja denger perkataan lo berdua!" sahutnya.
Rola terdiam sejenak.
"Yaudah iya, maaf. Nggak lagi-lagi deh..."
"Dena, maafin gue sama Mimi ya, kita emang salah," cicit Rola pada Dena.
"Iya, Den. Maafin kita yaaa," sambung Micin yang ikut bercicit manja.
Dena melengos. Enggan memberi maaf. Rola jadi kelimputan.
"Dena-nya nggak mau maafin tuh, Ca!" adunya.
Elsa kontan melirik Dena. "Woi!"
Dena menghela napas berat. Mau nggak mau ya harus memberi maaf.
"Iya-iyaa gue maafin. Lo berdua kayak yang nggak pernah gue maafin aja," sahutnya sedikit terpaksa.
Rola lantas tersenyum, dan Micin reflek merangkul Dena pengen banget nyium pipinya. Dena ya jelas ogah dan langsung menjauhkan diri.
"Tapi awas aja kalau lo berdua berani ngejelek-jelekin Dyo lagi. Gue beneran marah nanti!" kecamnya.
Rola ngangguk-ngangguk aja sambil menyuruh si Elsa buat duduk lagi di sebelahnya.
"Lo berdua, dengerin tuh kata Dena!" tegas Elsa sembari memeluk tas ranselnya.
"Iya...Ca, iya. Nggak lagi-lagi deh," lirih Rola.
"Yaudah, tadi lo mau ngomongin apa, Rol?" tanya Elsa kembali teringat perkataan Rola sebelum terjadinya perdebatan pemecah pertemanan itu.
Sunyi sekejap.
"Oh, itu ...em, soal anak pindahan yang tadi pagi kita bully, Ca. Enaknya kita apain ya?" kata Rola.
"Almika?" Dena langsung melotot.
Micin mengiyakan. "Benar juga, tuh anak kan udah berani melaporkan kita ke Bu Wasma?" Micin juga jadi dendam gara-gara itu.
"Gimana kalau kita bikin perhitungan aja!" cetusnya.
"Tapi, nanti kita bakal kena masalah lagi nggak?" cemas Elsa.
Micin langsung melemas. "Kayaknya sih iya..."
"Tapi, kalau kita bikin perhitungannya di luar lingkungan sekolah, mungkin nggak akan jadi masalah! Ya nggak?" sambung Micin naik-naikin alis.
Rola dan Elsa seketika saling menaruh pandang, lalu mereka pun mengangguk-angguk tanda ide Micin, kayaknya boleh juga tuh.
"Oke sih."
"Lo gimana, Den? Setuju nggak?"
Dena? Yah, jangan ditanyain, dia ya sudah jelas-jelas akan menolak.
Membalas kelakuan Almika? Nggak dulu deh. Dena aja masih dibikin setengah gila gara-gara ancaman dari kakaknya. Masak iya mau coba-coba bikin perkara lagi.
Dena jadi merinding.
"Kata gue mending nggak usah aja deh," ucap Dena tidak setuju. Teman-temannya langsung menatap terheran-heran.
"Lah kenapa? Biasanya lo paling semangat buat balas dendam?!" tanya Rola.
"Ya nggak usah aja, kan nggak semua hal harus dibalas," tegasnya.
"Iya, tapi kenapa?"
Dena terdiam, lama.
"Lo kenapa sih, Den?"
Dena jadi bingung, dan langsung berpikir keras bagaimana menjelaskan hal itu ke teman-teman, tanpa sedikit pun menyebut nama Alvaro.
"Eee..."
"Ada masalah?"
Dena makin panas dingin.
"Enggak!" jawabnya sambil buang muka. Takutnya ada segurat ekspresi mencurigakan yang malah kebaca sama temen-temennya.
"Lah terus?"
"Ya nggak usah aja."
Rola mengikuti ke arah mana Dena menatap. "Kenapa enggak? Emangnya lo nggak kesel sama dia?"
"Kesel sih... tapi kan lo pada juga udah tau, tuh anak beda dari korban-korban kita yang lainnya," sahutnya cepat.
"Soal dia yang berani ngelaporin kita ke Bu Wasma?"
"Iya. Cuma dia doang loh yang berani ngelaporin kita! Yang artinya, kalau kita bikin perhitungan ke dia, bener kata Eca tadi." Dena menatap ke arah Elsa.
"Kita bisa terjerat masalah lagi yang mungkin jauh lebih berat dari yang sebelumnya," lanjut Dena.
Micin menghela napas panjang sedikit jengah, walau perkataan Dena tidak bisa dianggap salah. "Kan tadi udah gue bilang, kita balas dendamnya di luar lingkungan sekolah aja. Biar terlepas dari tanggung jawab pihak sekolah, Den!" ulangnya.
Dena akhirnya menoleh ke arah Micin. Kali ini ia semakin serius. "Kalau kita balas dendamnya di luar lingkungan sekolah, emangnya lo udah siap kalau kita dilaporin ke polisi?!" tandasnya.
"Sama dia?"
"Bukan mustahil kan?"
Micin seketika kicep, perkataan Dena ada benarnya juga. Wah, kali ini kayaknya Micin nggak bisa jawab.
Rola pun sama, ia jadi nyengir-nyengir dan untuk kali ini ia mengangkat kedua tangannya.
"Jujur, kalau itu gue nggak siap sih," katanya."Ya kalik gue ditangkep polisi. Amit-amit ya Allah!" lanjut Rola sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Lo, Ca?" Dena kini menatap Elsa.
"Gue ngikut aja, baiknya gimana," jawabnya.
Dena akhirnya tersenyum. "Nah gini dong, kita boleh nakal, tapi harus mikirin juga konsekuensinya," ujarnya sok bijaksana, padahal dia cuma lagi takut aja sama calon suaminya. Calon?
Apa mungkin Dena benar-benar akan menikah dengan Alvaro? Lalu bagaimana dengan Dyo?
...***...
Pukul satu lebih seperempat. Terdengar suara kendaraan masuk ke area dalam halaman depan rumah Rola.
Suara motor, yang membuat semua orang yang ada di dalam lebih dari yakin itu pasti pacarnya Dena. Lagi pula siapa lagi yang bakal datang ke rumah Rola di tengah malam begini, selain yang mau jemput kesayangannya.
"Tuh, pacar lo datang," kata Rola sambil buru-buru memakai jaketnya biar nggak malu dilihat Dyo. Sebab? Masak iya ada tamu datang, dianya malah kelihatan setengah telanjang begitu.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Dyo nongol di ambang pintu.
"Sayang!" seru Dena tersenyum manis.
"Ayo pulang," sahut Dyo yang masih berdiri di ambang pintu. Dan aura itu—dingin yang selalu nyegerin bikin Dena langsung panas dingin.
"Ih, pacar gue ganteng banget!" seru Dena dalam hati.
"Buset! Buru-buru amat. Nggak mau mampir dulu, Yo?" sindir Rola.
Dyo tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. "Udah malem, Rol. Dena harus pulang," katanya.
"Lagian tumben banget sih lo mau jemput Dena, biasa tuh anak juga nebeng gue," kata Micin.
Dyo tidak menanggapi apapun dan cuma senyum sekadar untuk menghargai Micin.
"Pasti ada maunya ya? Atau, jangan-jangan Dena mau lo ajak mampir-mampir. Dingin-dingin begini enaknya nyari yang anget-anget nggak sih?" kekeh Micin yang sok asik.
"Sembarangan aja lo!" sergah Dena. "Gue emang mau pulang! Bukan mau nyari keringet!"
"Oh, kirain." Micin nyengir-nyengir.
Dena mencebik. "Ih, kiriin!"
Dena pun berdiri, dengan tak lupa menggandeng tangan Elsa yang katanya mau pulang bareng.
"Gue sama Eca balik dulu ya, assalamualaikum," pamit Dena lalu buru-buru jalan.
Rola mengangguk-angguk sambil berdiri, ia sempat-sempatnya berbisik pelan di telinga Dena.
"Ssst ... Ati-ati sama yang mokondo—"
"Aduhh!" Elsa spontan menginjak kaki Rola, bikin si empunya kesakitan manja.
"Diem ah!" desis Elsa.
Rola mengelus-elus jempolnya, sementara Micin cekikikan di atas sofa.
"Udah biarin aja. Ntar Dena juga sadar sendiri pas dompetnya udah tandus," bisik Micin masih sambil cekikikan.
"Ati-ati ya, jangan sampai ada yang nggak sengaja keluar di dalam," seru Micin sambil melambaikan tangan.
Dena reflek menoleh, melotot pula, "Apanya yang keluar di dalam?!"
Micin reflek melihat langit-langit sembari pura-pura siul, kali ini wajahnya jadi terlihat lebih dari sekadar nyebelin.
"Setres lo!" dengus Dena.
Dyo cuma nyengir tipis melihat tingkah konyol teman-teman Dena. Dyo kemudian beralih pandang menatap Elsa. Dan Gadis cantik itu langsung berpindah menatap ke sembarang tempat.
Dena langsung paham.
"Oh? Eca mau bareng kita, sekalian minta ditemenin ke gang depan kampungnya."
"Takut kena begal katanya," bisik Dena. Elsa langsung senyum-senyum malu.
Dyo menyerngit keheranan. "Takut kena begal? Bukannya Elsa jago bela diri ya?"
"Dia emang jago! Tapi kalau lawannya begal, dia mana berani," jawab Dena sambil melirik Elsa yang kontan buang muka.
Dyo mengangguk saja, lalu menggandeng lengan sang kekasih untuk jalan pelan-pelan ke arah motornya.
Tapi motornya beda! Dan Dena baru tersadar akan hal itu.
"Loh? Motor kamu ganti lagi?" tanyanya.
"Cuma motor pinjeman," jawab Dyo santai seraya memakaikan helm di kepala Dena.
"Terus motor kamu kemana?"
Dyo mendekat ke telinga Dena.
"Nanti aku ceritain. Nggak di depan temen kamu," bisik Dyo.
"Ayo naik," kata Dyo yang sudah siap berangkat.
Dena menurut saja.
"Pegangan!" peringat Dyo yang udah trauma, gara-gara Dena suka lupa buat pegangan, kala itu Dena pernah hampir kejengkang.
Dena sontak memeluk Dyo erat-erat. "Gini?" tanyanya sambil tersenyum manis. Keliatan banget di kaca spion yang selalu menghadap ke wajahnya.
"Pegangan, bukan peluk," ucap Dyo.
Dena langsung manyun. "Lah? Emangnya nggak boleh?"
"Boleh aja, tapi jangan salahin aku kalau nanti kamu makin cinta," balas Dyo.
Dena reflek mencubit perut Dyo yang masih sempat-sempatnya ngegombal.
"Akkk! Sakit Dena! Perut aku jangan dicubitin terus dong!"
"Habisnya kamu tiba-tiba suka ngerayu! Belajar dimana sih?" dengus Dena tapi sambil senyum-senyum salah tingkah.
"Emangnya nggak boleh?"
"Enggak!" sahut Dena.
"Enggak?"
"Enggak boleh kecuali kamu yang merayu," lanjutnya cepat-cepat seraya kembali mengeratkan pelukan.
Dyo langsung tertawa. Pacarnya ini ada-ada saja. Tapi, tidak dengan Elsa.
"Ekhem, by the way, motor gue udah nyala nih!" dengus Elsa yang padahal tinggal narik gas, malah dipaksa melihat kemesraan pasangan itu.
"Apa perlu gue matiin lagi?"
Dena langsung nyengir-nyengir. "Eh iya. Yaudah pulang sekarang yuk!" ajaknya.
Tak berlama-lama lagi, mereka akhirnya beranjak pulang.
Sementara di ambang pintu rumah, Rola dan Micin lagi keliatan julid memperhatikan berlalunya mereka.
"Ck! Dyo-Dyo itu pake dukun apa sih? Heran banget Dena sampai kecintaan gitu," decak Rola.
"Mungkin lebih karena punya Dyo gede kalik, makanya Dena jadi kecintaan. Gue juga curiga kayaknya Dena udah pernah dibikin puas," jawab Micin asal-asalan. Berakhir pula kepalanya langsung kena jitak Rola yang langsung mendengus malas.
Ctak!
"Sakit anjing! kenapa sih lo jitakin pala gue mulu?!" gerutunya.
"Biar otak lo nggak ngeres!"
"Ngeres gimana?"
"Pikir aja sendiri!" geram Rola sembari membanting pintu keras-keras, ninggalin Micin di teras.
Brak!
...***...
Setelah melewati perjalanan kurang lebih lima belas menitan. Mereka akhirnya tiba di gang depan perkampungan Elsa.
Tin! Tin!
"Makasih yaa!" tariak Elsa sebelum akhirnya gadis itu masuk ke dalam gang.
Dena melambai pelan.
Dan akhirnya, sekarang tingga-lah sepasang kekasih itu jalan berdua di atas motor.
Ya, sebenarnya nggak jalan juga sih, tapi lebih ke mengendarai. Sementara Dena yang sejak tadi masih penasaran, akhirnya kembali bertanya.
Soal motor Dyo yang dikemanakan, dan kenapa Dyo harus sampai pinjam motor temannya?
Dena jadi pengen dengar ceritanya.
"Di bengkel," kata Dyo.
"Rusak lagi? Bukannya belum ada seminggu kamu pinjem uang aku buat benerin motor kamu?" Dena agak sedikit kurang percaya.
Dyo langsung nyengir-nyengir.
"Tuh kan! Pasti nggak lagi di bengkel," cubit Dena sekali lagi.
"Iya, emang enggak."
"Terus? Motor kamu di mana?" tanya Dena kian jadi penasaran.
"Di kantor polisi," jawab Dyo mengakui.
"Kena razia?"
"Iya."
"Ketua geng motor kayak kamu kena razia? Kok bisa?!" cibir Dena.
"Ya bisa aja."
"Kamu ikut judi balap liar lagi?!" Dena lagi-lagi mencubit gemas perut Dyo. Curiga ke pacarnya.
Dyo meringis. "Maaf ya sayang, aku kepepet."
"Hihh! Dasar!" Dena jadi gemas.
"Maaf."
"Terus motor kamu apa kabar?"
"Ya harus ditebus," kata Dyo.
Dena memutar kedua bola matanya jengah. Ingin mencubit lagi tapi sudah tidak tega rupanya. "Emangnya kamu punya uang?"
Dyo sejenak terdiam, baru setelah melewati tikungan, Dyo akhirnya agak memelankan laju perjalanan.
"Uang aku udah abis sayang," katanya, jujur.
Dena kontan melemas. "Terus motor kamu gimana?"
"Ya nggak bisa ditebus, kecuali kamu minjemin aku uang buat nebus motornya."
"Kamu mau minjem uang aku lagi?"
Dyo mengangguk,"Iya, kamu lagi pegang uang nggak?"
Dena menghela napas berat, saat lagi-lagi Dyo ingin meminjam uang padanya. Tapi, mau bagaimana pun itu ia tidak mungkin menolak permintaan itu. Kasihan, pikirnya.
"Ada sih, tapi nggak banyak. Memangnya kamu butuh berapa, Yo?" tanya Dena.
"Kamu adanya berapa?" tanya balik Dyo.
Dena mengepal erat sambil sejenak mengingat-ingat, berapa sisa isi saldo di dalam rekeningnya. Tipis! Tapi mudah-mudahan terhitung cukup.
"Paling ada sekitar 500-an," jawabnya.
Dyo menoleh kecil, seperti agak kecewa. "Cuma 500?"
"Iyaa... emang masih belum cukup ya?"
"Belum."
Dena melemas, kedua bahunya turun seperti mendadak kehilangan semangat. "Kamu butuh berapa sih, Yo? Banyak ya? Coba bilang!"
"Ya enggak," kata Dyo sedikit ditahan. "Paling ... sejutaan lebih."
Seketika itu juga Dena langsung tertohok, wajahnya menegang, matanya melotot. "What?!"
"Sejuta?" Dena mengedipkan mata berkali-kali.
"Dan itu pun masih ada lebihnya?"