Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Vania kembali ke sekolah Resa menggunakan taksi, karena dia menolak Satria untuk mengantarnya. Bolehkah Vania merasa kesal dengan sikap suaminya yang tiba-tiba harus ke perusahaan padahal pagi tadi mengatakan libur bekerja.
"Ko wajahnya suram begitu, bukannya kamu habis ngedate ya sama Ayahnya Resa." goda Liliana saat melihat wajah Vania yang kusut.
"Ck, ngedate apaan. Dia balik lagi ke kantor." jawab Vania sedikit ketus.
Liliana terkekeh, baru kali ini dia melihat wajah cantik Vania yang marah. Kulit putihnya sedikit memerah mungkin karena menahan emosi di hatinya.
"Kamu sudah memikirkan ucapanku tempo hari kan?"
Vania menatap Liliana. Dia juga mulai merasa ada hal yang janggal dengan sikap suaminya tadi. Vania mencoba untuk menenangkan diri sejenak dan menghela nafas agar bisa berfikir dengan kepala dingin.
"Menurutmu aku harus bagaimana Lili?" tanya Vania meminta pendapat.
Liliana menjelaskan hal apa saja yang harus dilakukan Vania untuk mulai mencari tahu keseharian suaminya di kantor. Liliana cukup heran dengan Vania yang sama sekali tidak tahu menahu tentang perusahaan tempat suaminya bekerja juga lingkungan tempat suaminya beraktifitas dengan teman kerjanya.
.
.
"Bram, jadwal siang nanti tolong dibatalkan." titah Nathan saat keduanya sedang membahas pekerjaan.
"Memang Bos mau kemana?" tanya Bram ingin tahu.
Seingatnya jadwal siang yang akan dibatalkan oleh Nathan cukup penting. Jadi Bram perlu tahu apakah ada hal yang lebih penting dari jadwal itu sendiri.
"Kau sudah seperti istriku saja yang ingin tahu aku pergi kemana." cibir Nathan.
Bram hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli meski Nathan menyebutnya seperti istri Nathan.
"Kenapa kau masih berdiri disitu?" tanya Nathan saat Bram masih belum beranjak dari ruangannya.
"Bos belum menjawab pertanyaan saya tadi." jelas Bram dan membuat Nathan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Kau penasaran dengan apa yang akan aku lakukan?" tanya Nathan dan di angguki Bram dengan antusias.
Bram merasa Bos nya sedang melakukan hal yang cukup menarik untuk diketahuinya saat ini.
"Aku mau mengejar istri orang." celetuk Nathan.
Bram ternganga dengan perkataan Nathan. Kakinya dengan cepat melangkah untuk mendekat pada Nathan.
"Apa yang kau lakukan Bram?" sentak Nathan saat Bram tiba-tiba saja berdiri di dekatnya.
"Bos jangan bercanda, jangan sampai seluruh keturunan Alexander selalu bermain api dengan milik orang lain." tutur Bram penasaran juga.
Nathan tertawa keras dengan reaksi Bram yang cukup menggelikan. Salah dirinya juga yang harus memberitahukan apa yang sedang dikerjakannya saat ini.
"Sudah kau jangan banyak bicara, batalkan saja jadwal siang ini dan kau bisa pulang lebih awal hari ini."
Setelah mengatakan itu, Nathan mengambil jas yang tergantung di tempatnya kemudian memakai jas itu sebelum keluar ruangan.
Bram sendiri masih diam di ruangan Nathan karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Nathan padanya.
"Keluarga Alexander memang gila." gumam Bram.
.
.
Berbekal dari informasi yang diberikan Daniel, Nathan melajukan kendaraannya menuju sekolah Resa. Setelah semalaman berfikir cara apa yang akan dilakukannya, Nathan pun nekat untuk mendekati istri dari suami Irene itu.
Nathan hanya mengikuti apa yang diinginkannya saat ini. Untuk kedepannya Dia sendiri tidak tahu akan seperti apa. Yang jelas sekarang Nathan ingin bertemu dengan Vania.
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Resa dan Sely tampak berlarian keluar kelas dan menghampiri Ibu mereka.
"Hati-hati Resa." ucap Vania saat keduanya saling ingin mendahului.
Resa yang sudah berdiri di hadapan Vania tampak celingukan mencari sesuatu.
"Ayah dimana Bunda?" tanya Resa.
Vania dan Liliana saling bertatapan. Kemudian Vania berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Resa.
"Sayang, Ayah sedang ada rapat penting di kantor. Jadi hari ini kita pulang bersama Sely ya." jelas Vania lemah lembut.
Raut wajah Resa seketika berubah muram. Resa sudah semangat saat akan dijemput Ayahnya namun ternyata tidak ada.
"Resa jangan sedih, ayo kita bermain sama Sely." bujuk Sely yang di pinta Liliana untuk menghibur Resa.
"Resa tidak mau pulang." sentak Resa dan berlari begitu saja menuju gerbang sekolah.
Vania tentu terkejut dengan reaksi Resa yang marah sampai seperti itu. Vania dan Liliana cepat-cepat mengejar Resa yang sudah berlari.
"Resa tunggu Nak, Resa." teriak Vania sambil mengejar Resa yang berlari cukup kencang.
Keluar dari gerbang, Resa tanpa melihat ke arah jalan terus saja berlari. Bertepatan dengan itu sebuah motor melaju dengan cukup kencang dan hampir saja menyerempet tubuh Resa.
"Resaaaa."
Grep. Bruk.
Vania segera menghampiri kerumunan saat putranya hampir tertabrak sebelum dirinya melihat dengan jelas seseorang menyelamatkan Resa di depan matanya.
"Huaaaa, Bundaa." suara Resa menangis dan memanggil Vania.
"Boy, tenang. Ini Uncle."
Resa mencoba menghentikan tangisannya saat mendengar suara yang dikenalinya.
"Uncle Nathan." Resa memeluk tubuh Nathan dan kembali menangis.
"Resa sayang."
Vania segera berlutut dan mengambil alih tubuh Resa di pelukan Nathan. Vania menangis sesenggukan tanpa menghiraukan tatapan Nathan padanya.
"Resa, jangan seperti itu lagi, Bunda takut." ucap Vania di sela isak tangisnya.
"Tuan, dahi anda berdarah." ucap salah seorang yang berkerumun disana.
Vania dan Resa segera mengalihkan pandangan mereka pada Nathan yang terluka dibagian pelipis kanannya.
"Sshh, tidak apa-apa." ucap Nathan sembari mendesis.
"Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan Resa. Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit." tutur Vania dengan raut wajah khawatir.
Nathan yang biasanya menganggap sepele luka kecil seperti ini, justru tidak menolak saat Vania mengajaknya ke rumah sakit.
Beruntung Liliana cepat menyusul dan Vania pun meminta agar mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat.
.
.
......................