Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
***
Suasana di dalam kamar sangat hening. Tidak ada percakapan antara kedua pasangan suami istri itu. Bahkan guling berada di tengah keduanya sebagai pembatas.
Alana dengan posisi memunggungi Rayan. Wanita itu bahkan sering kali menahan nafas nya kala gugup nya menyerang. Tangan nya bahkan sampai meremat ujung bantal.
Sementara Rayan dengan posisi terlentang, sesekali dia akan melirik ke arah punggung Alana.
"Tidurlah Alana, saya tak mungkin macam macam."
Jelas dia sangat mengetahui jika saat ini Alana belum tidur.
Benar saja, wanita itu terkejut dengan ucapan nya yang tiba -tiba.
"Selamat malamm ma-ass. " Sahut nya dengan gugup menoleh kebelakang singkat pada Rayan . Namun cepat cepat dia kembali memiringkan tubuh nya. Karena Rayan sedang melihat padanya.
"Selamat malam Alana " Rayan langsung membalikkan badannya memunggungi Alana. Sepertinya dirinya lah yang harus tidur lebih dulu agar Alana bisa merasa aman.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Rayan, karena pria itu sudah masuk ke alam mimpinya.
Alana, wanita itu masih bangun meskipun dia sudah memejamkan kedua matanya.
***
Alana memejamkan kedua matanya sesaat sambil menghirup dan meresapi udara Indonesia.
Setelah belasan jam lamanya di udara, pesawat jet pribadi milik sang papi landing dengan selamat bersama rombongan keluarga Rayan.
"Mommy." Alana lantas membuka kedua matanya dan menoleh ke samping, wanita itu langsung mengulas senyum simpul kala sang putra menatap nya.
"Welcome to Jakarta, Indonesia sayang nya mommy." Seru Alana yang langsung membuat Kevin terkekeh.
"Ayo kita pulang. " Kata papi Wibowo. Karena malam sangat larut.
Rayan dan Alana serta pak Wibowo dan mami Marina pamit pada besan nya. Karena mereka akan berpisah. Kembali ke kediaman masing masing.
Rombongan akhirnya berpisah mobil. Ketiga nya ikut serta di dalam mobil papi Wibowo.
Mobil alphard itu membawa mereka ke kediaman Alana.
Setelah perjalanan yang memakan waktu empat puluh menit. Kini mobil mereka memasuki gerbang rumah.
Keluar dari sana Kevin langsung di suguhi pemandangan yang bagus. Kevin menyukai rumah sang opa dan omanya.
Sementara Alana menatap dengan menelisik ke seluruh penjuru. Tidak banyak yang berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Suasana rumah yang ia rindukan masih sama.
Tempat di mana dia tumbuh dan di besarkan dengan penuh kasih dan sayang oleh kedua orang tuanya.
"Besok aja kelilingnya boy, Kevin istirahat dulu. Opa dan oma sudah menyiapkan kamar kamu. Tepatnya ada di lantai dua bersebelahan dengan kamar mommy kamu." Beritahu papi Wibowo panjang lebar.
"Terima kasih opa, oma."
"Sama sama boy." Sahut mami Marina , sementara papi Wibowo merespon dengan anggukan kepala singkat.
"Bawa suami mu istirahat. " Kata sang papi sambil menatap Alana yang termenung .
Alana menoleh, ia mengangguk kepala. Sebenarnya dia ingin sendiri bernostalgia dengan kamar yang sudah lama tak di tempati nya itu. Tapi dia bisa apa sekarang selain membawa Rayan ke kamar nya. Untuk beristirahat kembali di kamar dan satu ranjang dengan sang suami.
Setelah Rayan pamit, Alanamembawa ke atas. Alana lebih dulu membuka kamar Kevin yang sudah di siapkan oleh papi dan maminya.
Kamar ini, sebelumnya merupakan kamar tamu. Alana masuk ke dalam. Di dalam kamar itu benar benar berubah, seperti nya papi merenovasi kamar untuk Kevin.
Papi Wibowo bahkan menyamakan dengan kamar Kevin sebelumnya, agar sang cucu menyukai nya.
"Kamu suka Kevin?" Tanya Alana menatap putranya yang sedang memutar bola dunia yang berada di atas meja belajar.
Kevin menoleh " Suka mom. " Sahut nya tanpa pikir panjang.
"Ya sudah kamu mandi dulu baru istirahat lah, besok kita akan berkeliling di rumah ini." Kevin mengangguk.
"Selamat malam boy. " Ucap Rayan yang sejak tadi ikut masuk ke dalam kamar Kevin.
"Selamat malam dad, mom."
Pintu kamar terbuka, seketika aroma wangi kamar nya menyapa indra penciuman Alana. Wanita itu masuk dengan mempersilahkan suaminya juga untuk masuk ke dalam.
Tatanan di kamar nya masih tetap sama, seperti dulu. Tidak ada yang berubah di dalam sana.
Mami Marina memang mengatakan jika kamar Alana tiap hari di bersihkan oleh bibi. Terkadang kadang jika mami Marina rindu dengannya , wanita yang sudah melahirkan nya kedunia ini akan ke kamar Alana. Dan bertahan cukup lama di sana. Begitu juga dengan papi Wibowo, meskipun tak memperlihatkan rasa rindunya. Pria itu nyaris tiap malam berada di kamar Alana, dan semua itu di ketahui oleh Rayan.
Sedikit banyak dia mengetahui tentang Alana, lantaran papi Wibowo selalu cerita padanya.
Rayan sosok yang di sukai pak Wibowo, bukan hanya karena pekerjaannya yang sangat gesit dan dapat di andalkan. Akan tetapi Rayan juga merupakan teman curhat yang baik. Papi Wibowo bahkan sudah menganggap Rayan sebagai putra nya. Dan sekarang tambah terwujud, karena Rayan merupakan anak menantunya.
"Mas mau mandi dulu? " Tanya Alana
"Ya." Alana mengangguk dan mempersilahkan Rayan untuk mandi . Dan dia melangkah ke walk in closet. Menyiapkan baju pria itu.
Di sana sudah ada baju Rayan. Karena papi Wibowo sudah mengatakan sebagian barang Rayan sudah ada di kamar Alana.
Beberapa saat kemudian Rayan keluar dari kamar mandi. Alana sengaja tak menoleh karena dia selalu gugup melihat otot otot milik Rayan yang dengan santai nya hanya mengenakan handuk.
"Baju nya sudah saya siapkan mas di atas kabinet di ruang walk in closet. " Kata nya tanpa menatap ke arah Rayan.
"Ok, makasih Alana."
"Ya mas."
Saat mendengar suara pintu tertutup, Alana lantas membuang nafas lega. Wanita itu memilih membersihkan dirinya ke kamar mandi karena dia juga gerah sekali.
Alana meraih bathrobe nya, namun saat ingin menggunakan pakaian ia menepok jidat nya sendiri.
Bisa bisa nya dia tidak kepikiran untuk mengambil baju ganti lebih dulu. Dia merutuki dirinya sendiri.
"Gimana dong." Desah nya di landa frustasi. Masa dia keluar dengan bathrobe yang melekat di tubuhnya saat ini. Mana bathrobe nya sangat pendek. Memperlihatkan paha mulusnya.
Alana menghela nafas kasar. Wanita itu memilih duduk di sana, menunggu sampai Rayan tidur.
Hampir setengah jam Alana bertahan, dengan mata yang terkantuk -kantuk. Sampai suara ketukan pintu membuat Alana tersentak.
"Alana.. "
Suara itu, suara Rayan. Alana kelabakan. "Apa kamu baik baik saja di dalam?" Sambungan lagi. "Kenapa belum keluar?"
"Saya baik baik saja mas, sebentar mas." Alana segera menyahut.
"Ck nggak ada pilihan lagi. " Decak nya menggerutu. Alana menarik nafas panjang dan menghembuskannya berlahan. Dengan perasaan gugup dia memegang gagang pintu dan membuka nya.
Sementara Rayan yang berada di depan pintu kamar mandi tertegun sesaat. Pria itu sampai kesulitan menarik nafas.
"Mas mi -inggirr." Gagap Alana karena tak tahan di tatap oleh Rayan begitu intens .
"Akh.. Ya. " Kata nya dengan menggeser tubuh memberi jalan untuk Alana. Wanita itu lantas melangkah cepat ke walk in closet. Namun karena tergesa -gesa justru dirinya kesandung kaki sendiri membuat tubuhnya nyaris tersungkur ke lantai jika saja tangan kokoh Rayan tak menahan tubuhnya saat ini.
Nafas Alana berderu hebat. Jantungnya berdebar tak menentu, sudah karena terkejut di tambah kini dia berada dalam dekapan Rayan.
Pandangan keduanya saling terkunci, sampai Alana lebih dulu memutuskan tatapan nya.
"Kamu nggak papa? " Alana mengangguk kepala saja. Rayan lantas mengubah posisi Alana, dengan menegakkan tubuh wanita itu.
"Makasih mas." Rayan mengangguk.
"Nggak usah terburu buru Alana. " Peringat Rayan saat Alana hendak melanjutkan langkah nya ke walk in closet dengan kembali buru buru .
Alana tak merespon, karena wajahnya kini memanas karena malu sekali.
Bagimana tadi jika dirinya jatuh di lantai, dan itu akan membuat dirinya semakin memalukan di hadapan Rayan.
Alana cepat menyambar piyama tidur nya. Dia sudah mengantuk. Sudah lelah juga dia berperang pikiran di dalam kamar mandi tadi.
Dia hanya belum terbiasa ada Rayan berada di sampingnya.
Alana keluar dari walk in closet, ternyata Rayan sudah baring di atas ranjangnya. Pria itu sudah memejamkan kedua matanya. Entah sudah terlelap atau tidak , Alana tidak terlalu memperhatikan.
Alana melipir sebentar ke meja rias untuk rutin memakai skincare malam nya. Setelah itu dia naik ke atas ranjang. Alana mengambil posisi terlentang. Tanpa sadar dia menoleh ke samping menatap punggung Rayang yang kokoh.
Bagaimana pernikahan ini kedepannya, Tuhan. Tolong bantu aku membuka hatiku untuk mas Rayan.