sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: DI BAWAH PATUNG NAGA
Matahari belum muncul saat mereka bersiap di tepi sungai. Kabut tipis menyelimuti permukaan air, menciptakan suasana sunyi yang kontras dengan gejolak di hati Aldric.
Semalam ia hampir tidak tidur. Bayangan Mira—senyum terakhirnya, kata-kata terakhirnya—terus berputar di kepalanya. Tapi di samping bayangan itu, ada tekad baru yang membara.
Soulrender. Pedang pembunuh iblis. Itu target berikutnya.
Elara mendekat, meletakkan tangan di bahunya. "Kau siap?"
Aldric mengangguk. "Mira sudah berkorban untuk memberi kita informasi ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Sera menggendong Ren yang masih mengantuk. Anak itu tampak pucat—mungkin terlalu sering menjadi saluran Varyn. Tapi matanya tetap waspada, menatap ke arah istana dengan ekspresi aneh.
"Om," bisiknya, "di sana ada yang jahat. Lebih jahat dari yang kemarin."
Aldric mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
Ren menggeleng. "Tidak tahu. Tapi Varyn bilang hati-hati. Ada iblis lain."
Malak the Corruptor. Nama yang disebut Mira sebelum meninggal. Iblis kedua dari Four Horsemen.
"Aku tahu, Nak. Kita akan hati-hati."
Mereka mematikan api unggun, menyembunyikan jejak perkemahan, lalu bergerak menyusuri sungai menuju titik masuk kedua—pintu air yang lebih dekat ke istana bagian dalam.
Pintu air kedua ini lebih kecil, lebih tersembunyi. Hanya Mira yang tahu keberadaannya—dan sekarang Mira sudah tiada. Aldric harus menemukannya berdasarkan ingatan dari deskripsi mendiang.
Setelah setengah jam menyusuri semak-semak, ia menemukannya. Sebuah lubang got tua yang hampir sepenuhnya tertutup tanaman menjalar. Tutup besinya berkarat, tapi masih bisa dibuka.
"Ini dia," bisiknya.
Ia membuka tutup itu pelan-pelan, menghindari suara berdecit. Dari dalam, bau lumpur dan sampah menyengat—tapi setidaknya tidak ada bau bangkai segar.
"Aku turun duluan. Kalian ikut dua menit kemudian."
Aldric melompat masuk, mendarat di air kotor setinggi betis. Lorong ini lebih sempit dari sebelumnya—hanya cukup untuk satu orang. Ia menyalakan batu pemberian Master Elian—batu kecil yang bersinar redup di kegelapan.
Dua menit kemudian, Elara turun dengan Sera dan Ren. Mereka berjalan beriringan dalam diam, hanya suara percikan air mengiringi langkah.
Lorong ini panjang dan berkelok. Aldric menghitung langkah, mengingat petunjuk Mira: "Setelah tiga ratus langkah, kau akan menemukan cabang ke kanan. Ikuti itu, dan kau akan sampai di bawah ruang tahta."
Dua ratus lima puluh. Dua ratus delapan puluh. Tiga ratus.
Cabang ke kanan.
Mereka belok, dan segera lorong mulai menanjak. Tangga-tangga batu kuno muncul, basah oleh rembesan air. Udara mulai berubah—tidak lagi bau lumpur, tapi bau dupa kuno, bau sesuatu yang suci dan tua.
"Aku bisa merasakannya," bisik Elara. "Ada sesuatu di depan."
Mereka naik. Seratus anak tangga. Dua ratus. Tiga ratus.
Akhirnya, sebuah pintu batu. Diukir dengan gambar naga bersayap—simbol yang sama dengan lambang keluarga Veynheart. Di bawah naga, tulisan kuno dalam bahasa yang tidak dikenal Aldric.
"Darah Veynheart membuka jalan," Ren membaca tiba-tiba.
Semua menatapnya.
Ren mengangkat bahu. "Varyn yang ajarin."
Aldric mendekati pintu itu. Ia mengeluarkan belati, melukai telapak tangannya, lalu menempelkannya di ukiran naga.
Darahnya meresap ke batu. Ukiran itu mulai bersinar—merah terang, lalu berubah menjadi emas. Pintu batu bergeser, terbuka perlahan.
Di baliknya, sebuah ruangan bundar. Lantai dari marmer hitam mengkilap. Dinding-dinding dihiasi mozaik emas yang menggambarkan sejarah keluarga Veynheart—pertempuran, penobatan, kemenangan. Di tengah ruangan, sebuah altar batu. Dan di atas altar, bersandar di penyangga kayu hitam, sebuah pedang.
Soulrender.
Pedang itu indah dan mengerikan sekaligus. Bilahnya hitam pekat, tapi di dalamnya, urat-urat merah berdenyut seperti darah hidup. Gagangnya dari tulang—tulang iblis pertama, kata Master Elian—dengan ukiran rune kuno. Di ujung gagang, sebuah batu merah menyala redup.
Aldric melangkah maju, terpesona. Tapi sebelum ia mencapai altar—
"Berhenti."
Suara itu datang dari segala arah. Dalam, tua, penuh wibawa.
Dari dinding-dinding, kabut putih mulai keluar, membentuk sosok-sosok transparan. Manusia-manusia dengan pakaian kuno—leluhur Veynheart. Dan di tengah mereka, sesosok pria tinggi besar dengan mahkota di kepala dan pedang di tangan.
Aldric Veynheart yang Pertama.
Pendiri kerajaan. Pemburu iblis legendaris.
Arwahnya menatap Aldric dengan mata yang menyala biru.
"Keturunanku," suaranya bergema. "Kau datang untuk mengambil Soulrender?"
Aldric menunduk hormat. "Ya, leluhurku. Aku butuh pedang itu untuk melawan iblis."
"Iblis?" Arwah itu tersenyum tipis. "Kau sendiri setengah iblis. Mengapa kau melawan jenismu sendiri?"
"Aku bukan iblis. Aku manusia yang terpaksa menerima kekuatan iblis untuk bertahan hidup."
"Tapi kau menggunakannya. Kau membunuh dengan kekuatan itu."
"Untuk melindungi orang-orang yang kucintai."
Arwah itu diam. Matanya yang biru menatap dalam-dalam ke mata Aldric—seperti bisa membaca isi hatinya.
"Kau bicara tentang cinta," katanya akhirnya. "Tapi di matamu, aku melihat dendam. Api dendam yang membara."
Aldric tidak bisa menyangkal.
"Dendam dan cinta. Dua sisi koin yang sama. Aku juga mengalaminya, ribuan tahun lalu." Arwah itu melangkah mendekat. "Aku membunuh iblis pertama bukan karena aku baik. Tapi karena iblis itu membunuh keluargaku."
Ia berhenti di depan Aldric.
"Jadi aku mengerti perasaanmu. Tapi kau harus tahu—Soulrender bukan pedang biasa. Ia akan menguji pemakainya. Jika hatimu tidak murni, ia akan menghancurkanmu."
"Ujian apa?"
"Kau akan tahu saat memegangnya." Arwah itu menunjuk altar. "Ambil jika kau berani."
Aldric melangkah maju. Tangannya meraih gagang Soulrender—
Dan dunia runtuh.
Ia tidak lagi di ruangan bawah tanah.
Ia berdiri di istana—istana yang utuh, tidak terbakar. Di depannya, ayahnya duduk di singgasana, tersenyum hangat. Ibunya di sampingnya, tangannya melambai. Liana berlari kecil menghampiri, boneka kelinci di tangan.
"Kakak! Kakak pulang!"
Aldric terpaku. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
Ini ilusi. Pasti ilusi.
Tapi Liana memeluknya—hangat, nyata. Wangi rambutnya sama seperti dulu.
"Kakak, Liana kangen. Kakak pergi lama."
"Li... Liana..."
Dari belakang, suara Mira. "Pangeran, makan malam sudah siap. Ibu masak kue madu kesukaanmu."
Aldric berbalik. Mira berdiri di sana—sehat, utuh, tersenyum.
Ini terlalu sempurna. Terlalu indah. Ini pasti—
"Ujian pertama," suara arwah bergema di kepalanya. "Lepaskan masa lalu, atau kau akan terperangkap di sini selamanya."
Aldric memeluk Liana erat—untuk terakhir kalinya.
"Maaf, Li. Kakak harus pergi."
"Tapi Kakak baru pulang—"
"Aku bukan Kakak yang dulu." Ia melepaskan pelukannya, menatap mata adiknya. "Kakak sudah berubah. Tapi Kakak tetap sayang Liana. Selamanya."
Ia melangkah mundur. Liana mulai memudar. Istana mulai runtuh.
Dan Aldric kembali ke ruangan bawah tanah, dengan Soulrender di tangannya.
Arwah leluhur tersenyum bangga.
"Kau lulus ujian pertama, keturunanku. Kau bisa melepaskan masa lalu."
Tapi tiba-tiba, pedang di tangan Aldric bergetar. Batu merah di gagangnya menyala terang—bukan merah biasa, tapi merah darah, merah api.
"Ada apa?" Arwah itu mengerutkan dahi.
Dari lorong belakang, suara tepuk tangan.
Perlahan, sarkastik, memekakkan telinga.
Kael the Destroyer melangkah keluar dari bayang-bayang. Di sampingnya, sesosok iblis lain—lebih besar, lebih mengerikan. Kulitnya abu-abu kehijauan, dengan mata hitam pekat tanpa putih. Dari tubuhnya, kabut hitam merembes, membuat tanaman liar yang tumbuh di celah batu langsung layu dan mati.
Malak the Corruptor.
"Selamat, Aldric Veynheart," sapa Kael. "Kau baru saja melakukan tepat apa yang kami inginkan."
Aldric mundur, menghunus Soulrender. "Apa maksudmu?"
"Soulrender bukan hanya pedang. Ia juga kunci. Kunci untuk membangkitkan saudara-saudaraku sepenuhnya." Kael tertawa. "Darah Veynheart—darah pemburu iblis—adalah satu-satunya yang bisa mengaktifkannya. Dan kau baru saja memberikannya."
Batu merah di gagang Soulrender terus menyala, semakin terang.
Malak mengangkat tangannya. Dari kabut hitam di sekelilingnya, bayangan-bayangan mulai terbentuk—puluhan, ratusan. Makhluk-makhluk mengerikan dengan mata merah.
"Terima kasih, Pangeran kecil," suara Malak dalam, membuat dinding berguncang. "Berkatmu, aku bisa keluar dari persembunyian."
Elara berlari ke sisi Aldric. "Apa yang terjadi?"
Aldric tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap pedang di tangannya—pedang yang seharusnya menjadi senjata, ternyata menjadi bencana.
Arwah leluhur meraung marah. "KALIAN BERANI MENIPU—"
Tapi sebelum ia bisa menyelesaikan kalimat, Malak mengulurkan tangan. Kabut hitam menyelimuti arwah itu, membuatnya memudar, menghilang.
"Diamlah, hantu. Waktumu sudah lama habis."
Kael melangkah maju, tersenyum puas. "Sekarang, kita punya Soulrender. Kita punya darah Veynheart. Dan kita punya—" ia menatap Ren, "—anak istimewa itu."
Ren bersembunyi di balik ibunya, ketakutan.
Aldric berdiri di depan mereka, Soulrender teracung. "Kau tidak akan menyentuh mereka."
"Oh, tidak perlu. Kami sudah dapat apa yang kami inginkan." Kael melambaikan tangan. "Tapi kami akan membiarkan kalian hidup—untuk sementara. Biar kalian melihat dunia ini hancur."
Kabut hitam mulai memenuhi ruangan. Kael dan Malak menghilang di dalamnya. Bayangan-bayangan mengikuti.
Dan ketika kabut hilang, yang tersisa hanya Aldric, Elara, Sera, Ren—dan Soulrender yang masih bersinar di tangan Aldric.
Mereka berhasil mendapatkan pedang itu.
Tapi dengan harga yang tidak mereka duga.
Di luar, kabut hitam mulai menyebar ke seluruh istana—ke seluruh kota. Para penjaga berteriak, para prajurit berlarian, tapi tidak ada yang bisa melawan kabut itu. Ia meresap ke kulit, ke pikiran, membuat orang-orang berhalusinasi, berteriak, saling membunuh.
Di puncak menara, Kael dan Malak berdiri berdampingan, menyaksikan kekacauan yang mereka ciptakan.
"Dua sudah bangkit," kata Kael. "Tinggal dua lagi."
Malak tersenyum—senyum yang membuat udara di sekitarnya membeku. "Dan setelah mereka bangkit, dunia ini akan menjadi milik kita."
Di bawah, di ruang bawah tanah, Aldric memeluk Elara erat. Ia telah mendapatkan Soulrender, tapi rencana Kael berjalan lebih cepat.
Sekarang, satu-satunya harapan adalah Varyn.
Satu-satunya jalan adalah kembali ke jurang.