seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Gema di Pukul 13:30
Angka digital di jam tangan titanium milik Dave menunjukkan tepat pukul 13:30. Bagi seisi kantor Mahesa Group, itu adalah waktu di mana kesibukan merayap menuju puncak setelah jeda istirahat. Namun bagi Dave, 13:30 telah menjelma menjadi sebuah ritual sunyi. Dari balik jendela kaca ruang CEO-nya, ia memperhatikan sesosok wanita dengan jilbab berwarna pastel yang berjalan tenang melintasi koridor menuju meja kerja divisi keuangan. Itu adalah waktu di mana Shafira biasanya kembali setelah menyelesaikan shalat dan doa panjangnya di mushaf. Dave menyadari, dalam 13:30 menit terakhir sejak pembicaraan mereka di mobil, pikirannya tidak sedetik pun beranjak dari pertanyaan: Bagaimana cara mencintai wanita yang meletakkan seluruh hatinya pada Tuhan, sementara aku baru saja mulai belajar mengeja nama-Nya?
Dave tidak lagi menggunakan kekuasaannya untuk memanggil Shafira masuk ke ruangannya tanpa alasan. Ia memilih perjuangan yang lebih elegan, namun jauh lebih sulit. Sore itu, ia sengaja turun ke perpustakaan arsip di lantai lima, tempat yang ia tahu sering dikunjungi Shafira untuk merapikan data lama. Dave menemukan Shafira sedang berjinjit, mencoba menggapai sebuah map tebal di rak teratas. Tanpa suara, Dave melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood-nya yang maskulin samar-samar menyentuh indra penciuman Shafira sebelum tangan kokoh Dave mengambilkan map tersebut.
"Rak ini terlalu tinggi untukmu, Shafira. Seharusnya kau memanggil staf bantuan," ujar Dave lembut sembari menyerahkan map itu. Jarak mereka begitu dekat, hingga Dave bisa melihat butiran embun sisa wudhu yang masih membasahi ujung jilbab Shafira.
"Terima kasih, Pak Dave. Saya tidak ingin merepotkan orang lain untuk hal sepele," jawab Shafira, sedikit menunduk untuk menjaga pandangan. Ketegasan suaranya masih ada, namun Dave menangkap sedikit getaran yang tidak biasa.
Dave tidak segera pergi. Ia menyandarkan tubuhnya di rak buku, menatap Shafira dengan tatapan yang tidak lagi mengintimidasi, melainkan memohon. "Aku menghabiskan waktu semalam untuk membaca buku tentang filsafat ketenangan yang kau sarankan. Tapi jujur, Shafira, bab tentang 'keikhlasan' adalah yang paling sulit kupahami. Bagaimana mungkin seseorang bisa tetap tenang saat sesuatu yang sangat ia inginkan—sesuatu yang sangat ia perjuangkan—berada tepat di depan matanya, namun ia dilarang untuk menyentuhnya?"
Shafira terdiam, jemarinya meremas pinggiran map. Ia tahu Dave tidak sedang membicarakan buku. Ia tahu pria ini sedang membicarakan dirinya. "Pak Dave, ikhlas itu bukan tentang berhenti menginginkan. Tapi tentang percaya bahwa jika sesuatu itu memang milik kita, semesta tidak akan membiarkannya pergi. Dan jika bukan, menggenggamnya sekuat apa pun hanya akan melukai tangan Bapak sendiri."
"Bagaimana jika aku bersedia terluka?" potong Dave cepat, suaranya parau oleh emosi yang tertahan. "Bagaimana jika rasa sakit itu adalah harga yang pantas untuk bisa menjagamu? Aku sedang berjuang, Shafira. Aku sedang menata kembali puing-puing hatiku yang dulu kau sebut gersang. Aku tidak memintamu menerimaku sekarang. Aku hanya meminta... jangan tutup pintu itu rapat-rapat."
Mata Shafira berkaca-kaca. Perjuangan gigih Dave yang mulai meninggalkan keangkuhannya demi bersikap lembut benar-benar menyentuh sisi kewanitaannya. Namun, ia adalah wanita yang dipagari oleh prinsip. "Buktikan pada waktu, Pak Dave. Bukan pada saya. Karena saya tidak memiliki apa-apa untuk Bapak ambil. Yang saya miliki hanyalah kehormatan keluarga saya."
Dave mengangguk perlahan, sebuah janji tanpa kata terukir di wajahnya yang tampan. Namun, momen emosional itu terganggu oleh dering ponsel Dave. Sebuah pesan dari tim investigasi internal: Pak Wijaya baru saja melakukan akses ilegal ke sistem keuangan Singapura pukul 13:30 tadi. Dia menggunakan sandi lama milik Ibu Sarah.
Dave mengepalkan tangannya. Intrik di kantornya ternyata jauh lebih gelap dari yang ia duga. Di satu sisi ia harus berjuang memenangkan hati Shafira dengan kelembutan, di sisi lain ia harus kembali menjadi singa yang kejam untuk menyingkirkan para pengkhianat yang ingin menghancurkan masa depan perusahaan yang kini ingin ia bangun dengan tangan bersih. Ia menatap Shafira sekali lagi sebelum melangkah pergi.
"Tunggu aku di lobi saat jam pulang nanti, Shafira. Bukan untuk pulang bersama, tapi karena aku ingin memberikan sesuatu yang ayahmu titipkan padaku," dusta Dave sedikit, hanya agar ia punya alasan untuk memastikan Shafira aman. Sebab ia tahu, Pak Wijaya tidak akan segan menggunakan Shafira untuk menekannya. Perjuangan Dave kini bukan lagi sekadar mendapatkan cinta, tapi menjaga napas kebenaran yang baru saja tumbuh di menara Mahesa Group.
.