Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Difitnah
Loki segera bangkit dari sungai dan memakai pakaiannya, ekor 9 nya mekar tegak meliuk-liuk lebar dan melayang terbang ke arah semak di ujung sana. Tempat yang dia kira, si betina gendutnya mengintip.
Di semak itu, muncul lah Liya, Bayu, Pidi dan Feyyi.
"Kau menuduh aku dan bilang aku mesum? Siapa yang tertarik dengan punya kamu yang kecil tak bernyali!" ejek Liya, matanya meremehkan Loki, tangannya masih mencengkram kuat lengan Feyyi sampai memerah.
"Aku bukan sembarangan menuduh, kenyataan bukan, huh?" Dengus Loki.
"Bukan!" balas Liya. "Jelas bukan aku! Karena pada kenyataan nya, aku tidak pernah mengintip. Jika aku ingin melihat, lebih baik langsung diliat saja, lagian kau itu suamiku, kenapa repot-repot mengintip. Nih, wanita cantik yang mengintip dirimu, dia birahi sambil menggoyangkan ekornya yang bantet!"
"Jangan melemparkan salah pada orang lain!" teriak Loki.
"Kenapa aku harus melempar? Kalau biangnya dia sendiri. Dia yang mengintip. Kami bertiga melihat dia mengendap-endap ke semak itu, jadi kami ikuti. Awalnya kami hanya ingin ke sungai mencari udang, malahan ketemu wanita yang mengaku cantik tapi birahi lihat jantan milik orang lain, apa jantan kamu tidak memuaskan?" Liya melepaskan cengkeramannya, melempar Feyyi terjerembab ke hadapan Loki.
"Kamu jangan terlalu percaya diri sampai buta, aku tidak tertarik padamu!" Menatap Loki dengan dingin. "Ayo Pidi, Bayu, kita cari udang!" Mereka bertiga pun pergi, meninggalkan Feyyi yang bersimpuh di tanah, sedikit takut pada Loki.
"Aku tidak sengaja lewat di sini Loki, jangan salah paham ya, aku tidak se-mesum itu." Bicara pelan mendayu-dayu, menggoda. Perlahan berdiri, membusungkan dada ke depan.
"Ahh, kakiku sakit, Liya si gendut itu kasar sekali, aaah—" Niat hati mau menjatuhkan diri di pelukan Loki, pria dingin itu langsung menghindar dengan wajah berkerut.
"Jangan mendekat! Aku tidak suka betina tidak jelas, kita tidak saling kenal, jangan sebut namaku sok akrab!" katanya dingin.
"Loki, jangan begitu padaku."
Loki mengerutkan kening.
"Aku tak seperti Liya si gendut jelek itu. Di suku angsa, aku paling cantik dan level tertinggi. Aku tahu perasaan kamu, pasti kamu tertekan dan jijik pada dia kan? Aku mengerti, kamu bisa cerita padaku." Berjalan mendekat, menyentuh tangan Loki.
Loki menepis kuat, wajahnya jijik. "Jangan sentuh aku, dasar menjijikkan!" Loki langsung terbang melayang, meninggalkan Feyyi yang marah.
"Liya sialan!" umpatnya. "Kenapa harus kamu yang menikah dengan mereka, dasar betina gendut jelek!"
Loki duduk berjuntai di pohon besar di dekat gua miliknya, di gunung laskar. "Dari aroma yang terendus, memang bukan dia yang mengintip tadi. Tapi aku kesal saja pada dia. Ah sudahlah, mungkin kali ini saja dia tidak mengintip karena ada Bayu dan Pidi, biasanya pasti dia!"
Baru saja hendak berbaring, aroma makanan kembali tercium, bisik-bisik suku rubah mulai menganggu.
"Eh, Loki. Betina gendut kamu jago masak ya, kamu tidak mau coba? Pidi dan Bayu ikut makan tuh!" Teman rubah menyoraki dia yang berada di atas pohon.
Hidung suku rubah benar-benar tajam, padahal gua Liya sangat jauh di selatan sana, mereka bisa mencium aroma masakannya.
"Huh, tidak. Nanti dia berharap aku mau kawin sama dia. Aku rubah level 15, tidak mau sama betina gak jelas yang kotor. Walaupun itu perjodohan dewa hewan sekalipun!"
"Oh, kalau begitu, mari kita berburu!" ajaknya.
"Ayo!"
"Apa? Bawa semua yang berkhianat kemari!" Abyssal marah. Dia duduk di kursi singgasananya. Kursi yang terbuat dari cangkang keong emas.
Tiga pelayan laki-laki dan dua pelayan perempuan terduduk merunduk.
"Katakan dengan jelas, siapa dan kenapa kalian melakukannya!" Suara Abyssal bass dan dingin.
"No-nona Arra meminta kami, mengancam dengan keluarga kami perihal memberikan obat perangsang dan menyebarkan berita itu pada semua suku di klan, jika itu perbuatan Liya, suku angsa." Dia berkata tertunduk, jemarinya saling meremas takut.
"Sejak kapan? Apa sejak awal?"
Pelayan wanita itu mengangguk. Abyssal mengusap wajahnya. Jadi, selama ini semuanya diatur oleh sepupunya. Sepupu yang ingin dia kawin dengan dirinya. Lalu, melakukan cara kotor begini?
"Axel, panggil Arra kemari!" perintahnya.
"Baik, Tuan Muda."
"Lanjut kan cerita dengan jelas!"
"Tu-tuan Muda Asoka memberikan obat dari dukun pada Liya, agar tubuhnya seperti itu, jadi Tuan Muda tidak akan berselera jika berkawin dengan dia."
Hah? Mata Abyssal membulat besar. Bukan hanya sepupu, tapi adik kandungnya juga?
"Hei kau, bawa Asoka kemari!" Abyssal memerintahkan pengawal lain membawa adiknya ke sini.
Dua orang itu datang. "Kakak, kamu memanggil aku, ada apa?" Arra, sepupu Abyssal langsung bergelayut manja di lengannya.
Abyssal menepis pelan dengan sopan. "Duduk di sana!" usirnya, agar tidak menempel di tempat duduknya.
Dia duduk akhirnya dekat Asoka. "Ada apa Kak, panggil aku?" tanya pria muda tampan itu.
"Apa kau yang memberikan Liya obat agar gendut dan kau yang memberikan obat perangsang kepadaku hampir tiap malam?" Abyssal menatap tajam sepupu dan adiknya.
Arra memutar bola mata. "Tidak, pasti ada yang memfitnah aku. Hei kalian, beraninya kalian menyebarkan berita buruk!" Dia bangkit.
Plak! Langsung menampar pelayan.
"Siapa yang menyuruh kamu menampar pelayanku Arra! Selama ini aku terlalu longgar pada kalian ya, sehingga kalian merasa menjadi pemilik wilayah ini? Bahkan berani menyakiti dan mengatur pelayanku, dihadapan aku!" hardik Abyssal.
"Bu-bukan begitu Kak. Aku tidak sengaja, terpancing emosi. Aku mana mungkin memberikan obat perangsang pada kakak, yang menyebabkan kultivasi kakak terhambat, aku tidak." Dia melirik Asoka, meminta bantuan.
Asoka berdiri. "Itu aku. Aku menipu Arra, aku bilang obat tidur, karena Kakak sering begadang mengurus masalah di danau. Da—"
Plak! Abyssal langsung menampar Asoka sebelum pria muda itu menyelesaikan ucapannya. "Tingkatan kultivasi ku sangat penting. Gara-gara kalian berdua berhati busuk, membuat aku rugi besar. Liya itu betinaku, betina dari perjodohan dewa hewan, tak pantas kalian menganggu dia, dan ikut campur tentang perkawinan aku dengannya. Sekarang, kalian berdua di hukum. Tidak boleh keluar danau selama enam bulan, di kurung di kediaman! Axel, catat dan laksanakan hukuman mereka berdua!"
"Baik, siap laksanakan, Tuan Muda."
"Kakak! Maafkan kami. Kami salah, kakak!"
Abyssal langsung pergi, marah sekali. Para pelayan dan pengawal juga dihukum, dicambuk sampai 300 kali. Kulit mereka koyak dan berdarah, lalu juga potongan setengah gaji dan surat perjanjian.
"Bagaimana cara aku meminta maaf pada dia. Ini semua jelas bukan salah Liya, selama ini aku selalu berkata kasar dan memperlakukan dia dengan buruk."
"Dia berkali-kali di fitnah. Ck!" Abyssal berdecih beberapa kali.
Sedang larut dalam pikiran, sambil berenang ke darat, malah langsung mencium aroma
masakan Liya, reflek dia langsung ke gua Liya. Melihat Bayu dan Pidi membantu Liya membuat sesuatu.