NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua Minggu di neraka penantian

Lima tahun bukan lagi waktu yang singkat untuk sebuah kebohongan. Bagi rakyat Luxeria dan Nocturnis, Garis Cakrawala adalah tempat terkutuk yang harus dihindari.

Namun bagi Ratu Vani, tempat itu telah menjadi satu-satunya ruang di mana ia bisa bernapas tanpa harus memakai topeng kewibawaan.

Namun, dua minggu terakhir ini, napas itu terasa sesak.

Vani berdiri di bawah pohon perak dengan gelisah. Gaun putihnya yang biasanya rapi kini sedikit kusut karena ia terus-menerus meremas kainnya sendiri.

Matanya yang jernih tampak sedikit sembab—efek dari kurang tidur karena terus menatap ke arah utara setiap malam.

"Dua minggu... Empat belas hari, delapan jam, dan entah berapa menit!" Vani bergumam sendiri, suaranya gemetar antara sedih dan amarah yang meluap.

"Dia pikir dia siapa? Setelah lima tahun datang setiap minggu, dia menghilang begitu saja tanpa surat? Tanpa pesan sihir? Dasar monster tidak punya tata krama!"

Vani sudah bersumpah jika malam ini Ferdi tidak datang, ia akan memobilisasi seluruh pasukannya untuk menyerang Nocturnis—bukan untuk perang, tapi untuk membakar kamar tidur raja yang tidak tahu diri itu.

Tiba-tiba, udara di sekitarnya mendingin. Kabut hitam mulai merayap dari arah utara.

Vani segera menegakkan tubuhnya, memasang wajah paling dingin dan paling menyeramkan yang ia miliki. Jantungnya berdebar kencang, tapi gengsinya jauh lebih tinggi.

Sesosok pria muncul dari kegelapan. Ferdi berjalan perlahan, namun langkahnya tidak seringan biasanya.

Jubah hitamnya tampak robek di beberapa bagian, dan wajahnya terlihat pucat. Namun, saat melihat Vani, pria itu langsung memasang senyum miring yang menyebalkan.

"Wah, wah. Lihat siapa yang berdiri di sini dengan wajah seperti ingin menelan orang hidup-hidup," suara Ferdi terdengar sedikit serak.

"Kau menungguku, Ratu Kecil? Atau kau sedang berlatih menjadi patung di bawah pohon ini?"

Vani meledak seketika. "KAU! DARI MANA SAJA KAU, FERDI?!"

Vani berlari mendekat, bukan untuk memeluk, melainkan untuk memukul dada Ferdi dengan tinju kecilnya.

"Dua minggu! Kau menghilang selama dua minggu tanpa kata! Kau tahu berapa banyak pikiran buruk yang muncul di kepalaku? Aku pikir kau sudah mati membusuk di jurang, atau kau memutuskan untuk mengkhianati perjanjian kita dan menyerang kerajaanku saat aku tidur!"

Ferdi terhuyung sedikit saat dipukul Vani—sesuatu yang biasanya tidak akan membuatnya goyah—tapi ia tidak menahannya.

Ia justru terkekeh, meski ada ringisan kecil di matanya.

"Tenanglah, Vani. Suaramu bisa terdengar sampai ke telinga para dewa. Kau terlihat sangat berantakan. Apa kau tidak mandi selama dua minggu karena meratapi ketidakhadiranku?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Vani berteriak lagi, napasnya memburu.

"Berikan alasan yang masuk akal! Ke mana kau pergi?! Jika kau ingin mengakhiri pertemuan ini, katakan saja! Jangan membuatku menunggu seperti orang bodoh setiap malam di bawah kedinginan ini!"

Ferdi menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya ke pohon perak, mencoba menyembunyikan fakta bahwa bahu kirinya baru saja terkena tusukan tombak cahaya.

"Kau ingin tahu ke mana aku pergi? Baiklah. Nocturnis sedang musim gugur, dan aku butuh penyegaran. Aku sedang kencan."

Vani tertegun. Dunianya seolah berhenti berputar selama satu detik. "Kencan?"

"Ya," Ferdi melanjutkan dengan nada santai yang dibuat-buat, meski dadanya terasa sesak.

"Ada seorang wanita dari kalangan elit neraka. Namanya Lilith. Dia cantik, memiliki sayap hitam yang anggun, dan yang terpenting... dia sangat manis. Dia tidak cerewet sepertimu. Dia tahu cara mendengarkan pria tanpa harus berteriak setiap lima menit. Aku menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan dengannya di lembah api."

Wajah Vani mendadak pucat, lalu berubah menjadi merah padam yang mengerikan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggenang di sudut matanya, tapi amarahnya jauh lebih besar.

"O-oh... jadi begitu?" suara Vani bergetar hebat.

"Jadi kau menghilang selama dua minggu hanya untuk bersenang-senang dengan wanita neraka itu? Dan kau membiarkanku berdiri di sini seperti pajangan?!"

"Yah, dia benar-benar menarik," Ferdi terus memprovokasi, sengaja ingin melihat sejauh mana Vani peduli.

"Dia memberikan apa yang tidak kau berikan, Vani. Ketenangan. Kami berbincang tentang masa depan Nocturnis, dan dia sangat mendukung kebijakanku. Tidak seperti seseorang yang selalu mengkritik cara kupas apelku."

"KAU JAHAT! KAU BENAR-BENAR MONSTER!" Vani mendorong bahu Ferdi dengan keras.

Argh!

Ferdi merintih pelan saat bahu kirinya yang terluka terhantam tangan Vani.

Ia terjatuh duduk di akar pohon, tangannya refleks memegang bahunya yang kini mulai mengeluarkan darah segar, merembes melalui jubah hitamnya.

Vani terdiam melihat darah itu. Amarahnya langsung menguap, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.

"Ferdi? Kau... kau terluka?"

Vani langsung berlutut di depan Ferdi, tangannya yang gemetar mencoba membuka jubah pria itu.

"Darah ini... ini bukan luka kencan! Apa yang terjadi?!"

Ferdi mencoba mendorong tangan Vani, tapi ia sudah terlalu lemah. "Sudahlah... ini hanya goresan kecil saat Lilith mencoba memelukku terlalu erat..."

"BOHONG!" Vani berteriak, air matanya kini benar-benar jatuh. Ia merobek sebagian jubah Ferdi dan melihat luka besar yang membiru—bekas sihir tingkat tinggi.

"Ini bekas serangan Dewa Uranus! Para dewa bertanduk besar dari wilayah langit utara! Kau berperang melawan mereka, kan?! Kenapa kau berbohong tentang wanita neraka itu?!"

Ferdi menatap Vani yang sedang menangis sambil berusaha menyalurkan sihir penyembuh dari tangannya ke luka Ferdi. Ia tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus.

"Karena melihatmu cemburu jauh lebih menyenangkan daripada menceritakan betapa membosankannya melawan sepuluh dewa bertanduk yang bau itu sendirian selama empat belas hari."

"Kau gila! Kau bisa mati, Ferdi!" Vani terisak, tangan cahayanya mulai menutup luka Ferdi yang menganga.

"Kenapa kau tidak mengirim pesan? Kenapa kau harus pergi sendiri melawan mereka?"

"Mereka mencoba masuk ke perbatasanmu, Vani," gumam Ferdi, suaranya semakin rendah.

"Jika mereka lewat, Luxeria akan hancur dalam semalam. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menghancurkan tempat mainku yang paling berisik. Jadi, aku mencegat mereka di gerbang langit."

Vani tertegun. Jadi, selama dua minggu ini, Ferdi bertaruh nyawa di perbatasan langit hanya untuk memastikan Luxeria tetap aman, sementara ia di sini hanya bisa marah-marah dan berburuk sangka.

"Kau bodoh... benar-benar bodoh," Vani mengusap air matanya dengan kasar, tapi tangannya tetap fokus menyembuhkan Ferdi.

"Kenapa kau harus selalu berakting menyebalkan? Kenapa kau tidak bilang saja kalau kau sedang terluka?"

"Karena aku Raja Kegelapan, Vani. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan musuhku,

" Ferdi mengulurkan tangan kanannya yang masih sehat, mengusap pipi Vani yang basah.

"Dan kau... kau adalah musuh paling berbahaya yang pernah kuhadapi. Kau berhasil membuatku merasa takut akan kematian hanya karena aku takut tidak bisa melihat wajah cerewetmu lagi."

Vani menepis tangan Ferdi, tapi ia memegang jemari pria itu dengan erat setelahnya.

"Jangan harap aku akan memaafkanmu soal 'Lilith' itu! Nama itu akan aku ingat selamanya sebagai utang yang harus kau bayar!"

"Jadi, kau benar-benar cemburu pada wanita yang bahkan tidak ada?" Ferdi terkekeh, meski wajahnya masih menahan sakit.

"Aku tidak cemburu! Aku hanya benci seleramu yang buruk!" bantah Vani dengan sisa-sisa gengsinya.

"Wanita neraka? Sungguh? Kau benar-benar harus memperbaiki imajinasimu, Ferdi."

"Tapi setidaknya itu berhasil membuatmu mengakui bahwa kau merindukanku," goda Ferdi lagi.

"Aku tidak bilang aku merindukanmu! Aku bilang aku merindukan ketepatan waktumu!" Vani berdiri, membantu Ferdi untuk bersandar lebih nyaman.

"Sekarang diamlah. Aku akan menyelesaikan penyembuhan ini. Jika kau bicara satu kata lagi tentang wanita lain, aku akan membiarkan luka ini membusuk!"

Ferdi menutup matanya, merasakan hangatnya sihir cahaya Vani yang mengalir ke dalam nadinya. "Dua minggu tanpa omelanmu benar-benar membuat telingaku kesepian, Vani."

"Berisik! Cepat sembuh dan pulanglah ke istanamu!" seru Vani, meski ia tetap duduk di samping Ferdi, membiarkan kepala sang raja bersandar di bahunya untuk pertama kalinya.

Malam itu, di bawah pohon perak, tidak ada lagi perdebatan tentang strategi perang. Hanya ada seorang ratu yang terus mengomel untuk menutupi rasa khawatirnya, dan seorang raja yang tersenyum tenang karena tahu bahwa di balik kecerewetan itu, ada cinta yang lebih besar dari cahaya matahari Luxeria mana pun.

"Ferdi," panggil Vani pelan saat melihat Ferdi mulai tertidur.

"Ya?"

"Jika kau menghilang lagi tanpa kabar... aku benar-benar akan menikahi Jenderal Aris."

Ferdi langsung membuka matanya sebelah, berkilat merah. "Coba saja, dan aku pastikan Jenderal Aris akan menjadi hiasan dinding di aula tengkorakku sebelum matahari terbit."

Vani tersenyum puas. "Nah, itu baru Raja Ferdi-ku yang menyebalkan."

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!