---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Us
---
Pukul 05.30 pagi, lampu dapur rumah nomor 9 sudah menyala.
Irene sibuk di depan kompor, mengaduk sesuatu di dalam panci kecil. Di sebelahnya, blender berisi campuran pisang, stroberi, dan yogurt siap dinyalakan. Di meja, toples-toples kaca berjejer berisi berbagai camilan: energy balls dari kurma dan kacang, granola buatan sendiri, serta pudding chia seed yang sudah didinginkan semalaman.
Rutinitas ini sudah berjalan sebulan terakhir. Sejak tahu Jane hamil, Irene merasa ada misi baru dalam hidupnya: memastikan calon ibu itu mendapatkan nutrisi terbaik.
Bukan karena Jane tidak mampu membeli makanan sehat. Tapi karena Irene percaya, makanan yang dimasak dengan cinta rasanya pasti berbeda. Dan tidak ada cinta yang lebih tulus selain cinta seorang sahabat.
"Bu..." suara Rafa terdengar dari ambang pintu. Anak itu berdiri dengan mata masih setengah tertutup, rambut berantakan, boneka beruang biru di tangan.
Irene menoleh, tersenyum. "Raf? Kok bangun pagi-pagi?"
"Aku kedinginan, Ma. Mau sama Mama."
Irene menggendong Rafa, mendudukkannya di kursi dapur. "Duduk sini, ya. Mama lagi masak buat Tante Jane."
"Tante Jane? Yang perutnya gede?"
"Iya, Sayang. Tante Jane lagi hamil, butuh makanan sehat biar adik bayinya juga sehat."
Rafa mengangguk-angguk, matanya masih mengantuk. "Rafa boleh bantu?"
"Boleh banget. Nanti kalau Mama udah selesai, Rafa bantu anterin, ya?"
"Asik! Rafa anterin!"
Irene tersenyum, kembali sibuk di dapur. Rafa mengawasi dari kursinya, sesekali bertanya tentang apa yang ibunya lakukan.
"Ma, itu apa?"
"Ini pudding chia seed. Biji-biji kecil yang bagus buat kesehatan."
"Ma, itu apa?"
"Ini energy balls. Dari kurma dan kacang. Buat nambah energi."
"Ma, itu apa?"
Irene tertawa. "Raf, nanti Mama kasih semua. Sekarang biarin Mama selesai dulu, ya."
Rafa mengangguk, tapi semenit kemudian bertanya lagi. Siklus yang terus berulang.
---
Pukul 07.00, Elgi bangun. Ia turun ke dapur dan menemukan pemandangan yang sudah biasa: Irene sibuk dengan berbagai toples dan wadah, Rafa sibuk "membantu" dengan caranya sendiri.
"Wah, ada yang rajin pagi-pagi," sapa Elgi, mengecup kening Irene. "Buat Jane lagi?"
"Iya. Ini pudding, energy balls, sama smoothie bowl. Tadi pagi Jane sms, katanya lagi mual-mual. Mungkin makanan dingin bisa bantu."
Elgi menggeleng-geleng, kagum. "Irene, kamu itu... nggak capek?"
"Capek sih. Tapi seneng." Irene merapikan toples-toples. "Lihat Jane bahagia, lihat dia sehat, itu bikin capek hilang."
"Kamu baik banget."
"Bukan baik. Dia keluarga."
Elgi tersenyum, memeluk Irene dari belakang. "Makasih, ya, udah jadi istri dan ibu yang hebat. Anak kita beruntung punya mama kayak kamu."
Irene tersipu. "Dasar."
"Ayah! Mama!" Rafa menarik-narik celana Elgi. "Rafa mau anterin!"
Elgi menggendong Rafa. "Iya, kita anterin bareng. Tapi sarapan dulu, ya."
---
Pukul 08.00, Irene, Elgi, dan Rafa berjalan ke rumah nomor 7. Rafa berjalan di depan dengan bangga membawa toples kecil—yang isinya hanya beberapa butir energy balls, tapi ia mengangkatnya seperti membawa harta karun.
Jane sedang duduk di teras, membaca buku. Begitu melihat mereka, ia tersenyum lebar.
"Wah, rombongan pagi-pagi!" sapa Jane.
"Tante Jane! Rafa bawain makanan!" teriak Rafa, mengangkat toplesnya tinggi-tinggi.
Jane menerima toples itu, berpura-pura kaget. "Wah, ini dari Rafa? Makasih banget, ya!"
"Iya, sama-sama!"
Irene menyerahkan bungkusan lebih besar. "Ini, jatah minggu ini. Pudding chia seed, energy balls, granola, sama smoothie bowl. Simpen di kulkas, bisa tahan beberapa hari."
Jane menerima dengan mata berkaca-kaca. "Mba Irene... kamu ini... nggak capek?"
"Ah, capek apa. Seneng malah." Irene duduk di samping Jane. "Gimana mualnya? Masih parah?"
"Masih. Tapi udah agak mendingan dibanding bulan kemarin." Jane mengelus perutnya. "Kata dokter, wajar. Tapi kadang bikin lemes."
"Ini cobain smoothie bowl-nya. Dingin, mungkin bisa bantu redain mual." Irene membuka wadah kecil berisi smoothie bowl dengan topping granola dan potongan buah.
Jane mencicipi, matanya langsung berbinar. "Enak banget, Mba! Ini resepnya apa?"
"Rahasia dapur Irene." Irene menyeringai. "Tapi nanti aku kasih."
Mereka tertawa. Elgi pamit pulang karena harus kerja, tapi Rafa memilih tetap tinggal.
"Mau main sama Amora!" katanya.
"Iya udah, nanti Mama jemput." Irene mengelus kepala Rafa. "Jangan nakal, ya."
---
Setelah Elgi pergi, Jane dan Irene ngobrol panjang di teras. Rafa main di halaman depan, sesekali berlari ke pagar rumah nomor 3 memanggil Amora.
"Mba Irene, aku serius, makasih banget," ucap Jane. "Nggak nyangka punya tetangga kayak Mba."
Irene tersenyum. "Jan, kita ini udah kayak saudara. Ngapain sungkan?"
"Iya, tapi Mba kan punya keluarga sendiri. Masih sempat-sempatnya bikin cemilan buat aku."
"Justru karena punya keluarga, aku jadi tahu pentingnya dukungan." Irene menatap Jane dengan lembut. "Waktu aku hamil Rafa dulu, aku juga dikelilingi orang-orang baik. Mertua, tetangga, teman-teman. Mereka yang bikin aku kuat. Sekarang giliran aku yang bantu orang lain."
Jane terharu. "Mba Irene..."
"Sekarang kamu lagi hamil. Kamu butuh nutrisi terbaik. Dan aku punya waktu, punya kemampuan masak, kenapa nggak dimanfaatin?"
"Tapi Mba kan juga sibuk ngurus Rafa."
"Rafa udah gede. Lagian dia juga seneng." Irene menunjuk Rafa yang sekarang sudah bermain kejar-kejaran dengan Amora. "Lihat tuh, dia happy."
Jane tertawa. "Iya, mereka emang akrab."
"Dari bayi juga udah main bareng. Semoga anak kamu nanti juga akrab sama mereka."
"Amin."
---
Pukul 10.00, Soo Young datang membawa sayuran segar dari kebunnya. Melihat Irene dan Jane di teras, ia ikut bergabung.
"Lagi ngobrol apa?" tanya Soo Young sambil duduk.
"Bahas cemilan sehat," jawab Irene. "Ini lho, Jane lagi mual-mual, tapi smoothie bowl buatanku bisa diminum."
Soo Young tersenyum. "Irene memang ahli masalah makanan. Kamu harus lihat waktu dia bikinin makanan buat Rafa waktu bayi. Semuanya homemade, nggak ada yang instan."
"Mba Irene emang luar biasa." Jane menyesap smoothie bowl-nya lagi.
"Soo Young, bawa sayur apa hari ini?" tanya Irene.
"Ini bayam, kangkung, sama tomat ceri. Buat Jane." Soo Young menyerahkan bungkusan daun pisang berisi sayuran segar. "Sayuran organik, dari kebun sendiri. Biar sehat buat ibu dan janin."
Jane menerima dengan haru. "Tante Soo Young juga..."
"Kita semua ingin yang terbaik buat kamu, Jan." Soo Young meraih tangan Jane. "Kamu nggak sendiri."
Jane menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang jatuh. "Aku... aku nggak tahu harus bilang apa. Kalian semua baik banget."
"Nggak usah bilang apa-apa." Irene merangkul Jane. "Kamu terima aja. Itu sudah cukup."
Mereka bertiga duduk di teras, dihangatkan matahari pagi. Rafa dan Amora bermain riang di halaman. Suara tawa mereka terdengar jelas, menambah kehangatan suasana.
---
Tak lama kemudian, Jisoo datang membawa Amora yang sudah waktunya makan siang. Melihat kerumunan di teras rumah Jane, ia ikut bergabung.
"Wah, pada ngumpul di sini," sapa Jisoo.
"Iya, lagi jatah bulanan Jane," goda Irene. "Sini duduk."
Jisoo duduk, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Ini, Jan. Aku bikinin bubur kacang hijau. Kata orang, bagus buat ibu hamil."
Jane tertawa. "Kakakku juga ikut-ikutan."
"Ya iyalah. Aku kan kakak kamu." Jisoo menyodorkan bungkusannya. "Dimakan, ya. Biar anaknya sehat."
"Makasih, Jis."
Mereka mengobrol ramai. Empat wanita dengan latar belakang berbeda, tapi dipersatukan oleh ikatan yang lebih kuat dari sekadar tetangga. Mereka adalah keluarga.
---
Pukul 12.00, Chaeyoung datang bersama Leon. Mereka baru pulang belanja dan mampir karena melihat kerumunan.
"Wah, pada kumpul di sini!" seru Chaeyoung. "Ada apa? Ada acara?"
"Acara ngurusin ibu hamil," jawab Irene.
Chaeyoung tertawa. "Jane lagi dapat jatah, ya?" Ia masuk ke teras, ikut duduk. Leon duduk di kursi paling pinggir, tersenyum-senyum melihat kehangatan itu.
"Ini, Jan, aku beliin buah-buahan." Chaeyoung mengeluarkan kantong plastik berisi apel, pir, dan anggur. "Kata Leon, buah bagus buat ibu hamil. Di Australia katanya gitu."
Leon mengangguk. "Yes, fruits are very important. For the baby's development."
Jane menerima buah-buahan itu, hatinya benar-benar hancur. "Leon, Chaeyoung... makasih, ya."
"You're welcome, Jane." Leon tersenyum. "We're all family here."
Kata-kata Leon menggema di hati mereka semua. Family. Keluarga. Itulah mereka.
---
Siang itu, di teras rumah nomor 7, terjadilah arisan cemilan tidak resmi. Semua membawa makanan untuk Jane. Irene dengan smoothie bowl dan energy balls-nya. Soo Young dengan sayuran segar. Jisoo dengan bubur kacang hijau. Chaeyoung dengan buah-buahan. Jane hanya bisa menerima dengan haru.
"Ini semua... kebanyakan," protes Jane lemah.
"Nggak kebanyakan. Makan sedikit-sedikit, tapi sering." Irene memberi instruksi ala ahli gizi. "Simpan di kulkas. Nanti kalau laper tinggal ambil."
"Jangan lupa sayurnya dimasak, ya," tambah Soo Young. "Jangan dibiarin layu."
"Iya, Tante."
"Bubur kacang hijaunya dimakan hari ini," pesan Jisoo. "Besok kurang enak."
"Iya, Jis."
"Buahnya dicuci dulu sebelum dimakan," Chaeyoung menambahkan. "Leon bilang gitu."
Semua tertawa. Leon ikut tertawa meski tidak tahu apa lucunya.
Setelah mereka pulang, Jane duduk sendirian di teras, menatapi semua pemberian itu. Matanya basah. Tangannya mengelus perut.
"Nak, kamu lihat? Banyak orang baik di sekitar kita." Suaranya bergetar. "Mereka sayang kamu. Mereka sayang Bunda. Kita nggak sendiri."
Dari dalam perut, terasa satu tendangan. Jane tersenyum.
"Iya, Nak. Bunda juga sayang mereka."
---
Sore harinya, Mario pulang kerja dan menemukan kulkas penuh dengan makanan. Ia kaget.
"Jane, ini dari mana aja?" tanyanya.
Jane tersenyum. "Dari keluarga kita, Mas. Mba Irene, Tante Soo Young, Mba Jisoo, Chaeyoung. Mereka semua bawa makanan buat aku."
Mario diam sejenap, lalu tersenyum. Ia memeluk Jane.
"Kita beruntung banget, ya, Sayang."
"Iya, Mas. Kita beruntung."
Malam itu, mereka makan malam dengan sebagian pemberian itu. Mario membantu menghangatkan bubur kacang hijau buatan Jisoo, sambil sesekali menyuapi Jane.
"Enak banget buburnya," puji Mario.
"Iya. Kakakku emang jago masak."
"Nanti kita balas kebaikan mereka, ya."
"Iya, Mas. Nanti kalian anak kita lahir, kita traktir semua."
Mario tersenyum. "Setuju."
Di luar, malam turun dengan damai. Rumah-rumah di Griya Asri mulai meredup. Tapi di dapur rumah nomor 7, kehangatan masih terasa. Bukan dari kompor, tapi dari hati yang penuh rasa syukur.
Syukur memiliki sahabat seperti Irene, Soo Young, Jisoo, Chaeyoung. Syukur memiliki keluarga pilihan yang selalu ada, bahkan dalam hal sekecil mengirimkan cemilan sehat.
Karena kadang, cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata besar. Cinta bisa datang dalam bentuk semangkuk bubur, segelas smoothie, atau sekeranjang sayuran segar.
Cinta adalah tentang hadir. Tentang peduli. Tentang memberi tanpa pamrih.
Dan di Griya Asri, cinta mengalir setiap hari. Dari dapur Irene, dari kebun Soo Young, dari tangan Jisoo, dari buah-buahan pilihan Chaeyoung.
Untuk Jane. Untuk calon buah hati. Untuk keluarga pilihan mereka.
---