NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Penculikan

Pagi itu kafe tempat Alisha Pratiwi bekerja sudah mulai ramai.

Beberapa pelanggan duduk di meja dekat jendela. Aroma kopi menyebar di dalam ruangan. Suasana terasa hangat seperti biasanya.

Alisha berdiri di balik meja kasir sambil mencatat pesanan.

“Cappuccino satu,” kata seorang pelanggan.

“Baik,” jawab Alisha sambil tersenyum.

Ia menuliskan pesanan itu lalu menyerahkannya ke dapur kecil di belakang. Tidak lama kemudian ia kembali membawa minuman yang sudah selesai dibuat.

Rutinitas seperti itu sudah ia lakukan setiap hari.

Dari luar, kehidupan Alisha terlihat sangat sederhana.

Bekerja di kafe kecil.

Pulang ke rumah yang tidak terlalu besar.

Tidak ada yang istimewa.

Tetapi beberapa hari terakhir perasaannya tidak setenang biasanya.

Ia masih ingat kejadian malam-malam sebelumnya.

Perasaan seperti diikuti.

Mobil yang terasa selalu berada tidak jauh darinya.

Alisha mencoba mengusir pikiran itu.

Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir.

Pintu kafe terbuka.

Alisha sempat menoleh.

Beberapa pelanggan baru masuk.

Tetapi bukan orang yang ia pikirkan.

Alvaro tidak datang hari itu.

Alisha kembali fokus bekerja.

Di luar kafe, sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan.

Kaca mobil itu cukup gelap sehingga sulit melihat siapa yang berada di dalamnya.

Dua pria duduk di kursi depan.

Salah satu dari mereka memegang ponsel.

“Itu dia,” katanya sambil menunjuk ke arah jendela kafe.

Alisha terlihat sedang berbicara dengan pelanggan.

Pengemudi mengangguk pelan.

“Iya.”

Pria di kursi penumpang menatap Alisha cukup lama.

“Kita sudah mengawasinya hampir seminggu.”

Pengemudi menjawab singkat.

“Benar.”

Pria itu kembali berkata pelan.

“Rutinitasnya jelas.”

Ia melihat layar ponsel yang berisi beberapa catatan.

“Datang ke kafe pagi hari.”

“Pulang malam setelah kafe tutup.”

Pengemudi melihat ke arah kafe lagi.

“Hari ini berbeda.”

“Kenapa?”

“Pria itu tidak ada.”

Pria di kursi penumpang mengerti maksudnya.

Alvaro.

Ia juga memperhatikan hal yang sama.

“Sepertinya dia tidak datang hari ini.”

Pengemudi menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Berarti kesempatan kita lebih besar.”

Pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Ya.”

Hari berlalu cukup cepat.

Kafe mulai sepi ketika malam datang.

Beberapa pelanggan terakhir sudah pergi.

Alisha merapikan meja bersama rekannya.

Setelah semuanya selesai, mereka mematikan lampu ruangan satu per satu.

Alisha keluar dari pintu depan sambil membawa tas kecilnya.

Ia mengunci pintu kafe sebelum akhirnya berjalan menuju jalan utama.

Malam terasa cukup tenang.

Lampu jalan menyala di sepanjang trotoar.

Alisha mulai berjalan menuju rumahnya seperti biasa.

Langkahnya santai.

Ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil perlahan bergerak beberapa meter di belakangnya.

Di dalam mobil itu, dua pria tadi kembali memperhatikan.

“Sekarang,” kata pria di kursi penumpang.

Pengemudi mengangguk.

Mobil itu perlahan mendekat.

Alisha masih berjalan tanpa menyadari apa yang sedang terjadi.

Ia hampir sampai di jalan kecil yang menuju rumahnya.

Tiba-tiba suara mobil berhenti tidak jauh darinya.

Alisha menoleh.

Salah satu pria turun dari mobil.

“Permisi,” katanya.

Alisha berhenti berjalan.

“Ada apa?”

Pria itu berjalan mendekat beberapa langkah.

“Kami ingin bertanya sesuatu.”

Alisha mulai merasa tidak nyaman.

“Apa?”

Saat ia sedang memperhatikan pria di depannya, seseorang tiba-tiba muncul dari belakang.

Alisha terkejut.

Sebelum ia sempat bereaksi, tangan pria itu sudah mencengkeram lengannya.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak Alisha.

Ia mencoba melepaskan diri.

Pria di depannya langsung mendekat.

“Tenang saja.”

“Lepaskan aku!”

Alisha berusaha melawan.

Ia mencoba menarik tangannya.

Tas yang ia pegang terjatuh ke jalan.

Salah satu pria langsung menutup mulutnya dengan kain.

“Diam.”

Alisha mencoba berteriak tetapi suaranya tertahan.

Ia menendang dan mencoba melawan sebisa mungkin.

Namun dua pria itu jauh lebih kuat.

Mereka menariknya ke arah mobil.

Pintu belakang mobil dibuka.

Alisha terus berusaha melawan.

Tetapi akhirnya mereka berhasil mendorongnya masuk ke dalam mobil.

Pintu langsung ditutup.

Mobil itu melaju cepat meninggalkan tempat itu.

Tas Alisha masih tergeletak di jalan.

Beberapa detik kemudian suasana kembali sepi.

Tidak ada yang menyadari apa yang baru saja terjadi.

Di dalam mobil, Alisha masih berusaha melepaskan diri.

“Kalian siapa?” suaranya terdengar panik.

Pria yang duduk di sampingnya menatapnya dingin.

“Lebih baik kamu diam.”

Alisha mencoba membuka pintu mobil.

Tetapi pintu itu sudah terkunci.

Mobil melaju semakin cepat di jalan yang gelap.

Sementara itu tas Alisha masih berada di trotoar.

Ponselnya jatuh keluar dari tas.

Layar ponsel menyala.

Nama terakhir yang ia hubungi masih terlihat jelas.

Alvaro.

Beberapa waktu kemudian sebuah mobil berhenti di depan kafe yang sudah tutup.

Alvaro turun dari mobilnya.

Ia melihat pintu kafe yang sudah terkunci.

Lampu di dalam ruangan juga sudah dimatikan.

Alvaro mengeluarkan ponselnya.

Ia mencoba menelepon Alisha.

Telepon berdering beberapa kali.

Tetapi tidak ada jawaban.

Alvaro menurunkan ponselnya perlahan.

Perasaan aneh muncul di dadanya.

Ia berjalan menuju mobilnya.

Saat melewati trotoar, sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah tas kecil tergeletak di jalan.

Alvaro berhenti.

Ia mengenali tas itu.

Wajahnya langsung berubah tegang.

“Itu milik Alisha

Alvaro langsung mengambil tas itu dari jalan.

Ia mengenalinya dengan sangat jelas.

Tas kecil berwarna cokelat yang sering dibawa Alisha ketika bekerja.

Alvaro membuka tas itu dengan cepat.

Di dalamnya hanya ada beberapa barang kecil.

Dompet.

Kunci rumah.

Beberapa lembar uang.

Wajah Alvaro semakin tegang.

Alisha tidak mungkin meninggalkan tasnya begitu saja.

Ia melihat ke sekeliling jalan.

Trotoar itu cukup sepi.

Lampu jalan menyala redup.

Tidak ada orang di sekitar.

Alvaro menoleh ke arah jalan di depan kafe.

Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Ia mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor Alisha sekali lagi.

Nada sambung terdengar beberapa kali.

Tetapi tetap tidak ada jawaban.

Alvaro mengepalkan tangannya.

“Angkat teleponnya...” gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian panggilan itu terputus.

Alvaro menurunkan ponselnya perlahan.

Ia kembali melihat tas di tangannya.

Perasaan tidak tenang yang ia rasakan beberapa hari terakhir sekarang terasa semakin jelas.

Sesuatu benar-benar terjadi pada Alisha.

Alvaro berjalan beberapa langkah di sekitar trotoar.

Ia memperhatikan jalan dengan teliti.

Beberapa meter dari tempat ia berdiri, ia melihat sesuatu tergeletak di tanah.

Sebuah ponsel.

Alvaro langsung mendekat lalu mengambilnya.

Layar ponsel itu masih menyala.

Ia mengenali ponsel itu.

Ponsel milik Alisha.

Di layar terlihat panggilan terakhir.

Namanya sendiri.

Wajah Alvaro berubah semakin serius.

Sekarang ia yakin sesuatu telah terjadi.

Alvaro menatap jalan yang kosong di depannya.

Ia mencoba membayangkan apa yang mungkin terjadi di tempat itu.

Tas jatuh.

Ponsel terlempar.

Alisha menghilang.

Kemungkinan itu hanya satu.

Seseorang telah membawanya pergi.

Alvaro langsung menekan nomor lain di ponselnya.

Beberapa detik kemudian telepon tersambung.

“Damar.”

Suara pria itu terdengar dari seberang.

“Ada apa?”

Alvaro berbicara dengan nada tegang.

“Alisha hilang.”

Beberapa detik suasana di telepon menjadi hening.

Damar akhirnya menjawab.

“Maksudmu?”

“Aku menemukan tas dan ponselnya di depan kafe.”

Alvaro menatap jalan di depannya.

“Dia tidak mungkin meninggalkan semua ini begitu saja.”

Damar langsung mengerti situasinya.

“Kamu yakin dia diculik?”

Alvaro menjawab tanpa ragu.

“Aku yakin.”

Damar terdengar menarik napas.

“Baik. Jangan ke mana-mana.”

“Aku akan datang.”

Telepon ditutup.

Alvaro masih berdiri di tempat itu.

Matanya menyapu jalan yang gelap.

Beberapa kendaraan lewat di jalan utama.

Tetapi tidak ada satu pun yang berhenti.

Ia menggenggam ponsel Alisha dengan kuat.

Pikirannya dipenuhi kemarahan.

Siapa pun yang melakukan ini akan menyesal.

Di dalam mobil yang melaju di jalan raya yang lebih sepi, Alisha masih berada di kursi belakang.

Tangannya ditahan oleh pria di sampingnya.

Mobil itu bergerak cukup cepat.

Lampu kota mulai terlihat semakin jauh.

Alisha mencoba menenangkan dirinya meski jantungnya berdetak sangat cepat.

“Kalian mau membawaku ke mana?”

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!