Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyanyian Bu Darsia
Udara di desa tak lagi sama. Jika sebelumnya kematian Aning menyisakan lubang duka yang dalam, kematian Sapri membawa sesuatu yang jauh menyeramkan dan penuh tanda tanya. Garis polisi berwarna kuning yang kembali melintang di area persawahan seolah-olah menjadi urat nadi ketakutan yang berdenyut kencang di leher setiap warga.
Di balai desa, perdebatan pecah. Asap rokok meliuk-liuk di bawah lampu neon yang berkedip, mencerminkan kegelisahan para pria yang berkumpul.
"Tidak mungkin manusia bisa memelintir leher seperti itu tanpa meninggalkan jejak kaki di lumpur!" seru salah satu warga, tangannya gemetar saat menyulut kretek.
"Kalian lihat sendiri, tanah itu becek. Kalau ada orang kedua, pasti ada jejak sepatu atau pergumulan. Tapi ini? Hanya jejak Sapri yang terseret, seolah ditarik oleh angin."
"Jangan takhayul," sela Pak Warsito dengan nada yang dipaksakan tegas, meski matanya terus melirik ke arah pintu yang terbuka.
"Polisi sedang bekerja. Kita bicara fakta. Sapri itu pemabuk. Mungkin dia terjatuh, lalu..."
"Lalu apa? Lehernya berputar sendiri?" potong seorang pemuda di sudut ruangan.
"Semua orang tahu Sapri itu mulutnya besar. Jangan-jangan, benar kata orang... Aning menagih nyawa."
Seketika, ruangan itu senyap. Nama Aning yang diucapkan di tengah malam seperti memanggil kabut dingin masuk ke dalam ruangan.
Sementara itu, beberapa kilometer dari keriuhan balai desa, Bu Darsia duduk di ambang pintu rumahnya yang reyot. Matanya yang cekung menatap hamparan sawah di kejauhan, tempat di mana kegelapan seolah-olah memiliki bentuk. Di pangkuannya, sebuah selendang milik Aning didekap erat.
Beliau tidak menangis. Air matanya sudah mengering sejak Aning di makamkan beberapa hari yang lalu. Namun, ada semburat kepuasan yang ganjil di sudut bibirnya yang pecah-pecah. Bu Darsia yakin, api tak akan menyala jika tiada yang pemantiknya.
Bu Darsia mulai bergumam pelan. Bukan doa, melainkan sebuah rima lama yang biasa ia nyanyikan saat Aning masih kecil. Suara merdu nan sendunya membuat angin yang bertiup terasa menyeramkan. Dari kejauhan sesosok tak kasat mata terlihat meneteskan air mata darah memandang ke arah Bu Darsia. Pandangannya membawa luka yang dalam.
Sosok itu berdiri di batas antara bayang-bayang pohon jati dan keremangan cahaya bulan. Wajahnya pucat pasi, tampak kontras dengan aliran merah pekat yang terus mengalir dari kelopak matanya. Itu bukan lagi Aning yang dikenal warga desa, gadis pemalu dengan tawa renyah yang sering membantu ibunya menjemur padi. Kini dia datang dari rasa sakit yang tak terkatakan, sebuah entitas yang lahir dari ketidakadilan yang dipendam dan lahir dari dendam.
Bu Darsia menghentikan nyanyiannya. Ia tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran itu. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat tipis, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru siapa pun yang berani bersekutu dengan kegelapan.
"Lelaplah nak, di pangkuan bumi, biarkan dendammu mencari jalannya sendiri." bisik Bu Darsia, suaranya parau seperti gesekan amplas pada kayu tua.
"Baru satu, bersihkanlah siapapun yang membuatmu seperti itu." Ujarnya penuh penekanan dari wajah tuanya yang keriput.
Di kantor polisi sektor yang hanya diterangi lampu meja temaram, Inspektur Bayu memijat pangkal hidungnya. Di depannya, foto-foto forensik dari lokasi kematian Sapri tersebar acak. Benar kata warga, tidak ada jejak kaki lain. Secara teknis, secara medis, dan secara logis, kasus ini adalah anomali.
"Nadi lehernya putus total akibat putaran paksa sebesar 360°," gumam Bayu pada asistennya.
"Tulang servikalnya hancur seperti diperas oleh mesin hidrolik. Tapi lihat ini..."
Ia menunjuk ke arah foto tanah lumpur di sekitar mayat. Tekstur lumpur di sana sangat halus, tanpa ada jejak lain kecuali seretan tubuh Sapri sendiri.
"Jika ini pembunuhan, pelakunya tidak mungkin tidak meninggalkan jejak." lanjutnya dengan nada getir. Dia sudah sangat pusing, belum terpecahkan kasus kematian Aning, kini muncul lagi satu kasus yang juga membuatnya menjadi buntu.
Sampai detik ini, dia tak juga menemukan titik terang tentang kedua kasus kematian aneh itu.
Sementara itu, di rumah besar di ujung desa, seorang pria yang tadi tampak paling tenang di balai desa, sedang mengunci semua pintu dan jendela dengan tangan gemetar.
Ia tahu apa yang dilakukan Sapri, ia sendiri, dia sendiri berada dan turut mencicip Aning di malam terkutuk itu.
Dia mulai di liputi ketakutan, jika benar kematian Sapri akibat ulah arwah Aning yang bangkit menuntut balas, habislah dia.
Di dalam kamarnya yang luas dan di hinggapi rasa takut, dia dengan cepat menyalakan seluruh lampu hingga tak ada sudut yang gelap.
Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari balik pintu jati kamarnya. Srek... srek... Seperti suara kain yang diseret di atas lantai kayu.
"Siapa?!" teriaknya, suaranya melengking pecah. Dahinya basahi keringat dingin.
Kembali suara itu terdengar, kini semakin jelas.
"Siapa!" Teriaknya mundur hingga punggungnya menempel pada lemari besar. Matanya terbelalak saat melihat cairan merah kental mulai merembes dari bawah celah pintu.
Di tengah genangan itu, muncul jejak kaki.
Di kamarnya, kini terjepit di sudut. Sosok Aning telah berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya yang hancur karena benturan malam itu kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Air mata darahnya menetes, pria itu gemetar ketakutan.
"Aku... aku dipaksa Sapri! Tolong, Aning!" rintihnya memohon.
Sosok itu tidak bicara. Ia hanya menjangkau leher pria itu dengan tangan yang dinginnya melebihi es. Saat jemari pucat itu menyentuh kulitnya, pria itu merasakan tekanan yang luar biasa, seolah-olah seluruh berat bumi menimpa tulang lehernya.
"Ampuni aku Aning. A...aku tidak bersalah. A....aku hanya mengikuti mereka." Serunya ketakutan.
Tangan dingin itu semakin erat melilit lehernya. Pria itu, merasakan oksigen di paru-paru seakan menguap habis. Suara derak tulang lehernya sendiri terdengar nyaring di telinga, seperti ranting kering yang dipatahkan secara paksa. Ia mencoba berteriak, namun hanya suara parau tertahan yang keluar. Wajah Aning yang hancur kini hanya berjarak beberapa senti dari hidungnya, bau anyir darah memenuhi indra penciumannya.
"Tolong... Aning... maaf..." rintihnya dengan sisa tenaga. Air mata darah Aning jatuh menetes ke pipi pria itu. Dara Aning yang menetes terasa panas membakar kulitnya seperti cairan timah. Pandangannya mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari di depan matanya saat kepalanya diputar paksa ke arah yang tidak semestinya.
"TIDAK!!!"
Pria tersentak hebat. Tubuhnya terlonjak dari sofa di ruang tengah. Napasnya memburu, tersengal-sengal seperti orang yang baru saja tenggelam. Keringat dingin membasahi seluruh kaosnya hingga lepek. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan liar, ia masih berada di ruang tengah rumah besarnya.
Dia buru-buru menyentuh lehernya dengan tangan gemetar. Masih utuh. Ternyata dia baru saja mengalami mimpi buruk. Mungkin efek kematian Sapri yang mengerikan.
Dia pun meyakinkan dirinya kalau kematian Sapri tidak ada kaitannya dengan Aning. Dan, dia pasti akan baik-baik saja. Orang yang mati tidak mungkin akan bangkit.