NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyanyian Bu Darsia

Udara di desa tak lagi sama. Jika sebelumnya kematian Aning menyisakan lubang duka yang dalam, kematian Sapri membawa sesuatu yang jauh menyeramkan dan penuh tanda tanya. Garis polisi berwarna kuning yang kembali melintang di area persawahan seolah-olah menjadi urat nadi ketakutan yang berdenyut kencang di leher setiap warga.

Di balai desa, perdebatan pecah. Asap rokok meliuk-liuk di bawah lampu neon yang berkedip, mencerminkan kegelisahan para pria yang berkumpul.

"Tidak mungkin manusia bisa memelintir leher seperti itu tanpa meninggalkan jejak kaki di lumpur!" seru salah satu warga, tangannya gemetar saat menyulut kretek.

"Kalian lihat sendiri, tanah itu becek. Kalau ada orang kedua, pasti ada jejak sepatu atau pergumulan. Tapi ini? Hanya jejak Sapri yang terseret, seolah ditarik oleh angin."

"Jangan takhayul," sela Pak Warsito dengan nada yang dipaksakan tegas, meski matanya terus melirik ke arah pintu yang terbuka.

"Polisi sedang bekerja. Kita bicara fakta. Sapri itu pemabuk. Mungkin dia terjatuh, lalu..."

"Lalu apa? Lehernya berputar sendiri?" potong seorang pemuda di sudut ruangan.

"Semua orang tahu Sapri itu mulutnya besar. Jangan-jangan, benar kata orang... Aning menagih nyawa."

Seketika, ruangan itu senyap. Nama Aning yang diucapkan di tengah malam seperti memanggil kabut dingin masuk ke dalam ruangan.

Sementara itu, beberapa kilometer dari keriuhan balai desa, Bu Darsia duduk di ambang pintu rumahnya yang reyot. Matanya yang cekung menatap hamparan sawah di kejauhan, tempat di mana kegelapan seolah-olah memiliki bentuk. Di pangkuannya, sebuah selendang milik Aning didekap erat.

Beliau tidak menangis. Air matanya sudah mengering sejak Aning di makamkan beberapa hari yang lalu. Namun, ada semburat kepuasan yang ganjil di sudut bibirnya yang pecah-pecah. Bu Darsia yakin, api tak akan menyala jika tiada yang pemantiknya.

Bu Darsia mulai bergumam pelan. Bukan doa, melainkan sebuah rima lama yang biasa ia nyanyikan saat Aning masih kecil. Suara merdu nan sendunya membuat angin yang bertiup terasa menyeramkan. Dari kejauhan sesosok tak kasat mata terlihat meneteskan air mata darah memandang ke arah Bu Darsia. Pandangannya membawa luka yang dalam.

Sosok itu berdiri di batas antara bayang-bayang pohon jati dan keremangan cahaya bulan. Wajahnya pucat pasi, tampak kontras dengan aliran merah pekat yang terus mengalir dari kelopak matanya. Itu bukan lagi Aning yang dikenal warga desa, gadis pemalu dengan tawa renyah yang sering membantu ibunya menjemur padi. Kini dia datang dari rasa sakit yang tak terkatakan, sebuah entitas yang lahir dari ketidakadilan yang dipendam dan lahir dari dendam.

Bu Darsia menghentikan nyanyiannya. Ia tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran itu. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat tipis, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru siapa pun yang berani bersekutu dengan kegelapan.

"Lelaplah nak, di pangkuan bumi, biarkan dendammu mencari jalannya sendiri." bisik Bu Darsia, suaranya parau seperti gesekan amplas pada kayu tua.

"Baru satu, bersihkanlah siapapun yang membuatmu seperti itu." Ujarnya penuh penekanan dari wajah tuanya yang keriput.

Di kantor polisi sektor yang hanya diterangi lampu meja temaram, Inspektur Bayu memijat pangkal hidungnya. Di depannya, foto-foto forensik dari lokasi kematian Sapri tersebar acak. Benar kata warga, tidak ada jejak kaki lain. Secara teknis, secara medis, dan secara logis, kasus ini adalah anomali.

"Nadi lehernya putus total akibat putaran paksa sebesar 360°," gumam Bayu pada asistennya.

"Tulang servikalnya hancur seperti diperas oleh mesin hidrolik. Tapi lihat ini..."

Ia menunjuk ke arah foto tanah lumpur di sekitar mayat. Tekstur lumpur di sana sangat halus, tanpa ada jejak lain kecuali seretan tubuh Sapri sendiri.

"Jika ini pembunuhan, pelakunya tidak mungkin tidak meninggalkan jejak." lanjutnya dengan nada getir. Dia sudah sangat pusing, belum terpecahkan kasus kematian Aning, kini muncul lagi satu kasus yang juga membuatnya menjadi buntu.

Sampai detik ini, dia tak juga menemukan titik terang tentang kedua kasus kematian aneh itu.

Sementara itu, di rumah besar di ujung desa, seorang pria yang tadi tampak paling tenang di balai desa, sedang mengunci semua pintu dan jendela dengan tangan gemetar.

Ia tahu apa yang dilakukan Sapri, ia sendiri, dia sendiri berada dan turut mencicip Aning di malam terkutuk itu.

Dia mulai di liputi ketakutan, jika benar kematian Sapri akibat ulah arwah Aning yang bangkit menuntut balas, habislah dia.

Di dalam kamarnya yang luas dan di hinggapi rasa takut, dia dengan cepat menyalakan seluruh lampu hingga tak ada sudut yang gelap.

Tiba-tiba, suara gesekan halus terdengar dari balik pintu jati kamarnya. Srek... srek... Seperti suara kain yang diseret di atas lantai kayu.

"Siapa?!" teriaknya, suaranya melengking pecah. Dahinya basahi keringat dingin.

Kembali suara itu terdengar, kini semakin jelas.

"Siapa!" Teriaknya mundur hingga punggungnya menempel pada lemari besar. Matanya terbelalak saat melihat cairan merah kental mulai merembes dari bawah celah pintu.

Di tengah genangan itu, muncul jejak kaki.

Di kamarnya, kini terjepit di sudut. Sosok Aning telah berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya yang hancur karena benturan malam itu kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu. Air mata darahnya menetes, pria itu gemetar ketakutan.

"Aku... aku dipaksa Sapri! Tolong, Aning!" rintihnya memohon.

Sosok itu tidak bicara. Ia hanya menjangkau leher pria itu dengan tangan yang dinginnya melebihi es. Saat jemari pucat itu menyentuh kulitnya, pria itu merasakan tekanan yang luar biasa, seolah-olah seluruh berat bumi menimpa tulang lehernya.

"Ampuni aku Aning. A...aku tidak bersalah. A....aku hanya mengikuti mereka." Serunya ketakutan.

Tangan dingin itu semakin erat melilit lehernya. Pria itu, merasakan oksigen di paru-paru seakan menguap habis. Suara derak tulang lehernya sendiri terdengar nyaring di telinga, seperti ranting kering yang dipatahkan secara paksa. Ia mencoba berteriak, namun hanya suara parau tertahan yang keluar. Wajah Aning yang hancur kini hanya berjarak beberapa senti dari hidungnya, bau anyir darah memenuhi indra penciumannya.

"Tolong... Aning... maaf..." rintihnya dengan sisa tenaga. Air mata darah Aning jatuh menetes ke pipi pria itu. Dara Aning yang menetes terasa panas membakar kulitnya seperti cairan timah. Pandangannya mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari di depan matanya saat kepalanya diputar paksa ke arah yang tidak semestinya.

"TIDAK!!!"

Pria tersentak hebat. Tubuhnya terlonjak dari sofa di ruang tengah. Napasnya memburu, tersengal-sengal seperti orang yang baru saja tenggelam. Keringat dingin membasahi seluruh kaosnya hingga lepek. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan liar, ia masih berada di ruang tengah rumah besarnya.

Dia buru-buru menyentuh lehernya dengan tangan gemetar. Masih utuh. Ternyata dia baru saja mengalami mimpi buruk. Mungkin efek kematian Sapri yang mengerikan.

Dia pun meyakinkan dirinya kalau kematian Sapri tidak ada kaitannya dengan Aning. Dan, dia pasti akan baik-baik saja. Orang yang mati tidak mungkin akan bangkit.

1
Gadis misterius
Jngn ikut cmpur tomo biarkan aning blas dendam dan mencari siapa membunuh dia dan ngasih pelajaran untuk orang2 bodoh itu....jaka udin jngn sok atuh ayo klian kn sering melihat kematin yg diluar bhkn sering lht hntu aning dlm wujud korban lainya🤣🤣🤣🤣
Gadis misterius
trs yg membunuh aning siapa klu bkn herman cs ...kyk masih ada orang lain yg terlibat
Gadis misterius
mampusss kau karmin
Gadis misterius
Karmin2 sama bejat dngn anakmu ternyata
Gadis misterius
Kuku dan giginya cabut pksa aning dia terlalu jumawa sbangai manusia trs seret dijalan yg berbatu smpai mati hbis itu datangi wrga yg bodoh itu terorr kasih pelajaran yg setimpal
Aisyah Ashik
kenapa balas dendamnya aning menunggu ibunya mati, kapan semua orang tahu bahwa matinya aning karena diperkosa
Gadis misterius: aneh memang yg dibahas krmin cs trs
total 1 replies
Mega Arum
sblm mati seharusnya mereka tau anak2nya pembunuh Aning..
Gadis misterius
Jngn ksih ampun aning ratakn smuanya
Cucu Doank
kenapa aning ga menolong di saat ibunya di siksa ya?
Gadis misterius
Bnrkah aning dtng ,ataukah msih dlm perjlanan
Gadis misterius
Bpkmu itu sengaja pergi tomo dia sebangai kpl desa tk pnya hati dan kau mau jd pahlawan kesiangan sdh terlambatt krb aning akan membasmi mereka smua kecuali jaka udin dan asep yg akan selamat
Gadis misterius
Ya Allah teganya mereka
Agus Tina
Baguus
Agus Tina
Ini yang kutunggu, arwqh Aning membalaskan dendamnya. Ayo Aning tunjukan siqpa saja orqng yang telah membuatmu menderita, dan jika afa yang masih hidup buat dia hidup segan mati tak mau ...
Gadis misterius
Knp merasa barsalah kau warsito bknkah itu keinginanmu juga...kmn kpl desa kok tdk muncul dikala rakyatnya butuh pertolongan dasar manusia2 laknatt
Gadis misterius
Author yg baik serta budiman ,kpan karmin keparat itu mati rasanya awak sdh sngat muaak dngn segala tingkah lakunya dan lagi biarkan aning menampakkan diri kpd warga yg tdk pnya otak itu agar mereka tau klu aning mencari keadilan untuk dirinya dan ibunya ....sekian terimakasih🤭😍🤣😍
Agus Tina
Thor sisakan 1 agar bercerita kalau arwah Aning lah yg menuntut bakas pd mereka
Aisyah Ashik
hukum mereka semua aning, karena hukum dunia telah buta💪
Gadis misterius
Jaka udin gk usah dbntu biarin aza'di urus warsito dan kau karmin cs akan mati lebih mengenaskan di tngan aning
Gadis misterius
Sdh berkurang nunggu yg lainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!