Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela dapur, menerangi kepulan uap dari nasi goreng dan telur mata sapi yang baru saja matang.
Suasana pagi yang hangat saat Kinan menyiapkan bekal untuk Adnan dan Athar sebelum berangkat kerja terasa begitu damai.
Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan, hanya ada bunyi denting sendok dan aroma masakan yang menggugah selera.
Kinan dengan telaten menata kotak bekal berwarna biru untuk Athar dan kotak berwarna abu-abu untuk Adnan.
Ia menyelipkan potongan buah melon segar di sudut kotak tersebut, memastikan nutrisi keluarganya terpenuhi.
"Terima kasih Bunda," ucap Athar riang.
Bocah itu duduk di kursi tingginya, kakinya berayun-ayun sambil menikmati sarapannya dengan lahap.
Wajahnya yang bersih tampak sangat bahagia memiliki sosok ibu yang memperhatikannya setiap pagi.
Kinan tersenyum, lalu menatap Adnan yang sedang merapikan kancing lengan bajunya.
Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan sejak semalam, sebuah rencana untuk kemandiriannya dan masa depan Athar.
"Mas, nanti aku ke yayasan bersama Athar yang juga sudah aku daftarkan masuk PAUD," ucap Kinan perlahan, mencoba membaca ekspresi suaminya.
"Kebetulan gedung PAUD-nya masih dalam lingkungan yayasan Tuan Aris, jadi aku bisa menjemputnya saat jam istirahat kantor."
Kinan menjeda sejenak, menatap mata Adnan dengan tatapan yang penuh harap sekaligus sedikit ragu.
"Mas nggak keberatan kan?"
Adnan menghentikan gerakannya. Ia menatap Kinan, lalu beralih ke Athar yang sedang asyik makan.
Sebuah senyuman tulus merekah di wajahnya. Ia menyadari bahwa Kinan sedang berusaha menata kembali puing-puing hidupnya, dan sebagai suami, ia tidak punya alasan untuk menghalangi kemajuan istrinya—terutama demi pendidikan Athar.
"Tentu saja Mas tidak keberatan, Sayang. Justru Mas senang kalau Athar mulai bersosialisasi dan kamu mulai aktif berkarya lagi," jawab Adnan lembut.
Ia mendekat ke arah meja makan, lalu mengusap puncak kepala Athar.
"Tapi ingat ya, kalau lelah jangan dipaksakan. Kabari Mas kalau ada apa-apa."
Kinan merasa lega. Dukungan Adnan kali ini terasa nyata, bukan sekadar basa-basi untuk menebus kesalahan.
Kepercayaan yang mulai dipupuk kembali ini menjadi modal utama mereka untuk melangkah keluar rumah pagi itu dengan kepala tegak.
Kehangatan sarapan pagi itu ditutup dengan deru mesin mobil yang dipanaskan di halaman.
Adnan merapikan sorbannya di depan cermin ruang tamu, sesekali melirik anak dan istrinya yang tampak kompak dengan pakaian rapi.
Selesai sarapan, Adnan berpamitan menuju ke pondok pesantren untuk memimpin pengajian pagi.
Ia meraih tas kerjanya, lalu berdiri di ambang pintu.
Pandangannya tertuju pada Kinan dengan tatapan yang jauh lebih protektif namun lembut.
"Hati-hati nanti kalau ke yayasan," pesan Adnan sungguh-sungguh.
"Jaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah di hari pertama."
Kinan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Iya, Mas. Mas juga hati-hati di jalan."
Adnan mengelus puncak kepala Athar sejenak sebelum melangkah keluar.
Begitu mobil Adnan hilang di balik gerbang, Kinan menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa gugup yang menggelitik perutnya.
Hari ini adalah awal baru baginya sebagai wanita karier sekaligus seorang ibu.
Ia menoleh, melihat Athar yang selesai sarapan dengan bersih.
Bocah itu sudah menggendong tas ransel kecil bergambar robot yang dibelikan Adnan kemarin.
Wajahnya tampak sangat bersemangat, meski
ada sedikit rona cemas karena ini adalah hari pertamanya bersekolah.
"Sudah siap, Sayang? Bekalnya sudah masuk tas?" tanya Kinan lembut sambil merapikan kerah baju Athar.
"Sudah, Bunda! Athar mau belajar nulis nama Athar sendiri!" jawab bocah itu dengan binar mata yang jujur.
Kinan mengecup kening Athar, lalu menggandeng tangan kecil itu menuju mobil jemputan kantor yang sudah dipesan sebelumnya.
Dengan langkah mantap, Kinan mengajak berangkat ke yayasan.
Di dalam mobil, ia terus menggenggam tangan Athar, seolah saling memberikan kekuatan untuk menghadapi dunia luar yang sempat terasa begitu kejam, namun kini mulai menawarkan harapan baru.
Halaman Yayasan Aris tampak ramai dengan anak-anak kecil berseragam batik yang berlarian ceria.
Kinan menggandeng tangan Athar dengan erat, sesekali merapikan tas ransel robot milik bocah itu. Namun, baru saja mereka melangkah melewati gerbang area PAUD, langkah Athar mendadak terhenti.
Matanya membulat, menatap seorang pria muda yang sedang berdiri di depan pintu kelas.
"Om Galih!" teriak Athar dengan suara melengking.
Bocah itu melepaskan genggaman tangan Kinan dan berlari sekencang mungkin.
Pria yang dipanggil Galih itu menoleh, wajahnya yang semula tampak lelah mendadak berubah menjadi penuh keterkejutan sekaligus kelegaan yang luar biasa.
Galih yang mengajar di sana langsung memeluk Athar yang merupakan keponakannya.
"Akhirnya Om menemukanmu, Athar..." bisik Galih dengan suara bergetar.
Ia mendekap tubuh kecil itu seolah takut akan kehilangannya lagi.
Kinan terdiam saat ada lelaki yang memeluk Athar.
Jantungnya berdegup kencang, ada rasa takut yang tiba-tiba menyelinap di benaknya.
"Apakah ini berarti ia akan kehilangan putra angkatnya? Siapakah pria ini sebenarnya?" batin Kinan.
Melihat situasi yang emosional itu, Tuan Aris segera menghampiri dan mengajak mereka ke ruangan privasinya.
Kini, Kinan dan Galih berada di kantor yayasan untuk menjelaskan kronologi penemuan Athar. Suasana di ruangan itu terasa sangat formal namun sarat akan ketegangan.
"Maaf, saya baru datang dari luar negeri," Galih memulai penjelasannya dengan nada penuh sesal.
"Setelah kecelakaan itu, saya baru bisa kembali ke Indonesia selama tiga hari baru menuju rumah sakit. Tapi dokter mengatakan kalau ada seseorang yang sudah mengadopsi keponakan saya."
Galih menatap Kinan dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa terima kasih yang mendalam dan keinginan kuat untuk mengambil kembali darah dagingnya.
"Kakak saya, orang tua Athar, meninggal dalam kecelakaan itu. Saya adalah satu-satunya wali yang tersisa. Saya sudah mencari Athar ke mana-mana, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengajar di yayasan ini sambil terus menelusuri jejak orang yang membawanya," lanjut Galih.
Kinan meremas ujung jilbabnya. Ia teringat bagaimana ia merawat Athar saat bocah itu ketakutan di rumah sakit, bagaimana mereka makan bakso bersama, dan bagaimana Athar memanggilnya 'Bunda'.
Kini, kenyataan pahit menghantamnya: Athar memiliki keluarga kandung yang sah secara hukum.
Tuan Aris berdeham, mencoba menengahi. "Ini situasi yang cukup rumit. Kinan adalah desainer andalan kami dan ia telah memberikan kasih sayang luar biasa pada Athar. Di sisi lain, Nak Galih adalah paman kandungnya."
Suasana di ruang kepala yayasan mendadak terasa sempit saat Adnan datang ke yayasan setelah dikabari Kinan.
Adnan melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah, matanya langsung tertuju pada
Kinan yang tampak pucat, lalu beralih pada sosok pria muda yang duduk di hadapannya.
Adnan mencoba menenangkan diri. Sebagai seorang pendidik, ia tahu emosi tidak akan menyelesaikan masalah hak asuh.
Ia pun mulai berdiskusi dengan Galih secara dewasa.
"Saya sangat menghargai niat tulus Anda, Nak Galih. Sebagai paman kandung, Anda tentu memiliki hak yang sah secara hukum dan ikatan darah," ucap Adnan dengan suara baritonnya yang tenang. "Namun, perlu Anda ketahui, Kinan telah merawat Athar di saat-saat tersulitnya. Bagi Athar, Kinan adalah ibunya."
Di sudut ruangan, ketegangan itu pecah oleh isak tangis yang memilukan.
Athar yang menangis karena tidak ingin berpisah dari Kinan meskipun ia sangat menyayangi Om Galih.
Bocah itu memeluk pinggang Kinan dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di lipatan gamis bundanya.
"Bunda,Athar mau sama Bunda! Athar sayang Om Galih, tapi Athar nggak mau pergi!" tangisnya pecah, membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut teriris.
Galih tampak terpukul melihat reaksi keponakannya.
Ia menyadari bahwa selama ia berada di luar negeri, kekosongan figur orang tua di hati Athar telah diisi dengan sempurna oleh Kinan.
Galih mengusap wajahnya, mencoba mencari jalan tengah agar tidak menyakiti perasaan bocah sekecil itu.
"Saya tidak ingin memaksa Athar dan membuatnya trauma lagi," ucap Galih perlahan.
Ia menatap Adnan dan Kinan bergantian. "Bagaimana kalau seminggu di rumah Anda, seminggu di rumah saya?"
Tawaran Galih membuat ruangan itu hening sejenak. Itu adalah solusi yang adil bagi kedua belah pihak.
Kinan menunduk, mengusap air mata Athar dengan jemarinya yang gemetar.
"Sayang, dengar Bunda," bisik Kinan lembut.
"Om Galih itu keluarga Athar juga. Bagaimana kalau Athar gantian menginap? Seminggu sama Bunda dan Ayah, seminggu sama Om Galih. Jadi Athar punya dua rumah yang sayang sama Athar. Mau?"
Athar berhenti terisak. Ia menatap mata Kinan yang berkaca-kaca, lalu menatap Om Galih yang merentangkan tangan ke arahnya.
Dengan ragu namun penuh harapan, Athar menganggukkan kepalanya perlahan.
Keputusan itu menjadi jembatan perdamaian di antara mereka.
Meski berat bagi Kinan untuk membayangkan rumahnya akan terasa sepi selama seminggu, ia tahu bahwa inilah yang terbaik bagi masa depan dan identitas Athar.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅