Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 Jantung di labirin kaca
Udara di Blankenese terasa membeku, seolah-olah waktu sendiri telah berhenti di pinggiran Sungai Elbe yang kelabu.
Sekar merayap di antara bayang-bayang pepohonan ek yang menjulang, matanya tertuju pada pintu belakang gudang kimia yang disebutkan Dr. Steiner.
Setiap embusan napasnya menciptakan kabut tipis di udara, sementara detak jantungnya beradu cepat dengan desiran angin malam yang membawa aroma amis sungai dan bahan kimia industri.
Ia meraba saku blazernya, memastikan pisau bedah cadangan dan botol kecil anestesi tetap pada tempatnya.
Setelah sepuluh tahun, ia kembali ke tanah ini bukan sebagai mahasiswa yang penuh harapan, melainkan sebagai seorang ibu yang hatinya telah mengeras seperti baja.
Pintu gudang itu berderit pelan saat Sekar mendorongnya. Di dalam, bau sulfur dan klorin menyengat indra penciumannya. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu indikator pada tangki-tangki besar.
"Sekar..."
Sesosok pria tua dengan rambut putih yang berantakan dan jubah laboratorium yang kotor muncul dari balik bayangan. Dr. Steiner tampak jauh lebih kurus dan gemetar dibandingkan terakhir kali Sekar melihatnya di Berlin. Matanya yang cekung memancarkan rasa bersalah yang mendalam.
"Dokter Steiner, Anda masih hidup?" bisik Sekar, antara lega dan amarah. "Mereka bilang Anda tewas dalam kecelakaan di autobahn."
"Itu adalah bagian dari skenario mereka untuk membungkamku, Sekar," Steiner mendekat, suaranya parau. "Von Hess memalsukan kematianku agar aku bisa terus bekerja sebagai budak di laboratorium bawah tanah ini. Mereka membutuhkan pengetahuanku tentang kelainan vaskular keluargamu. Mereka mengancam keluargaku... Aku tidak punya pilihan."
Sekar mencengkeram lengan baju Steiner dengan kuat. "Jangan bicara soal pilihan padaku. Di mana Lukas? Di mana anakku?"
Steiner menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar Sekar mengikutinya melewati lorong sempit di antara pipa-pipa gas.
Mereka menuruni tangga besi yang curam menuju lantai bawah tanah yang tidak tercantum dalam cetak biru bangunan mana pun.
Di sana, suasana berubah drastis. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca kedap suara, memperlihatkan ruangan-ruangan steril dengan peralatan medis yang lebih canggih daripada yang pernah Sekar lihat di RS Wijaya.
Di ujung lorong, di sebuah ruangan yang dikelilingi oleh monitor monitor pemantau, Lukas terbaring.
Sekar terpaku di depan kaca. Anak itu tampak begitu rapuh di bawah sorotan lampu neon yang dingin. Tubuhnya yang mungil terhubung ke berbagai selang yang mengalirkan cairan berwarna biru pucat—serum vaskular eksperimental yang dikembangkan Von Hess.
Dada Lukas naik-turun dengan susah payah, setiap napasnya tampak seperti perjuangan melawan maut.
"Mereka menggunakan serum itu untuk memicu pertumbuhan pembuluh darah baru secara paksa," Steiner menjelaskan dengan nada getir. "Tapi pembuluh-pembuluh baru itu rapuh, Sekar. Mereka pecah dan menyebabkan pendarahan internal yang konstan. Mereka sedang menguji ketahanan genetiknya terhadap perdarahan hebat."
Sekar memukul kaca itu dengan kepalan tangannya, suara duk yang tumpul bergema di lorong. "Mereka menyiksanya... Mereka menyiksa anak kecil demi sebuah paten obat?"
"Bukan hanya paten, Sekar. Ini tentang keabadian bagi keluarga Von Hess. Tuan Von Hess menderita penyakit yang sama, dan Lukas adalah satu-satunya sumber jaringan hidup yang kompatibel untuk transplantasi regeneratifnya kelak."
Amarah Sekar mendidih hingga ke titik puncak. Ia tidak lagi peduli pada keamanan atau rencana pelarian yang rapi. Ia mendorong pintu ruangan steril itu.
Alarm berbunyi pelan saat Sekar masuk, namun Steiner dengan cepat mematikan sistem keamanan dari konsol utama. "Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum penjaga melakukan patroli rutin," peringatnya.
Sekar mendekati ranjang Lukas. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang skalpel kini bergetar hebat saat ia menyentuh pipi Lukas yang pucat dan dingin.
Anak itu perlahan membuka matanya. Mata gelap yang sangat mirip dengan milik Rahman, namun di dalamnya tidak ada binar kehidupan, hanya ada kekosongan yang dalam.
"Si... siapa?" bisik Lukas dalam bahasa Jerman yang terbata-bata.
Sekar menahan tangisnya sekuat tenaga. Ia mengulas senyum paling lembut yang ia miliki. "Aku ibumu, Lukas. Aku datang untuk membawamu pulang."
Lukas menatapnya lama, seolah-olah sedang mencari sisa-sisa memori yang hilang di alam bawah sadarnya. "Ibu? Ibu yang ada di dalam mimpiku?"
"Iya, Sayang. Ibu yang selalu mencarimu."
Sekar segera memeriksa monitor. Kondisi Lukas jauh lebih buruk dari dugaannya. Ada tanda-tanda awal tamponade jantung—cairan mulai menumpuk di sekitar jantungnya akibat efek samping serum biru itu.
Jika tidak segera dilakukan tindakan dekompresi, jantung Lukas akan berhenti berdetak dalam hitungan jam.
"Steiner, aku harus melakukan perikardiosentesis sekarang juga! Jantungnya tertekan!" seru Sekar sambil membuka tas medisnya.
"Di sini? Tanpa peralatan ruang operasi yang memadai?" Steiner panik.
"Aku seorang ahli bedah vaskular terbaik yang mereka miliki, dan aku tidak akan membiarkan anakku mati karena prosedur standar yang membosankan!" Sekar mengeluarkan jarum panjang dan spuit.
Dengan presisi yang mematikan, ia menusukkan jarum ke bawah tulang dada Lukas. Lukas merintih pelan, namun ia terlalu lemah untuk memberontak.
Sekar menarik napas lega saat cairan kemerahan mulai mengisi spuit. Tekanan pada jantung Lukas berkurang, dan ritme di monitor mulai stabil.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur dan berat terdengar dari lorong atas. Suara radio panggil menyalak, menandakan bahwa sistem keamanan yang dimatikan Steiner telah terdeteksi.
"Mereka datang!" Steiner menarik Sekar. "Kita harus pergi lewat jalur pembuangan limbah!"
Sekar segera mencabut selang-selang biru dari tubuh Lukas. Ia membungkus tubuh kecil itu dengan selimut tebal dan menggendongnya.
Lukas yang lemas menyandarkan kepalanya di bahu Sekar, tangannya yang kurus mencengkeram jas putih ibunya.
"Jangan takut, Lukas. Ibu memegangmu," bisik Sekar.
Saat mereka berlari menuju pintu keluar darurat, lampu di seluruh fasilitas mendadak berubah menjadi merah berkedip. Suara bariton yang dingin bergema melalui pelantang suara.
"Dokter Sekar, Anda telah melintasi batas yang tidak seharusnya. Kembalikan aset kami, atau Anda tidak akan pernah meninggalkan Hamburg hidup-hidup."
Itu adalah suara Tuan Von Hess.
Sekar terus berlari, mengikuti Steiner melewati lorong-lorong sempit yang berbau antiseptik. Namun, di ujung lorong utama yang menuju gudang, langkah mereka terhenti. Pintu baja besar itu tertutup rapat.
Dan di depan pintu itu, berdiri nyonya Wijaya.
Wanita itu mengenakan jubah bulu hitam yang mewah, kontras dengan latar belakang laboratorium yang steril. Di sampingnya, berdiri dua orang pria bersenjata lengkap dengan seragam keamanan Von Hess.
"Cukup, Sekar," kata nyonya Wijaya, suaranya tenang namun penuh kebencian. "Kembalikan anak itu. Dia adalah jaminan bagi masa depan keluarga Wijaya. Kau tidak akan bisa membawanya pergi. Dunia akan menganggapmu sebagai penculik bayi yang gila."
"Nyonya Wijaya..." Sekar menatap wanita itu dengan pandangan yang bisa membakar. "Anda menjual darah daging Anda sendiri demi saham? Anda membiarkan cucu Anda dijadikan kelinci percobaan?"
"Dia bukan cucuku. Dia adalah kesalahan yang harus diperbaiki," sahut nyonya Wijaya dingin. "Pilihannya sederhana, Sekar. Berikan Lukas padaku, dan aku akan membiarkanmu pulang ke Jakarta untuk tetap menjadi dokter bedah hebat. Atau, mati di sini sebagai kriminal yang terlupakan."
Sekar memeluk Lukas lebih erat. Ia bisa merasakan detak jantung anaknya yang lemah di dadanya. "Aku lebih baik mati bersama anakku di sini daripada hidup di dunia yang berisi orang-orang seperti Anda."
Nyonya Wijaya memberi isyarat kepada para penjaga. "Lakukan. Tapi jangan lukai asetnya."
Para penjaga melangkah maju, senjata mereka terangkat. Namun, sebelum mereka sempat bertindak, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah langit-langit. Debu dan serpihan beton jatuh, diikuti oleh sosok yang melompat turun dengan gerakan yang terlatih.
Rahman.
Ia berdiri di antara Sekar dan para penjaga, tangannya memegang sebuah alat pemicu kecil. "Jangan bergerak! Aku sudah memasang termit di tangki-tangki bahan kimia di atas. Satu gerakan salah, dan seluruh tempat ini akan meledak!"
Wajah Nyonya Wijaya memucat. "Rahman? Apa yang kau lakukan? Kamu ingin membunuh ibumu sendiri?"
"Mama sudah membunuhku sepuluh tahun lalu saat membiarkan bayi ini diambil," sahut Rahman, matanya merah karena amarah dan air mata yang tertahan. "Sekar, bawa Lukas pergi! Alvin sudah menunggu di dermaga belakang dengan speedboat!"
Sekar menatap Rahman sejenak, ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan, namun situasi tidak memungkinkan. Ia mengangguk, lalu berlari melewati Steiner menuju pintu rahasia lainnya yang ditunjukkan Rahman.
"Rahman! Kembali!" teriak nyonya Wijaya.
Rahman tidak bergerak. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang penuh dengan perpisahan. "Selamat tinggal, Ma. Hari ini, keluarga Wijaya benar-benar berakhir."
Sekar terus berlari menembus kegelapan malam Hamburg, menuju dermaga yang dingin.
Di belakangnya, ia mendengar suara tembakan dan teriakan. Ia tidak berani menoleh. Fokusnya hanya satu: napas Lukas yang mulai tersengal di pelukannya.
Dendam ini telah mencapai titik di mana darah harus dibayar dengan darah. Dan Sekar menyadari, meskipun ia berhasil melarikan diri malam ini, Lukas mungkin tidak akan bertahan lama karena racun serum biru itu sudah merusak organ organ dalamnya.
Ini bukan awal dari kemenangan. Ini adalah awal dari perpisahan yang paling tragis.