mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 13: Cinta dalam Berbagai Rupa
Enam bulan kemudian.
Jakarta memasuki musim hujan. Setiap sore, langit berubah kelabu dan hujan turun dengan setia, membasahi jalanan yang macet dan mendinginkan udara yang panas. Tapi di dalam rumah Menteng, suasana selalu hangat.
Arsya duduk di ruang kerjanya di lantai dua, menyelesaikan gambar desain untuk proyek baru. Di luar, hujan mengguyur deras, tapi ia tidak terganggu. Justru suara hujan membuatnya lebih fokus.
Di lantai bawah, Kalara sedang sibuk di dapur. Aroma masakan tercium hingga ke atas—sesuatu yang gosong, kalau boleh ditebak.
Arsya tersenyum sendiri. Hidupnya sekarang sangat berbeda dari setahun lalu. Dulu, ia pulang ke apartemen sepi, makan malam sendiri, tidur sendiri. Sekarang, ia pulang ke rumah yang ramai, dengan adik yang selalu punya cerita, dan kadang tamu-tamu yang mampir.
Tidak buruk. Malah, sangat baik.
"Kak!" teriak Kalara dari bawah. "Turun! Makan!"
Arsya meletakkan pensilnya, lalu turun ke lantai bawah. Di ruang makan, meja sudah ditata: spaghetti dengan saus tomat, salad, dan—satu piring hitam yang mengeluarkan asap.
"Itu apa yang gosong?" tanya Arsya sambil duduk.
"Itu garlic bread. Sedikit gosong. Tapi masih enak."
"Sedikit? Itu hitam, Dik."
"Kak! Makan aja, jangan banyak protes."
Arsya tertawa. Ia mengambil sepotong roti gosong itu, mengupas bagian hitamnya, lalu mencoba. "Masih enak, ternyata."
"Kan gue bilang."
Mereka makan bersama. Di luar, hujan makin deras. Sesekali petir menyambar, membuat lampu berkedip.
"Kak, gue mau ngomong sesuatu."
Arsya mendongak. Wajah Kalara serius, tapi ada kilatan gugup di matanya.
"Ngomong apa?"
Kalara menarik napas. "Gue... gue mau pacaran."
Arsya hampir tersedak. "Apa?"
"Pacaran. Kau tahu, kan? Relationship. Boyfriend-girlfriend thing."
"Aku tahu apa itu pacaran. Tapi dengan siapa? Kenapa tiba-tiba?"
Kalara tersipu. Jarang sekali Arsya melihatnya malu-malu.
"Kenal, kok. Orangnya baik."
"Siapa?"
"Raka."
Arsya mengerutkan kening. "Raka? Barista di kafe langgananmu?"
"Iya. Yang dulu suka gue tawarin kopi gratis."
"Dia... bukannya dulu gue dengar kamu bilang dia terlalu baik, takut kecewa?"
"Itu dulu. Sekarang beda." Kalara menatap Arsya serius. "Gue sudah sembuh, Kak. Setidaknya, gue sedang dalam proses sembuh. Dan gue merasa siap untuk mencoba lagi. Untuk membuka hati lagi."
Arsya diam. Sebagai kakak, ia ingin melindungi adiknya dari sakit hati. Tapi sebagai manusia yang juga pernah terluka, ia tahu bahwa menutup hati bukan solusi.
"Kau yakin?"
"Yakin. Raka baik. Dia sabar. Dia sudah nunggu gue bertahun-tahun, Kak. Tanpa memaksa, tanpa tekanan. Dia tahu semua cerita gue, tentang ayah, tentang trauma, tentang ketakutan gue pada komitmen. Dan dia tetap di sini."
Arsya menghela napas. "Kapan mulai pacaran?"
"Belum mulai. Gue mau minta restu dulu. Dari Mama, dari kamu."
"Restu?"
"Iya. Kalau kamu bilang nggak setuju, mungkin gue pikir-pikir lagi."
Arsya tersenyum. Adiknya ini, meskipun keras kepala, ternyata masih menghargai pendapatnya.
"Apa dia bisa jagain kamu? Bikin kamu bahagia?"
"Gue rasa iya."
"Kalau dia sakiti kamu, gue hajar."
Kalara tertawa. "Kak, kamu kan arsitek. Bukan petinju."
"Arsitek juga bisa hajar. Pake penggaris besi."
Mereka tertawa bersama. Lalu Arsya meraih tangan Kalara.
"Dik, aku hanya ingin kamu bahagia. Jika Raka bisa memberimu itu, aku restui."
Kalara memeluknya. "Makasih, Kak. Makasih banyak."
"Tapi ingat, dia harus datang ke sini. Kenalan resmi. Makan malam keluarga."
"Tentu. Gue undang minggu depan."
Arsya mengangguk. Di luar, hujan reda. Pelangi muncul samar-samar di langit Jakarta yang cerah setelah hujan.
---
Minggu berikutnya, Raka datang ke rumah Menteng.
Pria itu datang dengan pakaian rapi—kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, sepatu pantofel mengilap. Sangat berbeda dari penampilannya sehari-hari di kafe dengan rambut ikal acak-acakan dan kaus oblong.
"Masuk, masuk," sambut Kalara, menarik tangannya.
Arsya sudah menunggu di ruang tamu. Ia duduk di kursi utama, mencoba tampang berwibawa seperti ayah dalam film-film.
"Selamat malam, Mas Arsya," sapa Raka sopan.
"Selamat malam. Silakan duduk."
Raka duduk di kursi seberang. Kalara duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
"Malam ini saya undang Mas Raka makan malam," kata Kalara memulai. "Sekaligus perkenalan resmi."
Arsya mengangguk. "Mas Raka, saya dengar Anda sudah lama kenal Kara."
"Iya, Mas. Sekitar tiga tahun. Saya barista di kafe langganannya."
"Dan baru sekarang pacaran?"
Raka tersenyum canggung. "Saya nunggu Kara siap. Saya tahu dia punya... masa lalu. Saya tidak mau memaksa."
Arsya mengamatinya. Matanya jujur. Tidak ada tipu daya.
"Kalau boleh tahu, Mas Raka kerja di kafe terus? Atau ada usaha lain?"
"Saya pemilik kafe itu, Mas. Bekerja sebagai barista karena saya suka interaksi sama pelanggan. Tapi punya beberapa cabang juga di Jakarta dan Bandung."
Oh. Ternyata tidak sekadar barista biasa.
"Bagus. Dan rencana ke depan dengan Kara?"
Raka menatap Kalara, lalu kembali ke Arsya. "Saya ingin serius, Mas. Saya tahu Kara punya trauma. Saya siap mendampingi dia, sesabar apa pun prosesnya. Saya tidak akan pergi."
Kalara tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Arsya diam beberapa saat. Lalu tersenyum.
"Baik, Mas Raka. Saya percaya. Tapi ingat, Kalara bukan hanya adik saya. Dia sahabat saya, partner saya, keluarga saya. Kalau sampai dia menangis karena Anda, saya tidak akan diam."
Raka mengangguk tegas. "Saya paham, Mas. Saya janji akan jaga dia baik-baik."
"Bagus. Sekarang, mari makan."
Makan malam berlangsung hangat. Raka ternyata orangnya asyik, bisa diajak ngobrol tentang banyak hal. Ia juga tidak canggung dengan Arsya yang kadang masih kaku. Sesekali ia membantu Kalara membereskan piring, menunjukkan sikap perhatian yang tulus.
Setelah Raka pulang, Arsya dan Kalara duduk di ruang tamu.
"Gimana, Kak?" tanya Kalara cemas.
"Dia baik."
"Serius? Nggak ada yang aneh?"
"Ada."
"Apa?" Kalara tegang.
"Dia terlalu ganteng buat kamu."
"Kak!" Kalara melempar bantal. "Jahat!"
Arsya tertawa. "Bercanda. Dia baik, Dik. Aku setuju."
Kalara menghela napas lega. "Makasih, Kak."
"Tapi ingat, kalau dia macam-macam..."
"Iya, iya. Pake penggaris besi. Udah hafal."
Mereka tertawa bersama. Di luar, bulan purnama bersinar terang, seolah merestui cinta baru yang mulai tumbuh.
---
Dua minggu kemudian, giliran Arsya yang mendapat kejutan.
Suatu sore, saat ia sedang bekerja di ruang kerjanya, Kalara masuk tanpa mengetuk.
"Kak! Ada tamu!"
Arsya menoleh. "Tamu? Siapa?"
"Cewek. Cantik. Datangnya pake mobil mewah."
Arsya mengernyit. Ia tidak ingat punya janji dengan siapa pun.
"Suruh tunggu di ruang tamu. Aku turun sebentar."
Beberapa menit kemudian, Arsya turun. Di ruang tamu, seorang wanita duduk dengan anggun. Rambut panjang hitam lurus, kulit putih, gaun sederhana tapi elegan. Ia tersenyum saat melihat Arsya.
"Arsya."
Arsya tertegun. "Nadia?"
Wanita itu—Nadia—tertawa kecil. "Masih ingat aku?"
"Tentu. Sudah lama sekali." Arsya duduk di kursi seberang. "Apa kabar? Kok bisa ke sini?"
Nadia adalah teman kuliah Arsya dulu. Mereka satu jurusan arsitektur, sering kerja kelompok bersama. Sempat dekat, tapi kemudian Nadia pindah ke luar negeri setelah lulus.
"Kabar baik. Aku baru balik ke Jakarta minggu lalu. Denger-denger kamu punya proyek besar, rumah tua Menteng yang viral itu."
Arsya tersenyum. "Iya. Itu rumahku sekarang."
"Rumahmu? Bukan proyek klien?"
"Awalnya proyek. Tapi panjang ceritanya. Intinya, sekarang aku dan adikku yang punya."
"Adik? Kamu punya adik?" Nadia terkejut. "Dulu aku kira kamu anak tunggal."
"Cerita panjang juga. Nanti aku ceritakan." Arsya menoleh ke dapur. "Kara! Ke sini!"
Kalara muncul, matanya awas mengamati Nadia.
"Ini Nadia, teman kuliahku dulu. Ini Kalara, adikku."
"Senang bertemu," sapa Nadia ramah.
"Senang bertemu juga," balas Kalara, masih dengan sorot mata tajam.
Mereka mengobrol beberapa saat. Nadia bercerita tentang sepuluh tahunnya di Belanda, bekerja di biro arsitektur terkenal. Ia pulang karena ingin membuka praktik sendiri di Jakarta.
"Aku dengar kamu juga buka praktik sendiri," kata Nadia. "Wiraguna & Associates, kan? Mungkin kita bisa kerja sama suatu hari."
"Tentu, bisa diatur."
Setelah Nadia pulang, Kalara langsung menghampiri Arsya dengan tatapan interogatif.
"Kak."
"Hm?"
"Siapa dia?"
"Teman kuliah."
"Cuma teman?"
Arsya menghela napas. "Dulu... sempat dekat. Tapi tidak pernah pacaran. Lalu dia pindah."
"Masa lalu?"
"Ya, bisa dibilang."
Kalara tersenyum licik. "Dia cantik. Elegan. Sukses. Masih single?"
"Aku tidak tahu."
"Cari tahu, Kak. Jangan sia-siakan kesempatan."
"Kara..."
"Apa? Gue udah punya Raka. Sekarang giliran kamu. Mumpung ada yang datang."
Arsya menggeleng. "Aku tidak sedang mencari."
"Justru yang kamu cari itu datang sendiri, Kak. Itu namanya jodoh."
Arsya tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ada getaran kecil. Getaran yang sudah lama tidak ia rasakan.
---
Seminggu kemudian, Nadia datang lagi.
Kaliunya dengan alasan ingin melihat-lihat rumah Menteng. Arsya menemaninya berkeliling, menjelaskan sejarah rumah dan proses renovasinya.
"Ini luar biasa," puji Nadia saat mereka di ruang bawah tanah—tempat dulu mereka menemukan map berisi rahasia keluarga. "Kalian benar-benar mempertahankan jiwa rumah ini."
"Terima kasih. Itu memang tujuannya."
Nadia menatap Arsya lama. "Kamu berbeda, Ars."
"Berbeda bagaimana?"
"Dulu waktu kuliah, kamu selalu serius, fokus, kayak nggak punya perasaan. Sekarang... ada kehangatan di matamu."
Arsya tersenyum. "Banyak yang berubah."
"Aku dengar ceritamu. Dari berita. Tentang orang tuamu, tentang adikmu. Maaf, ya."
"Bukan salahmu. Lagipula, semua sudah berlalu."
Mereka naik ke lantai atas. Di beranda belakang, Kalara sudah menyiapkan teh dan kue.
"Nadia, tinggal makan sore, yuk," ajak Kalara ramah. "Gue buat kue."
"Wah, repot-repot."
"Enggak kok. Santai aja."
Mereka duduk di beranda. Sore itu cerah, angin sepoi-sepoi. Kalara sengaja membuat diri sibuk dengan ponselnya, memberi ruang bagi Arsya dan Nadia.
"Adikmu baik," kata Nadia.
"Iya. Dia yang banyak mengubah aku."
"Beruntung punya dia."
Arsya mengangguk. "Aku tahu."
Mereka mengobrol sampai matahari terbenam. Tentang pekerjaan, tentang mimpi, tentang kehidupan. Nadia bercerita tentang kesepiannya di Belanda, tentang betapa ia merindukan Indonesia. Arsya bercerita tentang perjalanannya menemukan keluarga, tentang bagaimana luka bisa sembuh.
Saat Nadia pamit, Kalara menyenggol Arsya.
"Kak, antar sampai mobil."
"Emangnya perlu?"
"Sopan santun, Kak. Masa tamu disuruh jalan sendiri?"
Arsya menghela napas, tapi menurut. Ia mengantar Nadia ke mobil.
"Nadia."
"Iya?"
"Makasih sudah datang. Seneng ngobrol sama kamu."
Nadia tersenyum. "Aku juga, Ars. Mungkin lain kali kita bisa ketemu lagi? Untuk ngobrol yang lebih... serius?"
Arsya menatapnya. Mata Nadia jujur, terbuka. Tidak ada permainan.
"Boleh. Aku tunggu."
Nadia tersenyum lebar, lalu masuk ke mobil. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Arsya yang berdiri di depan pagar dengan perasaan aneh di dada.
Perasaan yang mungkin—mungkin—adalah awal dari sesuatu.
---
Malam harinya, Kalara menginterogasi Arsya di ruang keluarga.
"Gue lihat, Kak. Ada bunga-bunga."
"Apa?"
"Bunga-bunga. Antara lo sama Nadia. Jangan pura-pura nggak tahu."
Arsya duduk di sofa, pasrah. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."
"Lo tahu. Lo cuma pura-pura bego." Kalara duduk di sampingnya. "Kak, gue seneng kalau lo mau buka hati. Lo pantas bahagia."
"Kara, aku..."
"Gue tahu lo masih trauma. Masa lalu lo berat. Tapi lihat gue. Gue juga trauma, tapi gue berani coba lagi. Lo juga harus berani."
Arsya diam. Kalara benar.
"Gimana kalau gagal?" tanyanya lirih.
"Gagal itu biasa, Kak. Yang penting lo udah coba. Dan kalau gagal, lo punya gue. Lo punya keluarga. Lo nggak akan sendirian."
Arsya menatap adiknya. Wanita muda ini, dengan segala luka dan traumanya, ternyata lebih berani darinya.
"Kadang aku lupa kalau kamu adikku. Kamu lebih dewasa dari aku."
Kalara tertawa. "Gue emang lebih dewasa. Lo aja yang kekanak-kanakan."
"Kurang ajar."
Mereka tertawa. Lalu Kalara meraih tangan Arsya.
"Kak, serius. Lo pantas bahagia. Setelah semua yang lo lalui, lo pantas dapat cinta. Jangan tutup pintu. Siapa tahu Nadia adalah jawabannya."
Arsya mengangguk. "Aku coba."
"Bukan coba. Lakuin."
Arsya tersenyum. "Baik, Bu Komandan."
---
Dua minggu kemudian, Arsya mengajak Nadia kencan pertama.
Mereka makan malam di restoran Italia langganan Arsya dulu, tempat yang sepi dan romantis. Awalnya canggung, tapi perlahan mengalir. Nadia bercerita tentang pekerjaannya, Arsya bercerita tentang proyek renovasi terbaru.
Setelah makan, mereka berjalan di sepanjang kawasan kota tua. Lampu-lampu temaram, suara musik dari kafe-kafe sekitar, dan angin malam yang sejuk.
"Aku senang kita melakukan ini," kata Nadia.
"Aku juga."
"Ars, aku mau jujur sesuatu."
Arsya menatapnya. "Apa?"
"Dulu waktu kuliah, aku sebenarnya suka sama kamu. Tapi kamu terlalu... dingin. Susah didekatin. Aku pikir kamu nggak tertarik, akhirnya aku ambil tawaran kerja di luar negeri."
Arsya terkejut. "Aku tidak tahu."
"Iya, kamu nggak tahu. Kamu terlalu sibuk sama duniamu sendiri."
"Maaf."
"Nggak perlu minta maaf. Mungkin itu yang terbaik. Karena sekarang, di sini, kita bertemu lagi. Dengan versi kita yang lebih matang."
Arsya meraih tangan Nadia. "Nadia, aku juga mau jujur. Aku punya banyak luka. Masa laluku berat. Tapi aku sedang belajar untuk sembuh, untuk membuka hati. Dan aku ingin kamu jadi bagian dari proses itu."
Nadia tersenyum. "Aku di sini, Ars. Aku nggak ke mana-mana."
Mereka berhenti di bawah lampu taman. Nadia menatap Arsya, lalu perlahan—sangat perlahan—Arsya mendekat dan mencium keningnya.
Ciuman lembut, penuh arti.
"Aku mau pelan-pelan," bisik Arsya. "Tapi aku serius."
"Aku juga serius. Dan pelan-pelan itu baik."
Mereka berjalan lagi, tangan bergandengan. Malam itu, di kawasan kota tua yang romantis, dua hati yang pernah terluka mulai saling mendekat.
---
Pukul sepuluh malam, Arsya pulang ke rumah Menteng.
Kalara masih bangun, duduk di ruang tamu dengan buku di tangan—buku harian ibunya, yang sudah dibaca berulang kali.
"Kak! Kok baru pulang?"
"Kencan."
Kalara membelalak. "Kencan? Dengan Nadia?"
"Iya."
"Gimana? Gimana?"
Arsya duduk di sofa, tersenyum. "Baik. Aku suka dia."
Kalara berjingkrak. "Yess! Akhirnya! Kakakku laku juga!"
"Kara, tolong..."
"Gue seneng, Kak! Serius!" Kalara memeluknya. "Makanya, jangan terlalu dingin. Orang jadi males deketin."
"Makasih sarannya."
"Sama-sama. Itu tugas adik." Kalara melepas pelukan. "Cerita detail, dong. Dari awal."
Arsya menghela napas, lalu bercerita. Tentang makan malam, tentang jalan-jalan, tentang pengakuan Nadia, tentang ciuman di kening. Kalara mendengarkan dengan mata berbinar.
"Kak, gue rasa ini awal yang baik."
"Mudah-mudahan."
"Bukan mudah-mudahan. Pasti. Lo lihat nanti."
Mereka duduk bersama, menikmati malam yang tenang. Di luar, bintang-bintang berkelap-kelip.
"Kak," kata Kalara tiba-tiba.
"Hm?"
"Hidup ini aneh, ya."
"Maksudnya?"
"Dulu kita sama-sama terluka. Sama-sama kesepian. Sekarang, kita punya keluarga, punya rumah, punya orang yang mencintai. Rasanya... seperti mimpi."
Arsya mengangguk. "Iya. Seperti mimpi."
"Tapi ini nyata."
"Ini nyata."
Mereka tersenyum. Dua saudara yang dulu terpisah oleh rahasia kelam, kini duduk bersama di rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka. Luka lama mulai sembuh, duka baru mulai terobati, dan cinta—dalam berbagai rupa—mulai tumbuh di hati mereka.
Cinta saudara.
Cinta persahabatan.
Cinta romantis.
Semua bentuk cinta itu kini hadir, memeluk mereka, menyembuhkan mereka, membuat mereka utuh kembali.
---
**Bersambung...**
---