Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
“Sapir mau apa?” tanya Luna.
Mata biru Luna yang jernih nan indah menatap pria diatas tubuhnya ini tanpa berkedip dan penuh dengan rasa ingin tahu yang murni, tanpa ada setitik pun niat menggoda.
Sialnya, Xavier yang biasanya selalu punya rencana cadangan untuk membunuh musuhnya justru mendadak kehilangan fungsi otak.
Xavier tidak tahu apa yang ingin ia lakukan pada gadis yang kini berada di bawah kukungan lengannya. Jantungnya berdentum kencang, menabrak rongga dadanya seolah ingin melompat keluar.
Greb!
Bukannya mencium atau melakukan hal yang lebih jauh, Xavier justru menjatuhkan tubuhnya. Ia memeluk Luna dengan sangat erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher dan dada gadis itu.
“Sapir, awas! Luna tidak bisa napas! Sapir seperti batu besar!” protes Luna sembari meronta kecil, mencoba mendorong bahu lebar Xavier yang menindihnya.
“Hanya sebentar, Luna... diamlah,” gumam Xavier parau.
Pria itu sedang berusaha mati-matian mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan sejak mereka saling menatap tadi.
Aroma tubuh Luna ternyata sangat menenangkan baginya.
“Sapir panggil apa tadi?” tanyanya memastikan. Ia ingin mendengar sekali lagi apakah telinganya salah dengar atau memang Xavier baru saja memanggil namanya dengan benar, bukan sebutan gadis bodoh atau makhluk aneh.
“Aku suka bau tubuhmu,” bisik Xavier abai terhadap pertanyaan Luna. Ia justru semakin dalam mengendus leher Luna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat.
“B—bukankah Sapir bilang tidak suka Luna dekat-dekat karena Luna bau dan tidak pernah mandi?” tanya Luna gugup. Tubuhnya mendadak kaku, ada perasaan geli sekaligus hangat yang merayapi kulitnya.
“Ya, kau memang bau sekali. Bau kucing pasar. Tapi aku menyukainya,” sahut Xavier,
masih dengan posisi yang sama.
Mendengar itu, pipi Luna memerah sempurna. Sekarang, malah giliran jantungnya yang seolah ingin terlepas dan jatuh ke dasar perut. Perasaan ini jauh lebih aneh daripada saat ia kelaparan di tengah hutan.
“Sapir...” panggilnya lirih.
“Hmm.”
“Kenapa jantung Luna jedag-jedug ya? Bunyinya kencang sekali, seperti suara gendang di pesta hutan. Luna takut kalau Luna sakit terus mati. Apa Luna kena kutukan karena tadi gigit manusia berisik itu?” tanya Luna nada cemas yang sangat menggemaskan.
Xavier mendengus pelan, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Luna yang memerah dengan tatapan dinginnya yang kembali muncul.
“Itu bagus. Kalau kau mati, aku tidak perlu lagi melihat wajah menyebalkanmu setiap hari,” sahut Xavier ketus, menutupi rasa canggungnya.
Bibir Luna langsung mengerucut ke depan. Ia merasa sedih mendengar jawaban itu.
“Kalau begitu, Luna berharap Luna memang cepat mati saja! Biar Sapir senang!”
Xavier secara refleks bangun dari posisinya dan mencengkeram bahu Luna. Tatapannya berubah tajam.
“Kau tidak boleh mati tanpa izin dariku! Kau mengerti?!”
“Tapi tadi Sapir bilang—”
“Berhenti bicara tentang hal yang tidak masuk akal!” bentak Xavier, membuat Luna langsung mengkerut dan menunduk takut. Nyalinya menciut dalam sekejap. “Dengarkan aku baik-baik, Luna. Kau itu milikku! Milik Xavier! Kau tidak boleh tersenyum atau dekat-dekat dengan pria lain selain aku! Kau juga tidak boleh menyebut pria lain tampan, meski itu kakakku sendiri!”
Luna mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Xavier dengan bingung.
“Kenapa begitu? Bukankah berbagi itu baik?”
“Tidak untuk hal ini!” Xavier semakin menekan suaranya. “Dan satu lagi, kau jangan pernah berubah jadi manusia saat tidak sedang bersamaku. Hanya aku yang berhak melihat tubuhmu saat polos tanpa apa pun. Jika aku melihat ada pria lain yang menatapmu, aku akan pastikan matanya keluar saat itu juga!”
Setelah mengeluarkan rentetan perintah posesif yang panjang lebar, Xavier segera beranjak dari ranjang. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan sangat kasar.
BRAK!
Luna mematung di atas kasur. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dengan ekspresi wajah yang sangat linglung. Seketika rasa sedihnya berubah menjadi kebingungan tingkat dewa.
“Sapir bicara apa ya tadi? Luna tidak mengerti sama sekali. Kenapa Luna tidak boleh senyum? Apa senyum Luna mengandung racun? Dan kenapa dia marah-marah soal baju? Padahal Luna kan punya bulu kalau jadi kucing,” gumamnya.
Sementara di balik pintu kamar mandi, Xavier menyandarkan punggungnya di pintu. Pipinya terasa panas dan telinganya benar-benar memerah padam. Ia menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup.
“Kau bicara apa, Bodoh! Kenapa rasanya memalukan sekali!” gumamnya frustrasi. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Harga dirinya sebagai mafia dingin baru saja runtuh berkeping-keping hanya karena cemburu pada seekor kucing yang berubah jadi gadis.
“Argh! Sepertinya aku sudah gila karena mahluk ini!” Xavier mulai menyalakan shower air dingin, berharap air itu bisa mendinginkan otaknya yang sudah korslet karena kepolosan Luna.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna