NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Sisi Lain Yang Muncul Kembali

Dua hari telah berlalu sejak insiden di hutan.

Matahari tetap terbit seperti biasa. Pasar tetap ramai. Bengkel dan ladang tetap berjalan. Dari luar, Asterism tampak stabil.

Namun di dalam istana, ketegangan terasa seperti benang yang ditarik terlalu kencang.

Ferisu masih belum sadar.

Tubuhnya terbaring tenang di atas ranjang besar berkanopi putih, napasnya teratur berkat bantuan sihir penyembuhan. Luka fisiknya hampir pulih, namun aura di sekelilingnya tipis—tidak seperti biasanya yang selalu terasa hangat dan menenangkan.

Seperti api besar yang kini tinggal sisa bara.

Di ruang kerjanya, Duke Albrecht tetap menunjukkan ketenangan yang nyaris sempurna.

Ia tidak menggerakkan pasukan. Tidak membuat pernyataan terbuka. Tidak ada provokasi terang-terangan.

Namun desas-desus mulai beredar di kota.

“Raja muda terlalu gegabah.”

“Apa semuanya akan baik-baik saja?”

“Bagaimana kalau ia tidak pernah bangun?”

Api kecil dinyalakan perlahan—bukan dengan pedang, melainkan dengan bisikan.

Di sisi lain, Phino hampir tidak pernah terlihat diam.

Ia dan Risa mengatur distribusi gandum, memastikan lumbung tetap penuh. Lyra membantu mengurus laporan serta pengawasan pembangunan di distrik luar.

Phino tetap berbicara santai kepada para pekerja, sesekali melempar candaan ringan. Tapi mereka yang mengenalnya tahu—ia lebih banyak berpikir daripada biasanya.

“Kalau rakyat tetap kenyang, setengah masalah selesai,” gumamnya pelan saat memeriksa daftar logistik.

Risa mengangguk tanpa mengangkat kepala.

“Stabilitas pangan menjaga stabilitas hati.”

Phino tersenyum tipis.

“Semoga cukup.”

Di dalam kamar kerajaan—

Pintu terbuka pelan.

Licia masuk lebih dulu. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Ia melangkah mendekat ke ranjang dan menatap Ferisu dengan sorot lembut.

Tak lama, Erica menyusul.

Berbeda dengan Licia, ekspresi Erica jelas menunjukkan emosinya. Alisnya berkerut, rahangnya sedikit menegang. Gadis biasa dengan bakat sihir es itu jarang terlihat sekeras ini.

Noa sudah berada di ruangan sejak pagi. Ia berdiri di dekat jendela, lingkaran hitam samar di bawah matanya.

Erica memecah keheningan lebih dulu.

“Kau bilang akan menjaganya,” ucapnya tajam, menatap Noa. “Lalu kenapa dia bisa jadi seperti ini?”

Noa tidak langsung menjawab.

“Ada entitas dari retakan dimensi,” katanya akhirnya. “Kami tidak menduganya akan sekuat itu.”

“Bukan itu maksudku!” suara Erica meninggi sedikit. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin tanpa ia sadari—cerminan emosinya yang goyah. “Kau tahu kalau makhluk itu berbahaya! Kenapa kau biarkan dia bertarung!?”

Noa menoleh perlahan.

“Apa kau pikir aku bisa menghentikannya?”

“Setidaknya kau bisa mencoba!” balas Erica.

Suhu ruangan turun beberapa derajat. Embun tipis mulai terbentuk di tepi jendela.

Licia melirik Erica sekilas.

“Tenangkan dirimu.”

Erica menggigit bibir, tapi tidak mundur.

“Dia selalu bilang semuanya terkendali. Dan kalian selalu percaya begitu saja.”

Noa mengepalkan tangan.

“Karena kami tahu seberapa jauh dia bisa bertahan.”

“Dan sekarang lihat!” Erica menunjuk ke arah ranjang. “Bertahan? Dia bahkan tidak sadar selama dua hari!”

Sunyi.

Kata-kata itu menggantung di udara.

Licia akhirnya berdiri tegak, suaranya tetap lembut namun tegas.

“Cukup.”

Erica terdiam, tapi napasnya masih berat.

“Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan,” lanjut Licia. “Kalau Ferisu bangun dan melihat kita bertengkar seperti ini, apa menurutmu dia akan senang?”

Noa menunduk sedikit.

“Aku gagal menjaganya.”

Kalimat itu sederhana.

Tanpa pembelaan.

Erica terdiam beberapa detik, lalu menoleh ke arah Ferisu. Wajahnya melunak, meski masih ada amarah yang tersisa.

“Aku tidak peduli siapa yang salah,” ucapnya lebih pelan. “Aku hanya tidak mau dia menghilang.”

Udara kembali menghangat perlahan.

Tiba-tiba—pintu kamar terbuka sekali lagi.

Eliza masuk.

Langkahnya tenang. Tatapannya tajam namun stabil. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit terurai, tanda ia juga tidak banyak beristirahat.

Ia menatap mereka bertiga bergantian.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya datar.

Tidak ada yang menjawab.

Tatapan Eliza kemudian beralih ke Ferisu. Ia berjalan mendekat dan berdiri di sisi ranjang, menyentuh tangan Ferisu dengan lembut.

“Dia masih bertarung,” ucapnya pelan.

Noa mengernyit. “Bertarung?”

“Di dalam dirinya.”

Ruangan kembali sunyi.

Eliza tidak menoleh saat melanjutkan, “Kalau kalian ingin membantunya… maka berhentilah bertengkar. Energi negatif di ruangan ini saja sudah cukup membuat stabilitas jiwanya terganggu.”

Erica menunduk sedikit.

Noa menghela napas panjang.

Licia kembali duduk di kursi dekat ranjang.

Keheningan kali ini terasa berbeda—lebih terkendali.

Tidak ada lagi perdebatan. Hanya suara napas Ferisu yang pelan dan ritme detak jam sihir di sudut ruangan.

Eliza masih berdiri di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan Ferisu.

Lalu—

Udara berubah.

Tekanan aneh memenuhi ruangan. Tirai jendela bergetar tanpa angin. Lampu sihir di dinding berkedip pelan.

Noa langsung menoleh.

“Apa lagi sekarang…?”

Aura roh milik Eliza tiba-tiba meledak keluar.

Cahaya keperakan yang biasanya lembut kini berputar liar di sekeliling tubuhnya. Lantai bergetar halus, seolah resonansi jiwanya tidak lagi stabil.

Eliza terhuyung selangkah.

“Apa… yang terjadi?” Ia memegang dadanya. “Kenapa kekuatanku—”

Sebuah suara terdengar.

Mirip dengan suaranya.

Namun lebih dalam. Lebih dingin. Lebih tajam.

“Kau terlalu lemah.”

Semua orang membeku.

Suara itu jelas berasal dari Eliza… tapi bukan Eliza.

“Berikan kendalinya padaku.”

Eliza tersentak. Rasa nyeri menjalar dari ujung jari hingga ke kepalanya. Seperti ada sesuatu yang merobek batas di dalam jiwanya.

“Tidak… tunggu—!”

Cahaya keperakan berubah warna.

Perlahan.

Rambut silver Eliza menggelap… hingga menjadi hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Matanya yang biru cerah memudar menjadi gelap dalam, seolah cahaya di dalamnya ditelan bayangan.

Gaun putihnya berubah, warna hitam merambat seperti tinta yang menyerap kain.

Tekanan roh meningkat.

Noa refleks melangkah maju.

“Eliza!”

Namun sosok yang kini berdiri di sana… bukan lagi Eliza yang mereka kenal.

Ia membuka mata perlahan.

Tatapan itu tajam. Intens. Dan… posesif.

“Sudah lama aku menunggu,” ucapnya pelan dengan senyum tipis yang tidak hangat sama sekali.

Licia menegang.

“Kau...”

Sosok itu menoleh perlahan, rambut hitamnya menjuntai halus di bahu.

“Reliza.”

Nama itu jatuh di udara seperti bayangan yang akhirnya menemukan bentuknya.

Aura yang ia pancarkan jauh lebih pekat dari Eliza. Bukan lembut dan menenangkan—melainkan dalam dan menekan, seperti kegelapan yang memeluk terlalu erat.

Tatapannya beralih ke Noa, lalu Erica, lalu Licia.

Ada ketidaksenangan yang jelas.

“Kalian terlalu dekat,” gumamnya.

Erica melangkah maju setengah langkah. Udara di sekitarnya kembali mendingin.

“Keluar dari tubuhnya.”

Reliza hanya tersenyum tipis.

Lalu tanpa peringatan—ia naik ke atas ranjang.

Noa membelalak.

“Oi! Apa yang kau lakukan!?”

Reliza tidak menjawab.

Ia menaiki tubuh Ferisu yang tak sadar dengan gerakan tenang, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

Licia berdiri cepat.

“Turun sekarang!”

Erica mengepalkan tangan. Embun tipis mulai terbentuk di udara.

Tapi Reliza mengabaikan semuanya.

Ia menatap wajah Ferisu dari jarak sangat dekat. Tangannya menyentuh pipinya dengan lembut—berbanding terbalik dengan aura gelap yang menyelimutinya.

“Kau hampir hancur lagi…” bisiknya pelan. “Bodoh.”

Noa melangkah maju untuk menariknya.

Namun tekanan roh Reliza tiba-tiba meningkat, membuat mereka tertahan beberapa langkah.

“Kalian tidak mengerti,” ucapnya tanpa menoleh. “Dia milikku.”

“Kau—!” Erica hendak membalas.

Tapi sebelum ada yang bisa menghentikannya—Reliza menunduk. Dan mencium Ferisu. Bukan ciuman yang lembut atau ragu. Melainkan ciuman yang tegas. Penuh klaim. Penuh kepemilikan.

Udara di ruangan bergetar hebat.

Energi hitam dan perak bercampur, lalu mengalir masuk ke tubuh Ferisu seperti arus yang menemukan jalannya.

Lampu sihir menyala terang.

Rambut Ferisu yang tergeletak di bantal sedikit terangkat oleh aliran energi.

Dan—jari tangannya bergerak.

Noa terdiam.

Licia membelalak.

Erica menahan napas.

Reliza perlahan menjauhkan wajahnya, menyeringai tipis.

“Aku tidak peduli dengan syarat dewi konyol itu,” gumamnya pelan. “Kalau hal ini bisa menyembuhkan jiwanya dan membangkitkan kekuatannya… maka aku yang akan melakukannya lebih dulu.”

Aura gelapnya masih menyelimuti ruangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua hari—dada Ferisu naik lebih dalam.

Seolah sesuatu di dalam dirinya… merespons.

Namun apakah itu pertanda kebangkitan?

Atau justru awal dari sesuatu yang lebih berbahaya?

Tatapan Reliza kembali menyapu ketiga gadis di ruangan itu.

Dan jelas terlihat—ia tidak berniat berbagi.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
angin kelana
karakter baru
angin kelana
wah kemaren2 op.skarang lemah..
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
cih 😒...msh blom berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!