NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Dermaga utama Astra Mawar bergetar saat sebuah kapal kargo tua—yang tampak seperti tumpukan plat logam yang disatukan oleh tekad murni—melakukan pendaratan kasar di landasan magnetik. Asap putih mengepul dari knalpot pendorong yang dimodifikasi, dan bau bensin yang terbakar seketika menyeruak di antara udara steril Bulan.

Pintu palka terbuka dengan suara dentuman logam yang berat. Dio melompat keluar, masih mengenakan jaket kulit "Mawar Hitam" yang penuh noda oli dan debu jalanan Bumi. Ia melepas helmnya, menarik napas dalam-dalam, lalu terbatuk pelan.

"Udara di sini... rasanya terlalu bersih, Lar," ujar Dio sambil menyeringai lebar. Ia menatap sekeliling dengan mata melotot, dari kubah kristal yang membiaskan cahaya galaksi hingga robot-robot drone yang melayang tenang. "Gila. Kita benar-benar di Bulan. Aku merasa seperti sedang berada di dalam film fiksi ilmiah yang biasa kita tonton di bengkel."

Laras tidak bisa menahan senyumnya. Ia berlari kecil dan memeluk sahabat lamanya itu. "Kau datang tepat waktu, Dio. Bagaimana kondisi di bawah sana?"

Dio melepaskan pelukan, wajahnya sedikit lebih serius. "Kacau, tapi kacau yang bagus. Rakyat mulai mengambil alih gudang-gudang Konsorsium. Tanpa listrik pusat, tentara mereka kehilangan navigasi. Mereka tidak tahu harus menembak ke arah mana ketika musuh mereka adalah tetangga mereka sendiri yang hanya ingin makan."

Ia menunjuk ke arah kapal kargonya, di mana beberapa pemuda panti asuhan mulai menurunkan kotak-kotak berisi peralatan mekanik tua dan bibit tanaman dari Bumi. "Aku membawa 'pasukan' pertama. Mereka bukan teknisi lulusan universitas, tapi mereka tahu cara membuat mesin mati menjadi hidup kembali hanya dengan kunci inggris dan keberanian."

Aan mendekat, tangannya yang mekanik bersentuhan dengan lambang Mawar Hitam di jaket Dio. "Keberanian jalanan itulah yang kita butuhkan di sini, Dio. Teknologi Arca ini tidak butuh teori yang rumit, ia butuh insting."

Tiba-tiba, sang utusan cahaya mendekat. Kehadirannya membuat para pemuda dari Bumi itu terdiam kaku. Mereka menatap figur transparan tersebut dengan kombinasi rasa takut dan takjub.

"Insting adalah bahasa dasar alam semesta," suara sang utusan bergema di pikiran semua orang di dermaga itu. "Selamat datang, para perawat taman yang baru. Kalian membawa debu Bumi ke rumah bintang. Ini adalah persilangan yang diperlukan."

Dio mengerjapkan mata, menatap Laras dengan bingung. "Dia... bicara langsung di otakku? Keren, tapi agak menyeramkan."

"Biasakan dirimu, Dio," sahut Sinta sambil berjalan mendekat, memberikan salam hangat pada para pemuda tersebut. "Di sini, kita tidak bicara lewat kabel lagi. Kita bicara lewat frekuensi."

Laras membawa Dio ke arah balkon yang menghadap ke menara Tycho yang sedang berpendar. "Dio, aku butuh kau memimpin unit 'Penjaga Orbit'. Kapal-kapal organik itu akan memberi kita sarana, tapi mereka tidak akan bertarung untuk kita. Jika Konsorsium mencoba mengirimkan rudal nuklir terakhir mereka, kita harus siap mencegatnya."

Dio menatap menara raksasa itu, lalu kembali menatap tangannya yang hitam karena oli. "Aku hanya seorang mekanik motor elektrik, Lar. Tapi jika kau bilang aku bisa belajar cara mengendarai cahaya, maka aku akan melakukannya."

Laras menyerahkan sebuah modul enkripsi kecil—sebuah replika dari chip yang ia kenakan. "Mulai besok, sekolah dimulai. Kita akan mengajari dunia bahwa kekuatan bukan tentang siapa yang memegang kendali, tapi tentang siapa yang bisa membagikan cahaya paling terang."

Malam itu, di dermaga Astra Mawar, untuk pertama kalinya terdengar tawa manusia dan denting kunci inggris yang beradu, memecah kesunyian abadi Bulan. Di kejauhan, Bumi tampak seperti kelereng biru yang mulai pulih, sementara di Bulan, sebuah peradaban hibrida antara keringat manusia dan keajaiban bintang mulai menanamkan akar-akarnya.

"Lihat benda ini," gumam Dio sambil menggariskan jarinya di atas permukaan konsol kristal yang tidak memiliki tombol satu pun. "Bagaimana aku bisa memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak punya baut?"

Laras berdiri di sampingnya, memandu tangan Dio agar melayang tepat di atas pendaran cahaya biru. "Jangan gunakan ototmu, Dio. Gunakan niatmu. Arca ini bereaksi terhadap bio-elektrik tubuhmu. Bayangkan aliran listrik itu seperti tarikan gas motor tuamu saat kita balapan di jalanan pinggiran Jakarta."

Dio memejamkan mata. Awalnya, ia tampak ragu, namun perlahan permukaan kristal itu mulai beriak. Sebuah skema tiga dimensi dari sistem sirkulasi oksigen kota muncul di udara, berputar pelan dengan detail yang sangat halus.

"Berhasil..." bisik Dio, matanya berbinar. "Ini bukan mesin, Lar. Ini seperti... mahluk hidup yang terbuat dari cahaya."

Di sudut lain ruangan latihan, Aan sedang mengawasi para pemuda panti asuhan yang mulai mencoba menghubungkan alat-alat mekanik tua mereka dengan antarmuka Arca. Suara denting logam bertemu kristal menciptakan harmoni yang ganjil.

"Paman Aan," panggil salah satu pemuda, "kenapa sensor ini terus menunjukkan warna kuning saat aku menyentuhnya?"

Aan memeriksa data di lengannya. "Itu karena kau sedang gugup, nak. Arca membaca kecemasanmu sebagai gangguan frekuensi. Ambil napas dalam-dalam. Ingat, kalian di sini bukan untuk menaklukkan teknologi ini, tapi untuk berteman dengannya."

Namun, di tengah suasana belajar yang penuh harapan itu, sebuah alarm rendah berbunyi dari ruang kendali pusat. Sinta, yang sejak tadi memantau sensor luar ruang, memanggil Laras dengan nada mendesak.

"Laras, ada sesuatu yang salah di Sektor Empat. Salah satu drone 'kelopak bunga' berhenti berfungsi, tapi bukan karena kerusakan teknis," Sinta menunjukkan rekaman video pada layar utama.

Di sana, terlihat salah satu unit pelindung organik tersebut terbungkus oleh semacam zat hitam pekat yang merambat cepat, mematikan cahaya kristalnya. Zat itu terlihat seperti parasit logam yang rakus.

"Itu bukan teknologi Konsorsium," Aan menganalisis dengan cepat, wajahnya berubah pucat. "Itu adalah kode biner korosif... sisa-sisa dari program 'Grup Hitam' yang dulu pernah menyerang panti asuhan kita. Mereka tidak mati, mereka berevolusi. Seseorang di Bumi berhasil menyisipkan virus ini ke dalam sistem kargo yang dibawa kapal Dio."

Laras menoleh ke arah peti-peti kargo yang masih terbuka di dermaga. Salah satu peti di pojok ruangan mengeluarkan uap hitam yang tipis.

"Mereka menggunakan kita sebagai kuda Troya," geram Dio, tangannya mengepal erat. "Siapa pun yang mengirim ini tahu bahwa kita akan membawa barang-barang lama kita ke sini."

Sang utusan cahaya muncul di tengah ruangan, cahayanya meredup seolah merasakan bahaya. "Kegelapan tidak butuh kapal untuk berpindah. Ia hanya butuh celah di hati yang penuh dendam. Parasit ini adalah manifestasi dari keserakahan yang kalian tinggalkan di bawah sana."

Laras menarik napas panjang, menenangkan denyut chip di lehernya. "Jika mereka pikir mereka bisa mematikan mawar ini dengan racun lama, mereka salah besar. Dio, panggil semua tim mekanik. Kita tidak akan menggunakan kode digital untuk melawan ini. Kita akan menggunakan cara lama."

"Cara apa?" tanya Dio.

"Kita akan membakar racun itu dengan panas murni dari inti Arca," jawab Laras tegas. "Siapkan obor plasma kalian. Kita akan melakukan 'pembersihan' manual. Ayah dulu selalu bilang, jika ada karat di mesin, jangan hanya dicat, tapi dikerok sampai bersih."

Di luar kubah, kegelapan mulai merayap di atas permukaan pualam Astra Mawar, menantang cahaya biru yang baru saja lahir. Perang di bulan ternyata baru saja dimulai, dan musuh kali ini bukan lagi senjata, melainkan bayang-bayang masa lalu yang ikut terbawa dalam perjalanan mereka menuju bintang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!