NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: API DAN RENCANA

Malam setelah upacara pemurnian, Klan Namgung diselimuti keheningan yang tidak nyaman.

Para pelayan berjalan dengan langkah hati-hati, seolah takut membangunkan sesuatu yang sebaiknya tidur. Para pengawal berjaga dengan mata lebih waspada, tangan selalu dekat dengan gagang pedang. Di paviliun tamu, lampu masih menyala—tanda bahwa tim penyelidik belum tidur, mungkin sedang berdiskusi tentang hasil hari ini.

Namgung Jin duduk di kamarnya, membalut lukanya sendiri.

Luka di perut itu dalam—tidak fatal, tapi cukup untuk membuatnya pusing kehilangan darah. Ia merawatnya dengan hati-hati, menggunakan ramuan herbal yang diam-diam ia kumpulkan selama ini. Pengetahuan tentang pengobatan adalah salah satu dari ribuan hal yang ia kuasai dari kehidupan sebelumnya.

"Bodoh." Ia menggerutu pada dirinya sendiri. "Melukai dantian itu berisiko. Jika salah sedikit, kultivasimu bisa hancur."

Tapi tidak ada pilihan lain. Mawanggeom adalah pedang yang lahir dari darahnya. Hanya dengan mengacaukan energi di sumbernya, ia bisa memutus ikatan sementara.

Dan itu berhasil.

Tapi Tetua Seok tidak percaya. Itu jelas dari matanya.

"Pria itu akan terus mencari."

Pintu diketuk—ketukan kode Tetua Pyo.

"Masuk."

Tetua Pyo meluncur masuk dengan wajah tegang. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat.

"Jin-ah, ada masalah."

"Apa lagi?"

"Tetua Seok memanggil Namgung So-ho untuk bicara empat mata tadi sore."

Namgung Jin mengerutkan kening. "So-ho?"

"Ya. Mereka bicara cukup lama. Dan setelah itu, So-ho terlihat... gelisah. Tapi juga bersemangat."

"Dia pasti diberi umpan."

"Maksudmu?"

"Tetua Seok tidak bisa menyerangku langsung. Tapi dia bisa menggunakan orang dalam. Dan So-ho—dengan dendam dan kebodohannya—adalah alat yang sempurna."

Tetua Pyo menghela napas. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Tunggu. Lihat apa yang mereka rencanakan."

*"Tapi jika So-ho bicara—"

"So-ho tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu, aku pernah melumpuhkannya dengan Samgyeolhyeol. Itu saja."

"Tapi itu cukup untuk menimbulkan kecurigaan."

"Biarkan." Namgung Jin tersenyum tipis. "Kecurigaan bukan bukti. Dan selama tidak ada bukti, mereka tidak bisa berbuat apa-apa."

Tetua Pyo menatapnya ragu. Tapi ia tidak membantah.

"Ada lagi, Jin-ah. Utusan dari Magyo datang. Ia menunggumu di hutan belakang."

"Sekarang?"

"Ya. Katanya penting."

Namgung Jin berdiri, menahan rasa sakit di perutnya. "Awas."

---

Di hutan belakang, sesosok berjubah hitam menunggu di bawah pohon tua.

Bukan Heuksim. Bukan Roh Perang. Tapi seorang wanita—ramping, dengan topeng setengah menutupi wajah. Namgung Jin mengenali posturnya.

Roh Rahasia.

"Kau datang." Suaranya pelan, seperti bisikan angin.

· "Kau yang memanggil?"*

"Cheon Wu-gun mengirimku. Ada perkembangan baru."

"Apa?"

Roh Rahasia mengeluarkan gulungan kecil. "Ini laporan dari mata-mata kami di Shaolin. Delapan Sekte tidak hanya merencanakan serangan ke markas kami. Mereka juga..." Ia ragu. "...mereka juga tahu tentangmu."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Tentangku?"

"Tentang utusan iblis. Mereka percaya utusan itu ada di klan ini. Dan mereka akan mencarinya dengan cara apa pun."

"Itu sudah kuduga."

"Tapi ada yang tidak kau duga." Roh Rahasia menatapnya dari balik topeng. "Mereka punya daftar nama. Nama-nama orang yang mencurigakan di setiap klan. Dan namamu... ada di urutan teratas."

Keheningan.

Namgung Jin tidak terkejut. Tapi di dalam, kewaspadaan meningkat.

"Siapa yang memberi mereka nama itu?"

"Tidak tahu. Tapi informan kami bilang, sumbernya dari dalam klan ini sendiri."

Pengkhianat. Atau orang bodoh yang tidak sadar dimanfaatkan.

"Namgung So-ho."

Roh Rahasia mengangguk. "Mungkin."

"Apa instruksi Cheon Wu-gun?"

"Dia ingin kau tetap tenang. Jangan bertindak gegabah. Tapi jika situasi memburuk..." Ia mengeluarkan sesuatu—sebuah botol kecil berisi cairan merah. "...ini adalah racun yang tidak terdeteksi. Jika kau merasa akan ditangkap, minum ini. Kau akan mati dalam sepuluh napas, tanpa rasa sakit."

Namgung Jin menatap botol itu. Lalu tersenyum.

"Katakan pada Cheon Wu-gun, aku tidak butuh itu."

*"Tapi—"

"Aku tidak akan ditangkap."

Roh Rahasia menatapnya lama. Lalu ia menyimpan botol itu kembali.

"Kau terlalu percaya diri."

"Aku realis."

"Sama saja." Ia berbalik, siap pergi. Tapi sebelum menghilang, ia berkata, "Oh ya. Ada satu lagi. Mawanggeom... mereka akan membawanya pergi besok lusa. Ke Shaolin, untuk diamankan."

"Besok lusa?"

"Ya. Kau punya waktu dua hari jika ingin... melakukan sesuatu."

Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di hutan.

---

Kembali di paviliunnya, Namgung Jin duduk merenung.

Dua hari. Mawanggeom akan dibawa pergi. Jika pedang itu sampai di Shaolin, ia akan kehilangan kesempatan untuk mengendalikannya. Tapi mengambilnya sekarang terlalu berisiko—penjagaan ketat, dan jika ketahuan, semua akan terbongkar.

"Atau mungkin..."

Mungkin ia tidak perlu mengambilnya. Mungkin ia hanya perlu membuatnya tidak berguna bagi mereka.

Tapi bagaimana caranya?

Ia memejamkan mata, mengingat kembali setiap detail tentang Mawanggeom. Pedang itu ia tempa dengan darah seratus musuh, di puncak Gunung Kunlun, di bawah gerhana matahari total. Ritual itu membuat pedang itu memiliki ikatan darah dengan pemiliknya—dengan dirinya.

Jika ia bisa mengaktifkan ikatan itu dari jarak jauh, ia bisa membuat pedang itu mengamuk. Menyerang siapa pun yang memegangnya. Atau setidaknya, membuatnya terlalu berbahaya untuk digunakan.

Tapi untuk itu, ia butuh darahnya sendiri. Darah segar.

"Darah..."

Ia menatap lukanya di perut. Darah masih merembes sedikit.

"Mungkin bisa."

---

Pagi harinya, Namgung Jin meminta izin pada Tetua Pyo untuk pergi ke pasar desa—alasan: membeli obat untuk ibunya yang "sakit". Tetua Pyo tahu itu bohong, tapi ia mengangguk.

Di pasar, ia bertemu dengan Pemburu Kwon di kedai teh. Mereka duduk di sudut, berpura-pura tidak saling kenal.

"Tuan Muda, ada yang bisa kulakukan?"

"Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang bisa membawa benda kecil dalam jarak dekat."

Pemburu Kwon mengerutkan kening. "Maksud Tuan Muda?"

"Kau kenal pedagang barang antik di ujung pasar itu?"

"Kenal. Dia sering menjual barang-barang aneh."

"Tanya padanya, apakah dia punya 'kotak pemanggil'. Kotak kecil yang bisa mengirim benda ke pemiliknya dari jarak dekat."

Pemburu Kwon terkejut. "Itu... benda pusaka. Harganya mahal."

"Aku punya uang." Namgung Jin meletakkan kantong emas di meja—hasil dari "sumbangan" Magyo. "Beli. Berapa pun harganya."

Pemburu Kwon mengambil kantong itu. "Akan kulakukan, Tuan Muda."

---

Dua jam kemudian, Pemburu Kwon kembali dengan sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu berukuran setengah telapak tangan, diukir dengan simbol-simbol kuno. Di dalamnya, ada ruang kosong seukuran ibu jari.

"Pedagang itu bilang, ini pusaka dari Dinasti Tang. Harganya mahal karena masih berfungsi. Tapi hanya untuk jarak dekat—maksimal seratus langkah."

Namgung Jin mengambil kotak itu, mengamatinya. Simbol-simbol ini... ia mengenalnya. Ini adalah teknik pemanggil sederhana, yang ia pelajari ribuan tahun lalu dari seorang penyihir tua di padang pasir.

"Cukup."

Ia mengeluarkan pisau, melukai jarinya. Darah menetes ke dalam kotak.

Lalu ia menutup kotak itu, membisikkan mantra pelan.

Kotak itu bergetar—sebentar, lalu diam.

"Sekarang, tinggal menunggu."

---

Malam harinya, tim penyelidik mengadakan upacara perpisahan kecil.

Besok pagi, mereka akan pergi, membawa Mawanggeom kembali ke Shaolin. Biksu Myeongjin mengucapkan terima kasih pada Namgung Cheon atas kerjasamanya. Nyonya Hwa Ryun melambai pada Namgung Jin dengan senyum misterius. Tetua Seok dan putranya hanya diam, tapi mata mereka penuh arti.

Mawanggeom disimpan dalam peti kayu hitam, dijaga empat pengawal. Peti itu diletakkan di kereta khusus, siap dibawa pergi pagi-pagi.

Namgung Jin mengamati dari kejauhan. Di tangannya, kotak pemanggil itu terasa hangat.

"Malam ini."

---

Tengah malam.

Kegelapan menyelimuti Klan Namgung. Para pengawal mulai mengantuk, bergantian berjaga. Di paviliun tamu, lampu-lampu sudah padam. Semua tidur.

Namgung Jin bergerak seperti bayangan.

Ia menyelinap di antara bangunan, menghindari para penjaga dengan hafalan sempurna. Di tangannya, kotak pemanggil bergetar—semakin kuat, semakin dekat ia dengan Mawanggeom.

Kereta itu diparkir di halaman belakang paviliun tamu, dijaga dua pengawal yang masih terjaga. Tapi mereka lelah—matanya sayu, tubuhnya lunglai.

Namgung Jin tidak perlu mendekat. Seratus langkah. Itu batasnya.

Ia bersembunyi di balik gudang kayu, sekitar delapan puluh langkah dari kereta. Ia membuka kotak pemanggil itu, lalu menusuk jarinya lagi—darah segar menetes ke dalam.

*"Dengarkan panggilan tuammu, Mawanggeom."

Ia membisikkan mantra—mantra yang sama seperti ribuan tahun lalu, saat pertama kali mengikat pedang itu dengan darahnya.

Di dalam peti, Mawanggeom mulai bergetar.

Getaran kecil, hampir tidak terasa. Tapi semakin lama, semakin kuat.

Para pengawal mulai sadar ada yang aneh. Mereka saling pandang.

"Kau dengar sesuatu?"

"Seperti... dengungan."

Peti itu bergetar lebih keras. Kayunya mulai berderak.

"Apa—"

BUMM!

Peti itu meledak.

Mawanggeom terbang keluar, melayang di udara, bersinar merah terang. Pedang itu berputar, seolah mencari sesuatu.

Para pengawal berteriak. Lampu-lampu mulai menyala di paviliun tamu. Orang-orang berlarian.

Namgung Jin tetap di tempatnya, memegang kotak pemanggil erat-erat.

"Kemari, pedangku."

Mawanggeom berhenti berputar. Seolah mendengar panggilan itu, ia melesat—bukan ke arah keramaian, tapi ke arah Namgung Jin.

"Apa—!"

Pedang itu terbang melewati para pengawal yang terpaku, melewati halaman, melewati gudang kayu, dan berhenti tepat di depan Namgung Jin.

Melayang di udara, dengan bilah hitamnya yang berkilau merah.

Namgung Jin mengulurkan tangan. Mawanggeom turun perlahan, gagangnya menyentuh telapak tangannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun, Iblis Murim memegang pedangnya lagi.

---

Di paviliun tamu, kekacauan melanda.

"Pedang itu! Pedang itu hilang!"

"Siapa yang mengambil?!"

· "Cari! Cari di mana-mana!"*

Tetua Seok berlari keluar dengan jubah acak-acakan, matanya merah karena marah. "Ini pasti ulah Magyo! Mereka mencuri Mawanggeom!"

Biksu Myeongjin mencoba menenangkan. *"Tetua Seok, tenang. Kita akan cari—"

"Tenang?!" Tetua Seok memukul tiang hingga retak. "Pedang pusaka hilang di bawah pengawasanku! Aku akan—"

"Tetua!" teriak seorang pengawal dari kejauhan. "Ada jejak darah! Di belakang gudang kayu!"

Tetua Seok berlari ke sana. Di belakang gudang, ada tetesan darah segar—darah dari luka Namgung Jin yang terbuka saat ia memegang Mawanggeom.

Tapi Namgung Jin sendiri sudah tidak ada.

---

Di hutan belakang, Namgung Jin berlari.

Mawanggeom terhunus di tangannya, ringan seperti bulu. Pedang ini masih setia. Masih mengenali tuannya.

Ia berhenti di sebuah clearing, mengatur napas. Lukanya terbuka lagi—darah mengalir deras. Tapi ia tersenyum.

"Akhirnya... kau kembali padaku."

Mawanggeom bersinar pelan, seolah menjawab.

Tapi tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Para penyelidik pasti akan mencari. Jejak darahnya bisa dilacak.

Ia harus cepat.

"Tapi ke mana?"

Kembali ke klan terlalu berisiko. Mereka akan menggeledah setiap sudat. Pergi ke Magyo juga berisiko—jejak darah bisa mengarah ke sana.

"Atau..."

Ia menatap pedang di tangannya.

"Mungkin ini saatnya aku mulai bergerak sendiri."

Ia memejamkan mata, merasakan aliran energi Mawanggeom. Pedang itu menyimpan sebagian dari kekuatannya dulu. Kekuatan yang bisa ia serap.

"Tapi butuh waktu. Dan aku tidak punya waktu."

Suara langkah di kejauhan. Para pengejar mulai mendekat.

Namgung Jin menatap pedang itu sekali lagi, lalu memutuskan.

"Maaf, pedangku. Kau harus bersembunyi dulu."

Ia menggali tanah di bawah pohon besar, mengubur Mawanggeom. Lalu ia berlari ke arah berbeda, meninggalkan jejak darah palsu.

Semoga cukup.

---

Saat fajar menyingsing, Namgung Jin kembali ke Klan Namgung.

Ia masuk lewat jendela belakang paviliunnya, langsung jatuh di lantai. Lukanya parah—kehilangan banyak darah, ditambah lari semalaman.

Ibunya, Nyonya Yoon, terkejut setengah mati.

"Jin-ah! Ya Tuhan, kau kenapa?!"

"Ibu... diam... jangan teriak..."

*"Tapi—"

"Tolong... bersihkan lukaku... rahasiakan..."

Nyonya Yoon menangis, tapi ia melakukan apa yang diminta. Dengan tangan gemetar, ia membersihkan luka putranya, membalutnya dengan kain bersih.

"Jin-ah... apa yang terjadi padamu?"

Namgung Jin menatap ibunya. Matanya sayu, tapi masih tajam.

"Ibu, percayalah padaku. Aku akan jelaskan nanti. Tapi sekarang... ibu harus pura-pura tidak tahu. Jika ada yang bertanya, aku sakit. Demam. Tidak bisa diganggu."

Nyonya Yoon mengangguk, meskipun air matanya terus mengalir.

"Ibu janji."

---

Di paviliun tamu, suasana kacau balau.

Pencarian Mawanggeom tidak membuahkan hasil. Jejak darah putus di tengah hutan, seolah orang itu menghilang. Para penyelidik saling tuduh, saling curiga.

Tetua Seok mengamuk. "Ini pasti orang dalam! Siapa yang paling mungkin?"

Matanya menatap ke arah paviliun reot.

"Bocah itu... Namgung Jin. Di mana dia?"

Biksu Myeongjin mengerutkan kening. "Kau curiga padanya?"

"Sejak awal aku curiga! Panggil dia sekarang!"

Namgung Cheon—yang sejak tadi diam—angkat bicara. "Putraku sakit. Demam tinggi. Tidak bisa diganggu."

"Sakit? Kebetulan sekali!"

"Tetua Seok, kau di rumahku. Hormati aturanku."

Tetua Seok memerah. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak.

*"Baik. Tapi aku akan mengawasi. Jika ada yang aneh—"

"Tidak akan ada."

---

Di balik pintu kamarnya, Namgung Jin mendengar percakapan itu dari jauh.

Ia tersenyum lemah.

"Langkah ketujuh: selamatkan pedang, kacaukan musuh."

Tapi perjuangan belum selesai. Tetua Seok tidak akan berhenti. Dan Magyo menunggu laporan.

Ia memejamkan mata, mengatur napas. Luka di perut terasa panas, tapi ia tahan.

"Istirahat sebentar. Lalu lanjutkan."

Simma di dadanya berdenyut—pelan, hangat. Mungkin Namgung Jin asli—jiwa bocah itu—turut merasakan kemenangan ini.

Atau mungkin itu hanya imajinasinya.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!