Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Rizki di Tengah Hujan Dan Badai
Beberapa jam setelah Kezia pergi, langit di luar rumah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Awan hitam yang tebal menutupi bintang dan bulan, dan tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh guntur yang menggelegar, diikuti oleh hujan deras yang turun dengan sangat deras. Suara air hujan menghantam atap dan jendela rumah membuat suasana malam itu terasa semakin mencekam.
Rizky yang awalnya sedang asyik menonton kartun bersama Rania di ruang tengah langsung tersentak kaget saat terdengar suara petir yang sangat keras. KRAK! Suara itu begitu kuat hingga membuat kaca jendela rumah sedikit bergetar. Rania yang sedang bermain mainan bebek karet langsung menangis kencang karena kaget, memeluk leher Rizky dengan erat.
"Waduh! Waduh! Nggak apa-apa sayang, nggak apa-apa! Itu cuma suara petir kok, nggak bahaya," ucap Rizky dengan suara yang sedikit bergetar, meskipun dia sendiri juga merasa jantungnya berdegup kencang. Dia memeluk Rania dengan erat, mencoba menenangkan putrinya, tapi matanya terus melirik ke arah jendela yang gelap dan basah.
Belum sempat Rizky bernapas lega, tiba-tiba lampu di seluruh rumah berkedip-kedip beberapa kali, dan kemudian... mat! Gelap gulita. Hanya cahaya dari kilatan petir sesekali yang menerangi ruangan sejenak, membuat bayangan-bayangan benda di sekitar rumah terlihat seperti sosok-sosok misterius yang menakutkan.
"Aduh... kok lampunya mati sih sekarang..." gumam Rizky dengan suara pelan, keringat dingin mulai muncul di dahinya. Dia ingat betul bahwa Kezia bilang lampu sudah diperbaiki, tapi ternyata hujan deras ini bikin listrik padam lagi.
Rizky mencoba meraba-raba di atas meja ruang tengah untuk mencari senter yang biasanya dia simpan di sana. Tangannya menyentuh berbagai benda—remote TV, buku, gelas kosong—tapi tidak menemukan senter. "Mana ya senternya? Jangan-jangan hantu bawa lari nih..." pikirnya panik, imajinasinya mulai liar membayangkan berbagai hal seram.
Tiba-tiba, dari arah dapur terdengar suara aneh. Prang! Sepertinya ada benda yang jatuh dan pecah. Rizky langsung membeku di tempatnya, tubuhnya kaku seperti patung. Rania yang sudah mulai tenang kembali menangis lagi karena merasa ayahnya tegang.
"S-siapa itu?!" teriak Rizky dengan suara yang berusaha terdengar berani, tapi sebenarnya nada suaranya sudah naik satu oktaf karena ketakutan. "S-saya sudah siap lho! Saya punya belati... eh, maksud saya punya sendok besar! Jangan dekati saya dan anak saya!"
Tentu saja tidak ada jawaban, hanya suara hujan yang semakin deras dan sesekali suara petir yang kembali menggelegar. Rizky semakin panik. Dia berpikir, apakah itu pencuri? Atau hantu yang benar-benar datang? Atau mungkin monster dari luar angkasa? Imajinasi Rizky yang biasanya lucu kini berubah menjadi sumber ketakutan yang luar biasa.
Dengan hati-hati dan langkah yang gemetar, Rizky yang masih memeluk Rania mencoba berjalan mundur menuju sofa, berusaha menjauh dari arah dapur. Tapi karena gelap dan dia sedang panik, kakinya tidak sengaja tersandung kaki meja. Bruk! Rizky terjatuh duduk di lantai, tapi dia berusaha sekuat tenaga agar Rania tidak terjatuh atau terluka.
"Aduh... sakit..." erang Rizky pelan, tapi dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, takut "sesuatu" di dapur mendengarnya. Rania sekarang menangis semakin kencang, mungkin karena kaget melihat ayahnya jatuh dan juga karena suasana yang menakutkan ini.
"Shhh... nggak apa-apa sayang, Ayah cuma mau main duduk-duduk di lantai kok," bisik Rizky pada Rania, meskipun wajahnya pucat pasi. Dia kemudian mencoba bersuara lagi ke arah dapur, kali ini dengan nada yang sedikit memohon. "Heh... kamu yang di dapur itu... kalau kamu lapar, ada roti di toples lho. Ambil aja, tapi jangan ganggu kami ya. Kami cuma keluarga kecil yang lagi nunggu ibu pulang."
Tiba-tiba, terdengar lagi suara dari dapur, tapi kali ini lebih halus. Srrtt... srrtt... Seperti suara sesuatu yang bergerak perlahan di lantai. Rizky merasa bulu kuduknya merinding seluruhnya. Dia ingin berteriak memanggil Kezia, tapi dia tahu istrinya belum pulang dan mungkin tidak bisa mendengarnya di tengah hujan deras ini.
"Kak Kezia... kapan kamu pulang sih... Ayah sama Rania takut nih..." gumam Rizky dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa sangat lemah dan tidak berdaya di tengah kegelapan dan ketakutan ini. Dia menyesal kenapa tadi tidak memaksa Kezia untuk tidak pergi, atau setidaknya ikut pergi saja bersama mereka.
Tiba-tiba, dari arah pintu depan terdengar suara ketukan. Tok! Tok! Tok!
Rizky langsung melompat berdiri (meskipun kakinya masih gemetar), memeluk Rania semakin erat. "Siapa?!" teriaknya, kali ini suaranya benar-benar terdengar panik. "Jangan masuk! Saya sudah lapor polisi! Eh, maksud saya polisi sudah di jalan! Mereka bakal datang sebentar lagi!"
"Sayangku... ini aku... bukain pintu dong... hujannya deras banget nih," terdengar suara Kezia dari balik pintu, diselingi oleh suara batuk kecil karena kedinginan.
Rizky tertegun sejenak, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apakah itu benar-benar Kezia? Atau "sesuatu" yang meniru suara istrinya untuk menipunya? Dia ragu-ragu sejenak, tapi kemudian dia mendengar suara Kezia lagi, kali ini lebih jelas. "Sayang, ini aku beneran kok. Aku bawa kue juga lho, kayak janjiku."
Baru kemudian Rizky menyadari bahwa itu memang suara istrinya yang asli. Dengan perasaan lega yang luar biasa, dia berjalan cepat menuju pintu depan, meraba-raba pegangan pintu dalam kegelapan. Saat pintu terbuka, terlihatlah sosok Kezia yang berdiri di sana, basah kuyup karena hujan, memegang payung yang sudah tidak terlalu berguna dan sebuah kotak kue di tangannya.
"Kak Kezia!" teriak Rizky, dan tanpa pikir panjang, dia langsung memeluk Kezia erat-erat, meskipun istrinya basah kuyup dan dia masih memeluk Rania di lengan lainnya. "Kamu akhirnya pulang! Aku takut banget tadi! Ada suara-suara aneh di dapur, lampu mati, petir gede banget! Aku kira ada hantu atau pencuri atau monster!"
Kezia kaget melihat reaksi suaminya yang begitu panik dan emosional, tapi dia juga merasa terharu melihat betapa takutnya Rizky tanpa dirinya. Dia membalas pelukan Rizky dengan lembut, sambil mengelus punggung suaminya. "Udah, udah... sayangku, tenang ya. Aku sudah pulang sekarang. Nggak ada hantu atau pencuri kok, itu cuma imajinasimu aja yang terlalu liar."
Kezia kemudian masuk ke dalam rumah, dan Rizky langsung menutup pintu dengan cepat seolah-olah takut ada sesuatu yang ikut masuk. Kezia menyalakan senter yang dia bawa dari tasnya, menerangi ruangan.
"Tunggu ya, aku cek ke dapur sebentar buat lihat apa yang bikin suara tadi," ucap Kezia, lalu dia berjalan menuju dapur dengan senter di tangan. Rizky mengikutinya dari belakang, masih memeluk Rania dengan erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.
Sesampainya di dapur, Kezia mengarahkan cahaya senter ke lantai. Ternyata, di sana terlihat sebuah toples kaca yang berisi biskuit jatuh dan pecah, dan di dekatnya terlihat seekor kucing liar yang sedang ketakutan, mungkin masuk lewat jendela yang sedikit terbuka dan tersandung toples itu. Kucing itu melihat mereka dengan mata yang berbinar di kegelapan, lalu lari keluar lewat jendela yang sama saat melihat Kezia dan Rizky.
"Nah, lihat kan? Yang bikin suara tadi itu cuma kucing nakal ini kok," ucap Kezia sambil tersenyum menoleh ke arah Rizky.
Rizky menghela napas panjang, rasa takutnya perlahan hilang digantikan oleh rasa malu. "Oh... ternyata cuma kucing ya... aku kira apa tadi. Hahaha..." dia tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi kan gelap banget Kak, jadi wajar dong kalau aku takut. Lagian, aku kan harus waspada demi keselamatan kamu dan Rania."
Kezia tertawa kecil mendengar alasan suaminya yang khas. "Iya iya, Ayah yang paling pemberani dan waspada. Tapi sekarang sudah aman kok, sayang. Ayo kita bersihkan ini nanti, sekarang lebih baik kita ganti baju dulu biar nggak sakit, terus kita makan kue yang aku bawa ini ya."
Rizky mengangguk dengan antusias, rasa takutnya tadi seketika hilang berganti dengan kebahagiaan karena keluarganya sudah berkumpul kembali. Meskipun dia ketakutan setengah mati tadi, tapi bagi Rizky, pengalaman itu mengajarkannya betapa berharganya kehadiran Kezia dan Rania dalam hidupnya. Dan malam itu, di tengah hujan dan petir yang masih terdengar di luar, rumah mereka kembali dipenuhi dengan kehangatan, tawa, dan aroma kue yang manis—serta kenangan lucu tentang Rizky yang ketakutan karena seekor kucing.