NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kong Teik dan Stok Obat yang Hancur

Bab 4: Kong Teik dan Stok Obat yang Hancur

Pemuda itu membentur istri Lau Cu. Terlihat seperti orang ciuman. Lalu dunia meledak.

Bukan kiasan.

DOR!

Gelombang chi biru menyembur dari tubuhnya, membabi buta, tak terkendali. Ibu-ibu yang sedari tadi ngepung ranjang seperti kawanan ayam lapar sekarang TERPENTAL ke segala arah.

Yang di depan terbang ke dapur, nyangkut di rak piring.

Yang di samping melayang keluar jendela, mendarat di tumpukan jerami.

Yang di belakang berguling-guling sampai halaman, berhenti setelah membentur pohon jambu.

Jeritan di mana-mana.

"AAAAA—!"

"IBLIS! IBLIS BENGSUT!"

"AMPUN! AMPUN!"

Tapi di tengah kekacauan itu, dua orang tidak bergerak.

Kwee Lan.

Dia masih berdiri di dapur, periuk di tangan kiri, sendok di tangan kanan. Kakinya tertanam seperti akar pohon. Bu Ki Sut level 3—keseimbangan sempurna. Gelombang chi itu melewatinya seperti angin melewati batu.

Ah Niu.

Dia masih di tempatnya semula, persis di samping ranjang. Cuma bajunya yang sedikit berkibar. Dia menunduk, melihat ibu-ibu yang terbang, lalu mengangkat tangan—masih utuh.

"Masih nempel," gumamnya, memeriksa jari-jarinya. "Untung."

Pemuda itu duduk di ranjang.

Mata biru menyala. Chi berputar di sekelilingnya seperti pusaran. Napasnya berat, tapi matanya—matanya sadar.

Dia menoleh. Melihat kekacauan. Melihat ibu-ibu bergelimpangan. Melihat Lau Cu pingsan di atas pohon jambu (lagi). Melihat rumah Kwee Lan yang—

KREEK... KRAK...

Dinding bambu mulai miring.

BRUAAAAK!

RUMAH ROBOH.

Tapi robohnya aneh. Bukan ambruk ke dalam kayak rumah biasa. Dinding-dinding bambu jatuh KE LUAR, menjauh dari titik pusat ledakan. Atap jerami terbang ke atas, lalu terusir keluar tinggal debu.

Rumah Kwee Lan sekarang jadi TANAH LAPANG LINGKARAN. Hanya kotak dan lemari yang diberi pelindung chi oleh ayahnya dulu yang sisa.

Di tengah lingkaran itu, hanya tiga yang berdiri:

· Pemuda bermata biru menyala

· Kwee Lan dengan periuknya

· Ah Niu yang masih sibuk memeriksa jari

 

Pemuda itu menatap Ah Niu.

Matanya yang biru mulai meredup. Tapi sorotnya tajam. Dia lihat Ah Niu—pakaian rapi meski tambalan, bawa buku, berdiri tegap di tengah kekacauan. Tidak goyah. Tidak lari.

Orang ini... luar biasa.

Pemuda itu turun dari ranjang. Kedua tangannya diangkat ke depan, membungkuk dalam.

Pai Pai. Penuh hormat.

"Terima kasih, Sauheng."

Ah Niu mengerjap. "Hah?"

"Kau selamatkan aku." Suara pemuda itu serak tapi penuh penghormatan. "Ramuanmu manjur. Jahitanmu rapi. Aku bisa rasakan chi-ku pulih meski belum sempurna—itu kerja kerasmu. Sebagai sinseh, kau luar biasa."

Ah Niu—

Ah Niu bengong.

Dari belakang pemuda itu, Kwee Lan menatap mereka. Wajahnya datar. Tapi sendok di tangannya bergetar sedikit.

Ah Niu lihat itu.

Wah, bahaya.

"Um..." Ah Niu angkat tangan. "Bro, gue bukan—"

"Jangan merendah!" Pemuda itu tegas. "Di medan perang, sinseh adalah pahlawan paling berharga. Aku tahu. Lukaku parah, tapi kau berhasil—"

PLEKK!

Sebuah benda keras menempel di bibir pemuda itu.

Pemuda itu kaget. Mata biru nyala lagi setengah detik, tapi Ah Niu gak peduli.

"Dengar sini, Lo." Ah Niu mendesis pelan. "Yang ngerawat lo tiga hari tiga malam, yang jahit luka lo pake jarum jam empat pagi karena cuma punya lampu minyak setengah, yang kasih ramuan pahit sampe lo meringis dalam mimpi—BUKAN GUE."

Pemuda itu mengerjap. Tangannya meraba benda di bibirnya. Sebuah lempengan kayu hitam. Ada ukiran di atasnya.

"Terus siapa?"

Ah Niu menjitak pelan kepala pemuda itu. PLEK!

"DIA TOLOL! "

Telunjuk Ah Niu mengarah ke Kwee Lan.

Pemuda itu menoleh. Melihat Kwee Lan—seorang perawan berbaju lusuh, rambut berantakan, periuk di tangan, berdiri di tengah reruntuhan rumahnya sendiri dengan ekspresi "INI RUMAH GUE LO".

"..."

Pemuda itu menatap Kwee Lan. Lalu menatap Ah Niu. Lalu menatap Kwee Lan lagi. Lalu menatap benda di tangannya.

Bentuknya bulat pipih sebesar telapak tangan, dari kayu sono keling hitam yang mengkilap meski usang. Ukiran halus memenuhi satu sisi. Ada nama—Kwee Lan—dan tahun ujian. Di sisi lain, cap kerajaan terukir rapi, tanda otentik.

Ini Kong Teik Sinseh. Tanda lulus ujian negara. Tanda seorang sinseh sejati.

"Tapi... dia..."

"Dia apa?"

"Dia..."

Pemuda itu cari kata yang tepat.

"...cewek."

Ah Niu menghela napas panjang. Napas yang bilang: "Gue capek sama dunia."

Pemuda itu diam.

Lalu matanya berubah. Bukan biru. Tapi seperti menghitung sesuatu dengan tangan kirinya. Tangan kanan memegang Kong Teik.

"Whoooa!!! " Matanya berbinar. "Berarti legenda Sinseh Wanita Gunung Peng San benar? Yang menemukan obat wabah cacar yang enak itu?"

Kwee Lan mengangkat bahu. Tangan satunya sibuk megang sendok.

"Tentu!"

Ah Niu menghela napas lagi.

Tiba-tiba—

Kwee Lan meraba lehernya. Kosong. Matanya menyipit.

"Ah Niu nakal!!!" Kwee Lan memukul-mukul kecil pundak Ah Niu. "Kenapa kamu copet lagi Kong Teik aku! Talinya putus lagi tiap kamu copet!"

Pemuda itu—Go Beng Liong—liat adegan itu. Kong Teik di tangannya, tali kulit putus. Dia baru sadar: Ah Niu udah nyopet Kong Teik dari leher Kwee Lan dan nempel ke mulutnya.

Lalu otaknya mulai sedikit berfungsi setelah rasa sakit dan kegembiraan itu—

"BERARTI AKU DITOLONG SINSEH PERAWAN?! "

Ah Niu tutup muka.

"Dan aku tadi PAI PAI ke orang yang salah?! Aku puji-puji dia?! Aku bilang jahitannya rapi padahal itu kerjaan lo?!"

Kwee Lan mengangguk.

"..."

Go Beng Liong meremas Kong Teik itu. Wajahnya campuran malu, marah, senang, dan malu lagi.

Di sela kemarahannya, sesuatu bergerak.

Pelan. Hampir tak terlihat.

"INI GILA! AKU JENDERAL! AKU DITOLONG SINSEH PERAWAN LEGENDARIS YANG BAJUNYA LUSUH! RUMAHNYA ROBOH! TAPI PUNYA KONG TEIK ASLI! DAN YANG KUPUJI ORANG LAIN! INI—INI—"

"Lo."

Suara Ah Niu datar.

Pemuda itu menoleh. Ah Niu sudah di samping Kwee Lan. Tangan Ah Niu terulur. Di jemarinya ada Kong Teik lain.

Mereka berdiskusi.

"Go Beng Liong. Tahun Ujian Kerajaan ke-12," baca Ah Niu keras-keras. "Lah, berarti ini orang yang dibilang mati itu kan?" katanya ke Kwee Lan.

"Nah makanya, bakal apes ini! Gak cuan blas," balas Kwee Lan datar.

"WALAUE EE! Kok Kong Teik aku lo copet!" seru Go Beng Liong. Diambilnya kembali Kong Teik miliknya dan dilap bersih-bersih. "Hih, dikasi upil rakyat jelata!" geramnya kesal.

Tapi dia balikin Kong Teik Kwee Lan. Pelan-pelan.

Lalu dia berdiri. Pelan-pelan. Wajahnya menyesal. Badannya tegak meski jahitan masih terlihat. Dia hadap Kwee Lan.

Pai Pai.

Bukan setengah-setengah. Badan membungkuk 90 derajat. Tangan di depan. Kepala menunduk.

"Aku... minta maaf."

"Mai la, mai la..." Kwee Lan melambaikan tangan. "Tidur dulu nanti sobek lagi, amchiong. Belum bikin benang baru gue!"

Go Beng Liong gak tau harus ketawa atau nangis.

Ah Niu udah ketawa. Tapi dalam hati.

 

Ah Niu dan Kwee Lan akhirnya membabat kebun tanaman obatnya—kecuali rami bintang yang sengaja disisain buat jahitan darurat.

Mereka membuat ramuan untuk warga yang bengkak-bengkak akibat insiden tadi. Menjalankan sumpah sinseh: menolong yang lemah dan gratis jasa untuk sesama sinseh. Sekaligus menutup mulut warga.

Kwee Lan bersyukur perabotan miliknya disimpan dalam lemari dan koper-koper anti chi. Jadi masih ada sisa stok aman untuk luka pemuda itu.

 

Dua jam kemudian.

Desa Bang Kah Chng gempar. Tapi gemparnya beda.

Bukan karena setan. Bukan karena iblis.

Tapi karena PEMUDA-PEMUDA DESA lagi BANGUN RUMAH KWEE LAN. Mereka takut karena pemuda itu ternyata tentara dengan pangkat cukup tinggi. Mereka juga tidak cukup nyali merawat pemuda itu di rumahnya.

Ah Niu yang pimpin. Go Beng Liong—sekarang udah sadar identitasnya—dipindahkan ke pos jaga terdekat.

Ibu-ibu yang tadi terbang, sekarang balik. Gak bawa obor. Bawa MAKANAN.

Yang tadinya mau bakar, sekarang bawa nasi bungkus. Yang tadinya teriak "iblis", sekarang tanya "minumnya di mana". Yang tadinya lihat istri Lau Cu cium pemuda, sekarang—

Oh, soal itu.

"Ini jamunya!" Kata Kwee Lan.

Penduduk langsung antre. Karena mereka tahu betul. Walaupun mereka kurang percaya kemampuan Kwee Lan pasca hilang chi, tapi soal ramuan pegal dan bengkak mereka selalu datang padanya.

"Ramuan bengkak dan pegal memang beli di sinseh wanita aja. Rasanya enak. Gak ngawur!" kata mereka.

Go Beng Liong di pos ronda cuma bisa merengut. Perkataan itu membuat hatinya kesal.

Setengah hari. Gotong royong. Rumah baru.

Tapi...

Kwee Lan duduk di depan rumah barunya. Wajahnya tidak senang.

Ah Niu mendekat.

"Kenapa? Rumah udah jadi."

Kwee Lan tunjuk ke tanah.

Tanaman obatnya. Jahe. Sereh. Sirih merah. Lempuyang. Semua HANCUR. Yang tersisa habis buat menutup mulut warga dan stok obat Jendral muda itu.

"Habis," kata Kwee Lan. "Setahun tanam. Habis sehari."

 

Kwee Lan geleng. "Ga ada."

Dari belakang, Go Beng Liong muncul. Sekarang jalannya udah agak tegak. Jahitan masih keliatan, tapi chi-nya mulai pulih. Tapi raut mukanya? Am-chiong (hancur lebur) banget.

"Gua pasti ganti... Banyak duit gue..."

Ah Niu menyumpal mulut pemuda sombong itu dengan kertas—kertas pengumuman kematiannya sendiri.

"HAAAAA, GUA MASIH HIDUP! " jeritnya.

Kertas itu bergambar wajahnya. Dengan tulisan: "12 Jenderal Besar Gugur dalam Tugas. Dimakamkan 12 Hari Lalu."

Kwee Lan benar.

Dia Jenderal Besar. Tapi secara resmi, dia SUDAH MATI. Uangnya? Rekeningnya? Tanahnya? Semua mungkin udah disita atau dibagi ke ahli waris—yang percaya dia mati.

Dia gelandangan sekarang.

Miskin. Luka. Dan rumah orang yang nolong dia rata.

Go Beng Liong membungkuk. Dalam hati, dia cuma bisa bergumam:

"Chin-chia am-chiong... gua (bener-bener hancur... gue) ini."

"Jendral mati, bo-chun (gak siap), bo-ji-lang (kayak bukan manusia), dan sekarang am-chiong total."

Dia tarik napas. Lalu berkata lirih,

"Aku... aku janji. Akan ganti semua. Suatu hari."

Kwee Lan menatapnya datar.

"Janji Jendral mati?"

Suasana hening.

Dia lihat pengumuman itu. Lalu lihat Go Beng Liong. Lalu lihat pengumuman lagi.

"Kenapa? Sakit?" tanyanya.

"Bukan..." Go Beng Liong tersenyum pahit. "Janji orang hidup. Tapi... Aku... jauh lebih ganteng dari gambar ini." Dia menunjuk pengumuman itu.

Kwee Lan tidak menjawab.

Pita suaranya naik turun. Dan memang perkataan Jendral itu benar. Dia lebih tampan dari lukisannya.

Tapi mata gadis ini dingin dan dalam. Seperti mata hantu.

Niat Go Beng Liong mencairkan suasana malah gagal total.

Kwee Lan sibuk membuat ulang bubur. Tapi dia lihat pemuda-pemuda yang tadi bantu bangun rumah. Mereka sekarang lagi ngobrol, ketawa, cerita soal "ledakan tadi". Ibu-ibu bagi-bagi makanan. Lau Cu pingsan (lagi) di pojok.

Go Beng Liong nunduk. Dalam hati, dia nimbang-nimbang: "Gua ini jenderal. Dulu megang ribuan pasukan. Sekarang? Bo-chun (gak siap), bo-ji-lang (hampa), dan am-chiong (hancur)."

Tapi dia inget mata Kwee Lan tadi. Mata yang kosong, tapi dia tetep nolongin dia. Dia inget jahitan di perutnya yang rapi. Dia inget ramuan pahit yang dipaksa masuk lewat sela bibir.

Dia angkat kepala.

"Boleh numpang?" tanya Go Beng Liong, suaranya lirih.

Ah Niu dan Kwee Lan saling pandang.

Kwee Lan angkat periuk. Bubur udah dingin dari tadi.

"Lo bikin rumah roboh, tanaman habis, bubur dingin, dan sekarang mau numpang?" kata Ah Niu.

Kwee Lan menunduk. Bibirnya komat-kamit,

"Chin-cai lah... (terserah lah...) gua ia... (gue juga...) mai keh-ki... (jangan sungkan...")"

Matanya dingin. Walaupun kata-katanya terasa hangat di hati Jendral muda itu.

Malam turun. Dan dari kejauhan, bunyi suatu peluit sandi terdengar.

Go Beng Liong tersentak. Matanya membelalak.

Masa lalunya datang menjemput.

 

[Bersambung]

 

Catatan Istilah Bab 4:

Istilah Hokkien ARti

Bengsut 物慾 Iblis, jahat

Kong Teik 功德 Jasa/pahala, sertifikat sinseh

Pai Pai 拜拜 Minta maaf / sembahyang

Sauheng 師兄 Saudara seperguruan

Mai la 莫啦 Jangan, menolak pai pai dengan lembut. Tanda kerendahan hati.

Am-chiong 暗傷 Hancur lebur

Chin-chia 真者 Benar-benar

Bo-chun 無準備 Gak siap

Bo-ji-lang 無人 Kayak bukan manusia

Chin-cai 精彩 Terserah

Mai keh-ki 莫客氣 Jangan sungkan

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!