Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Membuktikan
Ge menatap Arif dengan mata menyipit. Beberapa detik dia tidak berkata apa-apa, seolah sedang menimbang apakah harus terus menertawakan pria itu atau justru mendengarkan kelanjutannya.
“Apa buktinya?” tanya Ge akhirnya.
Arif tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang. “Kalau kamu mau, ikut saya sekarang. Saya akan menunjukkan semuanya.”
Ge menyilangkan tangan sambil memiringkan kepala. Dalam hatinya dia justru merasa penasaran. Bukan karena percaya cerita itu, tapi karena ingin tahu sejauh apa orang ini akan melanjutkan “drama” anehnya.
“Serius?” kata Ge sambil menyeringai tipis. “Oke… aku ikut.”
Arif mengangguk kecil, tapi kemudian menambahkan satu syarat. “Kamu harus ikut sendiri. Tapi tanpa teman-temanmu.”
Ge melirik ke arah meja tempat Bimo, Taufik, dan dua anak sekolah lain masih tertawa sambil makan gorengan. Mereka bahkan tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan Ge dengan pria asing ini.
Ge kembali menatap Arif.
“Kenapa harus sendiri?”
“Karena ini urusanmu.”
Ge mengangkat bahu santai. “Yaudah.”
Baginya, ini hanya petualangan kecil tambahan di hari bolos sekolah. Lagipula dia yakin ujung-ujungnya cuma tipuan atau lelucon aneh.
Namun sebelum berjalan mengikuti Arif, Ge diam-diam mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi perekam suara dan menyalakannya. Ponsel itu lalu dia masukkan kembali ke saku celana.
“Lumayan buat bukti kalau ini prank,” gumamnya dalam hati.
Arif kemudian mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan singkat. “Ya. Jemput kami sekarang,” katanya pelan.
Tidak sampai lima menit kemudian, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan warung kopi. Mobil itu terlihat sangat berbeda dari kendaraan lain di jalan.
Bimo sampai melongo dari kejauhan. “Woy… itu mobil apaan?”
Taufik ikut menoleh. “Gila… kayak mobil orang kaya.”
Mobil listrik mewah itu berhenti tepat di depan Arif dan Ge. Pintu terbuka perlahan.
Ge meliriknya sekilas. “Tesla ya?” tanyanya santai.
Arif hanya membuka pintu belakang. “Masuk.”
Ge malah tertawa kecil. “Om serius banget settingannya.”
"Ge! Mau kemana?!" pekik Bimo.
"Gue pergi bentar! Titip motor ya!" sahut Ge. Dia masuk ke dalam mobil tanpa terlihat kagum sedikit pun. Kursinya empuk, interiornya bersih dan mewah, layar besar menyala di dashboard. Tapi bagi Ge, semua itu belum cukup membuatnya percaya.
“Lumayan juga budget pranknya,” ucapnya.
Mobil kemudian melaju meninggalkan warung. Di kursi belakang, Ge duduk santai sambil menatap keluar jendela. Kota yang biasa dia lihat dari motor tua kini terlihat berbeda dari balik kaca mobil mewah.
Arif duduk di sampingnya dengan tenang. Perjalanan berlangsung cukup lama. Mereka keluar dari pusat kota dan memasuki kawasan perumahan elit yang jalannya lebar dan dipenuhi pohon-pohon besar.
Ge mulai bersiul kecil. “Wah… lokasi pranknya makin mahal.”
Arif hanya menggeleng saat mendengar dirinya terus dituduh jadi tukang prank.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besar. Di baliknya terlihat rumah megah dengan halaman luas dan taman yang terawat rapi.
Gerbang otomatis terbuka perlahan. Mobil masuk ke halaman. Ge akhirnya sedikit terdiam. Bukan karena percaya, tapi karena tempat itu benar-benar besar.
Rumah itu seperti vila. Dua lantai, dinding putih bersih, jendela kaca besar, dan mobil-mobil mahal terparkir di garasi.
“Buset…” imbuh Ge pelan. Namun dia segera menggeleng lagi. “Settingan film juga bisa gini.”
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Arif turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk Ge. “Silakan.”
Ge turun sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Om kalau ini prank YouTube, subscribernya pasti banyak.”
Arif tidak menjawab. Dia hanya berjalan menuju pintu rumah. Begitu mereka masuk, seorang pelayan langsung membungkuk memberi salam.
Ge langsung melirik Arif dengan tatapan curiga. “Om nyewa aktor juga?”
Arif menghela napas kecil, lalu akhirnya berkata dengan nada serius. “Nama lengkap saya Arif Rahman.”
Ge menunggu kelanjutannya. “Saya adalah sekretaris pribadi Romy Armansyah.”
Nama itu membuat Ge mengernyit lagi.
Arif melanjutkan, “Dan pria itu… adalah ayah kandungmu.”
Ge langsung tertawa lagi. “Om… jangan serius banget.”
Namun Arif tetap bicara tanpa ekspresi. “Romy Armansyah meninggal tiga minggu lalu.”
Tawa Ge perlahan berhenti. Dia menatap Arif dengan dahi berkerut.
Arif melanjutkan, “Sebelum meninggal, beliau meninggalkan wasiat.”
Ge mulai merasa aneh. Cerita ini terlalu panjang untuk sekadar tipuan.
“Wa-wasiat?” tanya Ge.
Arif menatap langsung ke matanya. “Semua hartanya diwariskan kepadamu.”
Ge langsung tertawa lagi, tapi kali ini tidak sekeras tadi. “Om… Sumpah! Ini makin mirip drama China.”
Arif mengabaikan komentar itu. “Pak Romy mengetahui bahwa istri barunya berselingkuh.”
Ge diam.
“Karena itu, dia mengubah seluruh surat warisan.”
Ruangan menjadi sunyi. Arif lalu berkata pelan. “Kamu adalah satu-satunya pewaris keluarga Armansyah.”