"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang yang Menjerat Logika
Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru napas Reyhan yang memburu. Cahaya dari layar ponsel yang menampilkan foto misterius itu menerangi wajahnya yang pucat pasi.
"Pola kedua... memutus nadi?" Reyhan bergumam parau. Ia menatap Kiara yang masih lemas di pelukannya, lalu beralih ke Rendy. "Siapa yang mengirim ini, Rendy? Kamu bilang kamu jurnalis, kamu pasti tahu siapa yang bermain-main dengan kamera di ruangan ini!"
Rendy tidak langsung menjawab. Ia menatap telapak tangannya yang robek—luka itu tidak berdarah lagi, tapi tepian kulitnya berwarna hitam seolah dijahit oleh benang gaib.
"Tidak ada orang lain di sini, Rey," jawab Rendy pelan. "Foto ini diambil dari dalam peti. Dari sudut pandang 'sesuatu' yang tadi keluar dari sana. Ini bukan teror manusia. Ini instruksi."
"Instruksi untuk bunuh diri?!" bentak Reyhan sambil berdiri, mencoba menahan amarah yang bercampur rasa takut. "Aku polisi, Rendy. Aku tidak percaya pada instruksi setan!"
Tiba-tiba, Kiara mengerang. Ia memegangi pergelangan tangannya yang kini memiliki simbol hitam itu. "Rey... panas... pergelanganku seperti terbakar lagi..."
Simbol hitam di tangan Kiara mulai bercahaya redup. Secara mengerikan, sebuah benang merah tipis keluar dari bawah kulitnya—bukan merambat ke luar, tapi melilit pergelangan tangannya sendiri dengan sangat kencang, seperti jeratan kawat yang perlahan menyayat daging.
"Kiara!" Reyhan mencoba menarik benang itu, tapi jarinya justru tersayat. Darahnya langsung terserap masuk ke dalam benang tersebut.
"Hentikan, Reyhan! Jangan beri dia darah lagi!" teriak Rendy. "Lihat pola di lantai!"
Di bawah kaki mereka, debu hitam sisa benang yang terbakar mulai bergerak sendiri, membentuk garis-garis panjang yang mengarah ke pintu keluar dan menguncinya dengan anyaman yang mustahil ditembus secara fisik.
"Dia tidak ingin kita keluar," bisik Kiara. "Darma... dia ingin salah satu dari kita menyerahkan nadinya agar yang lain bisa lewat."
Reyhan mengepalkan tinjunya. Ia memungut pisaunya yang tergeletak di lantai. Logikanya sebagai polisi bertarung habis-habisan dengan kenyataan horor di depannya. "Kalau dia butuh nadi, biar aku yang urus. Tapi bukan dengan cara yang dia mau."
Ia tidak mengarahkan pisau ke nadinya, melainkan ke arah Simbol Penenun yang terukir di pintu kayu. "Kalau dia bisa menenun takdir, aku akan merobek kainnya."
Tepat saat ujung pisau Reyhan menyentuh pintu, suara tangisan ribuan wanita terdengar serentak dari balik tembok, membuat telinga mereka berdenging hebat hingga mengeluarkan darah. Dunia seolah terbalik. Suara tangisan itu mendadak berhenti, berganti dengan suara petikan senar yang putus—Tring!—sangat nyaring di dalam kepala.
Pintu kayu di depan Reyhan tidak hancur, melainkan mencair menjadi jutaan ulat sutra merah yang menggeliat jatuh dan merayap cepat menuju kaki Reyhan.
"Reyhan! Menjauh!" teriak Rendy sambil menarik Kiara mundur.
Reyhan terlambat. Ulat-ulat merah itu melilit kakinya hingga ia jatuh berlutut. Dari sela-sela tumpukan ulat, muncul sebuah tangan pucat yang panjang dengan jari-jari kurus kering tanpa kuku. Tangan itu memegang sebuah jarum tulang raksasa yang masih berlumuran darah segar.
Sesosok wanita tua dengan mulut yang dijahit rapat menggunakan benang emas muncul dari balik tumpukan ulat. Matanya tidak ada, hanya lubang hitam yang terus mengeluarkan cairan kental. Ia membungkuk di depan Reyhan, ujung jarum tulangnya tepat berada di atas nadi leher pria itu.
"Pilih..." suara itu bergema di dalam pikiran mereka bertiga. "Nadi si penjaga hukum... atau nyawa si pembawa penglihatan?"
Jarum itu menekan kulit leher Reyhan. Setetes darah keluar, dan seketika itu juga, benang hitam di pergelangan tangan Kiara menjerat lebih kencang, membuat gadis itu menjerit tertahan sebelum jatuh pingsan.
"Hentikan!" Rendy berteriak. "Jangan sentuh mereka! Ambil aku! Aku yang tahu sejarah busukmu, ambil aku sebagai saksimu!"
Wanita tua itu menoleh. Sudut mulutnya yang dijahit sedikit robek, memperlihatkan seringai penuh ulat kecil. Ia mengangkat jarumnya dari leher Reyhan, mengarahkannya tepat ke mata kanan Rendy.
"Saksi... harus melihat dengan darah," bisik suara itu.
Sebelum Reyhan sempat bangkit, jarum itu melesat cepat menuju wajah Rendy.