NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membagi waktu usaha dan sekolah

Kesibukan mengelola usaha dan sekolah memang tidak mudah. Setiap hari, aku harus membagi waktu dengan sangat cermat. Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun untuk mengecek stok bahan baku dan memberikan instruksi singkat pada ibu-ibu yang sudah mulai bekerja di bengkel. Setelah itu, aku buru-buru bersiap ke sekolah dengan tas yang penuh buku pelajaran, tapi kadang juga diselipkan sketsa desain baru atau catatan pesanan yang belum selesai aku urus.

Di sekolah, aku berusaha fokus sepenuhnya pada pelajaran. Aku duduk di barisan depan, mendengarkan penjelasan guru dengan saksama, dan mencatat semua materi penting. Aku tahu, pendidikan itu penting, dan aku tidak boleh mengabaikannya hanya karena kesibukan usahaku. Saat jam istirahat, sementara teman-teman lain berkumpul dan mengobrol riang, aku sering menyelinap ke perpustakaan. Di sana, selain mengerjakan tugas sekolah, aku juga memanfaatkan waktu untuk membalas pesan pelanggan atau mengecek perkembangan pesanan lewat ponselku dengan cepat dan diam-diam agar tidak ketahuan petugas perpustakaan.

Sore harinya, begitu bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung bergegas kembali ke bengkel kerja. Aku memeriksa hasil kerja hari itu, memastikan kualitasnya tetap terjaga, dan menyelesaikan bagian-bagian yang membutuhkan ketelitian lebih yang biasanya aku kerjakan sendiri. Malam hari adalah waktuku untuk sekolah—mengerjakan PR, membaca buku pelajaran, dan mempersiapkan diri untuk ujian keesokan harinya. Kadang, mataku terasa sangat berat dan aku ingin saja menyerah dan tidur, tapi saat aku melihat hasil karyaku dan senyum ibu-ibu yang bekerja bersamaku, rasa lelah itu perlahan hilang digantikan semangat baru.

Di tengah kesibukan yang padat itu, Raka tetap ada. Dia tidak pernah mengeluh karena aku sering kali tidak punya banyak waktu untuk mengobrol lama atau jalan-jalan seperti teman-teman sebayaku. Justru, dia menjadi sosok yang sangat pengertian dan suportif.

Saat melihatku sibuk mencatat sesuatu di buku catatan kecil saat istirahat, Raka tidak mengganggu. Dia hanya akan duduk di sebelahku, membawa bekal makan siang yang kadang dia belikan khusus untukku, dan menunggu sampai aku selesai. "Makan dulu, Laras. Nanti sakit kalau perut kosong," katanya lembut sambil menyodorkan bekal itu.

Ada kalanya aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perhatiannya sama besarnya. "Maaf ya, Raka. Aku jadi jarang punya waktu buat ngobrol sama kamu," ucapku suatu hari saat kami berjalan menuju gerbang sekolah setelah kegiatan ekstrakurikuler selesai.

Raka tersenyum, senyum yang selalu membuat hatiku terasa hangat meski aku masih berusaha menahannya. "Tidak apa-apa, Laras. Aku mengerti betapa pentingnya usahamu dan sekolahmu bagimu. Aku bangga melihat kamu begitu pekerja keras dan punya tujuan hidup yang jelas. Aku senang bisa ada di sini, di sampingmu, meski hanya sebagai pendengar atau teman yang menemanimu jalan pulang. Itu sudah cukup buatku."

Kata-kata Raka selalu membuatku merasa tenang. Perlahan, tembok tebal yang aku bangun di sekeliling hatiku mulai retak sedikit demi sedikit. Aku mulai merasa nyaman dengan kehadirannya. Aku mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang kesulitan yang aku hadapi dalam mengelola usaha, tentang pelajaran yang sulit di sekolah, dan kadang—meski sangat jarang—tentang perasaanku. Raka selalu mendengarkan dengan sabar, memberikan saran jika aku memintanya, dan selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi.

Suatu hari, saat aku sedang kewalahan karena ada banyak pesanan yang harus dikirim dan juga ada ulangan harian yang penting, Raka datang menawarkan bantuan. "Laras, kalau kamu butuh bantuan untuk mengepak barang atau memasukkan ke amplop, aku bisa bantu. Aku bisa datang ke bengkelmu setelah sekolah nanti. Aku tidak akan mengganggu, kok. Aku cuma mau bantu supaya kamu tidak terlalu lelah."

Aku terdiam. Tidak pernah ada orang selain keluarga dan ibu-ibu pekerjaku yang pernah menawarkan bantuan seperti ini, apalagi orang luar yang tahu betul kesibukanku. Rasa haru menyelinap di dadaku. "Kamu nggak sibuk, Raka? Kamu kan ketua OSIS, pasti banyak tugas juga," tanyaku pelan.

"Sudah aku atur kok. Hari ini tugasku sudah selesai lebih awal. Jadi, boleh kan aku bantu?" tanyanya lagi dengan tatapan memohon yang manis.

Aku akhirnya mengangguk. "Terima kasih, Raka. Bantuanmu sangat berarti buatku."

Sore itu, Raka benar-benar datang. Dia membantu kami memasukkan kerajinan ke dalam kotak, menempelkan label alamat, dan mengikatnya dengan rapi. Dia bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak merasa gengsi sedikitpun meski dia adalah ketua OSIS yang populer. Ibu-ibu pekerjaku pun berbisik-bisik sambil tersenyum melihatnya, membuatku tersipu malu.

Saat pekerjaan selesai dan Raka pamit pulang, aku menatap punggungnya yang menjauh. Hatiku terasa hangat dan berbeda. Aku sadar, kehadiran Raka bukan lagi sekadar teman biasa. Dia sudah menjadi bagian dari hariku, sosok yang membuat hari-hariku yang berat terasa lebih ringan. Meski rasa trauma masa lalu masih ada, kadang menyelinap dan membuatku ragu, tapi perlahan aku mulai percaya bahwa tidak semua hubungan itu menyakitkan. Mungkin, suatu hari nanti, aku benar-benar bisa membuka hatiku sepenuhnya untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!