Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi berikutnya, kepalaku terasa seberat batu. Sisa tangisan semalam dan raga yang basah kuyup karena hujan menyisakan jejak berupa demam dan flu. Namun, aku menolak untuk menyerah pada rasa sakit fisik. Aku tidak ingin Baskara berpikir bahwa pertemuanku dengannya semalam telah melumpuhkanku.
Aku memoles wajahku dengan riasan yang lebih tebal untuk menutupi pucat, menyambar syal, dan berangkat menuju kantor.
"Aruna? Kamu sakit?" sapa Siska begitu aku duduk di meja kerja. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil sebelum batuk kering mulai menyerang tenggorokanku.
"Cuma flu ringan, Sis. Nggak apa-apa," suaranya serak, nyaris hilang.
Tak lama kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Baskara masuk lebih dulu, disusul oleh Rasya yang tampak bersinar seperti biasa. Begitu melihatku, langkah Baskara sempat melambat. Matanya menyapu wajahku, menangkap rona merah di hidungku dan binar mata yang layu karena demam.
"Mbak Aruna, ya ampun! Kamu sakit ya?" Rasya langsung mendekat dengan wajah cemas. "Pasti gara-gara nunggu taksi kelamaan semalam ya? Maaf banget ya, Mbak."
Aku menggeleng pelan, meski kepalaku terasa berdenyut nyeri. "Bukan salahmu, Rasya. Memang cuacanya lagi buruk saja. Kita mulai rapatnya?"
Sepanjang rapat, aku berusaha keras menahan batuk. Aku mencatat poin-poin diskusi dengan tangan yang terasa dingin, namun fokusku tetap terjaga. Setiap kali aku batuk, aku bisa merasakan tatapan tajam Baskara tertuju padaku. Bukan tatapan penuh kasih seperti dulu, melainkan tatapan yang sulit diartikan—seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak meledak.
Dulu, jika aku bersin satu kali saja, Baskara akan panik luar biasa. Ia akan segera membelikanku obat, membawakan sup hangat, bahkan memaksaku pulang meski aku menolaknya dengan kasar. Sekarang? Dia hanya duduk di sana, memutar-mutar pulpennya dengan rahang mengeras, sementara di sampingnya Rasya sibuk mengelus lengannya.
"Mbak Aruna, istirahat saja dulu. Biar bagian ini aku yang handel," tawar Rasya tulus saat melihatku terbatuk cukup hebat.
"Saya oke, Rasya. Lanjutkan saja," jawabku pendek, suaraku semakin hilang.
Tiba-tiba, Baskara menggebrak meja pelan, membuat kami semua tersentak. Ia berdiri dan berjalan menuju meja pantri di sudut ruang rapat, mengambil segelas air hangat, lalu meletakkannya dengan dentuman kecil tepat di hadapanku.
"Minum," perintahnya pendek, suaranya sangat dingin namun penuh penekanan. "Jangan biarkan penyakitmu menghambat proyek ini. Selesaikan air itu, lalu kita lanjut."
Aku menatap gelas air hangat yang mengepul itu. Gema masa lalu kembali berbisik; ini adalah cara Baskara memperhatikanku dulu, namun kini ia membungkusnya dengan kata-kata tentang produktivitas dan proyek. Ia tidak ingin aku sembuh karena dia peduli padaku, ia ingin aku sehat agar aku tidak merepotkan pekerjaannya.
Aku meminum air itu dalam diam, merasakan kehangatan yang menjalar di tenggorokanku, namun hatiku justru terasa semakin beku. Rasa bersalah ini semakin nyeri saat menyadari bahwa meski dalam keadaan benci pun, Baskara tidak bisa sepenuhnya membiarkan orang lain menderita—sifat baik yang dulu justru aku injak-injak tanpa ampun.
Rapat berakhir dengan suasana yang kaku. Aku segera kembali ke meja kerjaku, menenggelamkan diri di balik layar monitor untuk menutupi wajahku yang semakin panas karena suhu tubuh yang naik. Tenggorokanku terasa seperti terbakar, dan setiap napas yang kuambil terasa berat.
"Aruna, aku ke kantin sebentar ya, kamu mau titip apa?" tanya Siska.
"Nggak, Sis. Makasih," jawabku pelan. Aku hanya ingin memejamkan mata sejenak, berharap pusing di kepalaku sedikit mereda.
Tanpa sadar, aku sempat tertidur dengan posisi kepala bertumpu pada lengan di atas meja. Hanya sekitar sepuluh menit, sampai suara gaduh dari kejauhan membuatku tersentak bangun. Saat aku mendongak, mataku menangkap sesuatu yang tidak ada di sana sebelumnya.
Di samping tetikusku, terletak sebuah kantong plastik putih kecil dari apotek ternama. Di dalamnya ada dua jenis obat flu dan batuk, satu strip vitamin C, serta satu kotak bubur instan gandum yang masih hangat. Tidak ada catatan, tidak ada nama pengirim.
Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke sekeliling ruangan yang sedang sepi karena jam istirahat. Di ujung lorong, aku melihat punggung pria yang sangat kukenali baru saja menghilang di balik pintu ruangannya.
Baskara.
Gema masa lalu langsung menghantamku. Dulu, dia akan melakukan hal yang sama jika aku keras kepala menolak minum obat. Bedanya, dulu dia akan menungguku sampai aku meminumnya sambil mendengarkan omelanku. Sekarang, dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi, seolah memberi perhatian padaku adalah sebuah kesalahan yang memalukan.
Aku memegang kotak bubur hangat itu. Gemetar di tanganku bukan lagi karena demam, melainkan karena rasa sesak yang kembali menyerang. Dia memberiku obat agar aku bisa bekerja, begitu katanya tadi. Tapi jenis obat dan bubur gandum ini... ini adalah merek yang selalu dia belikan untukku selama dua tahun dulu. Dia tidak hanya memberiku obat, dia memberikan memori.
Rasa nyeri di dadaku kembali hadir. Kenapa dia masih melakukan ini? Kenapa dia tidak membiarkanku menderita saja sebagai balasan atas semua perlakuanku dulu? Kebaikannya yang tak kunjung padam ini justru menjadi hukuman yang paling berat bagiku.
Aku membuka plastik itu dan menemukan satu botol air mineral kecil yang tutupnya sudah sedikit dilonggarkan—persis seperti yang selalu ia lakukan dulu karena ia tahu aku sering kesulitan membuka tutup botol yang terlalu rapat.
Air mataku jatuh mengenai plastik obat itu. Aku benar-benar manusia paling buruk. Aku telah menyia-nyiakan pria yang bahkan dalam kebenciannya pun masih ingat cara menjagaku dengan detail sekecil ini. Aku meminum obat itu dalam diam, menelan pahitnya pil bersamaan dengan pahitnya kenyataan bahwa kebaikannya adalah sesuatu yang tidak akan pernah pantas kuterima lagi.