Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Meminta maaf
"Permisi nindi?" Seorang perawat datang dengan sebuah parcel buah di tangannya.
"Iya sus?"
"Ini ada titipan"
"Dari siapa?"
"Pak David" Ungkapnya.
Ayah nindi yang mendengar obrolan kedua orang itu mengerutkan alisnya bingung, siapa David? dan kenapa ia mengirim buah untuk nindi.
"Siapa David?" Tanyanya penasaran.
"Sus kembalikan aja, Saya gak mau nerima" Tolak nindi halus.
"Nindi?" Panggil ayahnya pelan.
Nindi enggan berbalik menatap sang ayah, ia tau ayahnya pasti marah saat ia bersikap tidak sopan dan menolak pemberian orang lain.
"Gak baik begitu, orang sudah repot repot belikan buah untuk kamu kamu malah tolak begitu aja" Katanya menasihati.
Sudah ia duga ayahnya pasti akan berkata demikian, namun ini bukan karena ia tak bisa menghargai pemberian seseorang, ia hanya tak ingin David berfikir bahwa hatinya luluh karena menerima pemberiannya.
"Taruh aja di meja Sus, terimakasih ya?" Ucap ayah nindi tulus.
"Sama sama bapak"
Nindi masih berada di tempatnya, ia memunggungi sang ayah, laki laki tua itu mengangkat tangan lemahnya, menarik tangan sang anak untuk menghadapnya.
"Kamu kenapa?" Tanyanya lembut.
Nindi berusaha terlihat baik baik saja, ia tersenyum manis pada ayahnya.
"Nindi gak papa kok yah"
"Kamu yang bilang resign hari ini, kamu bilang tempatnya gak nyaman, harusnya kamu lega kamu senang udah bisa keluar dari sana, tapi kok kamu masih ngerasa sedih begitu?"
"Enggak yah, nindi baik baik aja kok"
"Jangan bohong"
"Nindi cuma lagi mikir mau cari kerjaan dimana lagi, nindi takut uang yang nindi simpan gak cukup buat berobat, jadi nindi kepikiran aja" Ujarnya.
"Ayah jadi ngerasa bersalah sama kamu"
"Enggak ayah, nindi janji nindi bakalan dapet kerja yang lebih baik ya?"
Keduanya saling berpelukan erat, ia tak berbohong soal pekerjaan, tapi yang lebih membuatnya merasa sedih adalah tentang perilaku dan perlakuan David.
"Maafin ayah ya?"
"Enggak ayah, bukan salah ayah" Isaknya.
David menyaksikan momen itu, momen dimana nindi dan ayahnya saling berpelukan di iringi isak tangis sendu, ia jadi semakin merasa bersalah dengan gadis pujaannya itu.
Dering ponselnya berbunyi, seseorang menghubungi, David mengangkat telepon genggamnya.
"Selamat siang Pak? Saya cuma mau mengingatkan tentang rapat siang ini" Katanya di seberang.
David mematikan telepon nya tanpa menjawab, ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
David berada di tengah tengah rapat, ia duduk diam tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh para bawahannya, pikirannya tertuju pada nindi, ia sama sekali tak dapat melakukan pekerjaan nya dengan baik
"Sudah selesai pak, mungkin ada tambahan?" Ucap salah satu managernya.
Ivan melihat bagaimana David terdiam melamun, lelaki itu sama sekali tak mendengar apapun, bahkan ketika di panggil
"Dave?" Panggil Ivan berbisik.
Masih terdiam dan melamun.
"David!" Panggil Ivan kuat.
Dan saat itulah David tersadar, lelaki itu mengerjapkan matanya berkali kali.
"Siapa selanjutnya?" Tanyanya tiba tiba.
"Sudah semua pak" Jawab mereka serentak.
David mengangguk kaku berbeda dengan Ivan yang tampak memijat pelipis kepalanya, ia yakin bahwa sahabatnya itu tengah memikirkan tentang nindi.
"Kalian boleh bubar" Perintah david.
"Baik Pak selamat sore!" pamitnya.
Satu persatu mereka meninggalkan ruangan dan menyisakan David juga Ivan.
"Nindi resign?" Tanya Ivan.
"Iya" Jawabnya lemas.
"Gue udah pernah peringatan lo kan?" Tanyanya.
"Kalo lo ada di sini cuma mau ngingetin bodohnya gue mending lo keluar!" Usirnya.
"Sayangnya gue peduli sama lo!" balas Ivan.
David membuang napas beratnya, ia menjatuhkan kepalanya pada kursi menatap langit langit ruangan rapat.
"Ayah nindi sakit ginjal" Ungkap Ivan.
David menatap Ivan, lelaki itu seperti nya mengetahui lebih jelas tentang nindi.
"Gue udah tanya sama suster di rumah sakit" Balas David.
"Akhir akhir ini kondisinya memburuk dan harus segera operasi" Ungkap Ivan lagi.
David terdiam, ia tak tahu tentang hal itu, ia tak mencari tahu lebih detail.
"Ibu nindi kemana?" Tanya David.
"Udah meninggal setahun yang lalu, kalo gak salah" Ungkapnya lagi.
David semakin marah, ia marah pada dirinya sendiri karena membayangkan betapa sulitnya hidup nindi, ia sangat menyesal.
"Menurut gue ini kesempatan bagus buat lo, nindi lagi kesulitan masalah ekonomi, ayahnya harus operasi, lo bisa dateng nawarin bantuan ke dia, siapa tau dia mau maafin lo" Kata Ivan.
Detik itu juga David berdiri dengan semangat.
"Thanks van!"
Laki laki yang genap berusia 28 tahun itu berlari keluar ruangan tanpa berpamitan.
"Dave Dave, kurang pengalaman banget sih lo!" Gumam Ivan.
...****************...
Nindi menoleh ke arah jendela dimana ayahnya di rawat, ia melihat bayangan David berdiri dan menatapnya, laki laki itu melambai rendah
Nindi berdecak kesal, beruntung ayahnya tengah tidur sekarang, ia berjalan untuk menghampiri mantan bosnya itu.
Nindi membuka pintu, menarik tangan David menjauhi ruangan ayahnya.
"Bapak ngapain sih?! gak cukup buat saya susah?! kurang!?" Marahnya tak Terima
"Nindi?" Laki laki itu mengangkat kedua tangannya dan dengan lancang menangkup kedua pipi nindi, nindi pun reflek menyingkirkan tangan David dengan kasar.
"Cukup pak! Saya udah gak punya apa apa lagi!" Ucapnya kasar
"Saya gak minta apa apa dari kamu nindi"
"Terus bapak mau apa kesini? mau ngetawain Saya?" Sarkasnya.
"Nindi Saya cuma mau minta maaf sama kamu, Saya bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahan Saya, Saya bakalan bantu kamu buat bayar biaya operasi ayah kamu, asal kamu maafin Saya ya?"
Nindi tertegun, darimana David mengetahui tentang kondisi ayahnya, sementara setahu dirinya informasi di rumah sakit ini sangat di lindungi.
"Saya tau bapak punya banyak uang, tapi bukan berarti bapak bisa beli semuanya pakek uang, bapak gak bisa minta maaf pakek uang, minta maaf itu karena bapak nyesel, karena bapak tau kalo bapak gak bakalan ngulangin kesalahan yang sama, bukan karena bapak banyak uang!" Sulutnya.
"Saya nyesel nindi, Saya janji Saya gak bakalan ngulangin kesalahan yang pernah Saya buat, Saya janji" Katanya.
Nindi menggeleng pelan, egonya masih tidak bisa menerima David, ia terlalu sakit hati atas perlakuan lelaki ini.
"Saya gak mau maafin bapak, dan tentang biaya rumah sakit ayah Saya bapak tenang aja, Saya masih mampu!" Tolaknya.
David mendongak frustasi, mengusap rambut nya kasar, sementara nindi pergi begitu saja.
"Saya gak akan pulang sebelum kamu maafin Saya!" Teriaknya.
Nindi terus berjalan, menoleh sekilas memberikan tatapan marah, namun ia tak berhenti untuk semakin menjauhi David di belakangnya.
"Pak jangan teriak teriak ini rumah sakit" Peringat salah satu perawat yang muncul dibalik pintu ruangan.
"Saya gak akan pulang sebelum kamu maafin Saya nindi, Saya jatuh cinta sama kamu" Ulangnya dengan pelan.