NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab18

Setelah pertemuan itu Vivian nampak ketakutan, bagaimana mungkin gadis polos yang dulu begitu lemah, sekarang dengan tatapan yang tegap dia berani melawannya.

Vivian berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ia tidak langsung masuk ke kamar cucunya karena suasana hatinya yang memang sedang kacau.

  "Ah, aku tidak bisa terus menerus seperti ini," gumamnya pelan. "Aku harus segera lakukan sesuatu," lanjutnya.

Sepertinya Vivian sudah mulai menemukan cara untuk menjauhkan kembali Andin dengan cucunya, jika dulu ia berhasil menjauhkan gadis itu dengan sang anak, dan sepertinya untuk yang sekarang butuh perjuangan.

  "Sialan!" kesalnya. "Ada-ada saja," gerutunya.

Ia pun langsung berhenti dan terlihat meraih handphone, Vivian terlihat menuliskan sesuatu lalu mengirim pesan itu kepada seseorang.

Sementara itu di dalam kamar sana, sedari tadi Nathan melihat obralan yang cukup lama antara sang ibu dan mantan pacarnya itu, meskipun dirinya tidak tahu apa yang dibicarakan, tapi setidaknya ia melihat jelas ekspresi Andin yang terlihat tidak takut sama sekali dengan ibunya.

  "Kenapa dari tadi Andin terlihat biasa saja, saat menghadapi Mami," tanyanya sendiri, seolah terus mencari tahu atas rasa penasarannya itu.

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Jika Andin memang bersalah seperti yang selama ini ia yakini… seharusnya perempuan itu terlihat gelisah. Atau setidaknya berusaha menghindari ibunya.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Andin berdiri dengan tenang. Seolah tidak menyimpan rasa bersalah sedikit pun, Nathan mengusap wajahnya kasar.

“Kenapa semua ini jadi terasa aneh…” bisiknya.

Tatapannya kemudian beralih pada Darrel yang masih tertidur dengan tenang. Tanpa sadar Nathan menghela napas panjang.

Pikirannya masih dipenuhi oleh wajah Andin. setelah dua belas tahun… keraguan mulai tumbuh di dalam hatinya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu di sebuah sekolah dasar yang tidak tidal terlalu jauh dari kontrakannya, Andin sudah sibuk membuka kantin kecilnya. Ia menata botol minuman di etalase, memanaskan gorengan, dan menyiapkan beberapa kotak nasi goreng sederhana untuk anak-anak yang nanti datang.

Aktivitas itu ia lakukan seperti biasa. Namun pikirannya masih teringat pada kejadian pagi tadi di rumah sakit. Terutama saat ia melihat tatapan Nathan yang berbeda dari biasanya.

Andin menghela napas panjang. “Kenapa kamu harus mulai berubah sekarang…” gumamnya lirih.

Namun ia segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin kembali berharap pada sesuatu yang dulu pernah menghancurkan hatinya.

“Sudahlah, Din,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu hanya datang untuk Darrel.”

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu, Mark yang sudah diminta Nathan untuk menyelidiki kejadian di masa lalu mulai bergerak.

Pria itu memang bukan orang sembarangan. Ia adalah sahabat lama Nathan yang cukup lihai mencari informasi, bahkan sering membantu Nathan ketika berurusan dengan sesuatu yang membutuhkan penyelidikan diam-diam.

Siang itu Mark terlihat duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan sebuah hotel tua yang berada tidak jauh dari pusat kota.

Matanya menatap papan nama hotel itu dengan serius.

"Kalau memang benar kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu... kemungkinan besar masih ada orang yang mengingatnya," gumamnya pelan.

Ia pun keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam hotel tersebut.

Bangunan itu terlihat cukup lama, namun masih beroperasi. Aroma pendingin ruangan bercampur dengan bau karpet tua langsung menyambutnya.

Mark berjalan menuju meja resepsionis.

"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik meja.

Mark tersenyum tipis.

"Saya ingin menanyakan sesuatu. Beberapa tahun lalu... mungkin sekita sebelas atau dua belas tahun yang lalu, apakah hotel ini pernah menerima seorang gadis yang dibawa dalam keadaan tidak sadar?"

Wanita itu tampak mengernyit, mencoba mengingat.

"Saya tidak begitu ingat, Pak. Sudah terlalu lama."

Mark mengangguk pelan, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan meletakkannya perlahan di atas meja.

"Saya hanya butuh sedikit bantuan untuk mengingat."

Wanita itu melirik uang tersebut, lalu kembali menatap Mark.

Ekspresinya berubah sedikit ragu.

"Hmm... sebenarnya dulu ada kejadian aneh," ucapnya pelan.

Alis Mark langsung terangkat.

"Kejadian apa?"

Wanita itu menurunkan suaranya.

"Dulu ada seorang gadis muda yang dibawa oleh dua pria. Mereka bilang gadis itu mabuk... tapi keadaannya terlihat seperti tidak sadar."

Mark langsung terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Apakah Anda masih ingat siapa yang membawa gadis itu?" tanyanya dengan suara serius.

Wanita itu menggeleng. "Tidak terlalu jelas. Tapi... yang saya ingat, salah satu dari mereka seperti orang kaya. Mobilnya mewah."

Mark mengepalkan tangannya perlahan.

"Menarik...," ucapnya menyeringai.

☘️☘️☘️☘️☘️

  Di rumah sakit saat ini Darrel mulai terbangun dari tidurnya, saat mengerjakan mata, tiba-tiba anak itu menyadari jika seseorang yang ia cari kini sudah tiada ditempatnya.

  "Mbak ... Mbak Andin dimana?" tanyanya pelan.

Di dalam kamar ada Nathan dan juga Vivian, mereka berdua langsung beranjak saat Darrel mulai bangun.

  "Ada apa Nak?" tanya Vivian lembut.

  "Mana Mbak Andin?" tanyanya.

  "Sudah jangan tanya lagi, perempuan itu yang meninggalkanmu," sahutnya seolah menjadi kompor pemisah.

  "Enggak paling Mbak Andin lagi ke kantin Nek," sahutnya tanpa ada drama menangis seolah sudah mengerti dengan keadaan Andin.

  "Ya, Nak, kamu benar sekali, Mbak Andin memang masih jualan," sahut Nathan Akhirnya.

Darrel mengangguk pelan setelah mendengar jawaban Nathan. Wajah anak itu memang masih pucat, namun sorot matanya terlihat jauh lebih tenang.

“Kalau begitu, setelah ke kantin apa Mbak Andin datang ke sini lagi Dad?"

Nathan menatap putranya sejenak. Pria itu lalu mengusap rambut Darrel dengan lembut.

“Tentu Mbak Andin akan datang ke sini lagi," sahutnya pelan.

Darrel kembali mengangguk. Anak itu pun merebahkan kepalanya di atas bantal. Meskipun matanya belum terpejam sepenuhnya, namun anak itu terlihat menerima.

Sementara itu Vivian berdiri tidak jauh dari ranjang cucunya. Perempuan paruh baya itu menatap Darrel dengan wajah lembut, namun pikirannya justru terus bekerja.

Ia sama sekali tidak menyukai kedekatan cucunya dengan Andin.

Baginya, perempuan itu hanya akan membawa masalah kembali ke dalam kehidupan dirinya.

Nathan yang berdiri di samping ranjang Darrel sesekali melirik ke arah pintu kamar.

Entah kenapa pikirannya teringat dengan percakapannya tadi subuh bersama Andin. perempuan itu begitu yakin. Mengatakan jika Darrel anak pintar, dan benar, Darrel yang awalnya keras sejak mengenal Andin anak itu jadi menurut dan penuh perhatian.

"Perkiraan mu tepat Ndin Darrel sekarang jadi anak yang mengerti," gumamnya tanpa sadar bibirnya tersenyum kecil.

Namun setelah pikirannya melayang lebih jauh, mengenai Andin tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar.

Bzzzt…

Nathan langsung merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponselnya.

Satu pesan masuk.

Dari Mark.

Alis Nathan sedikit berkerut sebelum akhirnya membuka pesan tersebut. Matanya langsung menajam saat membaca isi pesan itu.

“Nathan, aku menemukan sesuatu tentang kejadian dua belas tahun lalu. Sepertinya tidak sesederhana yang kamu kira.”

Nathan terdiam. Tangannya refleks menggenggam ponsel itu lebih erat.

Sementara di sampingnya, Vivian tanpa sadar mulai memperhatikan perubahan ekspresi putranya, hati Nathan mulai dipenuhi oleh satu perasaan yang selama ini tidak pernah ia izinkan muncul, yaitu.

Keraguan.

Bersambung. .

1
Siti Nugraheni
sukaaaaaaaa banget
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!