NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Nadia berdiri di dekat ranjang kecil itu sambil memegangi cangkir teh hangat yang baru saja ia seduh. Uap tipis mengepul perlahan, membawa aroma samar yang seharusnya menenangkan. Namun, di ruangan sempit itu, ketenangan adalah sesuatu yang mahal dan sulit dipertahankan terlebih dengan kehadiran Arya yang sejak tadi memasang wajah tidak puas.

“Kamu yakin ini layak diminum?” tanya Arya dengan nada datar namun sarat penilaian. Matanya menatap isi cangkir seolah-olah itu adalah benda asing yang mencurigakan.

Nadia menarik napas panjang, menahannya beberapa detik sebelum menghembuskannya perlahan. “Ini teh,” jawabnya singkat. “Air panas dan daun teh. Tidak beracun.”

“Kamu yakin?” Arya mendecak. “Di rumahku, teh diseduh dengan suhu tertentu, waktu tertentu, dan—”

“Dan ini bukan rumah anda,” potong Nadia, kali ini suaranya sedikit lebih tegas dari yang ia rencanakan. Ia segera menyesal setelahnya, melirik wajah Arya yang berubah semakin kaku.

Arya mengangkat alis, jelas tidak terbiasa dibantah dalam kondisi apa pun, apalagi oleh wanita yang menurut pandangan lamanya seharusnya selalu menuruti. Namun tubuhnya yang lemas membuatnya tidak bisa meluapkan kemarahan seperti biasanya.

“Teh ini terlalu sederhana,” gumam Arya. “Tidak layak.”

Nadia hampir tertawa mendengarnya. Hampir. Namun ia menahan diri. Ia tahu, jika ia terpancing sekarang, perdebatan ini tidak akan berakhir baik.

“Minum saja,” ujarnya akhirnya. “Atau biarkan.”

Arya menatapnya tajam beberapa detik, lalu dengan gerakan tiba-tiba ia merebut cangkir itu dari tangan Nadia. Gerakan itu terlalu cepat, terlalu ceroboh untuk kondisi tubuhnya yang masih lemah. Teh panas berguncang hebat, lalu tumpah ke lantai. Cangkir itu terlepas dari genggaman Arya, jatuh, dan pecah menjadi beberapa bagian dengan suara nyaring yang memecah keheningan kamar.

Nadia membeku.

Pecahan kaca berserakan di lantai, teh hangat merembes di antara celah-celah ubin kusam. Bau teh yang tadinya menenangkan kini bercampur dengan aroma debu dan udara lembap.

Refleks pertama Nadia adalah marah. Dadanya terasa sesak, rahangnya mengeras. Ia ingin berteriak, ingin meluapkan kekesalannya bukan hanya karena teh yang tumpah, tapi karena semua perlakuan Arya sejak awal. Namun saat matanya bertemu dengan wajah Arya yang pucat dan sedikit terkejut, amarah itu tertahan di tenggorokannya.

“Jangan bergerak,” ucap Nadia akhirnya, suaranya lebih rendah dari yang ia kira. Ia berjongkok, mengambil sapu kecil dan pengki dari sudut dapur, lalu membersihkan pecahan gelas dengan hati-hati. Sesekali ia melirik ke arah Arya, memastikan pria itu tidak mencoba bangkit lagi.

Arya mengamatinya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Ada kilatan tidak nyaman di sana bukan karena pecahan kaca, melainkan karena sikap Nadia yang tidak ia duga.

“Kamu bisa memanggil Melia,” kata Arya akhirnya. “Suruh dia membereskan ini.”

Nadia berhenti sejenak, lalu menggeleng. “Tidak perlu.”

Arya mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Tidak perlu,” ulang Nadia. “Saya bisa mengurusnya sendiri.”

Ia tidak ingin Melia masuk. Bukan karena gengsi, melainkan karena ia tidak mau Arya merasa perlu “membalas” sesuatu setelah ini. Ia tidak mau ada hutang budi yang berujung pada tuntutan lain.

Arya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke kamar kos ini, ia menyadari sesuatu yang mengganggu kendali situasi ini perlahan berpindah tangan. Bukan pada kekuatan fisik, bukan pada kekuasaan atau uang, melainkan pada kondisi.

Dan saat ini, Nadia-lah yang memegang kendali itu.

Perut Arya tiba-tiba berbunyi pelan, cukup keras untuk terdengar di ruangan sunyi itu. Ia menutup mata sejenak, menelan ludah.“Aku lapar,” katanya.

Nadia memutar mata. “Tadi anda tidak mau makan.”

“Aku tidak bisa makan mie instan,” balas Arya cepat, seolah itu pernyataan paling masuk akal di dunia.

“Di sini tidak ada makanan lain,” jawab Nadia, nada suaranya datar. “Saya sudah katakan sebelumnya.”

Arya menelan ludah. Tubuhnya terasa lemas, perutnya kosong. Ia kembali terdiam, lalu berkata lebih pelan, “Aku butuh makan.”

Nadia memijat pelipisnya. Kesabarannya menipis. “Aku tidak punya bahan lain,” ulang Nadia.

Arya memijat pelipisnya. Kepalanya masih pusing, perutnya perih. “Cari sesuatu,” katanya. “Apa saja.”

“Apa saja itu tidak muncul begitu saja dari udara,” balas Nadia. Kesabarannya mulai menipis, tapi ia masih berusaha menahan nada suaranya. “Ini kos, bukan dapur restoran.”

Arya bersandar di ranjang, napasnya sedikit terengah. Tubuhnya terasa semakin lemah. “Aku benar-benar lapar,” ulangnya, kali ini terdengar hampir seperti keluhan.

Nadia menatapnya beberapa detik. Ada pertarungan batin di wajahnya antara keinginan untuk membiarkan Arya merasakan akibat dari sikapnya, dan rasa tanggung jawab yang tidak ia mengerti kenapa masih ia miliki.

Ia menghela napas kasar. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Saya akan keluar sebentar.”

Ia berbalik, mengambil dompet kecilnya. Namun baru melangkah dua langkah, tangan Arya tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Cekalannya lemah, jauh dari cengkeraman mengintimidasi yang biasa ia lakukan.

“Jangan,” ujar Arya pelan. “Buatkan aku teh dulu. Aku haus.”

Nadia menoleh, menatap tangan itu beberapa detik sebelum melepaskannya perlahan. “Amda baru saja menjatuhkan teh yang saya buat.”

“Aku akan lebih hati-hati,” kata Arya.

"Cepat, aku haus."

Nadia mendesah untuk kesekian kalinya malam itu. Ia kembali ke dapur, menyeduh teh hangat lagi. Kali ini ia menuangnya ke dalam gelas yang lebih tebal. Saat kembali, ia membantu Arya meminum teh itu sedikit demi sedikit karena masih panas.

Tangannya menahan gelas, bibir Arya menyentuh tepi gelas perlahan. Pemandangan itu terasa aneh asing namun juga terlalu intim untuk diabaikan.

Dalam hati, Nadia berpikir, jika saja dia tidak setemperamental ini… mungkin hidup akan sedikit lebih mudah. Mungkin dia juga tidak keberatan untuk hidup bersama laki-laki ini.

Pikiran itu membuatnya tersentak sendiri. Ia tidak seharusnya berpikir sejauh itu. Ia tidak seharusnya membayangkan “seumur hidup” bersama laki-laki ini. Namun pikiran itu terlanjur muncul, lalu berputar-putar tanpa bisa ia hentikan.

Setelah Arya cukup minum, Nadia menaruh gelas itu di meja. “Saya akan keluar untuk cari makanan,” katanya singkat.

Ia mengambil jaket tipis, lalu melangkah keluar kamar kos. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Arya sendirian.

Arya menatap langit-langit kamar itu. Catnya retak di beberapa bagian, ada noda lembap di sudut. Sangat berbeda dengan kamar tidurnya sendiri yang luas, bersih, dan sempurna. Jika dipikir-pikir, untuk apa ia sampai sejauh ini? Untuk apa ia, yang terbiasa hidup dalam kemewahan, harus rela berbaring di ranjang sempit dengan perut mual dan kepala pening?

Namun di balik pertanyaan itu, ada jawaban lain yang muncul perlahan.

Dengan keadaan seperti ini, ia melihat Nadia apa adanya. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada kepentingan tersembunyi. Gadis itu merawatnya bukan karena uang, bukan karena takut, melainkan karena… itulah dirinya.

Tulus. Keras kepala. Jujur.

Sangat berbeda dari wanita-wanita yang selama ini ia temui termasuk mereka yang dipilihkan ibunya. Wanita-wanita yang selalu tersenyum manis, patuh, dan penuh perhitungan.

Pikiran Arya terhenti ketika ponsel di atas meja bergetar. Ia meliriknya. Itu ponsel Nadia.

Layar menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat sorot mata Arya langsung berubah tajam.

Love

Tanpa berpikir panjang, Arya mengangkat panggilan itu.

“Halo, sayang?” suara seorang pria terdengar dari seberang sana, lembut, akrab.

Rahang Arya mengeras. Tangannya mengepal perlahan. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya amarah, cemburu, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

“Dia tidak bisa bicara sekarang,” jawab Arya dengan suara rendah namun dingin.

Di seberang sana, hening beberapa detik. “Siapa ini?”

Arya tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. Ia kemudian mematikan sambungan telepon itu.

Dan pada saat itu, tanpa Nadia sadari, malam yang seharusnya berakhir dengan kelelahan justru membuka pintu menuju konflik yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!