NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Perpustakaan Perak dan Misteri Tanah Suci Kunlun

Yin Yue, yang baru saja terbebas dari cengkeraman Kutukan Jiwa Beku, masih terlihat lemah. Namun, sebagai pewaris utama Klan Pedang Perak, wibawanya cepat kembali. Ia mendengarkan penjelasan adiknya, Yin Xue, dengan saksama. Matanya yang indah memancarkan keterkejutan saat mengetahui bahwa pria berjubah abu-abu di depannya ini membantai Alpha Serigala dan melumpuhkan pamannya hanya dengan kekuatan fisik.

Yin Yue mencoba bangkit dari tempat tidur esnya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Ye Chen.

"Tuan Ye... Anda tidak hanya menyelamatkan nyawaku, tapi juga masa depan Klan Pedang Perak. Hutang budi ini sebesar gunung."

Ye Chen menatapnya datar. "Aku tidak butuh gunung. Aku butuh akses ke perpustakaan klanmu dan sebuah identitas resmi."

Yin Yue tersenyum tipis, mengagumi sifat pria ini yang tidak basa-basi. Ia merogoh ke balik bantal esnya dan mengeluarkan sebuah medali perak berbentuk pedang bersayap.

"Ini adalah Lencana Bintang Perak. Benda ini hanya dimiliki oleh Kepala Klan dan Pewaris Utama. Dengan lencana ini, Anda diangkat sebagai Tetua Tamu Kehormatan Klan Pedang Perak. Tidak ada satu pun tempat di kota ini yang tertutup bagi Anda, termasuk lantai tertinggi Perpustakaan Klan."

Ye Chen menerima lencana dingin itu dan menyimpannya ke dalam Cincin Awan Putih-nya.

"Istirahatlah. Racun di tubuhmu sudah hilang, tapi meridianmu butuh beberapa hari untuk pulih," kata Ye Chen sambil berbalik. "Yin Xue, tunjukkan jalannya."

Yin Xue mengangguk patuh. Sikap angkuhnya yang dulu ia tunjukkan di hutan kini telah menguap tanpa sisa. Di hadapan kekuatan mutlak, seekor macan tutul pun akan bertingkah layaknya anak kucing.

Perpustakaan Klan Pedang Perak.

Bangunan ini berbentuk seperti pedang raksasa yang tertancap ke bumi, terbuat dari batu giok putih. Di pintu masuknya, seorang tetua keriput yang memancarkan aura Dewa Fana Tingkat 3 sedang duduk setengah tertidur.

Saat Ye Chen dan Yin Xue mendekat, mata tetua itu terbuka sedikit.

"Nona Kedua," sapa tetua itu dengan suara serak. "Pria di belakangmu memiliki aura asing. Perpustakaan adalah area terlarang bagi orang luar."

Ye Chen tidak membuang waktu. Dia melemparkan Lencana Bintang Perak ke arah tetua itu.

Tetua itu menangkapnya, matanya langsung membelalak lebar. "Lencana Pewaris?! Anda... Tetua Tamu Kehormatan yang baru?"

Tetua itu segera berdiri dan membungkuk. "Silakan masuk, Tuan. Lantai satu hingga tiga berisi teknik dan sejarah lokal. Lantai empat dan lima menyimpan rahasia dunia yang lebih luas."

"Aku ke lantai lima," kata Ye Chen, melangkah masuk tanpa ragu.

Yin Xue menunggu di luar, tidak berani mengganggu.

Di dalam, Ye Chen menemukan sebuah ruangan melingkar yang diterangi oleh kristal-kristal bercahaya. Ribuan gulungan bambu giok dan buku-buku berbahan kulit monster tertata rapi di rak-rak.

Di Alam Dewa, informasi bukan sekadar tulisan. Banyak buku yang disegel menggunakan Sihir Memori.

Ye Chen berjalan ke tengah ruangan. Waktunya terbatas. Dia tidak bisa membaca satu per satu.

"Mutiara Penelan Surga... Bisakah kau menyerap informasi?"

Mutiara di Dantian-nya bergetar pelan. Ia memang tidak bisa membaca, tapi ia bisa memakan segel spiritual pada gulungan tersebut dan mentransfer inti informasinya langsung ke lautan kesadaran Ye Chen.

"Lakukan."

Ye Chen melepaskan helai-helai Qi Dewa-nya yang tipis ke seluruh penjuru ruangan. Begitu benang-benang energi itu menyentuh buku-buku sejarah dan geografi, ribuan kilatan informasi membanjiri otaknya.

Kepala Ye Chen berdenyut nyeri, tapi dia menahannya.

Dalam waktu satu jam, peta dunia baru terbentuk di benaknya.

Alam Dewa Kuno.

Dunia ini luar biasa luas, triliunan kali lipat lebih besar dari dunia bawah. Alam ini dibagi menjadi lima wilayah utama: Domain Timur, Barat, Selatan, Utara, dan Domain Pusat (Central Divine Domain).

Saat ini, Ye Chen berada di pinggiran ekstrem dari Domain Utara, sebuah tempat yang bahkan dianggap sebagai "pedesaan terbelakang" oleh para elit Alam Dewa.

Lalu, matanya (dalam visinya) tertuju pada pencarian kata kunci: Tanah Suci Kunlun.

Informasi yang muncul membuatnya mengerutkan kening.

"Kunlun... dulunya adalah gunung suci yang menopang pilar langit di Domain Pusat. Namun, pada Era Perang Dewa-Iblis Primordial sepuluh ribu tahun lalu, Kunlun terbelah. Puncaknya hilang, dan fondasinya kini dikelilingi oleh Jurang Kehampaan (Abyssal Rift)—zona kematian yang memisahkan Domain Pusat dengan wilayah lainnya."

"Puncaknya hilang..." Ye Chen meraba dadanya. "Apakah Puncak Kunlun yang ada di dunia bawah (Alam Roh Sejati) itu adalah pecahan dari Kunlun asli yang jatuh dari Alam Dewa?"

Itu masuk akal. Pak Tua Li dan warisan Dewa Pedang Cang Qiong mungkin berasal dari puncak yang jatuh itu.

"Untuk mencapai sisa-sisa Kunlun di Domain Pusat, seseorang harus menyeberangi Jurang Kehampaan. Syarat minimum: Menggunakan Kapal Dewa Tingkat Surga, atau memiliki kultivasi Dewa Sejati (True God)."

Ye Chen membuka matanya.

"Dewa Sejati..." gumamnya. Saat ini dia baru Dewa Fana Tingkat 1. Masih ada jalan panjang untuk mendaki. Tapi setidaknya tujuannya jelas.

Selain itu, Ye Chen juga mencari informasi tentang Lima Kunci yang menyertainya saat ia ascend. Sayangnya, kunci-kunci itu (Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, Bintang) kini tersegel di dalam Cincin Awan Putih dan tidak bisa ditarik keluar dengan mudah karena ditekan oleh Hukum Alam Dewa. Kunci-kunci itu perlu "diberi makan" energi Dewa tingkat tinggi agar bisa bangkit kembali.

"Satu langkah pada satu waktu," Ye Chen meregangkan lehernya. "Target pertama: mencapai Dewa Fana Puncak dan mencari cara meninggalkan kota pinggiran ini."

Tiba-tiba, telinga Ye Chen menangkap suara ledakan yang teredam dari arah luar perpustakaan.

BOOOOM!

Menara perpustakaan berguncang. Debu jatuh dari langit-langit.

Ye Chen melangkah ke jendela giok dan melihat ke bawah.

Langit malam di atas Kota Pedang Perak tidak lagi tenang. Sebuah penghalang energi hijau beracun telah menutupi seluruh kota. Di luar gerbang utama kediaman klan, terjadi pertarungan sengit.

Puluhan sosok berjubah hijau tua sedang membantai para penjaga Klan Pedang Perak. Aura yang mereka pancarkan licik, berbisa, dan mematikan.

Di depan kerumunan penyerang, seorang pria tua kurus dengan tongkat berbentuk kepala kobra tertawa histeris. Auranya menekan seluruh kediaman.

Dewa Fana Tingkat 5!

"Klan Ular Bayangan (Shadow Snake Clan)!" teriak Yin Xue di halaman bawah, mencoba menahan serangan dengan pedang esnya yang terlihat sangat kecil di hadapan gelombang racun.

"Hahaha! Kudengar Yin Yue akhirnya sembuh dari racunku!" pria tua itu, Tetua Ular Kematian, mendesis. "Sayang sekali! Karena aku datang malam ini untuk memastikan seluruh klan kalian rata dengan tanah! Tanpa Yin Hao yang membuka gerbang dari dalam, kami terpaksa mendobraknya!"

"Ternyata pamanku benar-benar mengkhianati kami..." Yin Xue menggertakkan gigi dengan putus asa. Klan mereka kehilangan banyak elit dalam perjalanan ke Hutan Hukuman, dan sekarang musuh bebuyutan mereka menyerang dengan kekuatan penuh.

"Habisi mereka semua! Jangan sisakan satu pun!" perintah Tetua Ular Kematian.

Sebuah awan racun hijau meluncur deras ke arah Yin Xue. Jika terkena, tubuhnya akan meleleh dalam hitungan detik.

Yin Xue memejamkan mata. Kekuatannya sudah habis.

Namun, bayangan hitam turun dari langit seperti komet.

BLARRRR!

Sebuah pijakan keras menghantam tanah tepat di depan Yin Xue. Gelombang kejut angin dari pijakan itu saja sudah cukup untuk meniup balik awan racun hijau tersebut ke arah pasukan Ular Bayangan.

"A-Apa yang—?!" Beberapa penyerang terkena racun mereka sendiri dan menjerit kesakitan.

Dari balik debu yang mengepul, Ye Chen perlahan berdiri tegak. Jubah abunya berkibar tertiup angin malam.

Dia menatap Tetua Ular Kematian dengan pandangan bosan.

"Aku baru saja menemukan tempat membaca yang tenang," suara Ye Chen menggema, dingin dan tanpa ampun. "Kalian benar-benar tidak tahu cara menghargai keheningan, ya?"

Tetua Ular Kematian menyipitkan matanya. "Siapa kau, Bocah? Menyingkir, atau kau akan ikut mati!"

Ye Chen mengepalkan tangan kanannya. Cahaya keemasan gelap mulai merambat di buku-buku jarinya.

"Ular lagi? Aku sudah membunuh banyak ular di dunia bawah. Mari kita lihat apakah ular di Alam Dewa ini kulitnya bisa dibuat sabuk."

(Akhir Bab 27)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!